Dalam sejarah panjang Nusantara, terdapat satu senjata api yang menjadi legenda kekuatan kerajaan Majapahit, yaitu meriam cetbang. Dengan keunikan dan kehebatannya, senjata ini mampu menggetarkan pasukan musuh dan mengukir nama besar bagi kemenangan Majapahit. Meriam cetbang menjadi simbol kejayaan sebuah peradaban yang menguasai lautan dan membuktikan kekuatan sebuah kerajaan maritim. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi lebih dalam tentang senjata api khas Majapahit ini dan mengungkap rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik kehebatannya.
Kedatangan Bangsa Mongol Awal Mula Meriam Cetbang
Seiring dengan kemajuan teknologi dan persenjataan yang dimiliki oleh Bangsa Mongol pada abad ke-13, mereka berhasil menaklukkan banyak wilayah di Asia Tengah dan Timur. Pada saat itu, Bangsa Mongol memiliki senjata andalan yang sangat mematikan,
Mereka membawa meriam kecil yang dirancang untuk melemparkan proyektil dengan menggunakan ledakan bubuk mesiu. Senjata ini memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda dari meriam pada umumnya. Biasanya, meriam cetbang memiliki ukuran yang lebih kecil dan lebih ringan, sehingga memudahkan pergerakan dan penggunaannya.
Pada saat invasi tentara Kubilai Khan dari Tiongkok di bawah pimpinan Ike Mese yang bekerjasama dengan Raden Wijaya saat menggulingkan Kertanagara pada tahun 1293. Saat itu, tentara Mongol menggunakan meriam ini juga ketika menyerang pasukan Daha.
Sang panglima perang Majapahit, Gajah Mada tertarik dengan senjata tersebut dan sudah mulai memikirkan potensinya di masa depan untuk memperkuat pasukan Majapahit. Berbekal dari sejumlah meriam yang dirampas dari tentara Mongol , Gajah Mada mencoba membuat duplikatnya dengan kepandaiannya dalam menggali berbagai teknologi . Setelah melakukan banyak percobaan dengan teknik pembuatan senjata yang dikuasai saat itu akhirnya Meriam Cetbang berhasil diciptakan.
Akan tetapi senjata baru ini kurang diminati oleh Raja pertama dan kedua Majapahit. Barulah ketika Ratu Tribuana Tunggadewi naik tahta , Gajah Mada mendapat restu untuk membuatnya secara massal.
Meriam Cetbang akhirnya dibuat dalam aneka jenis, mulai dari yang panjangnya 1 meter hingga panjang 3 meter. Jenisnya disesuaikan apakah senjata akan dibawa secara personal oleh beberapa orang prajurit atau diletakkan pada armada kapal laut dan gerobak perang.
Berbeda dengan meriam eropa dan timur tengah pada umumnya, cetbang terbuat dari perunggu dan memiliki chamber dan tabung peluru terbuka di bagian belakang tidak menggunakan sumbu. Oleh karena itu Cetbang juga disebut “meriam Coak” yang berarti meriam terbuka.
Meriam Cetbang diproduksi di Rajekwesi, Bojonegoro, sedangkan mesiu utamanya diproduksi di Swatantra Biluluk.
Penggunaan Meriam Cetbang Dalam Penaklukan Nusantara
Meriam cetbang memiliki peran penting dalam strategi perang Majapahit karena mampu menembakkan peluru ke arah yang lebih jauh dan dengan daya hancur yang lebih besar. Kekuatan ledakan dari meriam cetbang mampu menghancurkan benteng pertahanan musuh dengan lebih efektif, serta memberikan efek psikologis yang menakutkan bagi pasukan lawan. Dalam pertempuran di darat maupun di laut, penggunaan meriam cetbang memberikan keunggulan taktis bagi pasukan Majapahit.
Selain itu, penggunaan meriam cetbang juga menjadi simbol kejayaan dan kemajuan teknologi Majapahit. Dalam konteks Nusantara yang luas, Majapahit menjadi salah satu kekuatan maritim yang dominan. Dengan kehadiran meriam cetbang sebagai senjata andalan, kerajaan tersebut mampu memperluas wilayah kekuasaannya dengan lebih efektif. Meriam cetbang menjadi alat yang sangat diperhitungkan dalam strategi perang Majapahit di laut, terutama dalam menghadapi serangan dari musuh-musuh mereka.
Penggunaan meriam cetbang oleh Majapahit juga mencerminkan kemampuan Majapahit dalam menguasai teknologi senjata api pada masanya. Hal ini menunjukkan tingkat keahlian teknologi Majapahit yang sudah maju pada masa itu. Kehadiran meriam cetbang sebagai senjata api khas Majapahit menjadi bukti bahwa Majapahit merupakan salah satu kekuatan militer yang tak terkalahkan di Nusantara pada masa itu.
