Granada 1492 , Akhir Kekuasaan Islam di Iberia

granada

Oleh Herri Permana

 

Jauh sebelum Granada runtuh , ambisi Castillah sudah mulai tumbuh dan mengarah ke wilayah di uar semenanjung Iberia. Upaya penaklukkan Maroko yang berlangsung sejak abad 13 , pertempuran melawan emir-emir Islam di Iberia dll. Kampanye militer yang dinamai Reconquista (Penaklukkan kembali) membuat bangsa Spanyol gemar berperang.

Munculnya Inkuisisi di tahun 1478 sebagai alat penguasa Castilla dan Aragon memaksakan konsep persatuan bangsa Spanyol . Korban pertama Inkuisi justru dilakukan pada kaum converso atau kalangan muslim atau Yahudi yang menjadi penganut kristen, sebagian besar dengan tuduhan sebagai mata-mata. Barulah kemudian kaum mudejar (muslim di bawah kekuasaan kristen) dan Yahudi menjaid sasaran di samping kelompok-kelompok lain yang di cap bid’ah.

Wilayah Castilla yang langsung berhadapan dengan kekuasaan Granada adalah Andalusia. Wilayah ini sebelumnya adalah merupakan wilayah kekuasaan muslim yang juga tempat kota-kota besar Islam seperti Cordova dan Sevilla. Kota-kota yang terletak di lembag subur Guadalquivir ini pada waktu itu nyaris menjadi kota mati setelah pengusiran besar-besaran kaum muslim, walaupun ada beberapa keluarga mudejar yang masih menetap disana.

Di sebelah Timur ada Kerajaan Murcia yang merupakan vassal dari Castilla. Akan tetapi karena wilayahnya di pantai mediterania dan terjepit antara wilayah Aragon dan Granada Murcia memiliki identitas yang sedikit berbeda.

Castilla menerapkan sistim feodal dengan tingkatan atas dipegang keluarga Grande yang merupakan keturunan pemimpin2 Reconquista.

Di sisi lain kerajaan Aragon yang tidak terlalu feodal dan lebih berwawasan keluar yang di masa itu kekuasaannya juga meliputi wilayah Italy bagian selatan. Di Aragon , kota-kota dan gereja lebih berkuasa dari bangsawan. Inti kerajaan aragon adalah laut mediteranian dan lembah Ebro yang subur yang dulunya menjadi jantung kedua Andalusia muslim.

Kepausan di Roma di abad 15 mengobarkan kembali perang Salib utamanya untuk memerangi Turki Ustmani di Balkan. Dan hal ini juga menyebar ke Spanyol. Di bawah panji-panji Castilla dan Aragon semangat Reconquista kembali didengungkan berhadapan dengan semangan jihad muslim Granada.

 

Granada , Kesultanan Terakhir Islam di Spanyol

Granada adalah kesultanan yang cukup makmur di selatan Spanyol. Kaum elite nya memiliki villa-villa di vega (lahan subur yang diairi dengan sistim irigasi). Masyarakatnya tidak  bersifat feodal tapi dikuasai para qa’id penguasa puri/kastil yang kebanyakan adalah pemimpin suku.

Jatuhnya kekuasan Islam di utara membuat Granada kebanjiran pengungsi muslim (dan Yahudi) beserta keturunannya. Hal ini membuat kota-kota di Granada menjadi sangat adat dan kebutuhan pangannya harus banyak di supply dari negara-negara tetangga yang berpotensi memusuhinya.

granadaKarena itu Granada membangun banyak sekali sistim irigasi dan membuat banyak vega subur di sekitar kota kecil dan besar.Satu-satunya sumber dukungan nyata dari luar untuk Granada adalah dari Afrika Utara. Akan tetapi setelah pihak Muslim kehilangan kendali atas selat Gilbaltar hubungan itu menjadi terputus, apalagi setelah penguasaan Tangier dan Ceuta di Afrika utara oleh Portugis. Sementara Turki Ustmani sebagai imperium Islam terkuat di masa itu tidak terlalu memberi perhatian pada Granada karena sibuk dengan kampanye militernya di Balkan.

Besarnya jumlah populasi ditambah banyaknya pejuang jihad dari Afrika utara membuat Granada pada masa itu memiliki pasukan yang relatif besar dan kuat. Sudah menjadi sesuatu yang wajar bagi hisn (puri/kastil) memiliki sebuah garnisun yang tetap dan kuat.

 

Penyatuan Castilla dan Aragon

Penyatuan Castilla dan aragon dimulai dengan propaganda bahwa bangsa Spanyol akan menaklukkan Granada , melintasi Afrika Utara lalu kemudian merebut kembali Yerussalem dari kaum muslim , menghancurkan agama Islam dan menjadi Kaisar terakhir Dunia yang akan mendatangkan Hari Penghakiman.

