Peristiwa Al-Harrah, Tragedi Pemerkosaan Massal Pertama Dalam Sejarah Islam

al-harrah

oleh : Herri Permana

Perang tentu menimbulkan banyak permasalahan, salah satunya adalah terlahirnya banyak anak yatim yang hidup tanpa kehadiran orang tua. Dimana orang tuanya tewas terbunuh akibat peperangan, ada juga yang terlahir dari wanita yang telah menjadi korban pemerkosaan oleh pihak lawan yang memenangkan peperangan tersebut.

Salah satu perang yang tercatat dalam sejarah Islam yang mengakibatkan munculnya banyak anak yang menjadi yatim adalah perang Al-Harrah. Perang ini terjadi di kota Madinah dan merupakan sebuah perang yang menyebabkan tragedi pemerkosaan masal pertama dalam sejarah Islam.

Tragedi Al-Harrah

al harrahyTragedi Al-Harrah adalah peristiwa pembantaian massal dan juga pemerkosaan yang dilakukan pasukan Militer Muslim yang dipimpin oleh Jenderal Muslim bin Uqbah atas warga sipil Madinah yang merupakan kota suci dan juga kota Nabi. Tragedi Al-Harrah bermula dari Khalifah Yazid bin Muawiyah yang naik takhta menggantikan ayahnya Khalifah Muawiyah pada 682 – 686 Masehi.

Yazid meminta Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib cucu Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Zubair bin Awwam yaitu cucu dari Khalifah Abu Bakar serta Abdullah bin Umar yaitu putra dari Khalifah Umar bin Khattab untuk berbai’at mengakui dirinya sebagai Khalifah. Akan tetapi, usaha dari Yazid menemui jalan buntu, hal ini dikarenakan Yazid dianggap tidak layak menjadi seorang Khalifah.

Hal ini dikarenakan sekitar dua tahun pasca pembantaian di Karbala, sekitar pada tahun 63 Hijriah, sebagian dari penduduk Madinah diundang oleh Yazid ke istananya yang berada di Negeri Syam. Di sana para penduduk Madinah menyaksikan sendiri perilaku dan juga tindakan dari Yazid yang tidak menjalankan syariat dari agama Islam. Sehingga membuat masyarakat Madinah pada saat itu semakin yakin tidak mau membai’at Yazid menjadi seorang Khalifah.

Geliat itu menjadi pemicu dari terjadinya perang saudara. Melihat sikap dari penduduk Madinah, Yazid marah dan mengirim 5000 atau 27000 orang pasukan penumpas dengan dipimpin oleh Muslim bin Uqbah untuk memadamkan gejolak api pemberontakan tersebut dan membuat masyarakat Madinah tunduk serta membai’at Yasid sebagai Khalifah.

Saat kabar keberangkatan dari pasukan Khalifah Yazid sampai kepada masyarakat Madinah, mereka membuat parit di sekeliling Madinah serta menyiapkan lokasi untuk mereka berlindung. Selain itu masyarakat Madinah kala itu juga mengizinkan keluarga dari pemerintahan Khalifah Yazid untuk bisa meninggalkan Madinah dengan syarat mereka tidak boleh memberikan informasi apa pun kepada pasukan Khalifah Yazid dan mereka tidak boleh ikut dalam peperangan jika sampai hal itu terjadi. Tetapi pada akhirnya orang dari pemerintahan Bani Umayyah yang meninggalkan Madinah tersebut mengingkari janjinya.

Di hari yang ditentukan, Muslim bin Uqbah dan pasukannya kemudian berkemah di al-Harrah yang terletak di sebelah timur Madinah. Karena itulah peristiwa ini di kenal dengan peristiwa al-Harrah .Ini sesuatu hal menyedihkan karena al-Harrah adalah tempat ketika penduduk Madinah di tengah cuaca yang sangat terik berkumpul dan berdiri menunggu kedatangan Nabi Muhammad s.a.w ketika hijrah dari Mekkah.

