oleh : Herri Permana
Poliomyelitis atau polio merupakan salah satu jenis penyakit menular yang disebabkan oleh adanya virus polio. Polio biasanya menyerang kaki, namun tidak jarang menyerang otot-otot di kepala, leher, dan bagian diafragma. Dan hingga kini, masih ada orang-orang yang tidak bisa sepenuhnya pulih dari penyakit polio.
Di Indonesia sendiri, perhatian pemerintah terhadap persoalan virus polio ini sudah dimulai sejak tahun 1995-1197 yaitu dengan mengadakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio. Hingga pada tahun 1996, Indonesia dinyatakan sudah bebas dari Virus Polio Liar (VPL) asli Indonesian (indigenous).
Namun usaha panjang yang dilakukan pemerintah dan masyarakat Indonesia bisa dikatakan mendatangkan hasil yang manis. Karena pada tahun 2014, Indonesia dinyatakan oleh WHO (World Health Organization) sebagai salah satu dari 11 negara SEARO (South East Asia Regional Office) yang mendapatkan sertifikat “Bebas Polio”.
Pemberian penghargaan oleh WHO ini menjadi bukti bahwa Indonesia dan 11 negara lainnya menjadi negara dengan tekad kuat dalam upaya melakukan imunisasi bagi anak-anak dan melakukan surveilans AFP, untuk mencegah terus menyebarnya Virus Polio di Indonesia.
Namun yang menjadi masalah adalah munculnya kelompok antivaksin yang secara masif melakukan kampanyenya untuk mencegah vaksinasi polio di Indonesia. Framing yang dilakukan oleh kelompok ini menggunakan isu agama dan banyak menggunakan hoax-hoax yang tidak berdasar.
Salah satu dampak dari kampanye antivaksin tersebut adalah adanya masyarakat yang percaya dan memilih untuk menolak anaknya divaksin. Bahkan beberapa orang rela menyembunyikan anaknya agar tidak diimunisasi. Buntut dari masalah ini adalah merebaknya lagi kasus Polio di Indonesia, termasuk di tahun 2022 ini.
Bagaimana Sejarah Polio di Dunia dan di Indonesia?
Virus Polio atau yang kemudian dikenal dengan Poliomyelitis ini diperkirakan sudah ada bahkan sejak zaman pra-sejarah. Anggapan ini didasari oleh penemuan lukisan di dinding kuil-kuil mesir kuno yang menggambarkan kondisi manusia dengan kaki yang layu atau tidak normal, dan berjalan dengan bantuan tongkat.
Kemudian bukti lainnya adalah catatan mengenai Kaisar Romawi Claudius yang terserang Polio sejak masih kanak-kanak, dan akhirnya pincang seumur hidupnya karena tidak berhasil disembuhkan. Karena pada saat itu, tenaga medis atau ilmu kesehatan belum mampu mengungkap bagaimana cara mengatasi penyakit polio ini.
Meskipun hingga sekarang pun, masih ada kemungkinan orang yang tidak bisa sembuh dari Polio karena kondisi tertentu. Pada kondisi yang serius, bahkan ada catatan tentang kasus dimana penderita Polio meninggal karena otot pernapasannya tidak bisa digerakkan.
Setelah Perang Dunia II, Polio menjadi momok yang sangat mengerikan pada hampir semua orang tua, karena pada saat itu, Virus Polio sangat marak menyerang anak berumur di bawah lima tahun. Pada saat itu, kondisinya sangat kacau, bahkan anak-anak dilarang untuk keluar dari rumah, dan tidak diperbolehkan pergi ke tempat-tempat umum.
1. Sejarah Munculnya Polio di Indonesia
Tidak ada yang tahu kapan pastinya Virus Polio ini datang ke Indonesia, karena tidak ada data yang pasti mengenai hal tersebut. Ada yang berpendapat bahwa Polio sudah ada di Indonesia sejak adanya hubungan perdagangan antara wilayah-wilayah di Kepulauan Indonesia dengan Eropa dan lainnya.
Namun hal ini pun masih belum jelas, karena bisa saja virusnya sudah ada sebelum itu. Namun yang pasti, virus ini terus menyebar seiring dengan meningkatnya interaksi antara masyarakat di Kepulauan Indonesia dengan negara-negara lainnya.
