Keberadaan Yahudi di Indonesia tercatat dalam sejarah cukup lama di Indonesia. Diantaranya komunitas Yahudi Mizrahi, Yahudi Baghdadi , Yahudi Sefardi, Yahudi Ashkenazi, Yahudi India, Yahudi Yaman, Yahudi Ethiopia, Yahudi Sephardim dan Yahudi Kaifeng. Walau sekarang sudah hampir tidak ada tapi di Sulawesi Utara masih ada komunitas Yahudi aktif di Kota Tondano yang merupakan komunitas Yahudi Sefardi dengan Sinagog Sinagoge Shaar Hasyamayin. Sinagoga Sha’ar HaShamayim di Jl Kayun Surabaya yang sempat berdiri sejak jaman Belanda merupakan sinagog Yahudi Baghdadi (Irak) masih berdiri dimana komunitas ini dulu berbaur dengan komunitas Arab di sekitaran Ampel.
Sejarah Awal Kedatangan Yahudi di Indonesia
Keberadaan Yahudi di Indonesia bisa dilacak sampai abad ke 7 M. Musafir Abû Zayd Hasan al-Sîrafî dalam tulisannya tentang Pembantaian Guangzhou dalam Pemberontakan An Shi di abad ke-7 pada masa keruntuhan dinasti T’ang , menandakan sudah adanya komunitas Yahudi di China, setidaknya di Guangzhou pelabuhan yang menghubungkan Tiongkok dan India, kapal perdagangan untuk pelabuhan tesebut diperkirakan akan melalui wilayah Indonesia sekarang.
Dengan iklim setempat berupa angin monsun memerlukan kapal untuk berlabuh berbulan-bulan di berbagai pelabuhan diantara kedua lokasi tersebut, seperti di Semenanjung Malaya dan perairan Sumatra.
Penulis Persia Buzurg bin Shahriyar di Kitab Aja’ib Al-Hind Barrihi wa Bahrihi wa Jaza’irihi (“Hal-hal menakjubkan mengenai daratan, lautan, dan kepulauan Hindia”) yang ditulis pada abad ke-10. Ia menulis seorang Yahudi dari Oman bernama Ish’âq bin al-Yahûdî yang melakukan perjalanan ke Tiongkok dan sempat singgah di Sarîra (Serboza atau Sribuza; mungkin Sriwijaya?).
Catatan dari Ibrâhîm bin Mûsâ bin Maymûn (Avraham ben ha-Rambam, Abraham Maimonides) seorang pemimpin Yahudi Kairo (abad ke-13) yang mengeluarkan fatwa (t’shuva) bagi seorang istri yang dalam posisi aguna (terikat), karena ditinggal suaminya yang merupakan pedagang dari Aden ke bilâd al-Hind (Hindia) yang kemudian meninggal dalam perjalanan kembali. Yang menarik adalah ia merupakan pedagang kapur barus (kâfur) dari Fans’ûr, di Sumatra (sekarang Barus). Bukti-bukti tersebut menandakan adanya kaum Yahudi yang terlibat dalam perdagangan dengan wilayah Indonesia di masa lampau.
Dalam catatan lain pada awal abad 10 , Â Ishaaq Yehuda seorang Yahudi Oman berdagang di Sumatra dan tewas dirampok di wilayah kerajaan Sriwijaya
Kedatangan Yahudi ke Indonesia di masa VOC
Kehadiran orang Yahudi di Hindia Belanda, yang kini dikenal sebagai Indonesia, memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Meskipun komunitas Yahudi di wilayah ini tidak pernah besar, peran mereka dalam perdagangan, budaya, dan kehidupan sosial selama masa pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perusahaan Hindia Timur Belanda (1602-1799) patut untuk dicatat. Keberadaan mereka mencerminkan dinamika kolonialisme, toleransi terbatas, dan interaksi antarkelompok etnis dan agama di Nusantara.
Orang Yahudi mulai bermigrasi ke Hindia Belanda pada abad ke-17, seiring dengan ekspansi VOC di Asia. Sebagian besar dari mereka adalah keturunan Yahudi Sephardim yang berasal dari Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal). Setelah pengusiran besar-besaran orang Yahudi dari Spanyol pada tahun 1492 dan Portugal pada tahun 1497, banyak dari mereka yang menetap di Belanda, terutama di Amsterdam. Belanda pada saat itu dikenal relatif toleran terhadap kelompok minoritas, termasuk Yahudi.
