Sudan : Negeri yang Terbakar — Luka, Lapar, dan Bayang-Bayang Abu Lulu

sudan

Prolog: Negeri yang Terbakar

Panas siang itu memantul dari pasir, membakar kulit dan mengeringkan tenggorokan. Di tengah reruntuhan kota El Fasher, seorang anak lelaki menggambar sesuatu di tanah dengan ranting kering: rumah, matahari, dan sosok ibu yang tersenyum. Tapi yang tersenyum itu tak lagi ada. Ibunya hilang tiga bulan lalu, ketika tembakan artileri RSF menghantam kamp pengungsi Abu Shouk.

Suara angin menggulung debu yang bercampur bau darah dan mesiu. Di kejauhan, bangunan rumah sakit anak-anak masih mengepulkan asap. “Kami mengevakuasi yang bisa diselamatkan,” kata seorang perawat, wajahnya berdebu, “tapi banyak yang mati sebelum kami sempat menyentuh mereka.”

Sudan bukan sekadar negara yang dilanda perang. Ia adalah negeri yang perlahan memakan dirinya sendiri — terbakar dari dalam oleh dendam lama, ketamakan, dan ketakutan. Di tengah penderitaan itu, dunia menonton dari kejauhan, seolah tragedi ini hanyalah satu berita di antara banyak bencana.

Tapi bagi rakyat Sudan, perang ini adalah kenyataan yang menelan hari-hari mereka. Di kota-kota yang tinggal puing, di desa yang diselimuti abu, dan di tenda pengungsian yang dihantam angin, mereka bertahan. Dalam diam. Dalam lapar. Dalam luka.


Akar Panjang Perang Sudan

Untuk memahami mengapa Sudan terbakar hari ini, kita harus kembali menelusuri jejak panjang sejarahnya. Sudan adalah pertemuan dua dunia — dunia Arab dan dunia Afrika. Di utara, budaya Arab-Islam mendominasi; di selatan dan barat, identitas etnis Afrika hitam lebih kuat. Perbedaan ini, yang seharusnya memperkaya, justru menjadi sumber luka sejak awal.

Sejak merdeka pada tahun 1956, Sudan jarang mengenal damai. Kudeta demi kudeta mengguncang negara itu. Pemerintah berganti seperti musim, sementara rakyat tetap miskin dan tertinggal. Ketika minyak ditemukan di bagian selatan, konflik identitas berubah menjadi perebutan sumber daya.

Tahun 1989, Jenderal Omar al-Bashir merebut kekuasaan lewat kudeta dan berkuasa selama tiga dekade. Di bawah rezimnya, Islam politik menjadi alat kontrol. Namun pada awal 2000-an, pemberontakan di wilayah barat Darfur memicu respons brutal dari pemerintah. Bashir membentuk milisi Janjaweed, yang artinya “setan berkuda” — pasukan paramiliter yang diberi tugas menumpas pemberontakan.

Namun penumpasan itu berubah menjadi genosida. Desa-desa non-Arab dibakar, warga sipil dibunuh, perempuan diperkosa. Dunia menatap ngeri, tapi tak banyak yang berubah. Milisi yang sama kemudian dilegalkan menjadi bagian dari struktur keamanan nasional — diberi nama baru: Rapid Support Forces (RSF).

RSF dipimpin oleh seorang pria dari suku Rizeigat, Mohamed Hamdan Dagalo, atau Hemedti. Dari pedagang unta di padang pasir Darfur, ia menjelma menjadi penguasa militer paling berkuasa kedua di Sudan. Ketika Bashir tumbang pada 2019 akibat gelombang protes rakyat, RSF bukan dibubarkan — justru diperkuat.

Mereka menjadi “penjaga revolusi”, sekaligus alat politik baru. Tapi dua tahun kemudian, hubungan Hemedti dengan pemimpin militer resmi, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, memburuk. Kedua pria itu sama-sama haus kuasa. Maka, pada 15 April 2023, ledakan dan tembakan bergema di Khartoum. Perang saudara dimulai lagi.


