Langit Biru Aulia

aulia

“Aku harus tetap kuat…” Aulia bergumam lirih, menggigit bibirnya untuk menahan air mata yang nyaris jatuh. Sepasang matanya yang bulat menatap bangunan sederhana di depannya.

 

Tembok-tembok panti asuhan itu dicat dengan warna krem yang mulai memudar, sementara halaman depannya dihiasi beberapa pot bunga yang tampak dirawat seadanya. Langkah kakinya terasa berat.

 

“Aulia, ayo masuk.” Suara lembut seorang wanita memecah lamunannya. Bu Santi, perempuan paruh baya dengan senyum menenangkan, berdiri di pintu. Rambutnya tersisir rapi ke belakang, sementara matanya memancarkan kehangatan. Aulia mengangguk pelan, melangkah masuk dengan tas punggung kecil yang terasa terlalu berat, bukan karena isinya, tetapi karena beban emosinya.

 

Ruangan dalam panti terasa hangat, namun asing. Anak-anak lain yang lebih kecil tampak bermain di sudut ruangan, sementara beberapa yang lebih besar duduk sambil membaca atau menggambar. Aulia berdiri canggung di tengah-tengah, merasa seperti tamu tak diundang di tempat yang seharusnya menjadi rumah barunya.

 

“Anak-anak, ini Aulia. Dia akan tinggal bersama kita mulai hari ini,” kata Bu Santi memperkenalkan. Beberapa anak menoleh, sebagian tersenyum, sebagian lainnya hanya melirik sebentar sebelum kembali ke aktivitas masing-masing. Aulia tersenyum kecil, namun senyum itu lebih mirip garis tipis di wajahnya.

 

Setelah memperkenalkan diri, Bu Santi mengantar Aulia ke kamarnya. Ruangan itu kecil tapi rapi, dengan dua tempat tidur dan meja kecil di sampingnya. Di atas salah satu tempat tidur sudah ada seorang gadis yang duduk sambil membaca buku tebal. Dia mengangkat pandangannya, menatap Aulia sekilas, lalu kembali pada bukunya.

 

“Ini Shila, teman sekamarmu,” kata Bu Santi. “Shila, bantu Aulia beradaptasi, ya.”

 

Shila hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Aulia merasa bingung harus mengatakan apa, tetapi dia akhirnya hanya meletakkan tasnya di atas tempat tidur kosong.

 

Saat malam tiba, suasana panti menjadi tenang. Aulia duduk di tempat tidurnya, memeluk lututnya sendiri. Kesepian menyeruak seperti gelombang besar, menghantam pertahanan yang selama ini coba ia bangun. Ia teringat suara tawa ibunya, tangan ayahnya yang dulu selalu mengelus rambutnya sebelum tidur. Sekarang semua itu hanya kenangan yang terasa begitu jauh. Ia ingin menangis, tapi tidak ingin ada yang tahu.

 

Keesokan paginya, saat sedang sarapan bersama anak-anak lain, seorang anak laki-laki mendekatinya. Dia membawa selembar kertas dan pensil.

 

“Hai, aku Iqbal. Kamu suka menggambar?” tanyanya ceria.

 

Aulia menggeleng pelan.

 

“Aku… nggak terlalu bisa,” jawabnya dengan suara nyaris tak terdengar.

 

“Nggak apa-apa! Aku juga dulu nggak bisa. Lihat ini!” Iqbal menunjukkan gambar sebuah rumah kecil dengan pohon besar di sampingnya. “Ini gambar pertama aku waktu baru datang di sini. Katanya Bu Santi, nggak penting bagus atau nggaknya, yang penting kita senang.”

 

Ada sesuatu dalam senyuman Iqbal yang terasa menenangkan. Untuk pertama kalinya sejak tiba di panti, Aulia merasa ada orang yang benar-benar mencoba mendekatinya.

 

Hari-hari berikutnya, Aulia mulai belajar membuka diri. Ia menghabiskan waktu membaca bersama Shila, meski awalnya lebih banyak diam. Gadis itu ternyata memiliki koleksi buku cerita yang menarik, dan lambat laun, mereka mulai berbagi cerita.

 

Suatu sore, Aulia mencoba menggambar bersama Iqbal di halaman. Ia menggambar matahari yang bersinar cerah, dikelilingi awan-awan kecil.

 

“Bagus! Kayaknya ini bakal jadi awal bagus buat kita.”

 

Aulia tersenyum kecil, kali ini dengan tulus. Kehangatan di panti asuhan mulai meresap ke dalam hatinya, meski pelan-pelan. Dia tahu, rasa rindunya pada keluarga tidak akan pernah benar-benar hilang. Tapi setidaknya, di tempat ini, dia tidak sendirian lagi.

