oleh : Herri Permana
Perang Jamal atau perang unta menjadi salah satu pertempuran yang terkenal dan terjadi pada tahun 656 di Basra, Irak. Peperangan ini terjadi antara dua kubu yaitu kubu Aisyah dan juga Ali bin Abi Thalib.
Disebut dengan perang unta (unta dijuluki sebagai jamal) karena Aisyah dan pasukannya menunggangi unta selama peperangan. Apa saja hal yang menyebabkan perang ini akhirnya pecah dan seperti apa akhirnya?
Hal yang Melatarbelakangi Perang Unta
Perang unta begitu dikenal karena bukan hanya perang pertama kaum Muslimin tetapi juga antara istri Nabi Muhammad yaitu Aisyah dan Ali bin Abi Thalib yang merupakan menantunya. Jika dilihat dari catatan sejarahnya, perang ini berawal dari kasus pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan.
Meninggalnya khalifah ketiga ini terus menjadi kontroversi di politik dan juga masyarakat sehingga menimbulkan peperangan. Dikisahkan, Utsman bin Affan terbunuh ketika ia sedang membaca Al Quran.
Pembunuhan ini terjadi karena sebelumnya sudah ada konflik dan pemberontakan karena ketidakpuasan dalam kepemimpinannya. Ali bin Abi Thalib yang awalnya bertindak menjadi penengah antara pemberontak dan juga Utsman.
Oleh karena itulah Ali bin Abi Thalib pun akhirnya diangkat sebagai khalifah keempat menggantikan Utsman meskipun awalnya menolak. Semenjak diangkat, dalam pemerintahan terjadi dua kubu yaitu mereka yang ingin segera mengusut aksi pembunuhan Utsman dan yang tidak.
Setelah naik menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib tidak kunjung mengusut kasus kematian tersebut. Mungkin saja Ali bin Abi Thalib menganggap bahwa sulit melakukannya karena situasi politik yang sedang bergejolak.
Melihat sikap yang diambil oleh pemimpinnya, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam yang tadinya mendukung justru mulai berbaiat. Thalhah dan Zubair lalu meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib untuk menunaikan ibadah umrah ke Mekkah.
Sesampainya di Mekkah, Thalhah dan Zubair bertemu dengan Aisyah yang akhirnya menjadi sekutu. Aisyah yang merupakan istri favorit Muhammad, mulai melakukan pemberontakan bersama Thalhah dan Zubair. Mereka bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Ali dan membentuk dewan yang akan menunjuk penggantinya.
Selama di Mekkah, Thalhah, Zubair dan Aisyah terus mencari rekan-rekan lain serta mantan pejabat yang kurang puas akan pemerintahan Ali. Dalam waktu singkat, Mekkah telah menjadi tempat pemberontakan.
Aisyah Bersiap untuk Perang
Selama persiapan perang di Mekkah, Aisyah terus mengumpulkan sekutu yang merupakan pejabat hingga orang lain yang terkena dampak penertiban pemerintahan Khalifah Ali.
Di antara semua sekutu yang diajak, terdapat Yala yaitu mantan gubernur Yanan saat itu. Yala menyerahkan 600 unta yang nantinya menjadi tunggangan Aisyah dan kawanannya dalam berperang.
Aisyah pun diberikan unta secara khusus bernama Al-Askar. Mengingat unta adalah kendaraan yang digunakan oleh para pemimpin perang, maka perang ini pun dinamai perang unta atau perang jamal.
Setelah berhasil mengumpulkan sekutu, Aisyah dan kelompoknya pun bertolak dari Mekkah. Ia berhasil mengumpulkan sebanyak 1.000 pasukan. Sedangkan dalam perjalanan bertambah pula pasukannya hingga 3.000.
Kelompok pemberontak pun akhirnya sampai di Basrah, seperti yang diketahui Aisyah bahwa di kota ini banyak pendukung Ali tinggal. Hal ini dibuktikan oleh gubernur Basrah tidak mengizinkan Aisyah untuk masuk bersama rombongannya.
Padahal selama perang mulut antara kubu Aisyah yang diwakili Thalhah dan Zubair dan gubernur Basrah pengikut Aisyah yang menuntut pengusutan pembunuhan Utsman terus bertambah.
Sementara itu Ali yang masih berada di Irak sedang mendapat perlawanan dari gubernur Syam yang tidak ingin membaiatnya sebelum pembunuh Utsman tertangkap. Ali yang sedang memecahkan masalah tersebut justru mendengar kabar gubernur Basrah mati dibunuh oleh pemberontak.
