Haramnya Zakat dan Sedekah Bagi Keluarga Nabi Muhammad S.A.W

haramnya zakat

Oleh Herri Permana

 

Rasulullah SAW bersabda bahwa “keluarga” Nabi tidak berhak menerima zakat maupun sedekah karena telah tercukupi dengan bagian khumus dan pertimbangan lain ialah karena zakat ataupun sedekah merupakan “kotoran” harta manusia. Sebagaimana kita tahu, sedekah dan zakat ialah ibadah yang bertujuan untuk membersihkan harta, maka harta yang dialokasikan untuk zakat dan sedekah dianggap sebagai “kotoran” yang terbersihkan. Hadis tentang haramnya zakat dan sedekah bagi keluarga nabi berbunyi:

 

اِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَةَ أَوْسَاخُالنَّاسِ وَأِنَّهَالاَتَحِلُّ لِمُهَمَّدٍوَلاَلِآ لِ مُحَمَّدٍ

 

“Sesungguhnya sedekah (zakat) adalah kotoran manusia, tidak halal untuk Muhammad dan keturunan Muhammad”. (HR. Muslim)

 

Haramnya zakat dan sedekah bagi keluarga Nabi Muhammad s.a.w juga termuat dalah hadist :

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يؤتى بالنخل عند صرامه, فيجيء هذا بتمرة وهذا بتمرة حتى يصير عنده كوم من تمر, فجعل الحسن والحسين يلعبان بذلك التمر, فأخذ أحدهما تمرة فجعلها في فيه, فنظر إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخرجها من فيه, فقال: أما علمت أن آل محمد لا يأكلون الصدقة

Artinya, “Rasulullah SAW pernah diberi kurma yang ranum-ranum. Banyak yang memberikan kurma kepada beliau SAW sehingga kurma-kurma itu menumpuk. Hasan dan Husein kemudian bermain-main dengan kurma itu. Salah satu dari mereka memasukkan kurma ke mulutnya. Rasulullah melihatnya, lantas mengeluarkan kurma tersebut dari mulutnya. Beliau SAW berkata, ‘Tidakkah kamu tahu bahwa keluarga Muhammad tidak boleh memakan sedekah’” (HR Bukhari).

Lebih spesifik, Nabi bahkan mengeluarkan sedekah yang berada di mulut Sayyid Hasan (cucu Nabi yang masih kecil) yang dimasukkannya sendiri (oleh Hasan), seraya bersabda:

كَجْ،كَخْ،اَنَّا آلُ مُحَمّدٍ لاَتَحِلُّ لَنَا الصَّدَقَاتُ

“Ekh-ekh (isyarat untuk mengeluarkan dari mulut), kita adalah keluarga Muhammad, sedekah tidak halal bagi kita.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari hadis-hadis tentang haramnya zakat dan sedekah untuk keluarga Nabi, kita dapat menyimpulkan bahwa sedekah ataupun zakat tidak boleh kita berikan kepada dan tidak boleh diterima oleh keluarga Nabi yang merupakan klan keturunan Hasyim dan Muthalib.

 

Siapakah Yang Disebut Keluarga Nabi

Silsilah Nabi ialah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim. Hasyim disini memiliki saudara-saudara yang membentuk klan tersendiri yang sama-sama merupakan keturunan Abdu Manaf. Klan tersebut ialah Bani Hasyim, Bani Muthalib, Bani Naufal dan Bani ‘Abdu Syamsy.

Pada peristiwa pembagian khumus (hak seperlima) dari harta pampasan perang, Nabi membagikan hak tersebut pada Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Salah satu hadits beliau menyebutkan:

“Sesungguhnya mereka (Bani Muththalib) tidak meninggalkan kami, baik pada zaman jahiliyah ataupun zaman Islam. Bani Hasyim dan Bani Muththalib adalah satu.” Kemudian–untuk menunjukkan hal ini–Nabi menggenggam kedua tangannya.

Para ulama memiliki beberapa perbedaan pendapat mengenai siapa yang dimaksud dengan keluarga nabi Muhammad SAW

Mereka adalah Banu Hasyim dan Banu Muthalib. Ini adalah pendapat Imam As-Syafi’i (Al-Umm karya Imam As-Syafii: II/88 dan Al-Hawi karya Imam Al-Mawardi: VII/516) dan Imam Ahmad (Al-Mughni karya Ibnu Qudamah: II/517).

Mereka adalah Banu Hasyim. Ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah (Al-Mabsut karya Imam Sarakhsi: X/12 dan Badai’us Shana’i’ karya Imam Al-Kasani: II/49) dan pendapat Ibnu Al-Qasim Al-Maliki (Az-Dzakhirah karya Al-Qurafi: III/142 dan Mawahibul Jalil karya Al-Hattab: V/9).

