Perang Talas , Titik Awal Peradaban dan Pengetahuan Dunia Islam

perang talas

 

 

Perang Talas atau Perang Artlakh adalah momen penting dalam sejarah, menandai konflik militer antara peradaban Arab dan China pada abad ke-8. Pada bulan Juli 751 Masehi, pasukan Kekaisaran T’ang di China dan Kekhalifahan Abbasiyah yang didukung oleh Kekaisaran Tibet saling bentrok di lembah Sunai Talas untukmemperebutkan kendali atas wilayah Syr Darya di Asia Tengah.

Pada abad 8 M , Dinasti T’ang (618-906 M) memperluas ekspansi dan pengaruhnya ke Asia Tengah baik melalui diplomasi perdangan , protektorat maupun invasi wilayah. Dalam perjalanannya dinasti T’ang mendapatkan perlawanan dari beberapa negri di perbatasannya seperti Tibet , Uyghur , Turfan dll.

Di saat bersamaan di dunia Arab muncul kekuatan besar yaitu Dinasti Umayyah yang melakukan ekspansi besar dan cepat ke arah barat sampai ke Spanyol / Andalusia , maupun ke timur sampai ke Persia dan Asia Tengah.

Bentrokan pertama kedua kemaharajaan besar ini terjadi ketika Dinasti Umayyah menaklukkan Kashgar (daerah perbatasan China dan Kyrgistan saat ini). Bentrokan pertama pun pecah di Ferghana (Afghanistan) pada tahun 715 antara pasukan Umayyah dan Kekaisaran T’ang.

Runtuhnya Daulah Umayyah digantikan Daulah Abasyiyah pada tahun 750 M tidak meredakan ketegangan , bahkan Daulah Abasyiyah lebih agresif memperkuat basis kekuatannya di Asia Tengah.

 

Awal Koalisi Tibet dalam Perang Talas

Kerajaan Tibet yang didirikan Songtsan Gampo  saat itu menjadi sebuah kekuatan menengah di Asia Tengah. Pada dasarnya wilayah Asia Tengah sangat sulit ditaklukkan karena dihuni oleh ratusan bahkan ribuan suku nomaden. Ekspansi penaklukkan Daulah Umayyah ke Bukhara dan Samarkand oleh Jendral Qutaiba merubah perimbangan kekuatan.

Dinasti T’ang sejak awal bermusuhan dengan Tibet yang saat itu merupakan negara yang kaya karena perdagangan di jalur sutra. Untuk menahan ekspansi Tibet, Dinasti T’ang menjalin aliansi dan protektorat dengan sejumlah negara kecil di sekitar Tibet.

Pada tahun 651, pasukan Umayyah yang dipimpin Jendral Qutaiba merebut ibu kota Sassania di Merv dan mengeksekusi rajanya, Yazdegerd III. mereka kemudian menaklukkan Bukhara, Lembah Ferghana, dan sampai ke timur sampai ke Kashgar (di perbatasan Cina/Kirgistan saat ini).

Putra Yazdegerd III yang bernama Firuz berhasil melarikan diri ke Cina setelah kejatuhan Merv, dan meminta bantuan dari Kaisar T’ang di ibukota Ch’ang An. Firuz kemudian diangkat menjadi Jendral Dinasti T’ang dan ditempatkan di Zaranj (Afhanistan).

Konflik awal Arab-China terjadi ketika Tibet meminta bantuan Dinasti Umayyah untuk mengguingkan Raja Ikhasid yang pro China (Dinasti T’ang) dan menggantikannya dengan Alutar . Ikhasid meminta bantuan Dinasti T’ang untuk merebut kembali tahtanya.

Pada 715, bentrokan bersenjata pertama antara kedua kekuatan ini terjadi di Lembah Ferghana, Afghanistan. Dinasti T’ang yang mengirimkan 10.000 pasukan yang kemudian bentrok dengan aliansi Tibet dan Umayyah di lembah Ferghana yang dimenangkan pasukan Aliansi Tibet-Arab. Pasukan Tibet dan Umayyah kemudian menyerang Xinjiang , Barat China. Dinasti T’ang mengirimkan pasukan bayaran dari suku Turki Qorluk yang akhirnya berhasil mengalahkan dan mengusir pasukan koalisi Tibet dan Umayyah.

Terjadinya Perang Talas

Perubahan rezim dari Dinasti Umayyah ke Abasyiah pada tahun 750 tidak merubah koalisi antara Tibet dan Arab.

peta pertempuranRaja Ferghana bersengketa dan bentrok dengan Raja Chach Tashkent tentang perbatasan. Raja Chach sebelumnya telah menjalin hubungan dekat dengan pasukan Arab-Islam. Raja Ferghana pada tahun 750 Masehi meminta bantuan China, dan Dinasti Tang mengirim Jenderal Go Seong-ji, seorang etnis Korea.