Muslim bin Uqbah memberi waktu tiga hari kepada penduduk Madinah untuk menyerah. Dan pada hari yang ditentukan pasukan Muslim bn Uqbah memasuki kota suci dengan mudah melewati serta dapat melampaui parit yang di buat mendadak, dengan cara mereka mengelilingi parit tersebut dari belakang. Sehingga ini menyebabkan banyak nyawa melayang dan pada akhirnya tentara yang telah dikirimkan Yazid mampu memenangkan perang tersebut.

Di antara korban perang tersebut di antaranya ada 700 orang penghafal Al-Quran dan juga 80 orang sahabat Rasulullah yang turut terbunuh pada pertempuran tersebut. Bahkan yang menyedihkan adalah pada perang tersebut mengakibatkan sampai tidak ada yang tersisa dari Ahli Badr. Bahkan Abdullah bin Handzalah dan putranya ikut terbunuh pada peristiwa naas tersebut.

Tragedi Pemerkosaan Massal Pasca Peperangan al-Harrah

Setelah kejadian yang mengerikan ini, Jenderal Muslim bin Uqbah mengumpulkan masyarakat di Pusat kota dan kemudian berpidato di hadapan masyarakat yang dengan sengaja disisakan hidup meminta mereka agar mengakui Khalifah Yazid sebagai Khalifah yang sah, serta menegaskan kepada mereka bahwa masyarakat Madinah adalah budak dari Khalifah Yazid. Masyarakat Madinah di haruskan menjawab saat itu juga dan untuk orang yang melawan perintah tersebut akan langsung dipenggal di saat itu juga di hadapan orang banyak.

Karena kekejaman tersebut, sampai-sampai Muslim bin Uqbah dijuluki sebagai Musrif yaitu orang yang telah melampaui batas. Karena dampak dari tindakannya bukan hanya saat perang itu saja, namun lebih jauh lagi, setelah peperangan terjadi banyak orang yang masih menderita dan menanggung beban dari kejadian tersebut.

Ada yang lebih mengerikan daripada ribuan orang yang tumbang meregang nyawa. Kengerian itu sendiri dicatat oleh Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ Fatawanya. Sesaat setelah memenangkan peperangan, tentara Yazid yang pimpinan Muslim bin Uqbah tidak langsung pulang ke pusat pemerintahan. Mereka memutuskan untuk tetap tinggal di kota Madinah selama tiga hari. Selama mereka tinggal di Madinah itulah mereka melakukan kejahatan yang mengerikan.

Muslim bin Uqbah membuat pernyataan istibah atau suatu penghalalan terhadap kota Madinah. Penghalalan itu berupa dibebaskannya para tentaranya untuk melakukan pembunuhan massal terhadap warga Madinah, pengambilan paksa harta benda dengan dalih harta rampasan perang, serta memperkosa para Muslimah Madinah yang suci.

Ibnu Katsir, di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah memberikan pernyataan mengenai kebenaran dari peristiwa sadis ini. kekejian ini terjadi selama tiga hari. Hal ini disebutkan juga dalam catatan Ibnu Hisyam di dalam ‘Umadatu al Qari, dimana pasukan Muslim bin Uqbah bukan saja membantai penduduk madinah tapi juga melakukan hal-hal keji seperti mengeluarkan bayi dari janin ibunya, membunuh bayi, penyiksaan, perkosaan dan hal keji lainnya.

Peristiwa pemerkosaan ini menjadi peristiwa pemerkosaan massal yang pertama kali terjadi di dalam sejarah Islam. Tidak terbayangkan sebelumnya bahwa dalam sejarah Islam akan terjadi tragedi semacam ini. Pemerkosaan massal ini sekaligus menjadikannya sebagai peristiwa paling mengerikan dan memilukan yang melebihi dari pembantaian massal.