Walaupun pada awalnya meriam cetbang digunakan oleh pasukan darat , Meriam Cetbang akhirnya lebih banyak digunakan dalam angkatan laut Majapahit. Laksamana Mpu Nala panglima angkatan laut Majapahit menggunakan meriam cetbang dalam bentuk meriam tetap atau meriam putar untuk mempersenjatai kapal perang Jung Majapahit menjadikannya menjadi superior di lautan. Dalam catatan Mpu Nala menggunakan kapal-kapal bersenjata meriam cetbang ini dalam penaklukkan wilayah Dompu di Nusa Tenggara Barat sekarang.
Meriam Cetbang yang lebih kecil juga digunakan pada kapal-kapal kecil seperti Penjajap dan Lancaran yang lebih digunakan sebagai anti personel bukan meriam anti kapal. Pada kapal jenis ini meriam cetbang diletakkan di balai atau panggung kapal dan ditembakkan pada pasukan lawan yang berada di darat dalam misi pendaratan.
Meskipun penggunaan meriam cetbang oleh Majapahit memberikan keunggulan taktis, namun tidak dapat dipungkiri bahwa senjata ini juga memiliki kelemahan. Meriam cetbang memiliki keterbatasan dalam hal mobilitas dan kecepatan tembakan yang sangat rendah. Setiap sekali tembakan perlu waktu yang cukup lama untuk menembak lagi karena larasnya yang panas.
Karena proses mengisi mesiu dan peluru cukup lama, senjata ini tidak bisa sepenuhnya menggantikan senjata tradisional seperti panah dan tombak. Selain itu proses penembakan dengan menggunakan api pada coak lubang meriam , tidak menggunakan sumbu cukup berbahaya bisa melukai penembaknya. Bahan baku meriam cetbang yang dari perunggu juga berpengaruh pada umur meriam ini yang hanya bisa digunakan 2 sampai 3 kali saja, meriam perunggu juga tidak dapat digunakan berlama-lama disebabkan sifat perunggu yang lebih lunak dibandingkan besi. meriam perunggu harus dilelehkan dan dicetak kembali setelah beberapa kali penggunaan.
Namun, ini tidak mengurangi fakta bahwa penggunaan meriam cetbang memberikan keunggulan bagi Majapahit dalam pertempuran dan menjadikan mereka sebagai kekuatan militer yang dominan di Nusantara.
Secara keseluruhan, penggunaan meriam cetbang oleh Majapahit di Nusantara merupakan cerminan kekuatan dan keahlian teknologi perang yang dimiliki oleh kerajaan tersebut. Meriam cetbang menjadi senjata andalan dalam strategi perang Majapahit, memberikan keunggulan taktis dan menggambarkan kemajuan teknologi Majapahit pada masa itu. Meskipun memiliki keterbatasan, penggunaan meriam cetbang tetap menjadi simbol kejayaan dan kekuatan militer Majapahit di Nusantara.
Penyebaran Meriam Cetbang di Nusantara
Ekspansi Majapahit di Nusantara menjadi semakin meluasnya penggunaan meriam Cetbang. Di Sulawesi meriam cetbang banyak dipakai di kapal jenis phinisi terutama pada kapal dagang untuk perlindungan dari bajak laut di sekitar Selat Makassar. Penggunaan meriam menjadi hampir menyeluruh di kepulauan Nusantara.
Meriam Cetbang Majapahit tetap digunakan dan dilakukan improvisasi pada zaman Kesultanan Demak, terutama pada invasi Kerajaan Demak ke Malaka. Bahan baku perunggu digantikan dengan besi tempa yang lebih murah dimana bahan baku untuk pembuatan meriam Jawa tersebut diimpor dari daerah Khurasan di Persia utara, terkenal dengan sebutan Wesi Kurasani.
Saat Portugis datang ke wilayah Nusantara, mereka menyebutnya sebagai Berço, istlah yang juga digunakan untuk menyebut meriam putar isian belakang (beech-loading swivel gun), sedangkan orang Spanyol menyebutnya sebagai Verso. Pada masa setelah Majapahit, meriam turunan Cetbang di nusantara (terutama di daerah Sumatera dan Malaya) umumnya terbagi dalam dua tipe, yaitu Lela dan Rentaka.
Saat ini beberapa meriam cetbang tersimpan di: Museum Bali; Metropolitan Museum of Art, Amerika Serikat; Museum Luis de Camoes, Makau; Museum Talaga Manggung, Majalengka; Dusun Bissorang, Kepualauan Selayar, Sulawesi Selatan dan di beberapa lokasi lain.
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani, Panti Asuhan di Bandung