Mendengar berita inilah, Ali segera bertolak ke Basrah dan menunda kepergiannya ke Muawiyah di Syam. Sebelum Ali sampai, saat itu Asiyah sedang melakukan pidato yang berujung perang mulut. Pada akhirnya kubu Aisyah diperbolehkan untuk tinggal di Basrah untuk membuat keadaan kembali stabil.
Sayangnya kondisi tersebut tidak berlangsung lama, karena muncul suara dari provokator ‘jika menunggu hingga Ali datang, maka ia akan menghukum kita!’. Maka dari situlah pecah pertempuran, pertumpahan darah sesama umat Muslim yang pertama kali.
Para pejabat dan gubernur Basrah akhirnya terdesak dan tertangkap oleh kubu pemberontak. Bahkan para pengikutnya sudah banyak yang terbunuh.
Pertempuran dalam Perang Unta
Ali bersama 10.000 pasukan pun tiba di Basrah namun sebelum sampai, ia memperingatkan untuk tidak berperang. Apabila kaum pemberontak tidak mau menyerah maka Ali dan pasukannya berencana pulang.
Kubu Ali pun berkemah dan mendirikan satu tenda besar di antara kedua kubu untuk tempat bernegosiasi. Ali, Thalhah dan Zubair melakukan negosiasi di dalam tenda tersebut selama tiga hari namun tetap saja tidak mencapai kesepakatan apapun.
Tidak adanya kesepakatan akhirnya memuncak pada bulan Desember di tahun 656 Masehi. Masih ada satu usaha Ali untuk mencegah perang, yaitu mengirimkan perwakilan untuk membacakan salinan Al Quran di tengah kedua kubu. Sayangnya orang tersebut justru ditembak dan perang pun dimulai.
Sebelum memulai peperangan Ali terus memerintahkan pasukannya untuk melakukan perang dengan ketentuan khusus. Seperti tidak boleh menyerang terlebih dahulu, membunuh yang terluka serta tidak melukai anak-anak dan wanita.
Thalhah justru terbunuh pertama kali setelah perang dimulai dan Zubair meninggalkan medan perang. Al-Ahnaf bin Qays yang mengetahui kepergian Zubair dari medan perang lalu mengirim anak buah untuk membunuhnya. Karena pergi di medan perang adalah hal yang tidak terhormat.
Kematian dua sekutu terbesarnya membuat Aisyah sebagai pemimpin perang mengalami kesulitan. Setiap prajurit Aisyah yang menunggangi unta satu per satu memulai terbunuh. Ali pun meminta Asiyah untuk segera menyerah karena saat itu sudah banyak korban berguguran.
Akhir dari Pertempuran
Aisyah masih terus maju dan mendesak pembunuh Utsman segera diusut. Prajurit Ali pun menebas unta yang ditunggangi Aisyah hingga akhirnya ia tersungkur ke tanah. Baru dari situlah Aisyah bisa ditangkap dan diamankan.
Tertangkapnya Aisyah membuat semua pasukannya menarik diri. Selama ditawan Aisyah terus ditegur dengan keras oleh Ibnu Abbas dan Ali karena mengakibatkan kerusakan dan juga kematian banyak orang.
Pasalnya apa yang ia lakukan sudah bertentangan dengan Al Quran di mana janda Muhammad tidak sebaiknya meninggalkan rumahnya. Aisyah pun menyesal telah menimbulkan perpecahan dan perang karena menentang masalah Utsman. Serta mengakibatkan ribuan umat Muslim meninggal dunia.
Usai perang, Ali memberikan pengampunan publik kepada pemberontak. Anak buahnya pun dilarang untuk menyakiti semua tawanan maupun pembelot. Para tawanan dibebaskan dan harta benda mereka pun dikembalikan.
Sedangkan Aisyah dipulangkan secara terhormat ke rumahnya. Ali memerintahkan Muhammad bin Abu Bakar untuk mengawal Aisyah kembali ke Mekkah.
Beberapa riwayat sempat menyebutkan total orang yang meninggal dalam perang Jamal. Bagi kubu Ali total sebanyak 400 hingga 600 telah menjadi korban sedangkan pasukan Basrah meninggal hingga 2.500 orang. Jika ditotal, korban bisa mencapai 6.000 orang.
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




