Pendahuluan: Jejak Ilmu dari Lembah Nusantara
Istilah turats dalam khazanah Islam merujuk pada warisan keilmuan yang ditulis para ulama, baik dalam bentuk kitab, risalah, maupun komentar terhadap kitab sebelumnya. Di dunia Arab, turats sering diasosiasikan dengan karya ulama Timur Tengah. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa Nusantara memiliki tradisi penulisan turats yang sangat kaya—bahkan sejak abad ke-17.
Dari Aceh hingga Madura, dari pesantren di Jawa hingga surau di Minangkabau, para ulama Nusantara tidak hanya mengajar, tapi juga menulis. Mereka menulis dalam bahasa Arab, Melayu Jawi, hingga bahasa lokal. Turats itu membuktikan bahwa keilmuan Islam di Nusantara tidak hanya “mengimpor”, tetapi juga “menghasilkan”.
Kini, di era 2000-an, tradisi itu belum mati. Ulama-ulama pesantren masih menulis kitab berbahasa Arab, menjadi penerus para pendahulu. Artikel ini mengulas dua masa penting: turats klasik ulama Nusantara dan turats modern abad ke-21.
Turats Klasik: Jejak Intelektual dari Aceh sampai Jawa
Pada abad ke-17 hingga ke-19, Nusantara melahirkan banyak ulama besar yang berperan penting dalam jaringan keilmuan Islam internasional. Mereka menulis kitab dalam berbagai bidang: tauhid, fiqih, tasawuf, tafsir, dan tata bahasa Arab.
Berikut beberapa karya dan tokohnya yang paling berpengaruh:
Syekh Nuruddin ar-Raniri (Aceh, abad ke-17)
Salah satu ulama awal yang menulis kitab monumental di Nusantara. Karyanya, Bustanus Salatin, ditulis dalam bahasa Melayu Jawi. Kitab ini bukan hanya karya keagamaan, tetapi juga ensiklopedia peradaban, membahas sejarah, etika, dan pemerintahan.
Selain itu, Ar-Raniri juga menulis Asrar al-Insan dan Durrat al-Faraid, karya yang memperlihatkan interaksi pemikiran tasawuf dan kalam.
Syekh Abdurrauf as-Singkili (1615–1693)
Dikenal sebagai penerjemah pertama tafsir lengkap Al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu, berjudul Tarjuman al-Mustafid. Kitab ini menjadi jembatan ilmu tafsir dari dunia Arab ke dunia Melayu.
Ia juga menulis Mir’at al-Tullab, kitab fiqih syafi‘iyah yang digunakan luas di pesantren.
Syekh Yusuf al-Makassari (1626–1699)
Syekh Yusuf Abul Mahasin Tajul Khalwati Al-Makassari Al-Bantani (3 Juli 1626 – 23 Mei 1699) adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia juga digelari Tuanta Salamaka ri Gowa (“tuan guru penyelamat kita dari Gowa”) oleh pendukungnya di kalangan rakyat Sulawesi Selatan.
Sebagai seorang ulama sufi dan pejuang. Karya-karyanya seperti Safinat an-Najah dan Zubdat al-Asrar menunjukkan kedalaman spiritual tasawufnya. Meskipun banyak ditulis di pengasingan (Afrika Selatan), pengaruhnya tetap kuat di dunia Melayu.
Syekh Nawawi al-Bantani (1813–1897)
Inilah salah satu penulis turats terbesar dari Jawa. Lebih dari 40 kitab karyanya masih diajarkan di pesantren, bahkan di Timur Tengah.
Beberapa karyanya yang terkenal antara lain:
Tafsir Marah Labid (tafsir dua jilid berbahasa Arab),
Nihayatuz Zain (fiqih),
Tijan ad-Darari (tauhid),
dan Qami’ ath-Thugyan (akhlak).
Di kalangan ulama, beliau dijuluki Sayyidul ‘Ulama al-Hijaz—pemimpin ulama di Mekkah pada masanya.
