Tantangan Bandung Sebagai Kota Ramah Anak

tantangan bandung

oleh : Herri Permana

Kota Layak Anak (KLA) menjadi salah satu istilah yang diperkenalkan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan di tahun 2005. KLA sendiri merujuk pada kota yang mampu merencanakan, menetapkan hingga menjalankan semua program pembangunan yang orientasinya ada pada hak serta kewajiban anak.Hal ini menjadi tantangan Bandung untuk mewujudkannya.

Di tahun 2022 ini, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) telah menetapkan kota Bandung sebagai KLA peringkat Nidya. Penghargaan ini membuktikan komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam menciptakan sistem untuk menjamin semua hak anak terpenuhi dan terlindungi.

Seperti apa perjalanan kota Bandung hingga akhirnya menerima penghargaan ini? Simak lika liku tantangan yang dihadapi.

Kriteria Penilaian Kota Layak Anak oleh KemenPPA

bragaDi Indonesia penghargaan KLA diberikan setiap tahunnya dengan sebelumnya dilakukan penilaian yang cukup ketat. Sehingga nantinya bisa meraih salah satu peringkat KLA yang terdiri dari Pratama, Madya, Nindya, Utama dan KLA.

Hingga saat ini kota yang mendapat peringkat tertinggi baru sampai ke Penghargaan Utama yakni baru, Denpasar, Yogyakarta, Surakarta, Surabaya dan Jakarta Timur. Tim penilai sendiri terdiri dari KemenPPPA, Kementerian Lembaga dan Tim Independen.

Setidaknya ada enam kriteria yang jadi rujukan dalam penilaian sebagai berikut:

1.      Kelembagaan yang Kuat

Penguatan kelembagaan yang dimaksud di sini adalah berasal dari pemerintah kota maupun kabupaten. Apakah tersedia peraturan maupun kebijakan tentang hak dan perlindungan anak. Begitu juga dengan keterlibatan masyarakat dan dunia usaha.

2.      Hak Sipil serta Kebebasan Anak

Apakah di dalam kota tersebut jumlah anak yang diregistrasi memperoleh Akta Kelahiran cukup baik. Termasuk dengan ketersediaan fasilitas Informasi Layak Anak (ILA) dan lembaga partisipasi anak.

3.      Hak Lingkungan Keluarga dan Pengasuhan

Memperhatikan soal persentase perkawinan anak, tersedianya lembaga khusus konsultasi layanan pengasuhan anak baik orang tua dan juga keluarga. Bagaimana standarisasi lembaga pengasuhan dan infrastruktur ruang publik yang ramah anak.

4.      Kriteria Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan

Layanan kesehatan juga jadi penilaian penting seperti ketersediaan fasilitas persalinan hingga kesehatan anak. Begitu juga status gizi balita, kawasan bebas rokok, cakupan pemberian makan pada bayi dan anak di bawah 2 tahun.

5.      Kriteria Pendidikan dan Kegiatan Seni Budaya

Penilaian akan jumlah pengembangan anak usia dini, wajib belajar 12 tahun, sekolah ramah anak, dan fasilitas untuk menjalankan kegiatan budaya, kreativitas hingga rekreatif yang ramah anak.

6.      Kriteria Perlindungan Khusus

Kriteria ini mencakup layanan yang diberikan kepada anak korban kekerasan dan penelantaran, anak korban pornografi, bencana alam, penyandang disabilitas, korban jaringan terorisme dan masih banyak lagi.

Semakin baik penilaian akan kriteria ini tentu saja penghargaan akan diberikan kepada kota tersebut. Termasuk Bandung yang mendapatkannya sejak Juli 2022.

Tantangan Bandung Demi Mewujudkan KLA

Supaya mencapai standar KLA sesuai kriteria tadi, Bandung tentu saja melakukan berbagai upaya dan menghadapi banyak tantangan. Bagaimana hingga akhirnya Bandung meraih predikat Nindya KLA di tahun 2022 ini tidak terlepas dari beberapa tantangan berikut ini.

1.      Munculnya Pandemi Covid-19 sejak 2020

Pada tahun 2019, kota Bandung kembali berhasil mendapatkan predikat Nindya dalam KLA. Predikat ini didapatkan setelah tiga tahun mempertahankannya Sayangnya pada tahun 2021 predikat ini pun turun menjadi Madya.

Alasan penurunan ini tidak lain adalah karena pandemi Covid-19 sejak 2020. Seluruh sektor di kota Bandung cukup lumpuh sehingga kunci utama dalam membimbing anak dibebankan seluruhnya pada orang tua. Di mana orang tua harus bisa memberikan informasi dan mensosialisasikan kepada anak bagaimana mengatasi pandemi Covid-19.