Termasuk saat terjadi kolonialisme di Indonesia, dan kemudian adanya Perang Dunia II yang menyebabkan Virus ini terus menyebar dan berkembang semakin ganas. Semua rentetan ini tidak bisa dipisahkan satu persatu karena adanya hubungan sebab akibat antara satu peristiwa dengan lainnya.
Setelah itu, di periode Orde Baru pemerintah berfokus pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio sepanjang tahun 1995-1997. Hingga akhirnya Virus Polio asli Indonesia diklaim sudah musnah seluruhnya pada tahun 1996. Meskipun mungkin tidak sepenuhnya musnah, namun data menyebutkan demikian.
2. Gelombang Baru Polio di Indonesia
Namun pada tahun 2005, tercatat adanya importasi kasus Polio baru yang pertama kali ditemukan di Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kasus ini kemudian menjadi awal penetapan Polio di Indonesia sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Penetapan tersebut didasarkan pada korban terinfeksi Virus Polio yang mencapai 205 orang, dalam kurun waktu 1 tahun yaitu 2005-2006. Penyebarannya terus terjadi secara masif hingga menjangkit 47 kabupaten/kota di 10 provinsi di Indonesia.
Selain itu, pemerintah dan tenaga kesehatan juga semakin pusing karena munculnya 46 kasus Vaccine Derived Polio Virus (VDPV) yang disebabkan oleh virus dari vaksin, hal ini terjadi karena ternyata ada banyak anak-anak yang tidak diimunisasi pada saat itu.
Akhirnya Indonesia menyatakan diri bebas dari Polio pada tahun 2006, dan sejak saat itu Indonesia dinyatakan aman dari ancaman Polio. Hingga pada tahun 2014 seperti yang kita tahu, Indonesia dinobatkan bebas Polio oleh WHO.
Meskipun sudah mendapatkan predikat tersebut, justru vaksinasi Polio dan penyakit-penyakit lainnya terus disebarkan oleh banyak masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah munculnya kampanye antivaksin yang dilakukan oleh kelompok-kelompok antivaksin.
Hoax Tentang Vaksin Polio Hambat Program Vaksinasi!
Hampir di setiap program-program pemerintah mengenai vaksinasi, selalu ada kelompok masyarakat yang tanpa dasar melakukan kampanye antivaksin karena alasan-alasan yang tidak masuk akal. Tentu antivaksin Covid-19 adalah bentuk baru, karena hal itu sudah ada sejak puluhan tahun lamanya.
Berikut adalah beberapa isu yang kerap diangkat oleh kelompok antivaksin sebagai salah satu cara untuk mengkampanyekan pemikiran mereka.
1. Vaksin Polio Tidak Aman
Salah satu framing yang dibentuk oleh kelompok-kelompok antivaksin Polio adalah ketidakamanan vaksin untuk kesehatan. Bahkan sejak zaman dulu, sudah ada hoax-hoax tentang keamanan dari Vaksin Polio yang dianggap akan membahayakan kesehatan.
Padahal, persoalan mengenai keamanan vaksin tentu sudah dipastikan terlebih dahulu sebelum vaksin tersebut diberikan kepada masyarakat. Vaksin dibuat oleh badan resmi yang melakukan penelitian, pengecekan, pengetesan, pengawasan, dan langkah lainnya untuk memastikan kegunaan dan keamanan vaksin.
Orang yang melakukan langkah-langkah tersebut tentu juga bukan sembarang orang, yaitu para profesional, umumnya terdiri dari dokter ahli, imunologi, mikrobiologi, farmakologi, epidemiologi, hingga biostatistika. Mereka bekerja sama untuk menghasilkan vaksin yang berdaya guna dan tetap aman.
Sedangkan orang-orang yang menyebarkan hoax ini biasanya tidak bertanggung jawab, dan tidak memiliki kompetensi dalam bidang tersebut. Oleh karena itu, argumen mereka tidak bisa diterima begitu saja. Kini hampir seluruh negara di dunia melakukan vaksinasi, bukan hanya Polio, tapi penyakit-penyakit lainnya.
2. Vaksin Bisa Menyebabkan Autisme
Autisme sendiri adalah kondisi kelainan pada perkembangan saraf manusia yang menyebabkan gangguan pada perilaku dan interaksi sosial penderitanya. Beberapa cirinya adalah susah berkomunikasi dengan orang lain, minat dan perilaku yang tidak biasa, dan lainnya.