Syekh Mahfudz at-Tarmasi (1868–1920)
Ulama asal Tremas, Pacitan, yang menjadi pengajar di Mekkah. Ia menulis Manhaj Dzawin Nadzar (ilmu hadis) dan Is’ad ar-Rafiq (syarah Alfiyah Ibnu Malik).
Karyanya menjadi bukti bahwa ulama Nusantara mampu menulis dalam standar ilmiah tinggi di dunia Arab.
KH. Hasyim Asy’ari
Pendiri NU ini juga menulis sejumlah risalah berbahasa Arab seperti Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim dan Risalah Ahlussunnah wal Jama‘ah. Walau tergolong abad ke-20, gaya penulisannya masih bernafaskan klasik.
Karya-karya beliau menjadi dasar bagi kurikulum pesantren tradisional hingga kini.
Karakteristik Turats Nusantara Klasik
Dari berbagai karya di atas, turats klasik Nusantara memiliki ciri khas:
- Bahasa campuran (Arab–Melayu–Jawi): menandakan proses lokalisasi ilmu.
- Kecenderungan sufistik dan moderat: menekankan akhlak dan tasawuf.
- Fungsional untuk dakwah: banyak kitab disusun agar mudah dipahami santri dan masyarakat awam.
- Adaptif terhadap konteks lokal: misalnya, pembahasan tentang adat dan budaya lokal dalam bingkai syariat.
Turats klasik ini menjadi pondasi bagi lahirnya tradisi intelektual pesantren modern.
Turats Ulama Modern: Warisan Baru Abad ke-21
Masuk ke abad ke-21, banyak yang mengira tradisi menulis kitab kuning sudah surut. Padahal, justru di banyak pesantren besar seperti Lirboyo, Sarang, Sidogiri, dan Tebu Ireng, tradisi itu terus hidup.
Para kiai muda menulis kitab berbahasa Arab tentang isu-isu kontemporer, menggunakan format klasik (matn–syarah–ta‘liq). Inilah yang disebut turats modern.
Berikut beberapa ulama dan karyanya yang mewakili generasi baru:
KH. Afifuddin Muhajir (Situbondo)
Wakil Rais ‘Aam PBNU ini dikenal sebagai ulama ahli ushul fiqih.
Karyanya, Fathul Mujib al-Qarib fi Bayan Alfazh at-Taqrib, adalah syarah atas Matan Taqrib karya Abu Syuja’. Kitab ini digunakan luas di pesantren karena bahasanya mudah dipahami dan mengikuti metode klasik.
Selain itu, beliau juga menulis kitab Mabadi’ Fiqhiyyah dan Al-Madkhal ila Ushul al-Fiqh, dua karya penting untuk santri tingkat lanjut.
K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha’)
Ahmad Bahauddin Nursalim atau lebih dikenal sebagai Gus Baha (lahir 29 September 1970) merupakan ulama asal Rembang, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai salah satu ahli tafsir al-Qur’an dan merupakan murid Kiai Maimun Zubair.
Gus Baha merupakan putra dari seorang ulama pakar Al-Qur’an dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an LP3IA, Kiai Nursalim al-Hafizh, dari Narukan, Kragan, Rembang. Kiai Nursalim merupakan murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Mergoyoso, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar. Bersama KH Hamim Jazuli (Gus Miek), Gus Baha memulai gerakan Jantiko (Jamaah Anti Koler) yang menyelenggarakan kajian Al-Qur’an secara keliling.
Meskipun lebih dikenal lewat ceramah, Gus Baha’ juga menghasilkan risalah dan catatan ilmiah yang beredar di kalangan santri. Gaya penjelasannya yang mendalam terhadap tafsir dan fiqih menjadikan banyak catatannya kini disusun menjadi kitab oleh murid-muridnya, salah satunya Tafsir Surah al-Fatihah dalam format pesantren.
KH. M. Ali Shodiqin (Lirboyo)
Penulis Syarh al-Hikam al-Jadidah dan beberapa kitab akidah serta tasawuf kontemporer. Karyanya memadukan antara hikmah klasik Ibnu ‘Athaillah dengan konteks sosial modern.