Jenderal Go, dengan taktiknya yang taktis dan cerdas berhasil menghancurkan Raja Chach. Tapi putra raja berhasil melarikan diri dan melaporkan hal itu pada gubernur Abbasiyah di Khorasan yang bernama Abu Muslim.

Abbasiyah kemudian mengumpulkan pasukannya dan menunjuk Jendral Ziyad ibn Salih untuk berbaris menuju timur. Mereka datang untuk menegaskan supremasinya di wilayah tersebut. Pada akhirnya, dua pasukan dari dua peradaban besar Asia akan berjumpa dalam pertempuran berdarah di dekat Sungai Talas pada tahun 751 Masehi.

Pasukan Abasyiah disertai sekutunya Tibet dan Uyghur dipimpin Jendral Ziyad in Salih berhadapan dengan pasukan T’ang yang didukung pasukan bayaran Turki Qorluk yang dipimpin Jendral beretnis Korea Go Seong-Ji. Para sejarawan berselisih tentang berapa kekuatan kedua pasukan yan tercatat berkisar sekitar 30.000-100.000 pasukan, sebuah jumlah yang menunjukkan betapa besarnya kekuatan kedua kerajaan.

Pertempuran berlangsung dengan sengit selama 5 hari sampai kemudian dengan tiba-tiba Suku Turki Qurluk berkhianat dan menyerang pasukan T’ang dari belakang. Pasukan T’ang pun hancur hanya tersisa beberapa ratus saja yang kembali. Sementara ribuan sisanya diawa ke Samarkand menjadi tawanan dan budak. Jendral Go Seong-Ji sendiri akhirnya dihukum penggal pada tahun 756 M.

Tapi semenjak pertempuran besar ini Dinasti Abasyiyah menghentikan sama sekali ekspansinya ke wilayah timur di sisi lain Dinasti T’ang pun menghentikan juga ekspansinya ke barat selain karena melemanya kekuatannya akibat kekalahan tersebut.

Tiet pada tahun 763 berhasil merebut ibu kota T’ang Ch’ang An , sementara tentara Khitan di Utara China juga berhasil meneroos perbatasan, di selatan Bangsa Lao juga berhasil mereut wilayah Yunnan ditambah pemerontakan An shi di internal semakin membawa dinasti T’ang kepada kemunduran dan akhirnya hancur.

 

Bangkitnya Peradaban dan Pengetahuan di Dunia Islam

 

Efek positif dari Perang Talas sejatinya bukanlah kemenangan ataupun perluasan wilayah. Akan tetapi menjadi awal bangkitnya peradaban dan pengetahuan di dunia Islam. Setelah pertempuran diantara tawanan terdapat sejumlah ahli pembuatan kertas.

Teknologi kertas saat itu sangat dirahasiakan, kalau ada yang membocorkannya ke pihak luar akan dihukum mati. Tertangkapnya para ahli pembuat kertas ini menjadi berkah yang sangat berharga untuk dunia islam. Saat itu untuk menulis biasanya dilakukan di kulit binatang , sehingga untuk membuat satu buku saja bisa menghabiskan satu atau dua ekor lembu.

perpustakaanTidak seperti China , penguasa Abasyiyah menyebarkan teknologi ini ke semua penjuru. Dengan adanya kertas transfer pengetahuan menjadi mudah karena murahnya biaya pembuatan sebuah buku. Bahkan penguasa dinasti Abasyiyah mensponsori penerbitan buku juga penerjemahan buku-buku berbahasa asing.

Bayt Al Hikmah atau Baitul Hikmah (Rumah Kebijaksanaan), merupakan perpustakaan sekaligus lembaga riset pertama di dunia Islam. Ia jadi pilar Zaman Keemasan Islam., yang didirikan atas perintah Khalifah Harun Al Rasyid sekitar tahun 800 M. Dalam sejarah perpustakaan ini menyimpan koleksi salam leih 3 juta buku pada masanya, salah satunya Kitab al-Jabr wa’l-muqabla atau biasa disebut Aljabar (Al-Jabr) oleh al Khwarizmi pada abad ke 9 masehi. Di dunia barat, karya ini dikenal dengan ‘Book of Restoring and Balancing‘, buku ini dapat dianggap sebagai buku induk matematika dan algoritma hingga saat ini.

 

Bandung , 21 Desember 2024

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

 

 

 

Donasi Yuk
1