Nah, kelompok antivaksin ini menyebarkan desas-desus bahwa vaksin polio ini bisa menyebabkan penggunanya mengalami autisme. Tentu hal ini tidak benar adanya, karena vaksin sendiri sudah memiliki kredibilitas berdasarkan pengujian dari banyak tenaga ahli kesehatan di bidang tersebut.
Dan setelah dilakukan pengkajian dan penelitian, nyatanya tidak ada korelasi antara imunisasi atau vaksinasi dengan terjadinya autisme (terutama pada anak-anak). Oleh karena itu, tenaga kesehatan tetap melakukan vaksinasi dan imunisasi polio karena tuduhan tersebut hanyalah omongan belaka.
WHO sendiri sudah menerbitkan peraturan khusus terkait isu hoax tersebut, dan mencoba meyakinkan masyarakat di Dunia bahwa vaksin atau imunisasi polio ini aman dan tidak berbahaya, serta penting untuk dilakukan, tujuannya untuk memperkecil menyebarnya virus ini.
3. Vaksin Bisa Merusak Otak
Tidak jauh berbeda dengan hoax sebelumnya, ada pula isu-isu yang menyebutkan bahwa kandungan yang ada di dalam vaksin polio bisa menyebabkan otak rusak, karena ada bahan-bahan berbahaya di dalamnya. Bahkan ada isu konyol yang beredar tentang adanya chip pada vaksin untuk mengontrol gerak-gerik manusia.
Hoax-hoax tersebut tentu tidak benar adanya, karena para ahli yang memproduksi vaksin tentu sudah melakukan penelitian dan serangkaian proses untuk memastikan daya guna dari vaksin tersebut. Oleh karena itu, tidak mungkin jika vaksinnya mengandung zat-zat berbahaya.
Memang ada kandungan beberapa zat yang dianggap berbahaya untuk tubuh, namun tentu saja itu sudah dilakukan pengecekan dan pengaturan porsi agar tidak menjadi racun untuk tubuh, dan sebaliknya memberikan manfaat untuk tubuh agar kebal dari virus polio, dan virus-virus lainnya (sesuai dengan jenis vaksin).
Jika terjadi masalah pada tubuh, besar kemungkinannya adalah adanya komplikasi pada tubuh. Biasanya terjadi pada tubuh yang tengah melakukan pengobatan rutin, maka bisa saja kandungan yang ada di vaksin berbenturan dengan obat yang biasanya ia minum.
Untuk mengatasi masalah tersebut, sebenarnya mudah saja, langsung konsultasikan dengan dokter. Penting juga untuk melakukan konsultasi jika memang tubuh Anda mengalami alergi pada beberapa jenis obat. Selain itu, sebelum melakukan vaksin, biasanya tenaga kesehatan akan mengecek bagaimana kondisi tubuh Anda.
4. Vaksin Terbuat dari Bahan-Bahan Aneh
Ada juga hoax yang sangat tidak dipercaya, bahwa vaksin terbuat dari bahan-bahan yang tidak sehat, bahkan tidak layak untuk dikonsumsi. Ada yang mengedarkan berita bahwa vaksin terbuat dari nanah, janin anjing, babi, dan janin manusia yang digugurkan.
Isu-isu tersebut juga dikemas dalam framing agama, terutama agama Islam. Bahwa bahan-bahan yang digunakan tentu tidak halal dan tidak sesuai dengan nilai keislaman. Padahal, mereka yang menyatakan hal tersebut tidak tahu bagaimana proses produksinya.
Berita-berita tidak bersumber tersebut justru semakin meningkatkan keresahan pada masyarakat. Dan ironisnya, ada kelompok yang masih tetap percaya dengan berita-berita hoax semacam itu. Mereka kemudian terus menyebarkan desas desus mengenai bahayanya vaksinasi polio, dan vaksinasi lainnya.
Hal itu tentu sangat salah, karena kembali lagi, bahwa vaksin diteliti dan diproduksi oleh para ahli dan tentunya sudah melalui proses yang panjang dan higienis. Bahkan selalu ada pembaharuan teknologi untuk produksi vaksin untuk meningkatkan kualitasnya.
Tidak hanya teknologi, kini juga semakin berkembang metode-metode pembuatan vaksin yang semakin modern, dengan manipulasi biomolekuler yang kini tengah terus dikembangkan dan diprediksi akan mencapai masa keemasannya, termasuk di Indonesia.