KH. M. Syamsul Arifin (Sidogiri)
Menulis Nadzm al-Fiqh al-Muyassar, sebuah nadzam (syair ilmiah) fiqih untuk santri pemula. Ini menunjukkan bahwa kreativitas dalam bentuk turats tidak berhenti pada prosa, tapi juga syair.
KH. M. Musta’in Syafi’i (Jombang)
Karyanya Qawa‘id al-Fiqh al-Muyassar menjadi referensi penting dalam kajian fiqih kaidah. Ia menulis dengan bahasa Arab baku dan struktur kitab klasik, menjadikan karyanya diterima di pesantren maupun perguruan tinggi Islam.
Tema-Tema Turats Modern
Turats modern tidak hanya membahas fiqih dan akidah, tetapi juga:
Fiqih sosial dan kebangsaan: seperti hubungan agama–negara, demokrasi, dan hukum warga minoritas.
Isu kontemporer: bioetika, ekonomi digital, dan ekologi Islam.
Tasawuf modern: mengaitkan spiritualitas dengan kesehatan mental dan kehidupan sosial.
Banyak karya ulama muda juga ditulis untuk merespons fenomena post-Islamisme, ekstremisme, hingga isu gender, tanpa meninggalkan disiplin klasik.
Lembaga yang Menjaga Tradisi Turats
Beberapa lembaga yang aktif menerbitkan turats ulama modern antara lain:
Ma’had Aly Situbondo – tempat lahirnya banyak kitab fiqih kontemporer.
Ma’had Aly Lirboyo dan Sarang – produktif menerbitkan kitab dan risalah Arab-Pegon.
Lajnah Bahtsul Masail PBNU dan pesantren besar NU – sering menyusun risalah fiqhiyyah dengan gaya kitab kuning.
Selain itu, lembaga seperti Pondok Pesantren Sidogiri juga menerbitkan seri Nadzm al-‘Ilmi (syair ilmu) untuk membantu santri menghafal kaidah fiqih, nahwu, dan tauhid.
Ciri Khas Turats Modern
- Berbahasa Arab, tapi komunikatif.
Bahasa Arab digunakan bukan untuk gengsi, tapi agar nyambung dengan tradisi keilmuan global.
- Topik kontekstual.
Ulama menulis kitab tentang zakat digital, fintech syariah, dan ekologi, tapi dengan format kitab kuning.
- Berbasis pesantren dan akademik.
Banyak kitab modern lahir dari disertasi Ma’had Aly atau Perguruan Tinggi Islam yang kemudian disusun ulang dalam gaya klasik.
- Fungsi pelestarian identitas.
Menulis kitab menjadi cara menjaga kesinambungan sanad keilmuan pesantren.
Tantangan dan Harapan
Di tengah gempuran digital, minat baca kitab klasik menurun. Namun, ada harapan baru: banyak kitab kuning kini di-digitalisasi oleh pesantren dan komunitas santri, bahkan disediakan gratis di platform seperti al-Maktabah al-Syamilah Nusantara.
Tantangan lain adalah keterbatasan penerjemah dan penyunting naskah klasik yang paham konteks pesantren. Padahal, turats bisa menjadi sumber pengetahuan dan solusi atas problem keislaman kontemporer Indonesia.
Penutup: Warisan yang Tak Pernah Usang
Dari Bustanus Salatin karya ar-Raniri hingga Fathul Mujib karya KH. Afifuddin Muhajir, perjalanan turats Nusantara membentang selama lebih dari empat abad.
Ia bukan sekadar kumpulan kitab, tetapi jejak intelektual dan spiritual bangsa Indonesia.
Melalui turats, kita bisa melihat bahwa Islam di Nusantara tumbuh dengan ilmu, adab, dan cinta tanah air.
Tradisi ini tidak akan mati, selama pesantren tetap hidup, dan selama ulama masih menulis dengan niat lillah — untuk kemaslahatan umat.
Bandung, 20 Oktober 2025
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