 

***

 

“Kenapa harus ada aturan segala?” gumam Aulia sambil merapikan tempat tidurnya yang kini selalu harus rapi setiap pagi. Tangannya bekerja cepat, tapi pikirannya dipenuhi rasa jengkel. Dia belum sepenuhnya terbiasa dengan semua rutinitas di panti asuhan ini.

 

Seperti biasa, Bu Santi berdiri di tengah ruangan bersama papan catatan kecilnya.

 

“Ingat, anak-anak, setelah sarapan kita lanjutkan tugas kebersihan. Aulia, hari ini giliranmu membersihkan ruang makan bersama Shila.”

 

Aulia hanya mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia ingin mengeluh. Di rumah dulu, dia tidak pernah benar-benar punya jadwal seperti ini. Ibunya yang mengurus semuanya, sementara ia hanya perlu belajar dan bermain. Kini, semua terasa seperti tanggung jawab besar.

 

Setelah sarapan, Aulia mengikuti Shila ke ruang makan. Di sana, mereka mulai mengelap meja dan menyapu lantai.

 

“Gunakan kain ini untuk meja, jangan yang itu, itu buat lantai,” ujar Shila tanpa menoleh.

 

Aulia hanya mengangguk, merasa sedikit jengkel dengan nada Shila yang seperti bos. Namun, ia tetap mengikuti arahan, takut membuat kesalahan.

 

Saat sedang sibuk bekerja, suara tawa anak-anak terdengar dari halaman. Aulia melongok ke luar jendela dan melihat Iqbal serta beberapa anak lain bermain bola. Ia ingin ikut, tetapi tangannya masih menggenggam kain lap. Hatinya mengeluh. Kenapa aku harus membersihkan sementara mereka bisa bermain?

 

Setelah tugas kebersihan selesai, Aulia berjalan ke ruang tengah. Di sana, ia melihat sekotak mainan yang baru saja dikeluarkan Bu Santi. Matanya langsung tertuju pada boneka kucing putih kecil di dalamnya. Ia tersenyum, mendekat, dan meraih boneka itu.

 

Namun, belum sempat ia menikmati mainan tersebut, seorang anak laki-laki kecil bernama Dani berlari mendekat.

 

“Itu punyaku! Aku duluan yang lihat!” serunya dengan suara melengking.

 

Aulia mengerutkan kening. “Aku duluan yang ambil.”

 

“Enggak, aku mau main itu!” Dani mencoba menarik boneka itu dari tangan Aulia.

 

Adu mulut kecil pun terjadi, menarik perhatian anak-anak lain. Beberapa mendukung Dani, sementara yang lain meminta mereka berbagi. Situasi menjadi agak kacau hingga akhirnya Bu Santi datang.

 

“Ada apa ini?” tanyanya.

 

Aulia dan Dani saling menunjuk, masing-masing mengklaim hak atas boneka itu. Bu Santi menghela napas.

 

“Aulia, Dani, kalian tahu di sini semua mainan milik bersama, kan? Kalau ada yang ingin memainkannya, kalian harus bergiliran.”

 

“Tapi aku duluan!” kata Dani, cemberut.

 

“Aulia juga sudah memegangnya lebih dulu, Dani. Apa yang harus kita lakukan jika kita ingin bergantian?” Bu Santi menatap Dani, kemudian Aulia.

 

Dani diam sejenak, lalu bergumam pelan, “Minta izin…”

 

“Betul. Aulia, bagaimana kalau kamu main bonekanya selama sepuluh menit, lalu giliran Dani?”

 

Aulia terdiam. Rasanya dia tidak ingin menyerahkan boneka itu, tetapi melihat mata Dani yang memelas, ia mengangguk. “Oke…”

 

Setelah Dani pergi, Aulia duduk sendirian di sudut ruangan. Ia merasa kesal dan sedih sekaligus. Kenapa semuanya harus berbagi? Di rumah dulu, dia tidak pernah harus menyerahkan mainannya. Namun, saat ia melihat Dani tertawa saat bermain dengan boneka itu, ia merasa sedikit lebih baik.

 

Pada malam hari, Aulia merenung di kamarnya. Ia teringat Bu Santi yang menjelaskan bahwa di panti ini semua harus berbagi, karena mereka adalah keluarga besar. Kata-kata itu perlahan masuk ke dalam pikirannya.

 

Esok paginya, saat melihat Iqbal menggambar sendirian di ruang makan, Aulia menghampirinya.

 

“Boleh aku pinjam pensil warnanya?” tanyanya pelan.

 

Iqbal tersenyum. “Tentu saja. Kita bisa gambar bareng.”