Fernando II dari Napoli Raja Aragon menikah dengan Ratu Isabel dari Castillah di tahu 1469 , mendikan kedua kerajaan menjadi bersatu , walaupun masing-masing mereka masih memegang kendali atas kerajaannya masing-masing. Di tahun 1494 Paus Alexander VI memberi mereka gelar Los Reyes Catolicos – Penguasa Katolik. Dan Spanyol pun menjadi salah satu kekuatan utama Eropa.

Pecahnya Perang

Pecahnya Perang antara Spanyol dan Granada dimulai dengan Penolakan Emir Granada Abu al Hasan Ali untuk membayar upeti pada Spanyol. Pada 26 Desember 1481 pasukan Granada dipimpin langsung Emir Abu al Hasan Ali menyerbu dan merebut Zahara kota di perbatasan Castilla-Granada.

Serangan itu dibalas oleh Marquez de Gadiz Rodrigo Ponce de Leon menyerang Ahlama. Dipimpin kapten pasukan escaladors (pendaki gunung) Juan de Ortega mereka berhasil menduduki Alhama yang memiliki posisi strategis jauh di dalam kekuasaan Granada.

Tidak heran Emir Abu al Hasal Ali berusaha merebut kembali Alhama sabil mengirim garnisun dari Ronda untuk merebut wilayah Ducado de Cadiz. Akan tetapi usaha ini sia-sia. Spanyol menambah julah kekuatan ke Alhama dan mendikannya sebagai basis untuk menguasai Granada.

abu hasan
Emir Abul Hasan

Emir Abu al Hasan Ali berusaha meminta bantuan Maroko akan tetapi pasukan yang datang sangat sedikit. Permintaan bantuan kepada Turki Ustmani bahkan tidak mendapat tanggapan sama sekali.

Pasukan Spanyol yang didukung Raja Fernando II kemudian memfokuskan untuk menyerang Loja untuk membuka garis komunikasi dengan Alhama. Salah satu panglima Granada Ali al Attar memimpin sepasukan kecil jinete (kavaleri ringan) yang lincah. Pasukan ini berhasil mengobrak-abrik pasukan Spanyol dengan taktik hit and run memamfaatkan kondisi medan yang berbukit dan dipenuhi pepohonan. Pasukan Spanyol yang lebih besar dibuat kerepotan dan banyak memakan korban termasuk satu pimpinan pasukan Spanyol Rodrigo Tellez Giron pimpinan Ordo Calatrava terbunuh.

Akibatnya pasukan Raja Fernando II pun terpaksa mundur ke Pena de los Enamorados 35 km dari Loja setelah pasukan besar yang dibawa Emir al Hasan Ali bergabung ke Loja.

 

Pemberontakan Muhammad XII  “Boadbil”

Muhammad XII ‘Boadbil’ baru beruisa 19 atau 20 tahun ketika memutuskan memberontak. Ia mewakili fraksi-fraksi di Granada yang menolak perang dengan Spanyol dan menghendaki perdamaian.

Kemenangan pasukan ayahnya di Loja mendorongnya untuk merebut tahta dan memproklamirkan diri sebagai Emir.

Akan tetapi Emir Abu al Hasan Ali tidak bisa menyelasikan ini karena pasukan besar Spanyol dari Andalusia bergerak untuk merebut Malaga. Pasukan Spanyol dipimpin Adelantado atau Katen Jendral Enrique dan Don Alfonso de Aquilar , bagian tengah dipimpin Marques de Cadiz dan Conde de Cifuentes , sementara pasukan belakang dipimpin Don Affonso de Cardenas.

Muhammad Al Zagal adik Sultan mempin pasukan kecil Jinete kavaleri ringan yang lincah untuk menyerang dari barisan belakang , sementara pasukan yang lebih besar dipimpin Emir Abu al Hasan Ali menyerang dari sayap-sayap musuh dengan inti pasukan bersenjata senapan dan busur silang yang dipimpin Ridwan Benegas.

muhammad xii
Muhammad XII Boadbil

Pasukan Spanyol hancur , Marques al Cadiz mencoba memancing pasukan muslim ke lembah terbuka yang cocok untuk pasukan infantri berat ber zirah. Akan tetapi Muhammad al Zagal dengan cerdik memamfaatkan daerah bergunung dan berbukit yang tersembunyi pepohonan yang cocok untuk pasukan jinete. Conde de Cifuentes bahkan berhasil ditangkap dalam duel satu lawan satu dengan Ridwan Benegas. Dan pasukan Spanyol pun terpaksa mundur.

Emir Muhammad XII yang mendengar kemenangan ayahnya menjadi takut kehilangan dukungan. Jadi ia memimpin pasukannya pada april 1483 untuk mencari kejayaannya sendiri. Dengan didampingi oleh panglimanya Ali al Attar mereka membawa 9.000 infantri dan 900 kavaleri untuk merebut Lucena.

