Oleh : Herri Permana
Film Never Leave Me arahan sutradara Aida Begic yang ditayangkan sebagai pembuka rangkaian di acara Madani Film Festival. Berhasil ikut memajukan dunia perfilman Indonesia.
Tentang Film Never Leave Me
Never Leave Me merupakan film dari sutradara asal Bosnia, Aida Begic. Mengisahkan tentang pilunya anak-anak pengungsi Suriah yang tinggal di panti asuhan yang diperankan langsung oleh anak Suriah. Film Festival Pembukaan Madani diwarnai isak tangis setelah dibuka dengan film berjudul “Never Leave Me” Film ini, bercerita tentang kisah nyata dan nasib anak-anak pengungsi perang Suriah di perbatasan Turki.
Penulis film “Never Leave Me“, Aida mengatakan filmnya yang bercerita mengenai kemanusiaan lintas ras dan agama. Terdapat kenyataan bahwa perang seperti apapun akan mengorbankan banyak hal, bahkan anak-anak.
Sinopsis Film “Never Leave Me”
Never Leave Me   ( Birakma Beni, 2017 ), film terbaru Aida Begic, mengisahkan tentang Isa, Ahmed dan Muataz, yaitu tiga anak yang sama-sama merasakan pahitnya perang dan terpisah dari orang tua. Kemudian, anak tersebut dikirim ke panti asuhan yatim piatu pengungsi Suriah di Turki. Sementara, ayahnya meninggal dan adiknya terluka saat mereka bertiga terkena ledakan bom saat mengendarai mobil di salah satu kawasan di Suriah yang aman.
Film ini dianggap mempunyai cerita yang cukup menarik, sebab mampu mengemas suasana anak-anak yang mengalami trauma perang di yayasan panti asuhan menjadi sebuah cerita drama. Seperti, adegan di sebuah pemakaman di Suriah. Seorang anak berusia 14 tahun bernama Isa Demlakhi ketika sedang melihat pemakaman Ibunya. Wajah anak tersebut, tidak bergerak sama sekali, dan tanpa ekspresi. Ternyata, Isa sudah tidak memiliki orangtua.
Dalam waktu singkat, ia melarikan diri dan melintasi perbatasan Turki bagian Timur, dengan kerumunan imigran yang putus asa. Tanpa menjelaskan dengan tepat bagaimana hal tersebut terjadi, Isa berakhir di sebuah panti asuhan yang kecil dan nyaman untuk anak-anak pengungsi Suriah. Kota tersebut adalah Sanliurfa, kota multietnik kuno Turki, Kurdi, dan Arab.
Di sisi lain, ada Muataz anak berumur 10 tahun yang bercita-cita ingin bernyanyi di ajang pencari bakat, berharap ibunya yang di Istambul(yang mengabaikan setelah menikah lagi) akan melihatnya dan mengajaknya tinggal bersama. Sedangkan Ahmad (Ahmad Husrom), anak berusia 11 tahun yang ceriwis yang selalu merindukan ayahnya setiap kali melihat sang ayah.
Untuk mencari nafkah, ketiga anak itu terpaksa berjualan tisu di wilayah Balikligol yang digambarkan sangat eksotis. Tak peduli dengan anak-anak yang giat bekerja. Tujuan mereka mencari uang adalah untuk pergi ke Kta Adana dengan tujuan untuk mengantar Ahmad ke ajang lomba menyanyi. Dengan berbagi karakterstik, meskipun berada di tengah goncangan pasca-perang, ada Tukka yang ingin membeli sepasang merpati untuk adiknya, tetapi uangnya selalu kurang.
Karakteristik Tokoh dalam Film
Ketiga tokoh Isa, Ahmed dan Muataz merupakan tiga anak yang sama-sama merasakan pahitnya perang dan tinggal di panti asuhan. Ada juga seorang perempuan Belia yang kasar dan tak mau bergabung dengan anak jalanan lainnya. Tetapi, sebenarnya mempunyai sifat baik hati. Mengingat aktor-aktornya adalah para pengungsi perang dan yatim atau piatu, emosi mereka tertransfer kuat hingga ke penonton.
Selan itu, lagu yang didendangkan oleh biduan cilik di pentas seni tersebut sangat menjiwai kepada para penonton. Emosi dan penghayatan para pemain begitu terasa,saat mereka kehilangan orangtua dan kehidupan normal, hingga terasingkan di negeri lain dalam bahasa lain. Tentu, mereka harus beradaptasi dengan keadaan tersebut. Walaupun sama halnya mereka menyakiti teman-temannya untuk bertahan hidup, atau tetap mempertahankan kepolosan kanak-kanak yang hakikatnya adalah dunia bermain.
Film tersebut sekilas mirip dengan ciri-ciri film pendekatan neorealisme yang diterapkan oleh film Iran pasca 1997, khususnya Majid Majidi, Jafar Panahi, dan keluarga Makhmalbaf. Semangat Aida yang berjaya di Cannes untuk film Djeca dan Snijeg yang transnasional yang merupakan seorang Bosnia melihat pengungsi Syiria di Turki sekilas mirip dengan film Kandahar(Mohsen Makhmalbaf, 2001) atau Blackboard (2000, Samira Makhmalbaf berkaitan dengan pengungsi Afghanistan dan suku Kurdi.
Latar Belakang Pembuatan Film
Film tersebut dilatar belakangi oleh Aida (pembuat film) sudah mengalami sendiri kejadian yang mirip dengan yang dialami oleh aktor-aktor ciliknya. Ia juga menyintas perang, saat remaja Bosnia dilanda perang dari negeri tetangganya. Ia juga mengalami luka dan kehilangan sesuatu yang menjadi nilai lebih saat mengarahkan dan melakukan riset mendalam.
Bersama Proyek Yetim, Aida hidup bersama dan bersahabat dengan para pengungsi dan yatim piatu Syiria ini di Turki, selama setahun, khususnya di daerah Gaziantep, Şanlıurfa, Hatay dan Akçakale. Hasil dari lokakarya dan wawancara dengan ratusan anak yatim itu, berkaitan dengan kisah-kisah tentang perasaan, mimpi, dan harapan yang dialami oleh pemeran filmnya. Aktor-aktor di film ini adalah para piatu piatu di panti asuhan yang Aida kunjungi, dan dikembangkan menjadi skenario.
Film dari hasil lokakarya dan wawancara dengan ratusan anak yatim panti asuhan yang cocok menjadi film rekomendasi Anda. Film Never Leave Me juga menjadi salah satu perwakilan Bosnia untuk kategori “Film Berbahasa Asing Terbaik” di Academy Awards ke-91 mendatang.
Bandung , 21 November 2022
Penulis adalah Ketua LKSA Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




