oleh : Herri Permana
Piala Dunia 2022 yang berlangsung di Qatar mulai dari 20 November sampai 18 Desember menjadi ajang yang sangat ditunggu-tunggu. Apalagi setelah dunia dihantam oleh pandemi Corona beberapa tahun terakhir.
Kehadiran Piala Dunia 2022 tidak hanya sekedar euforia saja tetapi juga mempersatukan kembali banyak negara setelah endemik yang panjang. Sayangnya Piala Dunia kali ini tidak semulus sebelum-sebelumnya. Isu LGBT yang muncul menimbulkan kontroversi.
Bagaimana kontroversi LGBT ini bisa berkembang sampai saat ini dan apa pemicunya? Simak pada penjelasan kali ini hingga akhir.
Mengintip Hukum yang Berlaku di Qatar tentang LGBT
Qatar adalah negara yang terletak di semenanjung di Jazirah Arab menganut hukum campuran antara sipil dan syariat. Hukum syariat diterapkan pada hukum keluarga, keturunan serta tindakan kriminal.
LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) merupakan salah satu kelainan seksual yang hukumnya juga diatur di negara Qatar. Contohnya hukuman untuk homoseksualitas adalah rajam yaitu siksaan dan hukuman mati legal di negara tersebut.
Namun untuk hukuman yang sampai sekarang berlaku bagi homoseksualitas adalah tiga tahun dipenjara. Berdasarkan hukum inilah Qatar memberlakukan peraturan-peraturan khusus terkait dengan LGBT selama Piala Dunia 2022.
Mengapa larangan ini muncul? Selain berpegang teguh pada hukum yang dianut, kebanyakan fans yang berasal dari negara-negara Eropa merupakan kaum LGBT atau pendukungnya.
Kronologi Kontroversi LGBT dalam Piala Dunia 2022
Sebenarnya bukan hanya masalah kontroversi LGBT saja yang terus mewarnai Piala Dunia kali ini. Beberapa isu seperti isu pelanggaran hak asasi manusia pekerja migran, larangan penjualan bir dan masih banyak lagi.
Kontroversi LGBT sendiri sebenarnya sudah menjadi masalah yang cukup lama, bahkan ketika Qatar terpilih sebagai tuan rumah saat Piala Dunia di tahun 2010 lalu. Namun mengapa isu ini begitu marak menjelang dan saat berlangsungnya Piala Dunia 2022? Mari ikuti kronologinya.
1. Larangan LGBT Disampaikan Duta Besar Qatar
Sederet larangan demi kelancaran Piala Dunia diungkapkan oleh duta besar Qatar yaitu Khalid Salman dua minggu menjelang acara. Beberapa larangan yang jadi aturan keras adalah mengenakan pakaian terbuka, kumpul kebo, minuman beralkohol dan juga LGBT.
Pada saat menyampaikan seluruh larangan tersebut, Khalid Salman juga menyatakan bahwa pelaku homoseksual adalah bentuk dari kerusakan dalam pikiran. Berawal dari larangan terbuka inilah pro dan kontra dari banyak pihak terus berdatangan.
Khususnya mereka yang fokus terhadap isu Hak Asasi Manusia. Hanya saja meskipun Qatar melarang, bukan berarti mereka tidak menerima kedatangan para suporter yang termasuk atau mendukung kaum LGBT.
Qatar secara baik bersedia untuk menerima kedatangan suporter LGBT hanya saja memperingatkan untuk menghargai budaya di negara tersebut. Bahkan kegiatan bergandengan tangan dan kontak fisik dalam batas tertentu masih diperbolehkan.
2. Ancaman Inggris, Denmark dan Jerman Tinggalkan Piala Dunia
Menjelang dimulainya Piala Dunia ada tujuh negara yang mengirim surat ke Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA) soal keinginan mereka menggunakan ban kapten pelangi. Selama ini atribut pelangi menjadi salah satu simbol yang kerap disemarakkan mengenai One Love dan solidaritas bagi kaum LGBT.
Atribut ini juga kerap digunakan para suporter ketika menghadiri pertandingan di Piala Dunia. FIFA pun mencoba melakukan lobi-lobi terhadap pemerintah Qatar untuk bisa memperbolehkan penggunaan atribut tersebut. Sayangnya usaha FIFA gagal dan Qatar menolak secara tegas.
Perwakilan dari timnas Inggris, Denmark dan Jerman pun mengancam akan meninggalkan ajang sepak bola empat tahunan ini. Alasannya adalah jika tidak diperbolehkan mengenakan ban kapten pelangi.
