Oleh Herri Permana
Sejarah Inkuisisi dimulai sekitar abad ke-12 dan berlangsung selama a beberapa abad Gereja Roma mengamuk di seluruh dunia membunuh ribuan orang yang percaya kepada Kristus yang sejati, menyiksa, dan memotong tangan atau kaki ribuan orang lagi. Ini merupakan “Zaman Kegelapan” gereja Gereja Katholik .
Orang yang tidak setuju dengan mereka atau doktrin mereka dicap bidat oleh Gereja harus dihukum mati. Gereja melakukan tindakan horor dengan mengutip secara paksa ayat-ayat Perjanjian Lama dan dengan mengacu pada Augustinus, yang telah menafsirkan Lukas 14:23 sebagai ayat pendukung penggunaan kekuatan terhadap bidat. “Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk karena rumahku harus penuh. ”
Inkuisisi adalah pengadilan Gereja abad pertengahan yang ditunjuk untuk mengusut bidat, yang disebut demikian karena menentang kesalahan dan tradisi Gereja Roma. Nama yang tidak terkenal ini digunakan dalam arti lembaga itu sendiri, yang adalah episkopal (diperintah oleh Uskup atau uskup-uskup) atau Paus, secara regional atau lokal; anggota pengadilan; dan cara kerja pengadilan.
Sejarah Inkuisisi awal terjadi di 1173, Peter Waldo, atau Valdes, seorang pedagang Lyon yang kaya, yang terkenal karena kesalehan dan pengetahuannya, memberikan hartanya kepada orang-orang miskin dan menjadi pengkhotbah keliling. Ia adalah penentang yang kuat terhadap kemakmuran dan penindasan paus. Tak berapa lama sejumlah besar orang yang telah mengalami pembaruan di Prancis bergabung dengannya – mereka kemudian dikenal sebagai kelompok Waldenses. Pertama -tama, Waldo berusaha menyadarkan paus karena ia berpikir bahwa paus bisa memengaruhi gereja di Roma, tetapi ia justru dikucilkan karena dianggap bidat pada 1184.
Peter Waldo dan para pengikutnya kemudian mengembangkan gereja yang terpisah dengan imamnya sendiri. Mereka mengkhotbahkan disiplin keagamaan dan kemurnian moral, berbicara keras menentang imam yang tidak pantas dan penyelewengan di gereja, dan menolak pengambilan nyawa manusia dalam kondisi apa pun.
Namun, Gereja Roma tidak mengizinkan bidat semacam itu untuk diajarkan maka pemisahan dari Roma tidak bisa dicegah lagi. Jadi pada 1208 M, Paus mengesahkan perang terhadap ke1ompok Waldenses.
Pada tahun 1211, delapan puluh pengikut Waldo ditangkap di kota Strasbourg, diperiksa oleh penyidik yang ditunjuk oleh Paus dan dibakar di tiang. Tidak lama sesudahnya, sebagian besar ke1ompok Waldenses menarik diri ke lembah Alpine di Italia utara dan tinggal di sana. Waldo meninggal tahun 1218; masih mengkhotbahkan Injil Kristus yang sejati.
alam Konsili Lateran III, pada 1179, Ke1ompok Reformed Albigenses dikutuk sebagai bidat oleh perintah Paus Alexander III. Dan pecahlah yang berlangsung antara 1209 sampai 1229, Pangeran Raymond membela kota Toulouse serta tempat-tempat lainnya di wilayahnya dengan keberanian yang besar dan kesuksesan melawan tentara Simon de Montfort, Panger an Monfort dan bangsawan Gereja Roma yang fanatik. Di awal perang di tahun 1209, Simon de Montfort membantai penduduk Beziers. Setelah penangkapan Pangeran Raymond dengan cara licik, Paus menyatakan bahwa kaum awam tidak diperbolehkan untuk membaca Kitab Suci.
Pada tahun 1231, Paus Gregorius IX seeara resmi mendirikan Inkuisisi Roma. Meniru hukum yang diberlakukan Kaisar Romawi yang Kudus Frederick II terhadap Lombardy, Italia, pada tahun 1224, dan diperluas mencakup seluruh kerajaannya pada 1232, Gregorius memerintahkan agar bidat yang sudah diputuskan bersalah ditangkap oleh penguasa sekuler, dan dibakar. Ia juga memerintahkan agar para bidat dikejar-kejar dan diperiksa di depan sidang gereja.
