oleh Herri Permana
Pergaulan bebas para remaja masih menjadi salah satu permasalahan dan tantangan bagi sebuah negara. Adanya kasus kehamilan di luar nikah yang terjadi pada remaja Indonesia pun harus disikapi dengan bijak. Lebih dari itu untuk membentuk karakter generasi penerus bangsa perlu dilakukan dengan pola yang tepat dan terintegrasi. Disinilah urgensi pendidikan seks sebagai salah satu upaya yang perlu dilakukan untuk menekan angka kehamilan di luar nikah pada remaja.
Terlebih sekarang ini kemajuan teknologi dan komunikasi sangat pesat. Banyak para remaja dapat mengakses situs-situs yang tidak seharusnya ditonton dan memicu adanya pergaulan bebas. Hal inilah yang juga menjadi tantangan karena remaja sekarang hidup di era digital.
Berdasarkan data dari Good Mention Institute tahun 2022, isu mengenai kehamilan tidak diinginkan antara tahun 2015-2019 sebesar 40 persen. Data tersebut termuat dalam laporan estabillity pada tahun 2022.
Sementara jumlah kehamilan tidak diinginkan di dunia adalah 60 persen. Walaupun jumlah Indonesia lebih sedikit namun ini bukanlah berita yang baik. Pasalnya angka 40 persen merupakan angka yang tidak kecil. Salah satu dampak buruk dari kehamilan yang tidak direncanakan adalah anak yang dilahirkan akan mengalami stunting.
Menyikapi hal tersebut sebenarnya adanya urgensi pendidikan seks agar kasus kehamilan anak di luar nikah dapat ditekan. Hal ini tentu penting sekali karena pada dasarnya setiap negara ingin membentuk karakter yang baik untuk generasinya. berikut urgensi pendidikan seks di era digital
Urgensi Pendidikan Seks Untuk Menekan Angka Kehamilan
Sudah jelas, salah satu urgensi pendidikan seks adalah menekan angka kehamilan. Pendidikan seks adalah suatu pengetahuan yang perlu diberikan sedini mungkin kepada anak mengenai perilaku seksual. Hal tersebut disampaikan kepada para remaja agar bijak dalam berperilaku serta mampu mengontrol perilaku.
Pendidikan seksual penting sekali bagi anak karena pengajaran serta pembelajarannya difokuskan kurikulum tentang aspek kognitif, emosional, fisik dan sosial seksualitas. Tujuan pendidikan seksual adalah membekali dan menyadarkan untuk menjaga kesehatan, kesejahteraan dan martabat mereka.
Dengan adanya pendidikan seks menjadikan tahu bahwa konsekuensi ketika mereka tidak mampu menjaga martabat salah satunya adalah kehamilan. Dampak mengenai peristiwa tersebut sangatlah besar bahkan dapat menimbulkan depresi. Pengetahuan inilah yang dijadikan para remaja untuk selalu berhati-hati dan sadar betul akan tanggung jawabnya menjaga martabat.
Menghindari Anak Putus Sekolah
Kebanyakan para siswi yang hamil di luar nikah akan memutuskan sekolah. Hal tersebut wajar dilakukan karena saat di sekolah mereka pasti akan mendapat bullyan habis-habisan. Sebenarnya ini konsekuensi dari perilakunya sendiri. Selain itu banyak sekolah yang mengeluarkan siswinya apabila ketahuan hamil di luar nikah. Walaupun Mendikbud sejak 2013 melarang hal ini tapi tetap saja banyak sekolah yang melakukan kebijakan mengeluarkan siswi yang hamil dari sekolah.
Namun di sisi lain mereka para siswi yang hamil di luar nikah berhak mendapatkan kesempatan untuk sukses dan dapat menjalani hidupnya lebih baik lagi. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan pendirian sekolah di Texas yang mengkhususkan untuk fokus melayani siswi yang hamil dan memiliki bayi.
Namanya SMA Lincoln Park, sekolah yang semua muridnya adalah Ibu-Ibu Remaja. Para siswi di sini merupakan mereka yang hamil di luar nikah atau memiliki bayi. Banyak siswi di sini yang sebenarnya pernah bersekolah di sekolah menengah umumnya. Namun karena terjadi kehamilan meraka pindah ke sekolah ini karena tidak ingin mendapatkan bullyan atau perlakuan tidak senonoh dari temannya.
