Budaya Pelecehan Seksual

budaya pelecehan seksual

Dalam masyarakat pathriakis budaya pelecehan seksual justru dianggap sebuah sikap yang memperlihatkan kejantanan. Pada pandangan sebahagian masyarakat timur kesalahan pada kasus pelecehan seksual bahkan kekerasan seksual seperti perkosaan  seringkali ditimpakan justru pada korbannya yaitu perempuan. Caraia berpakaian , cara berbicara , tingkah laku dll yang kesemuanya dianggap mengundang terjadinya tindak kejahatan tersebut.

buayaSehingga seringkali justru sang korban yang mendapat hukuman psikis dari keluarganya sendiri dan masyarakat sekelilingnya , yang bahkan semakin menambah penderitaan korban.

Tetapi apakah benar hal tersebut terjadi akibat korban sendiri yang mengundang.Di negara Arab Saudi yang mewajibkan muslimah menggunakan pakaian tertutup , angka kejahatan perkosaan ternyata tidak lebih kecil dari kejahatan serupa di Swedia yang malahan merupakan surga bagi kaum nudis.

Budaya Pelecehan Seksual

Fakta yang harus dipahami adalah tindak pelecehan dan kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja , tua atau muda , anak-anak atau nenek-nenek , jelek atau cantik , gemuk atau kurus , sendirian atau di tempat ramai , berpakaian tertutup atau berpakian mini.

Kasus pelecehan dan kekerasan seksual lebih diakibatkan mental si pelaku dan ada tidaknya kesempatan untuk melakukan itu , bukan pada korbannya.

Dalam kasus perkosaan pun sebahagian besar justru dilakukan oleh orang dekat seperti keluarga sendiri , teman , tetangga , pacar dll , dan sebahagiannya dilakukan di rumah korban sendiri atau di rumah pelaku yang dikenalnya.

Di beberapa negara maju , pelecehan seksual kategori ringan seperti menggoda dengan kata-kata cabul , memperhatikan bagian bagian tubuh tertentu dengan pandangan “lapar” , menyiuli dlldapat ditangkap dan diajukan ke pengadilan , apalagi pelecehanberat seperti menyentuh atau menggerayangi bagian tubuh tertentu korbannya.

buayaSementara di banyak negara-negara timur , tindakan pelecehan ringan itu dianggap sebagai sesuatu yang biasa bahkan dianggap sebuah kewajaran , bahkan kadang dianggap simbol kejantanan.

Sehingga pada akhirnya tindakan pelecehan ini semakin meningkat dalam kategori yang lebih berat seperti yang sering terjadi ketika berdesak-desakan di kendaraan umum.

Dari sini terlihat bahwa tindak pelecehan seksual juga terkait pada budaya dan kultur dalam masyarakat.Pola pandang yang masih menganggap rendah perempuan , memandang perempuan sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan yang kemudian diikuti pola pandang yang menempatkan perempuan sebagai obyek seks seringkali pada akhirnya menyuburkan perilaku seperti ini.

Sehingga sebenarnya menghubungkan pemakaian jilbab dengan pencegahan pelecehan seksual pada dasarnya tidak adahubungannya sama sekali , beberapa kalangan malahan menganggap perempuan berjilbab lebih sexy sehingga malahan mendorong untuk melakukan pelecehan seksual.

Kasus budaya pelecehan seksual juga  seringkali menimpa anak-anak juga nenek-nenek yang secara seksual sesungguhnya tidak menarik.

Dan dari sini bisa disimpulkan bahwa budaya pelecehan seksual bukan diakibatkan pakaian korban melainkan otak si pelaku itu sendiri.Budaya serta pola pandang masyarakat terhadap posisi perempuan seringkali malahan makin menyuburkan perilaku tersebut.

 

Bandung, 13 Juli 2001

 

Back to Article

Donasi Yuk
1