Darfur: Tanah yang Berdarah Lagi

Bagi banyak orang Sudan, Darfur bukan sekadar wilayah. Ia adalah luka lama yang belum sembuh — dan kini kembali disayat.

Darfur adalah tanah luas di barat Sudan, dengan padang rumput dan perbukitan batu. Namun di balik keindahannya, ia telah menjadi tempat pembunuhan massal berulang kali. Pada tahun 2003–2008, lebih dari 300.000 orang tewas akibat kekerasan Janjaweed, milisi cikal bakal RSF.

Dunia kala itu menyebutnya genosida. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) bahkan mengeluarkan surat penangkapan untuk Omar al-Bashir — pertama kalinya seorang kepala negara yang masih menjabat dituduh melakukan kejahatan perang. Tapi seperti banyak hal di Afrika, keadilan datang terlambat — atau tak pernah datang sama sekali.

Dua puluh tahun berlalu, pola kekerasan itu kembali. RSF yang dulu milisi liar kini berseragam resmi, tapi tindakannya tak berubah. Mereka masih membakar desa, memperkosa perempuan, dan menembaki warga sipil berdasarkan etnis.

Di kamp pengungsi Kalma, seorang perempuan bernama Halima menceritakan bagaimana RSF menyerbu desanya di Nyala:

“Mereka datang sebelum subuh. Kami dengar suara mobil, lalu tembakan. Mereka berteriak ‘Ini tanah Arab!’ dan membakar rumah kami. Saya lari dengan anak-anak ke arah barat. Kami berjalan tiga hari tanpa air.”

Kisah seperti Halima bukan satu atau dua. Ratusan ribu orang melarikan diri ke Chad. Tapi sebagian besar tertahan di perbatasan, hidup di bawah tenda plastik. “Kami kehilangan tanah, tapi yang paling menyakitkan adalah kehilangan keyakinan bahwa dunia peduli,” kata seorang guru di kamp pengungsi Adré.

Kini, Darfur kembali menjadi medan pembantaian. Dan pusat tragedinya adalah satu kota: El Fasher.


El Fasher, Kota di Ujung Nafas

El Fasher — ibu kota Darfur Utara — adalah benteng terakhir pasukan pemerintah (SAF) di kawasan barat. Kota ini dikepung oleh RSF sejak pertengahan 2024. Ketika jalur logistik tertutup, kehidupan di dalamnya perlahan membusuk.

“Bayangkan hidup di kota tanpa makanan, air, atau listrik selama berbulan-bulan,” kata seorang jurnalis lokal. “Setiap hari kau dengar tembakan, tapi lebih banyak orang mati karena lapar.”

Laporan dari PBB menyebut sekitar 1,2 juta penduduk terperangkap di kota ini. RSF menggali parit dan menutup semua jalan keluar. Pesawat bantuan tidak bisa mendarat karena bandara dikuasai. Rumah sakit kekurangan obat; operasi dilakukan dengan cahaya ponsel.

Pada akhir Juli 2025, RSF mulai menembaki El Fasher dengan artileri berat. Satu demi satu rumah sakit hancur. Masjid al-Daraja yang digunakan warga untuk berlindung dihantam drone; puluhan orang tewas seketika.

Sementara itu, di sisi utara kota, ribuan pengungsi menumpuk di kamp Abu Shouk. Anak-anak kelaparan, air tak mengalir, dan udara dipenuhi lalat. “Kami tidur dengan rasa takut setiap malam,” kata seorang relawan. “Kami tidak tahu apakah besok masih hidup.”

Ketika RSF akhirnya menerobos pertahanan SAF pada Agustus 2025, kota itu jatuh. Tapi yang terjadi setelahnya bukan sekadar kemenangan militer — melainkan pembantaian massal.

Dalam waktu tiga hari, ribuan warga sipil dibunuh. Rumah-rumah dibakar. Pria-pria muda digiring keluar dan ditembak di lapangan terbuka. Di banyak video yang beredar di media sosial, terdengar suara tawa di antara letusan senjata.