Jika dari luar, Lincoln Park terlihat seperti sekolah menengah di AS lainnya, dengan dinding batu bata, bus sekolah yang parkir di depannya, dan bendera AS berkibar. Namun di dalamnya, Anda akan mendapati suara tangisan bayi dan juga ocehan bayi. Di sebelah bangunan utama ada pusat penitipan anak. Sekolah di Brownsville, Texas ini terletak di perbatasan AS-Meksio.
SMA Lincoln Park sudah berdiri sejak tahun 2005, dan para siswinya berusia 14-19 tahun. Sebagian besar dari mereka memiliki penghasilan yang rendah. Beberapa di antaranya merupakan penduduk Meksiko kelahiran AS yang melewati perbatasan setiap hari dari Matamoros, Tamaulipas untuk bersekolah di AS.
Kurikulum pada sekolah ini sama persis dengan sekolah lain. Para siswi pun ditargetkan untuk lulus pada setiap kelasnya. Namun ada perbedaan terkait fasilitas sekolah yang diberikan. Salah saru fasilitasnya yaitu bus sekolah mempunyai kursi untuk bayi. Fasilitas lainnya adalah setiap pagi para siswi dapat mengambil sarapan untuk dirinya dan juga anak mereka bahkan bayi mereka juga bisa dititipkan secara gratis. Beruntung di AS ada sekolah seperti SMA Lincoln Park, sehingga masa depan mereka tetap terjamin tanpa harus melalui perbuatan aborsi yang tidak baik.
Dari hal inilah kita dapat belajar bahwa menyikapi remaja yang terlanjur hamil haruslah bijak. Mereka masih punya kesempatan untuk menggapai mimpi dan menjadi sukses. Mereka berhak menjalani kehidupan yang lebih lagi.
Peristiwa kehamilan di luar nikah yang terlanjur ada harus ditekan dan dicegah karena sejatinya hamil di luar nikah tetaplah tidak baik. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya atau tidak adanya urgensi pendidikan seks dari sekolah , orang tua atau masyarakat. Oleh karena itu untuk mencegah kasus selanjutnya dan mencegah putusnya sekolah pendidikan ini harus diaplikasikan.
Menghindari Kasus Sunting
Kasus stunting adalah salah satu kasus yang perlu ditekan. Kehamilan pada usia remaja bisa menyebabkan bayi lahir dengan resiiko stunting lebih tinggi. Hal ini dikarenakan pada umumnya remaja belum memperoleh edukasi secara menyeluruh tentang kehamilan serta perawatan gizi bayi.
Istilah stunting sendiri terdengar asing di telinga beberapa orang. Stunting pernah menjadi suatu permasalahan yang mendapat perhatian khusus dari Kementerian Kesehatan lewat kampanye berjudul ‘Melawan Stunting’.
Stunting merupakan salah satu penyakit kronis yang memengaruhi faktor pertumbuhan anak-anak. Stunting juga memiliki pengertian masalah gizi kronis disebabkan kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang. Hal tersebut akhirnya mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak.
Stunting merupakan salah satu sebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah bila dibandingkan anak-anak seusianya. Tidak jarang juga masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek adalah faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Faktanya, faktor genetika mempunyai pengaruh yang kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya, stunting mulai terjadi ketika anak masih berada di dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun.
Stunting mulai terjadi saat janin masih dalam kandungan disebabkan oleh asupan makanan ibu selama masa kehamilan yang kurang bergizi. Hal ini mengakibatkan gizi yang didapat anak di dalam kandungan tidaklah mencukupi. Kekurangan gizi inilah yang akan menghambat pertumbuhan bayi serta dapat terus berlanjut setelah kelahiran.
Untuk menekan kasus stunting, pendidikan seks perlu diterapkan. Hal ini dikarenakan untuk mencegah terjadinya kehamilan pada remaja. Sehingga kasus stunting pun dapat berkurang. Kehamilan para remaja memiliki potensi lebih besar dengan kurangnya gizi untuk bayi karena edukasi yang belum tercukupi. Umumnya mereka akan mementingkan dirinya sendiri karena masih syok dengan keadaannya sekarang. Pikirannya belum bisa fokus terhadap kesehatan bayi yang ada di dalam kandungan, karena kehamilan tersebut bukan keinginan mereka. Inilah yang membuat akhirnya gizi bayi tidak tercukupi dan memperbanyak kasus stunting
Itulah tadi urgensi pendidikan seksual di era digital ini. Perkembangan teknologi yang makin mumpuni harus diselaraskan dengan kesadaran, kemandirian dan mawas diri. Hal ini agar remaja tidak terjebak dalam pergaulan bebas yang merugikan dirinya.
Bandung , 13 Januari 2023
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




