Mengenal scabies dimana umumnya terdapat pandangan yang melingkupi kepercayaan bahwa santri pesantren seolah “wajib” mengalami penyakit gatal yang ditandai dengan gejala kulit berbintil, memerah, dan tak terhindarkan, yang secara tak terelakkan menimbulkan rasa gatal yang mengganggu. Sebagian menyebutkan bahwa tak mengalami penyakit gatal berarti belum sepenuhnya menjalani kehidupan santri dengan sempurna.
Belakangan, berita beredar di media sosial yang menafsirkan gatal-gatal ini sebagai upaya tubuh untuk mengeluarkan racun, sebagai bentuk detoksifikasi. Bahkan, pandangan lebih mendalam mengaitkan penyakit ini sebagai bagian dari proses penyucian diri, membantu untuk lebih mendalam dalam menjalani kehidupan religius di pesantren. Namun, apakah semua itu benar? Mari kita telusuri dengan lebih dalam untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas.
Mengenal Scabies / Cenang Lebih Dalam
Scabies, atau yang dikenal dengan istilah lokal gudhig atau cenang, merupakan penyakit kulit yang menimbulkan gatal-gatal yang sering dialami oleh banyak anak pesantren. Penyakit ini disebabkan oleh serangan tungau yang sangat kecil, hanya dapat terlihat melalui mikroskop, yang disebut Sarcoptes scabei var. Hominis.
Secara taksonomi, tungau ini termasuk dalam filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarima, dan super famili Sarcoptes. Dengan bentuk tubuh oval yang kecil, punggung cembung, dan bagian perut yang rata, tungau ini memiliki sifat tembus cahaya dan berwarna putih kotor.
Ukuran tungau betina berkisar antara 330-450 mikron x 250-350 mikron, sedangkan yang jantan sekitar 200-240 mikron x 150-200 mikron. Dewasa memiliki 4 pasang kaki, dimana pada betina 2 pasang kaki depan digunakan untuk melekat dan 2 pasang kaki belakang berakhir dengan rambut. Sementara pada jantan, pasangan kaki ketiga berakhir dengan rambut dan pasangan kaki keempat dilengkapi dengan alat perekat.
Informasi ini memberikan gambaran mendetail tentang ciri-ciri fisik dan struktur Sarcoptes scabei, menyoroti betapa kecilnya dan sulitnya untuk melihatnya secara kasat mata. Namun, pengetahuan akan karakteristik ini menjadi kunci untuk mengenal dan mengatasi infeksi yang disebabkan oleh tungau ini.
Kenapa Scabies / Cenang Terasa Gatal
Â
Penyebab sensasi gatal yang melanda ini ternyata terdapat pada siklus kehidupan Sarcoptes scabei yang sungguh kompleks. Begitu tungau jantan menyelesaikan proses perkawinan, ia pun menemui akhir hayatnya. Namun, tungau betina yang sudah terbuahi akan memulai tahap selanjutnya dengan cara yang mengejutkan.
Tungau betina yang telah mengalami perkawinan akan mulai menggali terowongan dalam lapisan kulit terluar yang disebut stratum korneum. Lapisan ini terdiri dari sel-sel kulit mati yang tidak memiliki inti. Dengan kecepatan sekitar 2-3 mm per hari, tungau betina ini menggali terowongan dan meletakkan telurnya di sepanjang rute terowongan yang telah digali tersebut.
Betina tungau ini memiliki umur hidup hingga sekitar satu bulan, sementara telur yang telah diletakkan akan menetas dalam waktu 3-5 hari. Proses selanjutnya adalah ketika larva yang baru menetas berkembang menjadi nimfa. Nimfa merupakan bentuk muda dari tungau yang mirip dengan tungau dewasa namun ukurannya lebih kecil dan memiliki perbandingan tubuh yang berbeda. Tahapan dari telur hingga mencapai tahap dewasa memakan waktu sekitar 8-12 hari.
Gatal yang tak tertahankan ini dipicu oleh reaksi tubuh terhadap zat hasil metabolisme dari tungau. Sensitivitas terhadap zat ini baru akan terbentuk dalam rentang waktu 4-6 minggu setelah tungau masuk ke dalam lapisan kulit kita. Sensasi gatal yang mengganggu ini baru mulai dirasakan dalam waktu singkat, hanya 24 jam setelah tungau memasuki kulit. Detail-detail yang disorot dalam proses ini mengungkapkan kompleksitas siklus hidup tungau serta mekanisme reaksi tubuh yang menyebabkan sensasi gatal yang tidak tertahankan bagi penderitanya.