Salah satu nama yang muncul dari kegelapan itu adalah Abu Lulu, seorang komandan lapangan RSF yang terkenal brutal. Dalam rekaman yang tersebar, ia terlihat berdiri di depan puluhan tahanan, bertanya satu per satu, “Kau dari suku mana?”
Setiap kali ada yang menjawab “Masalit” atau “Borgo”, suara tembakan mengikuti.

Laporan investigasi dari Le Monde dan Al Jazeera memperkirakan sedikitnya 2.000 orang tewas di El Fasher selama pekan pertama Agustus 2025. Foto satelit menunjukkan kuburan massal baru di pinggiran kota — gundukan tanah besar di mana mayat-mayat dikubur terburu-buru, sebagian masih mengenakan pakaian rumah sakit.

Seorang dokter yang selamat menuturkan:

“Kami tidak punya tenaga untuk menangis. Kami hanya menggali, menutup, lalu lari.”

Dan di atas semua itu, nama Abu Lulu menjadi legenda kegelapan — simbol dari kekejaman yang lahir di tanah yang tak pernah sembuh.


Abu Lulu: Bayangan dari Neraka

Nama Abu Lulu kini menjadi bisikan ketakutan di Darfur. Di setiap kamp pengungsi, orang menyebutnya dengan nada pelan, seolah menyebut namanya saja bisa mendatangkan maut. Ia bukan tokoh resmi dalam daftar komando RSF, tapi kehadirannya nyata dalam cerita para penyintas.

Abu Lulu — nama aslinya Al-Fateh Idris — lahir di desa kecil dekat Nyala, Darfur Selatan. Seperti banyak pemuda di wilayah gersang itu, masa mudanya dihabiskan sebagai penggembala. Namun perang mengubahnya. Ketika Janjaweed direkrut besar-besaran awal 2000-an, Idris muda bergabung. Milisi itu menjanjikan uang, makanan, dan kekuasaan di wilayah yang tak pernah memberi mereka apa pun.

Di medan tempur, ia cepat naik. Brutalitasnya membuatnya disegani. Banyak laporan lapangan menyebut Abu Lulu sebagai “orang yang tak mengenal takut dan tak mengenal belas kasihan.” Di tengah kekacauan, dia menjadi komandan lapangan — pemimpin kelompok yang loyal bukan pada ideologi, tapi pada insting bertahan hidup dan perintah yang paling kuat saat itu.

Ketika RSF dibentuk secara resmi di bawah Hemedti, Abu Lulu menjadi salah satu tangan kanan lokal yang memimpin operasi pembersihan di Darfur Barat dan Utara. Di antara pasukannya, dia dikenal dengan julukan “bayangan gurun”, karena selalu muncul tiba-tiba, menyerang cepat, lalu lenyap di padang pasir.

Namun sejak awal 2025, reputasinya berubah menjadi teror. Laporan dari Le Monde Afrique, The Guardian, dan Associated Press menyebut Abu Lulu sebagai dalang di balik tiga pembantaian besar: di Kutum, Mellit, dan El Fasher.


Kutum: Api yang Menelan Pasar

Pada Maret 2025, RSF melancarkan serangan ke Kutum, sebuah kota perdagangan penting di Darfur Utara. Pasar kota itu adalah nadi kehidupan warga — tempat pertukaran hasil bumi dan obat-obatan. Ketika RSF memasuki kota, warga menyangka mereka hanya lewat. Tapi dalam hitungan jam, suara tembakan mengguncang udara.

Saksi mata yang selamat menceritakan bagaimana Abu Lulu memimpin serangan langsung ke pasar. “Mereka menembak siapa pun yang lari,” ujar seorang pedagang tua kepada Al Jazeera. “Kami bersembunyi di balik karung gandum, tapi mereka membakar gudang.”

Laporan investigatif kemudian memperkirakan lebih dari 600 orang tewas di Kutum, sebagian besar warga sipil. Pasar yang dulunya ramai kini menjadi puing. Dari udara, foto satelit memperlihatkan pola kebakaran yang luas — menandakan pembumihangusan sistematis.