Dari Belanda, beberapa orang Yahudi kemudian bergabung dengan ekspedisi dagang VOC ke Asia, termasuk ke Hindia Belanda. Mereka tertarik oleh peluang ekonomi yang ditawarkan oleh perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya di Nusantara. Selain itu, beberapa orang Yahudi juga melarikan diri dari Inkuisisi Spanyol dan Portugal, mencari tempat yang lebih aman untuk menjalankan keyakinan mereka.
Orang Yahudi memainkan peran penting dalam jaringan perdagangan VOC, meskipun mereka tidak selalu diakui secara resmi. Sebagai pedagang, pemilik kapal, dan agen dagang, mereka membantu menghubungkan Hindia Belanda dengan pasar internasional, termasuk Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan. Beberapa orang Yahudi juga bekerja sebagai penasihat keuangan atau pemasok barang-barang mewah untuk pejabat VOC.
Namun, VOC memberlakukan kebijakan yang diskriminatif terhadap orang Yahudi. Mereka tidak diizinkan memegang posisi resmi dalam struktur pemerintahan VOC atau menjadi anggota dewan direksi perusahaan. Meskipun demikian, beberapa orang Yahudi berhasil mencapai kesuksesan dalam bidang ekonomi, terutama melalui hubungan pribadi dengan pejabat VOC.
Komunitas Yahudi di Hindia Belanda pada masa VOC relatif kecil dan tersebar di beberapa kota pelabuhan, seperti Batavia (sekarang Jakarta), Surabaya, dan Semarang. Di Batavia, orang Yahudi menetap di sekitar daerah Kota Tua, yang merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan kolonial. Mereka membentuk komunitas kecil tetapi cukup solid, dengan jaringan yang terhubung ke komunitas Yahudi di Belanda, India, dan Timur Tengah.
Meskipun hidup di tengah masyarakat yang mayoritas Muslim dan Kristen, orang Yahudi berusaha mempertahankan identitas dan tradisi keagamaan mereka. Mereka mendirikan sinagoga (rumah ibadah Yahudi) dan merayakan hari-hari besar keagamaan seperti Rosh Hashanah (Tahun Baru Yahudi), Yom Kippur (Hari Penebusan), dan Hanukkah (Festival Cahaya). Namun, karena jumlah mereka yang kecil, kegiatan keagamaan sering kali dilakukan secara tertutup atau dalam lingkup keluarga.
Orang Yahudi Terkenal di VOC Hindia Belanda
Meskipun komunitas Yahudi di Hindia Belanda pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) tidak pernah besar, beberapa individu Yahudi menonjol karena peran mereka dalam perdagangan, administrasi, dan kehidupan sosial. Keberadaan mereka mencerminkan dinamika kolonialisme dan interaksi antarkelompok etnis dan agama di Nusantara. Berikut adalah beberapa tokoh Yahudi terkenal yang terkait dengan VOC Hindia Belanda:
- Jacob Juda Lion (1596-1675)
Jacob Juda Lion adalah salah satu tokoh Yahudi paling terkenal yang terkait dengan VOC. Ia berasal dari Amsterdam dan merupakan anggota komunitas Yahudi Sephardim yang bermigrasi ke Hindia Belanda. Lion dikenal sebagai pedagang sukses yang terlibat dalam perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya. Ia juga memiliki hubungan baik dengan pejabat VOC, yang memungkinkannya untuk menjalankan bisnisnya dengan lancar.
Lion menetap di Batavia (sekarang Jakarta) dan menjadi salah satu tokoh terkemuka dalam komunitas Yahudi di sana. Meskipun VOC memberlakukan kebijakan yang diskriminatif terhadap orang Yahudi, Lion berhasil mencapai kesuksesan berkat kecerdasan bisnis dan jaringan yang luas.
- David Cohen Nassy (1612-1685)
David Cohen Nassy adalah tokoh Yahudi lainnya yang terkenal di Hindia Belanda. Ia berasal dari keluarga Yahudi Sephardim yang menetap di Belanda setelah pengusiran dari Portugal. Nassy tiba di Batavia pada pertengahan abad ke-17 dan terlibat dalam perdagangan internasional, terutama dalam ekspor-impor rempah-rempah.
Nassy juga dikenal sebagai pemimpin komunitas Yahudi di Batavia. Ia membantu mendirikan sinagoga dan pusat kegiatan komunitas Yahudi di kota tersebut. Meskipun menghadapi tantangan dan diskriminasi dari pemerintah kolonial, Nassy berhasil mempertahankan identitas dan tradisi keagamaan Yahudi di tengah masyarakat yang mayoritas non-Yahudi.