5. Vaksin Adalah Alat Propaganda Amerika
Yang tidak kalah hangat dan sangar mengenai hoax-hoax vaksin polio ini adalah, klaim bahwa vaksin adalah alat propaganda yang dilakukan oleh Amerika, ke negara-negara lain yang masih memiliki masalah vaksin polio, termasuk negara Indonesia.
Dengan asumsi tersebut, masyarakat merasa bahwa vaksin hanyalah propaganda yang dilakukan oleh Amerika. Hal ini masih berkaitan juga dengan adanya chip yang dipasang di dalam vaksin, sehingga saat masuk ke tubuh kita, maka Amerika bisa ‘memata-matainya’.
Tentu tuduhan semacam ini juga sangat tidak sesuai fakta, karena vaksin polio dan vaksin-vaksin lain juga diproduksi di Indonesia, yaitu PT Bio Farma Bandung, yaitu salah satu perusahaan BUMN, yang salah satu tugasnya adalah melakukan produksi vaksin untuk berbagai penyakit di Indonesia.
Proses pembuatannya juga dilakukan dengan teknologi terbaru, dan diawasi oleh para ahli vaksin dari BPOM dan WHO. Oleh karena itu, vaksin yang mereka produksi tentu sudah teruji daya guna nya, keamanan, dan manfaatnya, sehingga aman dan bermanfaat untuk penggunanya.
6. Banyak Bayi Dan Balita yang Meninggal Karena Vaksin
Banyak juga kabar yang beredar mengenai bahaya vaksin untuk balita atau bayi, karena dikatakan dalam hoax tersebut, sudah menyebabkan bayi dan balita mati setelah divaksin. Biasanya, mereka akan menghubungkannya dengan kandungan vaksin yang dianggap berbahaya bagi anak-anak.
Faktanya, para ahli vaksin polio ini juga sudah melakukan pengkajian dan pengecekan vaksin untuk anak-anak. Oleh karena itu, jika terjadi kasus kematian setelah melakukan vaksinasi, maka penting untuk melihat kondisi orang yang meninggal.
Di beberapa kasus, memang terjadi kematian bayi, namun kematian tersebut tidak jelas penyebabnya apa. Ada satu kasus bayi meninggal setelah mendapatkan vaksin, setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata bukan karena vaksinnya, tapi karena bayi tersebut mengalami radang otak.
Kasus-kasus serupa juga kerap terjadi, namun beritanya terus menerus ‘digoreng’ oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga terkesan memang ada masalah pada vaksin polio maupun vaksin lainnya.
Waspada Infeksi Virus Polio Baru di Indonesia!
Mengapa penting untuk melakukan vaksinasi polio? Tentu berkaitan dengan informasi selanjutnya, yaitu mengenai penemuan kasus polio baru di Indonesia pada awal November 2022 lalu. Kasus tersebut ditemukan di Aceh, tepatnya di Kabupaten Pidie, dan kemudian ditetapkan oleh pemerintah setempat sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Selanjutnya Tim Dinas Kesehatan atau Dinkes Kabupaten Pidie bersama Dinkes dari Aceh, Kementerian Kesehatan, WHO, dan Unicef, segera mengambil tindakan untuk melacak asal dari virus polio tersebut berasal.
Tidak hanya pemeriksaan pada pasien saja, namun juga melihat kondisi sekitar, seperti kebersihan tempat tinggal, mengambil sampel tinja (yang diduga kuat sebagai tempat munculnya virus ), dan melakukan pemeriksaan pada keluarga serta orang-orang terdekat dengan pasien.
Pemerintah juga bertindak cepat dengan melakukan pengecekan dan survei cakupan imunisasi dan vaksin polio di daerah tersebut. Karena dikhawatirkan kemunculan virus polio baru itu dikarenakan vaksinasi yang tidak merata di wilayah tersebut.
Kesimpulan
Polio merupakan penyakit serius yang tidak boleh disepelekan, karena penderitanya bahkan bisa mengalami lumpuh seumur hidup, dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu, masyarakat harus patuh pada anjuran vaksinasi polio dan penyakit lainnya, alih-alih menyebarkan hoax.
Percayakan pada pemerintah dan tenaga kesehatan yang ahli mengenai daya guna, kebermanfaatan, dan keamanan vaksin polio bagi kesehatan. Apalagi dengan adanya kasus baru infeksi virus polio baru-baru ini, maka selalu jaga kebersihan, kesehatan, dan ikuti anjuran dari ahli kesehatan.
Bandung , 23 November 2022
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




