Golongan Yang Tidak Boleh Menerima Zakat

golongan yang tidak boleh menerima zakat

oleh : Herri Permana

Zakat merupakan kewajiban yang harus ditunaikan bagi umat Islam. Selain ada orang-orang yang menerima zakat, ada pula golongan yang tidak boleh  menerima zakat.

Mereka yang berhak menerima zakat ada delapan golongan. Sementara golongan yang tidak boleh menerima zakat terdapat lima golongan.

Lima Golongan Yang Tidak Boleh Menerima Zakat

 

  1. الأغنياء orang kaya

 

Orang kaya masuk golongan yang tidak boleh menerima zakat sebagaimana hadis :

Rasulullah saw bersabda, لا تحل الصَّدقة لغني “Tidak halal zakat diberikan kepada orang kaya.” (diriwayatkan oleh lima ulama hadits).

 

  1. Yang dikecualikan dari kriteria ini adalah pasukan perang fi sabilillah, amil zakat, penghutang untuk kemaslahatan orang lain, seperti yang dikatakan oleh jumhurul ulama.

 

  1. Seorang anak dianggap cukup jika ayahnya kaya, demikian juga seorang isteri dianggap kaya jika suaminya kaya, sehingga keduanya tidak boleh diberi zakat.

 

  1. الأقوياء المكتسبون orang kuat bekerja

Orang yang kuat bekerja dan memiliki penghasilan masuk golongan yang tidak boleh menerima zakat sebagaimana hadis :

Rasulullah saw. Bersabda, « لا تَحل الصدقة لِغني، ولا لذي مِرَّة سَوي » رواه الخمسة “Tidak halal zakat diberikan kepada orang kaya dan orang yang memiliki organ lengkap.” (hadist riwayat lima imam hadits). ذي مِرَّة dzi mirrah dalah orang yang memiliki organ tubuh lengkap. Juga dengan pernyataan Rasulullah terhadap dua orang lelaki yang meminta zakat, “Jika kalian mau akan aku berikan kepada kalian, tetapi tidak ada hak dalam zakat ini bagi orang kaya dan orang yang kuat bekerja.” (Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasa’i)

 

Seseorang masuk golongan yang tidak boleh menerima zakat jika dia benar-benar memiliki pekerjaan yang menghasilkan; jika tidak ada pekerjaan, maka ia diberi zakat.

Hasil penghasilannya cukup; jika tidak, maka ia boleh menerima zakat sehingga mencukupi.

  1. غير المسلمين non muslim

 

Para ulama sepakat bahwa orang kafir yang memerangi, orang murtad, dan orang ateis adalah golongan yang tidak boleh menerima zakat

Jumhurul ulama khususnya empat imam madzhab bersepakat bahwa kafir dzimmiy sebagai fakir masuk dalam golongan yang tidak boleh menerima zakat. Ia bisa menerima zakat menurut sebagian ulama dalam statusnya sebagai muallaf. Mereka bersepakat bahwa ahlu dzimmah boleh diberikan sedekah sunnah sebagaimana baitul mal memberikan kecukupan mereka dari selain zakat.

Diperbolehkan memberikan zakat kepada orang fasik, selama tidak terang-terangan dan terus menerus menunjukkan kefasikannya agar zakat tidak menjadi fasilitas kefasikannya. Dan diperbolehkan memberikan zakat itu kepada keluarganya karena kefasikan seseorang tidak boleh menghilangkan hak orang lain.

Diperbolehkan memberikan zakat kepada sesama muslim meskipun dari firqah yang berbeda dengan ahlussunnah, selama ia masih berstatus Islam, dan tidak melakukan perbuatan bid’ah yang membuatnya kafir.

Dan yang lebih dari semua itu adalah memberikan zakat kepada seorang muslim yang taat beragama.

 

  1. الأقارب kerabat

 

Seorang suami tidak boleh memberikan zakatnya kepada isteri, karena ia berkewajiban untuk menafkahinya. Jika ia memberikan zakat kepadanya, maka seperti orang yang memberikan pada diri sendiri. Sedangkan isteri boleh memberikan zakatnya kepada suami menurut jumurul ulama, seperti dalam hadits isteri Ibnu Mas’ud yang bertanya kepada Rasulullah saw. bersama dengan seorang wanita Anshar. Rasulullah menjawab, لهما أَجران أَجر القرابة وأجر الصَّدقة “Keduanya mendapatkan dua pahala, pahala zakat dan pahala kerabat.” (Asy-Syaikhani)

Tidak boleh memberikan zakat kepada kedua orang tua, jika ia yang berkewajiban menafkahinya, sebab ini sama dengan memberi kepada diri sendiri. Sebagaimana tidak diperbolehkan memberikan zakat kepada anak yang menjadi kewajibannya.

Diperbolehkan memberikan zakat kepada kerabat lain, bahkan menurut madzhab Hanafi –yang memperluas kewajiban nafkah itu kepada kerabat– tetapi tidak menjadikannya penghalang diberi zakat. Sebab, penghalang zakat itu adalah bersambungnya manfaat antara pemberi dan penerima zakat, yang mengesankan bahwa ia memberikan pada diri sendiri seperti yang terjadi pada suami isteri, kedua orang tua dan anak.

  1. آل محمد keluarga Nabi Muhammad SAW

 

Mereka itu adalah keturunan Bani Hasyim menurut jumurul ulama. Asy-Syafi’iyyah menambahkan keturunan Abdul Muththalib juga tidak berhak mendapat zakat.

Jumurul ulama berpendapat bahwa keluarga Nabi Muhammad tidak boleh menerima zakat, karena zakat itu adalah kotoran manusia seperti dalam hadits Muslim.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يؤتى بالنخل عند صرامه, فيجيء هذا بتمرة وهذا بتمرة حتى يصير عنده كوم من تمر, فجعل الحسن والحسين يلعبان بذلك التمر, فأخذ أحدهما تمرة فجعلها في فيه, فنظر إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم فأخرجها من فيه, فقال: أما علمت أن آل محمد لا يأكلون الصدقة

Artinya, “Rasulullah SAW pernah diberi kurma yang ranum-ranum. Banyak yang memberikan kurma kepada beliau SAW sehingga kurma-kurma itu menumpuk. Hasan dan Husein kemudian bermain-main dengan kurma itu. Salah satu dari mereka memasukkan kurma ke mulutnya. Rasulullah melihatnya, lantas mengeluarkan kurma tersebut dari mulutnya. Beliau SAW berkata, ‘Tidakkah kamu tahu bahwa keluarga Muhammad tidak boleh memakan sedekah’” (HR Bukhari).

Larangan ini mencakup zakat dan sedekah sunnah.

Tapi sebagian ulama menyebut bahwa Keluarga Bani Hasyim boleh memberikan zakat kepada sesama Bani Hasyim.

Jika mereka tidak mendapatkan jatah seperlimanya seperlima ghanimah dan fa’i, maka ia boleh menerima zakat menurut kesepakatan ulama.

 

Bandung , 16 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1