Paus Gregorius IX memercayakan tugas yang keji itu kepada ordo biarawan Dominikan dan Fransiskan; memberi mereka hak eksklusif untuk memimpin berbagai sidang pengadilan Inkuisisi, yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas sebagai hakim di tempatnya dan kuasa untuk mengucilkan, menyiksa atau mengeksekusi banyak orang yang dituduh melakukan kebidatan atau oposisi terhadap pemerintahan paus yang terkecil sekalipun. Ia lebih jauh memberi mereka otoritas untuk menyatakan perang terhadap orang yang diputuskan sebagai bidat dan melakukan kesepakatan dengan pangeran yang berkuasa serta menggabung tentara mereka dengan pasukan pangeran. Mereka juga diberi kuasa untuk bertindak terlepas dari petugas gereja lokal apa pun dan untuk melibatkan mereka dalam pemeriksaan Inkuisisi mereka jika mereka terlibat dengan pekerjaan mereka dalam cara apa pun
Pertama Inkuisisi itu hanya menangani tuduhan tentang bidat, tetapi kekuasaannya segera meluas hingga mencakup tuduhan seperti tenung, alkimia, penghujatan, penyimpangan seksual, pembunuhan anak, pembacaan Alkitab dalam bahasa umum, atau pembacaan Talmud oleh bangsa Yahudi atau Alquran oleh orang-orang Muslim. [Pada saat tuduhan ten tang bidat menjadi kurang popular pada akhir abad ke-15, jumlah penyihir dan ahli tenung yang dibakar makin meningkat; hal ini membenarkan dan memperpanjang keberadaan Inkuisisi
Sejarah Inkuisisi Spanyol
Sejarah Inkuisis Spanyol dikenal sebagai Inkusisi paling besar , terlama dan tersadis dalam sejarah.Dimulai pada tahun 1479 di tengah perang dengan kekuatan Islam terakhir di Iberia Granada.Raja Ferdinand II dari Aragon, dan Isabella I dari Castile dengan dukungan Paus Sixtus IV membentuk Inkuisisi Spanyol yang independen yang dipimpin oleh dewan tinggi dan pelaksana Inkuisisi Agung.
Korban pertama dalam sejarah Inkuisisi dilakukan pada kaum converso Muslim atau Yahudi yang menjadi penganut kristen, yang masuk katholik  sebagian besar dengan tuduhan mereka berpura-pura menjadi Katolik, namun sebenarnya bukan, demi kepentingan politik dan sosial, yang kemudian secara diam-diam melaksanakan ajaran agama mereka sebelumnya . Dewan inkuisisi secara resmi dibentuk di Seville dan Cordova pada tahun 1481 dan hasilnya, enam orang yang dicurigai tidak berkeyakinan sama dengan gereja dibakar hidup-hidup. kemudian kaum mudejar (muslim di bawah kekuasaan kristen) dan Yahudi menjaid sasaran di samping kelompok-kelompok lain yang di cap bid’ah.
Pada 1487 Paus Innocentius VIII menunjuk rahib Dominikan Spanyol, Tomas de Torquemada, sebagai pelaksana Inkuisisi Agung. Di bawah kekuasaannya, ribuan orang Kristen, Yahudi, Muslim, penyihir yang dicurigai, dan orang-orang lainnya terbunuh dan disiksa. Orang-orang yang berada dalam bahaya terbesar karena Inkuisisi adalah kaum Protestan dan Alumbrados (penganut mistik di Spanyol).
Nama Torquemada dalam sejarah inkuisisi menjadi sinonim dengan kekejaman, kefanatikan, sikap tidak toleran, dan kebencian. Ia adalah orang yang paling ditakuti di Spanyol; dan selama pemerintahan terornya dari 1487 sampai 1498l ia secara pribadi memerintahkan lebih dari 2.000 orang untuk dibakar di tiang. Ini berarti 181 orang setahun, sementara pengadilan Spanyol rata -rata hanya membakar 10 orang setahun.
Di masa Spanish Inquisition, dalam 30 tahun pemerintahan ratu Isabella, ada sekitar 100,000 orang yang dikirim ke inkuisisi. Sebagian besar terdakwa menerima hukuman seperti penjara, pengasingan, atau harus mengenakan sanbenito, pakaian yang menandai mereka sebagai orang berdosa. Hukuman terburuk adalah “relaxado en persona”. sebuah eufemisme untuk dibakar di tiang pancang. Hukuman ini relatif jarang diberikan untuk bidah yang tidak bertobat dan kambuh lagi. Lebih dari 350 tahun setelah Ratu Isabella memulai Inkuisisi. Dan akhirnya pada pemerintahan Ratu Isabella II, secara resmi mengakhirinya pada 15 Juli 1834.