Berangkat dari pengalaman di tahun sebelumnya, Pemkot Bandung pun terus berusaha memperbaiki supaya bisa meraih kembali predikat Nindya dalam KLA.

2.      Masih Tingginya Angka Perkawinan Anak

nikahdiniPerkawinan anak menjadi salah satu perhatian besar dalam meraih KLA. Bandung masih memiliki persentase yang tinggi berkaitan dengan hal ini. Jumlah pernikahan anak di Bandung sendiri masih mencapai angka 46,44%.

Data hingga bulan Juli 2021 tersebut terdiri dari 112 kasus pernikahan usia anak laki-laki dan 567 kasus untuk anak perempuan. Angka yang tergolong tinggi tersebut termasuk memprihatinkan dan jadi tantangan terbesar Pemkot Bandung.

3.      Struktur Birokrasi yang Masih Tradisional

Selama ini dalam praktek implementasi program KLA, Pemkot Bandung melibatkan segenap organisasi. Sayangnya hal ini justru menghambat kota Bandung untuk bisa bekerja maksimal dalam mewujudkan KLA.

Ditambah lagi di dinas sendiri masih belum memiliki fokus tugas utama KLA. Setiap dinas masih memiliki tugas masing-masing yang tidak berkaitan dengan KLA. Bisa dibilang struktur organisasi yang terlalu tradisional menjadi penyebab utamanya.

Memang benar dalam implementasi KLA dibutuhkan banyak pihak yang terlibat, namun susunan tugas yang tertera masih belum dibuat sederhana. Tantangan ini membutuhkan perhatian khusus untuk membenahi gugus tugas dan struktur birokrasi yang lebih baik.

Inovasi Pengembangan yang Dilakukan untuk Meraih Predikat KLA

Menghadapi semua tantangan yang ada, tentu saja Pemkot Bandung tidak berdiam diri. Khususnya untuk meraih kembali predikat Nindya yang berhasil diwujudkan pada tahun 2022 ini. Berikut ini beberapa inovasi pengembangan yang dilakukan sepanjang 2022.

1.      Peningkatan Kepemilikan Akta Kelahiran

Dalam kriteria Hak Sipil dan Kebebasan, persentase anak yang memperoleh akta kelahiran juga jadi catatan penting. Menilik hal ini, Gugus Tugas Kota Layak Anak Kota Bandung pun terus meningkatkan pelayanan. Sehingga setiap anak bisa dengan mudah mendapatkan akta kelahiran.

Hal tersebut dibuktikan dengan hasil yang diperoleh yaitu sebesar 97,2% penduduk di kota Bandung sudah memiliki akta kelahiran. Itu artinya kesuksesan sudah tercapai dalam kriteria ini.

2.      Membuka Kembali Ruang untuk Anak

Pemkot Bandung juga fokus untuk mengembalikan ruang-ruang bagi anak. Khususnya area umum seperti taman kota. Bahkan sudah ditargetkan 151 taman Kelurahan menjadi ruang publik yang ramah anak.

Selain ruang umum, sekolah ramah anak pun turut digalakkan. Bahkan setelah mendapatkan predikat ini, sudah terdapat 70 Kelurahan di Bandung yang memiliki pusat kreativitas anak.

3.      Penyuluhan Kesehatan dan Anak Penyandang Disabilitas

Pada bidang kesehatan, Pemkot Bandung juga terus menyelenggarakan berbagai macam program penyuluhan kesehatan. Khususnya dalam rangka mencegah penyebaran HI/ AIDS. Konsultasi HIV/ AIDS bisa dilakukan di berbagai pelayanan kesehatan.

Bagi anak penyandang disabilitas juga terus disediakan penyuluhan kesehatan hingga pengembangan diri anak. Puskesmas ramah anak dan disabilitas pun terus dibentuk.

4.      Program Bedas Sapujagat untuk Menekan Pernikahan Dini

Perkawinan anak juga jadi perhatian besar yang kerap terjadi di Bandung. Memperhatikan angka yang masih tinggi, Pemkot Bandung menyelenggarakan program Bedas Sapujagat sejak 2021.

Program ini diharapkan bisa menekan angka pernikahan dini dengan pemberdayaan masyarakat. Begitu juga pemberdayaan orang tua dalam memberikan pola asuh yang tepat sehingga anak bisa berkembang menjadi pribadi yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan.

Pemkot Bandung bangga sudah bisa mengembalikan predikat Nindya dalam KLA di tahun 2022. Diharapkan penghargaan ini bisa meningkat menjadi predikat Utama di tahun-tahun berikutnya. Untuk itu berbagai upaya dan inovasi yang baru harus terus diterapkan pemerintah Kota Bandung.

 

Bandung , 05 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1