RSF menyebut itu sebagai “operasi militer terhadap kelompok pemberontak.” Tapi di reruntuhan pasar, tak ada tanda perlawanan. Hanya sandal anak-anak dan karung gandum yang gosong.


Mellit: Kuburan Tanpa Nama

Dua bulan setelah Kutum, Mei 2025, kekerasan berpindah ke kota Mellit. Di sinilah Abu Lulu disebut memimpin pasukan khusus RSF yang terdiri dari 500 prajurit bersenjata berat. Target mereka: kelompok masyarakat suku Masalit dan Zaghawa, yang dianggap dekat dengan tentara pemerintah (SAF).

Kekerasan di Mellit berlangsung selama lima hari. Rumah-rumah dibakar satu blok demi satu blok. Dalam rekaman drone yang bocor ke media, tampak truk RSF menarik tubuh-tubuh warga ke lapangan terbuka. PBB kemudian menemukan kuburan massal berisi lebih dari 1.100 jenazah.

Seorang penyintas bernama Adam Musa berkata kepada wartawan Reuters:

“Mereka mengumpulkan laki-laki di tengah lapangan. Abu Lulu datang dengan mobil pikap, membawa radio, dan memerintahkan orang-orangnya menembak. Ia duduk di kursi, menghisap rokok, dan menonton.”

Laporan ini dikonfirmasi oleh investigasi gabungan Le Monde dan Human Rights Watch, yang menemukan pola eksekusi massal serupa di tiga lokasi berbeda di sekitar Mellit.


El Fasher: Neraka di Tengah Gurun

El Fasher menjadi puncak dari teror Abu Lulu. Setelah mengepung kota selama berbulan-bulan, RSF akhirnya menyerbu pada awal Agustus 2025. Dalam kekacauan itu, Abu Lulu dilaporkan memimpin “pembersihan” terhadap kelompok etnis non-Arab.

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan konvoi kendaraan RSF memasuki permukiman. Dari balik asap, terdengar teriakan. Banyak dari video itu diambil oleh warga sendiri — bukti nyata yang kemudian diverifikasi oleh lembaga seperti BBC Verify dan Bellingcat.

Dalam laporan Amnesty International bertanggal September 2025, disebutkan bahwa pasukan di bawah Abu Lulu mengeksekusi warga sipil secara sistematis, membakar rumah sakit, dan memperkosa puluhan perempuan. “Tindakan ini jelas mengarah pada kejahatan terhadap kemanusiaan,” tulis laporan itu.

Tak ada penyesalan di pihak pelaku. Dalam satu klip yang tersebar, Abu Lulu terlihat tertawa sambil berkata dalam bahasa Arab: “Ini tanah kami sekarang.”

Setelah El Fasher jatuh, Abu Lulu menghilang. Ada yang mengatakan dia melarikan diri ke Chad, ada pula yang percaya ia dibunuh oleh pasukan saingannya sendiri. Namun di Sudan, namanya tetap hidup — bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai lambang bahwa kebencian bisa bertahan lebih lama dari perang itu sendiri.


6. Dunia yang Diam

Sementara Sudan tenggelam dalam darah dan kelaparan, dunia tampak sibuk dengan bencana lain. Gaza, Ukraina, dan konflik di Laut Merah menyita perhatian media internasional. Perang di Sudan nyaris tak disebut di berita utama.

“Seolah kami tak ada,” kata seorang aktivis kemanusiaan Sudan kepada The Guardian. “Ratusan ribu orang mati, tapi dunia hanya menonton.”

Padahal, angka-angka yang muncul mencengangkan. Menurut laporan PBB, hingga Oktober 2025:

  • Lebih dari 15.000 orang tewas,

  • 10 juta orang mengungsi — menjadikannya krisis pengungsi terbesar di dunia saat ini,

  • Sudan menghadapi kelaparan terburuk abad ini, dengan 70% penduduk kekurangan makanan.