Di beberapa tempat, dalam sejarah inkuisisi diperkirakan 1/3 tahanan disiksa. Ratusan ribu anggota agama minoritas terpaksa meninggalkan rumah mereka, dan mereka yang bertahan menghadapi diskriminasi dan kesulitan ekonomi. Teman memfitnah teman, tetangga menuduh tetangga, dan bahkan anggota keluarga saling melaporkan bid’ah. Di bawah Inkuisisi, orang-orang dikutuk untuk hidup dalam ketakutan dan paronia selama berabad-abad.
Berbagai  cara penyiksaan fisik dalam sejarah inkuisisi yang dikenal atau yang bisa dibayangkan digunakan – seperti merentangkan kaki tangan mereka pada alat perentang; membakar mereka dengan arang panas atau logam yang dipanaskan; mematahkan jari-jari tangan dan kaki; meremukkan kaki dan tangan; mencabut gigi; meremas daging dengan penjepit; menusukkan pengait ke bagian tubuh yang lunak dan menarik pengait itu menembus dagingnya; menyayat daging mereka menjadi potongan kecil-kecil; menancapkan jarum ke dalam daging; menancapkan jarum di bawah kuku jari tangan atau kaki; mengencangkan tali pengikat di sekeliling daging sampai menembus tulang; memukuli dengan tongkat dan pentung; memelintir kaki dan tangan serta melepaskan sendi mereka.
Dalam sejarah Inkuisisi Spanyol punya tiga bentuk siksaan utama yaitu: Garrucha, Toca, dan Potro. Garrucha adalah kerekan yang diikatkan ke pinggang tertuduh yang mengangkatnya ke langit-langit ruangan. Kaki tertuduh diikat dengan pemberat besi. Toca adalah kain linen yang dimasukkan ke mulut tertuduh secara paksa. Kemudian air dituangkan secara pelahan-lahan ke dalam perut tertuduh melalui kain linen tersebut hingga ia merasa tersiksa karenanya. Potro adalah bentuk siksaan di mana tubuh tertuduh diikat kuat-kuat ke sebuah tiang. Kemudian para algojo menarik tali yang melilit tubuh korban dari arah berlawanan secara bertahap hingga tali-tali itu menembus daging.
Pada 1492 setelah jatuhnya Granada Inkuisisi digunakan untuk mengusir semua orang Yahudi dan bangsa muslim Moors dari Spanyol atau untuk memaksakan pertobatan mereka kepada kekristenan Roma. Dengan desakan Torquemada, Ferdinand dan Isabella mengusir lebih dari 160.000 orang Muslim dan Yahudi yang tidak mau bertobat pada Gereja Roma.
Dari tujuan politis, pelaksana Inkuisisi juga melakukan penyelidikan yang kejam di antara penduduk baru dan orang-orang Indian yang bertobat di koloni Spanyol dan Portugal di Amerika.
Meskipun akhirnya ada penurunan dalam kekejamannya, dalam sejarah Inkuisisi masih tetap bekerja dalam satu bentuk atau bentuk lainnya sampai awal abad ke-19 – 1834 di Spanyol, dan 1821 di Portugal – yaitu saat kelompok ini diganti namanya, tetapi tidak dihapuskan. Pada 1908, Inkuisisi direorganisir di bawah nama Congregation if the Holy Office dan didefinisikan ulang selama Konsili Vatikan II oleh Paus Paulus VI sebagai Congregation of the Doctrine if the Faith. Pada saat ini dikatakan, kelompok ini memiliki tugas yang lebih positif, yaitu memajukan doktrin yang benar daripada sekadar “menyensor” bidat.
Ketika pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah. Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa diantaranya gila.
Pasukan Perancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakkan biara tersebut.
Salah satu Film yang mengkisahkan sejarah Inkuisisi di Spanyol, diambil dari catatan seorang pelukis Francisco Goya (March 30, 1746 – April 16, 1828) yang ingin menyelamatkan seorang gadis model lukisannya dari jeratan pengadilan/hukuman inkuisisi. Upaya ini tak berhasil karena wewenang mutlak yang diberikan Kerajaan Spanyol bagi ‘Gereja’. Tuduhannya sepele saja karena didasarkan si gadis tidak memakan babi maka divonis gadis itu adalah pengikut Yudaisme, dalam penjara inkuisisi ia disiksa dengan kejam, mendapat perlakuan tak senonoh dari seorang rohaniawan sampai melahirkan anak, suatu hal yang ironis dimana Gereja menghalau segala macam “dosa” bidat/heresy tetapi mereka juga melakukan perbuatan asusila kepada pesakitannya.
Bandung , 13 Desember 2022
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