 

 

“Ayo, jangan bilang kamu nggak mau coba,” Iqbal berkata, meletakkan selembar kertas kosong di depan Aulia. Dia duduk di lantai ruang tengah panti, dengan sekotak pensil warna berantakan di sampingnya.

 

Aulia menghela napas, mencoba mengabaikan ajakan itu.

 

“Aku nggak bisa menggambar.”

 

Iqbal mendengus, seperti tak percaya dengan alasan itu.

 

“Semua orang bisa menggambar. Nggak perlu bagus, yang penting seru. Nih, coba aja!”

 

Dia menyodorkan sebuah pensil ke tangan Aulia, membuat gadis itu tidak punya pilihan selain menerimanya. Perlahan, Aulia memegang pensil itu dan mulai menarik garis tipis di atas kertas. Awalnya hanya garis lurus, lalu melengkung. “Aku nggak tahu harus gambar apa,” katanya pelan.

 

Iqbal tertawa kecil. “Gambar apa aja yang kamu suka. Matahari, pohon, bunga. Kalau mau, aku bisa bantu.”

 

Aulia terdiam sejenak, lalu mulai menggambar sesuatu. Tangan kecilnya bergerak pelan, menggambarkan seekor kucing kecil dengan mata besar. Meski garisnya tidak sempurna, Aulia merasa ada sesuatu yang menyenangkan saat ia melihat kucing itu mulai terbentuk di atas kertas.

 

Iqbal mengintip hasil gambarnya. “Wah, itu bagus! Tambahin warna, dong. Biar lebih hidup.”

 

Aulia mengangguk, mengambil pensil warna oranye dan cokelat. Ia mulai mewarnai kucingnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, senyuman kecil muncul di wajahnya.

 

Di sudut ruangan, Shila memperhatikan mereka sambil membaca buku. Setelah beberapa saat, ia menutup bukunya dan mendekat.

 

“Kamu suka kucing?” tanyanya pada Aulia.

 

Aulia mengangguk pelan.

 

“Dulu aku punya kucing di rumah. Namanya Ciko.”

 

Shila tersenyum tipis. “Kalau kamu suka, aku punya buku cerita tentang kucing. Kamu mau baca bareng aku?”

 

Aulia ragu sejenak, tetapi akhirnya mengangguk. Shila membawanya ke rak buku kecil di sudut ruangan dan mengambil sebuah buku dengan gambar kucing di sampulnya. Mereka duduk berdampingan, membaca bersama. Aulia merasa tenang, seolah dunia yang penuh kesedihan perlahan menghilang.

 

Beberapa hari kemudian, panti asuhan sibuk dengan persiapan acara amal. Bu Santi mengumumkan bahwa anak-anak akan membuat kerajinan tangan untuk dijual di acara itu. Iqbal langsung bersemangat menggambar berbagai pola untuk dijadikan kartu ucapan.

 

“Aulia, kamu harus ikut! Kamu bagus banget gambarnya,” ujar Iqbal sambil memamerkan karyanya.

 

“Benar. Kamu bisa bikin gambar kucing untuk kartu ucapan.”

 

Awalnya, Aulia merasa ragu. Namun, dorongan dari Iqbal dan Shila membuatnya memberanikan diri. Ia mulai menggambar kucing-kucing kecil dengan berbagai pose—ada yang tidur, melompat, dan bermain bola benang. Anak-anak lain yang melihat karya Aulia memuji hasilnya, membuat gadis itu merasa percaya diri.

 

“Lihat ini, Bu Santi,” kata Iqbal, menunjukkan kartu buatan Aulia.

 

Bu Santi tersenyum hangat. “Kamu berbakat sekali. Nanti kartu ini pasti banyak yang suka.”

 

Hari acara amal tiba, dan karya Aulia menjadi salah satu yang paling diminati. Anak-anak lain membantu menjual kartu ucapan, sementara Aulia hanya berdiri di belakang meja, merasa canggung. Tapi ketika seorang pembeli memuji karyanya dan membeli beberapa kartu, ia tak bisa menahan senyumnya.

 

“Lihat, Aulia! Karyamu laku keras!” seru Iqbal.

 

Malam itu, setelah acara selesai, Aulia duduk di kamarnya sambil memegang salah satu kartu buatannya yang tersisa. Ia merasa bangga, bukan hanya karena karyanya dihargai, tetapi juga karena ia telah menemukan sesuatu yang membuatnya bahagia.

 

Shila, yang sedang membaca di tempat tidur, menoleh. “Kamu kelihatan senang.”

 

Aulia mengangguk. “Iya… Aku nggak nyangka aku bisa bikin sesuatu yang orang lain suka.”

 

Shila tersenyum. “Itu karena kamu berbakat. Kadang kita cuma perlu mencoba untuk tahu apa yang bisa kita lakukan.”