- Isaac Haim Senior (1625-1694)
Isaac Haim Senior adalah seorang pedagang dan pemilik kapal Yahudi yang aktif dalam jaringan perdagangan VOC. Ia berasal dari Amsterdam dan tiba di Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-17. Senior terlibat dalam perdagangan rempah-rempah, tekstil, dan barang-barang mewah antara Hindia Belanda, Eropa, dan Asia Selatan.
Senior dikenal sebagai salah satu tokoh Yahudi terkaya di Batavia pada masanya. Ia memiliki hubungan baik dengan pejabat VOC dan penguasa lokal, yang memungkinkannya untuk mengembangkan bisnisnya dengan sukses. Meskipun demikian, Senior juga menghadapi tantangan dan diskriminasi dari pemerintah kolonial, yang membatasi aktivitas ekonomi dan sosial orang Yahudi.
- Abraham Cohen (1630-1690)
Abraham Cohen adalah seorang pedagang dan penasihat keuangan Yahudi yang bekerja untuk VOC. Ia berasal dari keluarga Yahudi Sephardim yang menetap di Belanda setelah pengusiran dari Spanyol. Cohen tiba di Batavia pada pertengahan abad ke-17 dan terlibat dalam perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya.
Cohen dikenal sebagai penasihat keuangan yang handal bagi pejabat VOC. Ia membantu mengelola keuangan perusahaan dan memberikan saran tentang strategi perdagangan. Meskipun tidak diizinkan memegang posisi resmi dalam struktur pemerintahan VOC, Cohen berhasil mencapai pengaruh yang signifikan melalui hubungan pribadi dengan pejabat tinggi.
- Moses Cohen Belinfante (1640-1700)
Moses Cohen Belinfante adalah seorang pedagang dan pemilik kapal Yahudi yang aktif dalam jaringan perdagangan VOC. Ia berasal dari Amsterdam dan tiba di Hindia Belanda pada pertengahan abad ke-17. Belinfante terlibat dalam perdagangan rempah-rempah, tekstil, dan barang-barang mewah antara Hindia Belanda, Eropa, dan Asia Selatan.
Belinfante dikenal sebagai salah satu tokoh Yahudi terkaya di Batavia pada masanya. Ia memiliki hubungan baik dengan pejabat VOC dan penguasa lokal, yang memungkinkannya untuk mengembangkan bisnisnya dengan sukses. Meskipun demikian, Belinfante juga menghadapi tantangan dan diskriminasi dari pemerintah kolonial, yang membatasi aktivitas ekonomi dan sosial orang Yahudi.
- Samuel Cohen (1650-1710)
Samuel Cohen adalah seorang pedagang dan penasihat keuangan Yahudi yang bekerja untuk VOC. Ia berasal dari keluarga Yahudi Sephardim yang menetap di Belanda setelah pengusiran dari Portugal. Cohen tiba di Batavia pada pertengahan abad ke-17 dan terlibat dalam perdagangan rempah-rempah dan komoditas lainnya.
Cohen dikenal sebagai penasihat keuangan yang handal bagi pejabat VOC. Ia membantu mengelola keuangan perusahaan dan memberikan saran tentang strategi perdagangan. Meskipun tidak diizinkan memegang posisi resmi dalam struktur pemerintahan VOC, Cohen berhasil mencapai pengaruh yang signifikan melalui hubungan pribadi dengan pejabat tinggi.
Kedatangan Yahudi dari Arab
Komunitas Yahudi di Indonesia sebagian besar berasal dari wilayah Timur Tengah, terutama dari negara-negara Arab seperti Irak, Yaman, dan Suriah. Pada abad ke-19, banyak orang Yahudi di wilayah ini menghadapi tekanan sosial, politik, dan ekonomi. Di Irak, misalnya, komunitas Yahudi yang telah hidup selama ribuan tahun mulai merasa terancam akibat meningkatnya ketegangan antara kelompok agama dan etnis. Di Yaman, situasi serupa terjadi, di mana orang-orang Yahudi sering kali menjadi korban diskriminasi dan kekerasan.
Kondisi ini mendorong banyak keluarga Yahudi untuk mencari kehidupan yang lebih baik di luar negeri. Mereka memanfaatkan jaringan perdagangan yang sudah terbentuk antara Timur Tengah dan Asia Tenggara, termasuk Nusantara, untuk bermigrasi. Selain itu, keberadaan kolonial Belanda di Indonesia juga menarik minat mereka, karena Belanda dikenal relatif toleran terhadap kelompok minoritas, termasuk Yahudi.
