Pertempuran Beersheba : Awal Penaklukkan Palestina

pertempuran beersheba

 

 

Pertempuran Beersheba adalah titik dimana pasukan sekutu berhasil merebut Palestina dari penguasaan Ottoman. Beersheba (bahasa Turki: Birüssebi Muharebesi, bahasa Jerman: Schlacht von Birüssebi) , adalah sebuah kota kecil di Gurun Nagev Palestina. Sebelum Perang Dunia I Pecah kota ini hanyalah sebuah kota kecil persinggahan bagi kafilah unta untuk beristirahat sebelum meneruskan tujuannya ke tempat lain.

Secara strategis militer kota ini sangat susah diserang karena dikelilingi oleh gurun tandus yang jauh dari manapun. Walaupun sekarang sudah menjadi salah satu kota besar di Israel , di masa lalu kota ini hanya dihuni beberapa ratus orang saja.

Beersheba di masa Perang Dunia I

Pertahanan wilayah selatan Palestina di masa perang dunia I dipegang oleh Pasukan ke 4 (4th Army) Ottoman yang membawahi 3 divisi dan di bawah komando Jendral Jerman Friedrich Freiherr Kress von Kressenstein.

Pada awalnya Pasukan ke 4 Ottoman mampu menahan serbuan pasukan sekutu di Gaza pada Maret dan April 2017. Pasukan ke 4 Ottoman juga kemudian mendapat tambahan pasukan sebanyak 2 divisi yang ditempatkan di Gaza.

Untuk mempertahankan Beersheba dibentuklah Grup Pasukan Yildirim (Korps ke 3  Pasukan Ke VII) dipimpin oleh Jendral Jerman Erich von Falkenhayn. Pasukan ini terdiri dari 2 resimen Infantri dari divisi ke 27 yaitu Resimen Infantri ke 67 dan Resimen Infantri ke 81st  67th Infantry Regiment , Resimen Infantri Berkuda (Mounted Army) ke 48 , dan Resimen ke 2 Artileri. Total kekuatan pertahanan Beersheba meliputi 4.400 pasukan infantri senapan , 60 senapan mesin dan 28 Artileri Medan.

Pasukan Sekutu dipimpin oleh Jendral Inggris Philip Chetwode yang berintikan pasukan Egyptian Expeditionary Force dari Korps ke XX Inggris. Selain itu pasukan sekutu juga mendapat dukungan Brigade Kavaleri ke 7 Inggris , Divisi Infantri Selandia Baru yang dipimpin Mayor Jendrak Edward Chaytor dan Divisi Infantry Berkuda (Mounted Army) Australia yang dipimpin Jendral Harry Chauvel. Dengan total pasukan sekitar 50.000 orang.

Perang Intelejen

Sebelum pecahnya pertempuran Beersheba kedua pihak saling adu kelicikan intelejen. Di pihak Inggris perwira intelejen legendaris Mayor Lawrence of Arabia memainkan peran sentral. Pihak Inggris sengaja membuat informasi palsu bahwa sekutu akan melakukan serangan besar-besaran ke Gaza dari basisnya di Rafah.

Jendral Erich von Falkenhayn sebenarnya tidak mempercayai berita itu , pengalamanya mencium ada rencana serangan yang asli dari pihak sekutu adalah ke Beersheba bukan ke Gaza. Akan tetapi perwira intelejen bawahannya mempercayai informasi palsu tersebut dan memotong upaya permintaan pasukan bantuan tambahan ke Jendral Friedrich Freiherr Kress von Kressenstein di Gaza.

Sebagai langkah antisipasi Jendral Erich von Falkenhayn memerintahkan pemasangan dinamit di semua sumur air di Beersheba. Akan tetapi pihak Inggris pun mengirim mata-matanya ke Beersheba untuk menggagalkan upaya peledakan sumur air ini.

Pertempuran Untuk Menguasai Air

Serangan ke Beersheba sebenarnya sangat mustahil. Dari basis sekutu di Rafah ke Beersheba memakan waktu perjalanan 2 hari dan selama perjalanan tidak ada sumber air sama sekali , hanya gurun pasir tandus dan bukit-bukit berbatu.