3. Larangan Penggunaan Atribut Pelangi oleh FIFA
Berkat peraturan dari pemerintah Qatar yang melarang keras LGBT saat Piala Dunia, FIFA pun akhirnya mengeluarkan larangan penggunaan atribut ban kapten pelangi. Larangan ini muncul pada Senin 21 November 2022 lalu. Bahkan menurut FIFA semua modifikasi atribut para pemain juga harus berada di bawah persetujuannya.
Jadi bukan hanya suporter tetapi juga para pemainnya. Hal inilah yang membuat tim dari negara Eropa yaitu Belanda, Inggris dan Wales mengurungkan niatnya untuk menggunakan ban lengan pelangi One Love karena diancam terkena sanksi kartu kuning oleh FIFA.
Mengutip dari voi.id, seorang jurnalis yang datang menggunakan kaos pelangi sempat diinterogasi oleh petugas keamanan sebelum memasuki stadion. Petugas juga meminta jurnalis tersebut melepas kaos dengan alasan melindunginya dari penggemar lain yang tidak suka dengan atribut pelangi.
4. Aksi Tutup Mulut Tim Panser Jelang Kick Off
Larangan penggunaan ban kapten One Love dari FIFA berbuntut cukup panjang. Salah satunya adalah timnas Jerman yang dilakukan pada saat hendak melawan Jepang pada 23 November lalu.
Aksi tutup mulut diperagakan pada saat timnas Jerman melakukan foto tim sebelum memulai pertandingan. Hanya saja tidak ada pernyataan resmi yang dilakukan dari perwakilan tim.
Pernyataan justru diberikan pada akun Twitter resmi FA Jerman, yang mengungkapkan bahwa aksi tersebut adalah protes dari One Love. Dalam Twitternya diungkapkan bahwa mereka ingin mempertahankan nilai-nilai yang dipegang oleh timnas Jerman dengan mengenakan ban kapten One Love.
Dijelaskan pula bahwa aksi tersebut bukan soal pernyataan politik melainkan hak asasi manusia yang tidak bisa dinegosiasikan dan harus diterima begitu saja.
5. Penghapusan Larangan Penggunaan Atribut Pelangi
Rentetan kejadian penolakan akibat dilarangnya atribut pelangi digunakan dalam Piala Dunia 2022 pun akhirnya membuat FIFA melunak. Sejak 25 November 2022, FIFA resmi menghapus larangan penggunaan atribut LGBT salah satunya adalah simbol pelangi.
Para suporter yang ingin menonton diperbolehkan untuk menggunakan bendera warna pelangi dan juga topi ember. Larangan ini dicabut pada saat yang bersamaan ketika pertandingan antara Wales vs Iran.
Bisa jadi peraturan dicabut karena Qatar ingin menghormati tradisi dari suporter tim Wales. Ikut menyuarakan pencabutan larangan penggunaan atribut pelangi, tim FA Wales dalam Twitternya mengungkapkan soal konfirmasi tersebut. Disebutkan bahwa bendera pelangi sudah diizinkan masuk ke stadion.
6. Seorang Pria Kibarkan Bendera Pelangi saat Laga Portugal vs Uruguay
Kejadian yang mengagetkan justru terjadi pada 29 November 2022 kemarin saat pertandingan Portugal vs Uruguay. Pada menit ke 50-an seorang pria bernama Mario Ferri berlari ke dalam lapangan pertandingan dengan bebas.
Mario berlari sambil membawa bendera pelangi yang kemudian dikejar oleh petugas keamanan untuk diamankan. Aksi yang dilakukan oleh Mario ini juga menjadi salah satu bentuk protes akan kontroversi LGBT berupa larangan penggunaan atribut pelangi yang dikeluarkan FIFA.
Selain soal isu atribut pelangi, aksinya juga menjadi bentuk kepedulian terhadap wanita Iran. Hal tersebut diungkapkannya dalam pakaian kaos berwarna biru yang bertuliskan “Respect for Iranian Woman”. Begitu juga dengan tulisan lain di bagian depan kaosnya yaitu ‘Save Ukraina’ yang ditujukan kepada aksi invasi Rusia ke Ukraina.
Jadi bukan sekedar isu belaka, larangan LGBT dan segala atribut pelangi yang mendukung One Love dalam Piala Dunia Qatar terus menimbulkan kontroversi. Bagaimana kelanjutannya bisa disaksikan sampai akhir pertandingan 18 Desember mendatang.
Bandung 1 Desember 2022
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