Scabies/Cenang Tidak Hanya Menyerang Kalangan Santri
Â
Scabies tidak hanya menjadi persoalan yang umum di kalangan santri pesantren, namun, penyakit ini juga tersebar luas di berbagai lapisan masyarakat. Lebih seringnya, kondisi ini ditemukan di lingkungan dengan sosial ekonomi yang rendah, daerah padat penduduk, serta lingkungan dengan kebersihan yang kurang terjaga.
Menurut hasil beberapa penelitian yang dilakukan oleh para ahli, diperkirakan bahwa jumlah kasus penderita scabies mencapai sekitar 300 juta orang setiap tahun di seluruh dunia. Hal ini menunjukkan bahwa scabies bisa menjangkiti siapa pun, tanpa memandang usia, latar belakang sosial, atau status ekonomi mereka.
Sebuah studi di Brazil mengungkapkan bahwa tingkat kejadian scabies dua kali lebih tinggi di daerah perkotaan yang padat penduduk dibandingkan dengan masyarakat nelayan yang tinggal di daerah yang lebih luas dan terbuka. Hal ini menegaskan bahwa scabies lebih cenderung muncul di lingkungan yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi.
Walaupun scabies sering kali diasosiasikan dengan pesantren karena lingkungannya yang padat dan interaksi sosial yang intens, infeksi ini tidak hanya terbatas pada lingkungan pesantren. Perlu diingat bahwa scabies juga bisa menyebar di tempat-tempat lain yang memiliki keramaian, seperti asrama, panti asuhan, lokasi kegiatan KKN, dan area lainnya yang padat dengan interaksi sosial.
Penularan scabies dapat terjadi melalui berbagai cara, baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Kontak langsung seperti berjabat tangan, kontak seksual, atau tidur bersama menjadi jalur utama penularan. Namun, penularan juga dapat terjadi melalui kontak tidak langsung, seperti penggunaan barang-barang pribadi yang sama, peminjaman pakaian, atau menggunakan handuk bersama.
Faktor yang membuat scabies begitu menular adalah karena Sarcoptes scabei, tungau penyebab scabies, hidup di lapisan epidermis kulit dan mampu bertahan meskipun terkena air dan sabun, serta dapat bertahan hidup meskipun tubuh sudah dimandikan dengan air panas. Keberadaan tungau ini dalam lingkungan menciptakan tantangan ekstra dalam pengendalian dan pencegahan infeksi.
Mengenal Scabies / Cenang dan Tips Meengatasinya
Â
Pentingnya mengatasi penyakit gatal seperti scabies tak bisa diabaikan. Langkah awal yang krusial adalah segera mencari bantuan medis dari dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Dalam umumnya, pengobatan scabies melibatkan penggunaan krim permetrin 5%. Penggunaan krim ini biasanya dilakukan dengan cara mengoleskannya dari area kepala hingga ujung jari kaki sebelum tidur, lalu mencuci tubuh setelah 8 jam. Jika gejalanya masih berlanjut, proses pengobatan ini perlu diulang kira-kira seminggu kemudian untuk memastikan efektivitasnya.
Namun, pengobatan saja tidak cukup. Pencegahan penularan juga menjadi fokus penting dalam menghentikan penyebaran Sarcoptes scabei, penyebab scabies. Ada beberapa langkah pencegahan yang bisa diambil dalam rangka mengurangi risiko penularan:
- Jaga Kebersihan Lingkungan: Rajinlah membersihkan dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Upaya ini akan membantu mengurangi potensi penularan scabies di antara individu.
- Hindari Menggaruk Kulit yang Terkena Scabies: Menggaruk kulit yang terinfeksi scabies dapat memperparah kondisi dan memunculkan infeksi sekunder. Berusaha untuk tidak menggaruk kulit yang terasa gatal sangatlah penting.
- Batasi Pemakaian Peralatan Pribadi: Penting untuk tidak berbagi alat-alat pribadi dengan orang lain, terutama jika sudah ada yang terinfeksi scabies. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan penularan penyakit.
- Rutin Ganti Alas Tidur: Alas tidur sebaiknya diganti secara teratur, terutama jika pernah digunakan oleh penderita scabies. Tindakan ini membantu mengurangi kemungkinan tungau Sarcoptes scabei yang bertahan hidup di tempat tidur.
- Jemur Kasur dan Perlengkapan Tidur: Memastikan kasur dan perlengkapan tidur dijemur secara rutin di bawah sinar matahari juga dapat membantu membunuh tungau scabies yang mungkin masih bertahan hidup di sana.
Dengan menjalankan langkah-langkah pencegahan ini seiring dengan pengobatan yang diberikan, diharapkan dapat membantu mengatasi scabies dan mencegah penularannya. Konsistensi dan kehati-hatian dalam menjalankan langkah-langkah pencegahan ini sangatlah penting untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut.
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