Secara normal untuk memenuhi kebutuhan air 50.000 pasukan dibutuhkan 400.000 galon air per hari. Satu-satunya jalan adalah melakukan serangan kilat untuk menguasai 7 sumur air di Beersheba.

Ketika Pasukan Sekutu bergerak mereka hanya diberi jatah 1 kanten air yang diharapkan bisa bertahan 2 hari. Cuaca gurun yang sangat terik menyebabkan banyak pasukan kelelahan dan kehausan bahkan sejumlah kuda yang dibawa menjadi sekarat kehausan dan terpaksa ditembak mati.

Satu-satunya jalan bagi mereka untuk selamat dan kematian akibat kehausan / dehidrasi adalah sesegera mungkin menguasai Beersheba dan merebut 7 sumur air di kota itu.

 

Pecahnya Pertempuran Beersheba

                Pertempuran Beersheba dimuali pada pagi hari tanggal 31 Oktober 1917. Dimulai dengan tembakan Artileri dan serangan infantri terbatas dari Divisi ke 60 (London) dan Divisi ke 74 (Yeomanry) dari Korps ke XX Inggris yang berhasil merebut bukit 1070 dimana kemudian pasukan artileri ditempatkan disana untuk memberi dukungan tembakan ke kota Beersheba.

Jendral Erich von Falkenhayn kembali berusaha menghubungi markas pasukan utama di Gaza untuk meminta bantuan tapi dihalangi oleh perwira intelejen bawahannya  yang menganggap serangan itu hanyalah serangan pengalihan dari target utamanya Gaza.

Serangan frontal kemudian dilanjutkan oleh Divisi Infantry Berkuda (Mounted Divison) ke 4 Australia dan Resimen Berkuda Ringan (Light Horse Regiment) ke 12 yang menyerang dengan cepat ke Tel es Saba basis kekuatan Artileri Ottoman. Tembakan artileri Ottoman tidak mampu mengimbangi kecepatan pasukan berkuda Australia sehingga terpaksa mundur dan dihancurkan.

Baris pertahanan kedua diperkuat pasukan senapan yang diperkuat senapan mesin di parit pertahanan berusaha menahan serangan cepat ini akan tetapi tembakan artileri inggris dari bukit 1070 mampu mengeliminasi kubu senapan mesin sehingga pasukan berkuda Australia yang dipersenjatai pedang dan bayonet berhasil menembus pertahanan Ottoman.

Tidak seperti doktrin Kavaleri Inggris dimana pasukan kavalerinya akan selalu bertempur di atas kuda , Pasukan Berkuda Australia di doktrin untuk melakukan serangan cepat menembus pertahanan lawan kemudian turun dari kudanya untuk kemudian bertempur seperti pasukan infantri.

Secara umum pasukan ANZAC (Australia dan New Zealand) sebenarnya tidak terlalu dipercaya Inggris selepas kekalahan dalam pertempuran Galllipoli. Seringkali pasukan kedua negara ini hanya ditempatkan sebagai pasukan cadangan atau lebih buruk lagi jadi umpan meriam. Akan tetapi dalam pertempuran Beersheba pasukan Australia menjadi peran utama di garis depan untuk mendobrak pertahanan Ottoman.

Melihat tanda-tanda kekalahan Komando Pasukan Turki Jendral Erich von Falkenhayn memerintahkan peledakan sumur air di Beersheba. Akan tetapi agen mata-mata Inggris berhasil menggagalkannya dengan memotong kabel dinamit sehingga hanya satu dari tujuh sumur air di Beersheba yang berhasil diledakkan.

Lebih 1.000 pasukan Turki tewas , dan hampir2.000 orang ditawan , sementara di pihak sekutu hanya 171 orang yang tewas.

Setelah jatuhnya Beersheba pasukan Inggris meneruskan serangannya ke Kota Hebron dan 6 minggu kemudian pasukan Sekutu berhasil merebut Yerussalem.

 

Bandung, 10 Januari 2025

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

Donasi Yuk
1