 

Aulia merasa malam itu adalah malam yang istimewa. Di panti asuhan ini, ia mulai menemukan hal-hal yang bisa membuatnya lupa sejenak dari kesedihan. Meski rindu keluarganya tetap ada, ia tahu ia tidak sendirian. Ada teman-teman baru dan dunia baru yang menantinya.

 

“Apa cita-citamu, Aulia?” Pertanyaan itu muncul dari Bu Santi, yang berdiri di depan ruangan dengan senyum lembut. Di tangannya, terdapat sebuah papan tulis kecil bertuliskan Hari Harapan.

 

Aulia terdiam, pensil di tangannya terasa dingin. Anak-anak di panti asuhan berkumpul di ruang tengah, masing-masing memegang kertas dan pensil, bersiap menuliskan impian mereka.

 

“Semua anak pasti punya cita-cita,” lanjut Bu Santi, menatap mereka satu per satu. “Hari ini, kita akan menuliskan harapan dan impian kita, lalu menempelkannya di pohon harapan. Ingat, apapun yang kalian tulis, itu penting. Jangan takut untuk bermimpi besar.”

 

Aulia melihat sekeliling. Iqbal sudah mulai menggambar sesuatu di kertasnya, tampaknya ia tidak menulis melainkan menyampaikan impiannya lewat gambar. Di sebelahnya, Shila tersenyum kecil sambil menulis sesuatu dengan rapi.

 

“Ayo, Aulia,” bisik Iqbal sambil mendorong pelan bahunya. “Apa sih yang paling kamu pengen?”

 

Aulia berpikir keras. Selama ini, hidupnya lebih banyak diisi kerinduan, tapi setelah beberapa minggu di panti, ia mulai menemukan hal-hal kecil yang membuatnya bahagia. Akhirnya, ia mulai menulis, aku ingin menjadi seorang pelukis.

 

Setelah selesai, ia memandang kertas itu lama. Kata-kata sederhana itu terasa begitu besar baginya.

 

“Apa yang kamu tulis?” tanya Shila sambil melirik ke arah kertas Aulia.

 

“Pelukis. Aku suka menggambar. Aku ingin… aku ingin gambarku bisa dilihat banyak orang.”

 

Shila tersenyum. “Itu cita-cita yang bagus. Aku yakin kamu bisa.”

 

Setelah semua anak selesai menulis, Bu Santi mengarahkan mereka ke halaman belakang, tempat sebuah pohon besar berdiri kokoh. Di salah satu cabangnya, tergantung pita-pita berwarna-warni, menandai Pohon Harapan.

 

“Satu per satu, kalian tempelkan harapan kalian di pohon ini. Ini simbol impian kalian. Setiap hari, kita akan ingat bahwa apapun yang kita tulis hari ini bisa kita capai, asal kita berusaha.”

 

Aulia berjalan ke depan dengan langkah ragu, kertas kecilnya tergenggam erat. Ketika tiba di pohon, ia menatap cabang-cabangnya yang kokoh. Dalam hati, ia berbisik, Aku ingin impianku jadi kenyataan. Dengan hati-hati, ia menempelkan kertasnya di salah satu cabang.

 

Setelah semua kertas terpasang, anak-anak berkumpul di sekitar pohon. Mereka saling berbagi cerita tentang cita-cita mereka. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, penyanyi, bahkan astronot.

 

“Iqbal, kamu mau jadi apa?” tanya salah satu anak.

 

Iqbal tersenyum lebar sambil menunjukkan gambarnya—sebuah roket besar yang menjulang ke langit.

 

“Aku mau bikin pesawat luar angkasa! Nanti aku bisa keliling dunia, terus bikin galeri seni buat karya Aulia.”

 

Mendengar itu, anak-anak tertawa, termasuk Aulia. Tapi di balik candaannya, ia merasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dihargai.

 

Setelah acara selesai, Aulia duduk di dekat pohon sendirian. Angin sore meniup pelan, menggoyangkan pita-pita dan kertas harapan di atasnya. Shila datang membawa sebuah buku dan duduk di sampingnya.

 

“Aku percaya kamu bisa jadi pelukis,” kata Shila sambil menyerahkan buku sketsa kosong. “Ini untuk kamu. Isinya kosong, tapi aku yakin kamu bisa mengisinya dengan hal-hal luar biasa.”

 

Aulia memegang buku itu dengan hati-hati, seperti memegang sesuatu yang sangat berharga. “Terima kasih, Shila. Aku nggak pernah punya buku sketsa sebelumnya.”

 

Shila tersenyum kecil. “Kalau kamu punya mimpi, kamu harus mulai dari sekarang. Jangan tunggu nanti.”

 

Bandung, 01 Januari 2025

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1