Orang-orang Yahudi dari Arab mulai tiba di Indonesia pada abad ke-19, terutama di kota-kota pelabuhan seperti Batavia (sekarang Jakarta), Surabaya, dan Semarang. Mereka umumnya datang sebagai pedagang, pengrajin, atau profesional. Beberapa dari mereka bekerja di sektor perdagangan tekstil, permata, dan barang-barang mewah, sementara yang lain terlibat dalam bisnis ekspor-impor.
Di Batavia, komunitas Yahudi awalnya menetap di sekitar daerah Kota Tua, yang merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan kolonial. Mereka membentuk komunitas kecil tetapi cukup solid, dengan jaringan yang terhubung ke komunitas Yahudi di negara lain, seperti India, Singapura, dan Timur Tengah. Di Surabaya, komunitas Yahudi juga berkembang pesat, terutama di daerah sekitar Jalan Pasar Kembang. Bahkan di tahun 1949 komunitas Yahudi Baghdadi (Irak) dibawah pimpinan Charlie Mussry membeli sebuah rumah di Jl Kayun yang kemudian dirubah menjadi Sinagog.
Jejak Yahudi di Indonesia
Keberadaan Yahudi di Indonesia tergambar dari sejumlah pemakaman Yahudi yang masih ada di seluruh negeri seperti di Pemakaman Kerkhof di Aceh, Semarang dan Surabaya di Jawa, di Pangkalpinang di Pulau Bangka, di Palembang di Sumatera Selatan, dan di Pineleng dan Matungkas di Sulawesi Utara.
Komunitas Yahudi di Indonesia terbagi menjadi dua, yaitu aliran Ortodoks dan Sekuler. Kelompok Ortodoks berpusat di Tondano dibawah pimpinan Rabi Yaakov Baruch. Sedangkan kelompok Sekuler terbagi menjadi Reformasi dan Konservatif yang tergabung dalam satu organisasi United Indonesian Jewish Community (UIJC), seperti Rabi Benjamin Meijer Verbrugge, yang membawahi untuk komunitas Yahudi di Jakarta, Surabaya, Manado, Bali, Sumba, Kupang, Ambon, Timika, dan Jayapura.
Beberapa Sinagog Yahudi di Indonesia
Torat Chaim, Jakarta
Jemaat kecil yang dipimpin oleh Rabi Tovia Singer dari Amerika, yang sebelumnya adalah satu-satunya Rabi di Indonesia. Sinagoge ini beroperasi bersama dengan Yayasan Eits Chaim Indonesia, sebelumnya satu-satunya organisasi Yahudi di Indonesia yang memiliki badan hukum resmi, di bawah naungan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen di Kementerian Agama Republik Indonesia.
Sinagoge Beit Torat Chaim, Jayapura
Sebuah jemaat kecil di Jayapura yang mendirikan sinagoge tahun 2014 di atas lahan seluas 120 m2 milik Rabi Aharon Sharon Melamdim, pemimpin komunitas Yahudi Sefardi Papua di Jayapura.
Sinagoga Sha’ar HaShamayim
Terdapat sinagoge di Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur di Indonesia. Selama bertahun-tahun itu adalah satu-satunya sinagoge di negara itu. Sinagoge ini menjadi tidak aktif mulai tahun 2009 dan tidak memiliki gulungan Taurat atau rabi. Itu terletak di Jalan Kayun 6 2.000 m2 diatas tanah dekat Sungai Kali Mas di rumah yang dibangun pada tahun 1939 selama pemerintahan Belanda.
Rumah itu dibeli oleh komunitas Yahudi setempat (asal Irak) dari seorang dokter Belanda pada tahun 1948 dan diubah menjadi sinagoge. Hanya mezuzah dan 2 Bintang Daud di pintu masuk yang menunjukkan keberadaan sinagoge. Komunitas di Surabaya tidak lagi cukup besar untuk mendukung minyan, yaitu kumpulan sepuluh orang yang dibutuhkan untuk melakukan ibadah umum. Gedung sinagoge yang merupakan cagar budaya, dijual oleh pemiliknya dan dihancurkan oleh pihak swasta pada tahun 2013 dan dijadikan hotel.
Sinagoge Sha’ar Hasyamayim, Tondano
Sejak tahun 2003, Sinagoge Shaar Hasyamayim telah melayani komunitas Yahudi lokal sekitar 30-50 orang di kota Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Saat ini merupakan satu-satunya sinagoge terbuka di Indonesia yang menyediakan layanan,[18] dan merupakan aliran Sefardi, tidak seperti aliran Hasidut seperti kebanyakan keturunan Belanda. Sebuah komunitas kecil Yahudi lokal tetap berada di daerah tersebut, sebagian besar merupakan keturunan Yahudi dan beralih kembali ke Yudaisme.
Bandung, 27 Januari 2025
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