Korban pemerkosaan saat itu benar-benar tidak pandang bulu. Mulai dari wanita yang sudah menikah, seorang gadis, anak kecil, bahkan di antara para Muslimah yang diperkosa tersebut ada sebagian yang bukanlah Muslimah biasa, namun merupakan istri dari sahabat Nabi yang masih hidup saat itu dan juga para tabi’in murid dari sahabat nabi Muhammad SAW yang sangat mulia. Tidak terbayangkan lagi betapa tidak bermoralnya tindakan yang dilakukan oleh tentara yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah tersebut.

Saat itu merupakan masa yang paling gelap dan kelam bagi para Muslimah Madinah. Mimpi buruk yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya, terjadi pada mereka. Mereka dilecehkan, kehormatannya dinodai, diperlakukan secara tidak manusiawi dan juga diperlakukan dengan tidak pantas.

Mereka tidak ubahnya diperlakukan seperti barang mainan oleh para tentara yang dipimpin oleh Muslim bin Uqbah. Setelah perang ada ribuan Muslimah yang terpaksa melahirkan anak tanpa mengetahui siapa ayahnya akibat peristiwa tersebut. Anak-anak tersebut kemudian dikenal sebagai Bani Harrah atau Awlad al-Harrah

Para Muslimah yang suci dan terhormat tersebut harus melalui peristiwa pemerkosaan massal yang mengerikan tersebut yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Islam.Apalagi kaum muslimah Madinah baik dari kaum Anshar maupun Mujahirrin dikenal sebagai kaum perempuan yang sangat menjaga diri dan kehormatannya.i

Dalam sejumlah hadist shahih yang diriwayatkan oleh Bukhori , Muslim , Ahmad dan Nasa’i disabdakan dari Rasulullah s.a.w “Barangsiapa yang meneror penduduk Madinah secara zalim , niscaya Allah akan mempertakuttinya dan akan ditimpakan kepadanya laknat Allah , malaikat danmanusia semuanya , dan Allah tidak akan menerima suau amal atau ganti daripadanya kelak di hari kiamat”

Para korban pembantaian keji Muslim bin Uqbah yang menurut para sejarawan mencapai lebih 10.000 orang sebagiannya dimakamkan di Al Baqi bersama dengan makam keluarga nabi Muhammad saw seperti Saffiyah dan Attikah binti Abdul Muthalib (bibi Rasulullah s.a.w) , Abdullah bin Jafar dan Aqeel bin Abi Thalib (sepupu Rasulullah s.a.w) , istri-istri Rasulullah s.a.w (kecuali Khadijah dan Maimunah) , putri Rasulullah s.a.w (Fatimah , Ruqqayah  Zainab dan Ummu Kulthum) , Ibrahin putra Rasulullah s.a.w , Halimah pengasuh Rasulullah ssa.w ketika kecil , Hasan bin Ali bin Abi Thalib cucu Rasulullah s.a.w dll sebagai penghormatan kepada mereka.

Sementara Muslim bin Uqbah sendiri kemudian wafat dalam perjalanan menyerang Mekkah , dan kedudukannya digantikan oleh Hasyim bin Numair. Dalam pertempuran melawan Abdullah bin Zubair pasukan Syam mengggunakan Catapult atau pelontar batu yang menghancurkan ka’bah. Yazid bin Muawwiyah  kemudian wafat 11 hari setelah peristiwa ini dan mewarikan tahtanya kepada Muawwiyah II yang hanya berkuasa 40 hari dimana ia mengundurkan diri karena sakit-sakitan dan tidak tahan dengan kerusakan yang telah diperbuat ayahnya.

Peristiwa Al-Harrah adalah tragedi yang menjadi sejarah kelam bagi para Muslim dan Muslimah di Madinah, serta peristiwa ini juga menjadi gambaran mengenai kerusakan serius yang diakibatkan oleh perang demi perebutan kekuasaan. Sehingga ke depannya dapat dijadikan pembelajaran agar tidak terulang lagi kejadian yang seperti ini.

 

Bandung , 12 November 2022

 

Penulis adalah Ketua Yayasan Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

Donasi Yuk
1