Mereka adalah Banu Hasyim ke atas sampai Ghalib. Maka mereka adalah Banu Muthalib, Banu Umayah, Banu Nouval sampai ke Bani Ghalib

Keluarga Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dan istri-istri beliau SAW. Ini pendapat Ibnu Abdil Bar (At-Tamhid karya Ibnu Abdil Bar: XVI/183-196). Pendapat ini berdalilkan hadits:

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد

Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ka’ab ibn Ajrah.

Juga berdalilkan hadits riwayat Imam Bukhari:

اللهم صل على محمد وعلى وأزواجه وذريته

Mereka menegaskan bahwa makna kata “āl” dan “ahlu” adalah sama.

Dan pendapat terkuat adalah dimana haramnya zakat dan sedekah adalah keluarga Nabi Muhammad s.a.w dari jalur Ahlul Bayt yaitu keturunan Imam Hasa r.a dan Imam Hussein r.a.

 

Haramnya Zakat , Keluarga Nabi s.a.w Memberi Bukan Menerima

Dalam sebuah riwayat diceritakan seorang musafir yang kelaparan mendatangi rumah Fatimah r.a, tapi ternyata di rumahnya tidak ada sesuatu yang layak dimakan, Fatimah r.a juga tidak punya uang untuk diberikan. Fatimah kemudian teringat kalung hadiah pernikahannya dengan Ali r.a. Dengan hati ikhlas Fatimah lalu memberikan satu-satunya harta yang dimilikinya kepada si musafir. “Juallah kalung ini, mudah-mudahan harganya cukup untuk memenuhi kebutuhanmu,” kata Fatimahr.a

sedekahShahabat Ammar bin Yasir r.a membeli kalung itu.dengan harga 20 dinar emas, ditambah sebuah baju, serta seekor unta untuk tunggangan dimana kalung itu kemudian dihadiahkan olehnya kepada Rasulullah s.a.w beserta seorang budak , yang kemudian Rasulullah s.a.w hadiahkan lagi pada putrinya Syaidati Fatimah r.a

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa suatu ketika salah seorang anak Ali bin Abi Thalib r.a jatuh sakit. Demi kesembuhan anaknya, ia pun bernazar. Jika anaknya sembuh, ia akan berpuasa selama tiga hari berturut-turut.

Setelah Allah SWT memberikan kepada anak keduanya kesembuhan, Sayyidina Ali dan Fatimah pun menjalankan puasa nazar. Namun, saat akan berbuka puasa di hari pertama, mereka kedatangan seseorang yang berpakaian lusuh dan kelaparan. Dia pun meminta makanan kepada Sayyidina Ali.

Ali dan Fatimah  memberikan rotinya kepada orang itu. Akhirnya, mereka pun hanya berbuka puasa dengan air putih. Pada berpuasa di hari kedua, mereka kembali kedatangan seorang anak yatim yang kelaparan. Ia telah beberapa ditinggal ibunya bekerja, sehingga ia terpaksa meminta makanan kepada Ali karena kelaparan.

Ali sangat sedih mendengar cerita anak yatim tersebut. Tanpa pikir panjang, Ali kembali memberikan rotinya kepada anak yatim tersebut. Apa yang dilakukan Ali lagi-lagi ditiru oleh Fatimah. Ia juga menyerahkan roti bagiannya kepada si anak yatim.

Hingga hari berikutnya, kejadian itu maish berulang. Menjelang berbuka puasa, mereka kembali kedatangan seseorang. Orang itu itu adalah seorang tawanan perang. Ia baru saja dibebaskan orang kafir. Tubuhnya lemah karena kelaparan.

Ali dan Fatimah pun saling berpandangan. Sejak mereka berpuasa nazar, tak sebutir kurma atau sepotong roti pun masuk ke dalam perut mereka. Selama tiga hari itu, mereka hanya berbuka puasa dengan air putih.

Menurut Ibnu Abbas, Allah telah menurunkan ayat Alquran atas kedermawanan Ali dan Fathimah tersebut. Dalam surat Al-Insan ayat 7-10, Allah SWT berfirman:

 

يُوفُونَ بِٱلنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُۥ مُسْتَطِيرًا

 

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”

 

وَيُطْعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

 

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.”

 

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا

 

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.”

 

إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا

 

“Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.”

Dari kedua kisah diatas keteladanan dari keluarga Nabi Muhammad s.a.w adalah memberi pada siapapun yang meminta dan mengutamakannya diatas dari kebutuhan dan kesenangannya pribadi. Istilah Habib pada dasarnya artinya pengasih , orang yang selalu memberi dan membantu semua orang yang kesulitan dan haramnya zakat dan sedekah untukk mereka.

Jadi sikap orang-orang yang mengaku Habib tapi bergelimang kemewahan dan dimana itu berasal dari pemberian yang sejatinya diharamkan pada mereka bukanlah sikap seorang keluarga Nabi Muhammad s.a.w yang hidup zuhud dan mengutamakan orang lain yang membutuhkan daripada diri sendiiri sebagai wujud kecintaan mereka pada Allah s.w.t.

 

Bandung , 15 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

 

Donasi Yuk
1