Di perbatasan Chad dan Sudan, kamp pengungsi membentang sejauh mata memandang. Anak-anak dengan tubuh kurus duduk di bawah tenda robek. Suara batuk menggantikan tawa. Di setiap sudut kamp, tulisan “No Food” terpampang di dinding kayu.

Badan-badan kemanusiaan seperti WFP, Médecins Sans Frontières, dan UNHCR berjuang dengan sumber daya terbatas. Banyak relawan lokal terbunuh ketika menyalurkan bantuan. “Kami bekerja di tengah kehancuran,” kata seorang dokter asal Kenya. “Kadang, satu-satunya yang bisa kami berikan hanyalah doa.”

Dunia internasional juga terpecah dalam sikapnya. Negara-negara Teluk dan Rusia dituduh mendukung salah satu pihak demi kepentingan ekonomi, terutama akses ke emas dan pelabuhan Laut Merah. Barat, di sisi lain, lamban bergerak — trauma atas intervensi di Libya masih membekas.

Hasilnya adalah kebisuan global. Resolusi Dewan Keamanan PBB tertahan. Bantuan kemanusiaan tersendat. Di tengah reruntuhan, rakyat Sudan berjuang sendiri.


Epilog: Luka yang Belum Kering

Ketika matahari terbenam di atas padang pasir Darfur, cahaya jingga memantul di sisa-sisa rumah yang terbakar. Suara burung-burung malam menggantikan letusan senjata. Seorang anak menatap ke langit, bertanya kepada ibunya, “Apakah Allah masih melihat kita?”

Pertanyaan itu menggema di seluruh Sudan. Di Khartoum, kota yang dulu menjadi simbol modernitas Afrika Timur, kini tinggal reruntuhan. Di Nyala, perempuan berjalan berkilometer mencari air. Di El Fasher, kuburan massal terus bertambah.

Namun di antara abu, masih ada tanda-tanda kehidupan. Di kamp Adré, seorang guru muda membuka kelas darurat, mengajar anak-anak menulis huruf Arab di atas pasir. “Kami mungkin kehilangan rumah,” katanya, “tapi tidak masa depan.”

Perang di Sudan belum berakhir. Tapi kisah ini mengingatkan dunia akan sesuatu yang lebih besar dari politik atau kekuasaan: harga dari diamnya kemanusiaan.

Abu Lulu mungkin hanyalah satu nama dalam sejarah panjang kekerasan di Sudan. Namun ia mewakili sisi tergelap manusia — bahwa di tengah penderitaan, ada yang memilih menjadi pelaku, dan ada yang tetap berusaha menjadi manusia.

Suatu hari nanti, mungkin ketika dunia berhenti sibuk dengan dirinya sendiri, akan ada pengadilan bagi mereka yang menumpahkan darah di Darfur. Akan ada tempat bagi para korban untuk berbicara, dan bagi anak-anak yang menggambar di pasir itu untuk tumbuh tanpa takut.

Tapi hari itu belum tiba.
Untuk sekarang, Sudan masih terbakar.


Catatan Sumber

Tulisan ini disusun berdasarkan laporan dan data terbuka dari berbagai lembaga dan media internasional, antara lain:

  • Al Jazeera English, Sudan’s Darfur: A New Genocide Unfolds, edisi Juni–Oktober 2025.

  • The Guardian, Sudan’s Silent War: Civilians Trapped in El Fasher, September 2025.

  • Le Monde Afrique, Abu Lulu and the Shadow of Darfur, Agustus 2025.

  • Associated Press (AP), Mass Graves Found in Mellit, laporan lapangan Mei 2025.

  • Amnesty International, Sudan: Crimes Against Humanity in Darfur, September 2025.

  • United Nations OCHA & UNHCR Reports on Sudan, Juni–Oktober 2025.

  • BBC Verify & Bellingcat Satellite Imagery Analysis on El Fasher Massacres, Agustus 2025.

  • Médecins Sans Frontières (MSF), Field Notes from Adré Camp, 2025.

 

 

Bandung, 04 November 2025

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1