Conde de Cabra yang mendengarnya membawa pasukan untuk membantu keponakannya di Lucena yang memaksa Muhammad XII menghentikan pengepungan dan kembali ke Granada. Tapi di tengah jalan mereka bertemu pasukan Spanyol dan pertempuran pun pecah. Ali al Attar tewas dalam pertempuran sehingga pasukan Granada menjadi kocar kacir. Muhammad XII yang terluka dan bersembunyi di semak-semak tertangkap oleh pasukan biasa Spanyol bernama Martin Hurtado yang menyerahkannya pada Don Diego Fernandez de Cordoba.

Kemenangan ini membuat para Conde de Cabra menghiasi lambang mereka dengan gambar Orang Moor Bermahkota dengan rantai emas di lehernya. Muhammad XII dibawa ke Cordoba dan diperlakukan dengan hormat. Dia kemudian membuat trakkat perdamaian dengan Spanyol dan diizinkan pergi pada 2 September 1483.

Para ulama Granada kemudian memberi fatwa yang menolak Muhammad XII sebagai Emir dan menganggapnya sebagai kaki tangan kaum kafir.

Perang Berlanjut

Pada 1483 Pasukan Garnisun Malaga yang dipimpin Bashir bergabung dengan pasukan dari Ronda dipimpin Hamid al Zagri menyerbu Utrera di utara. Dengan kekuatan 1500 Kavaleri dan 4000 infantri berhadapan dengan pasukan kristen yang bergerak dari Jarez. Pasukan Granada dikalahkan dan Bashir tertangkap. Hamid al Zagri berhasil mundur tapi kota Zahara kemudian berhasil direbut kembali oleh Marquez de Cadiz yang membawa pasukan besar.

Pada musim semi 1484 Spanyol melancarkan serangan lebih besar menghancurkan Alora , Coin , Cazarabonela , Almexia dan Cartama hanya dalam 10 hari. Blokade laut terhadap Granada pun dilakukan. Pasukan Spanyol terus bergerak menuju Antequera dan pada 20 Juni 1483 Alora berhasil dikuasai.

Pasukan Spanyol membantu Muhammad XII kembali ke Granada , walau kemudian dia memindahkan pusat kekuasaannya di Almeira. Dan pada 20 September 1483 bentel kuat Granada Satenil berhasil dikuasai.

Pada 1485 keemiran Granada mulai banyak kehilangan wilayahnya. Pasukan Spanyol juga mulai menggunakan meriam-meriam besar dalam kampanye militernya. Pada Mei 1485 pasuka Spanyol menyerbu Malaga yang dipertahankan Muhammad al Zagal.

Kampanyenya diawali dengan menyerang Ronda. Salah satu bangsawan Ronda yang berkhianat Yusuf Sharifah memberi tau Raja Fernando II titik lemah Ronda  di sebelah barat. Kota Ronda dipertahankan oleh Ibrahim al Hakim akhirnya menyerah pada 22 Mei 1485. Sementara Hamid al Zagri memimpin sisa-sia pasukannya bergabung dengan pasukan di Malaga.

Maroko pada 1485 juga menandatangani perjanjian damai dengan Spanyol yang segera memutus supply bantuan dari afrika ke Granada. Kejadian-kejadian ini membuat Emir abu al Hasan Ali jatuh terkena stroke. Maka pimpian Granada diambil alih adiknya dan bergelar Muhammad XIII al Zagal. Aksi pertamanya adalah berusaha merebut almeira tapi gagal.

Muhammad XIII al Zagal kemudian bergerak ke Granada untuk merebut klaimnya sebagai penguasa Granada yang sah. Pasukan Spanyol berusaha menhadangnya tapi gagal bahkan Conde de Cabra yang sebelumnya menangkap Muhammad XII Boadbil terluka tembak. Pasukan Muhammad XIII Al Zagal merebut kota Moclin.

Tapi pasukan Spanyol memfokuskan diri menyerang Cambil dan albahar , dengan dukungan artileri berat yang didoronng menggunakan lembu jantan pasukan Spanyol memborbardir puri Cambil dan albahar yang dipimpin Muhammad ibn Yusuf al Sarraj yang menyerah pada 25 September 1485. Puri Zalea pun jatuh setelah pengkhianat muslim membuka pintu gerbang.

Muhammad XII yang terdesak kemudian berusaha berdamai dengan pamannya dan menawarkan diri mempertahankan Loja atas nama pamannya Muhammad XII al Zagal. Tapi Loja jatuh Muhammad XII Boadbil dikabarkan terluka , dan Hamid al Zagri yang ditugaskan mengawasi Muhammad XII bahkan terluka lebih parah.

Kota Illora jatuh beberapa saat kemudian menjadikan pertahanan lapis dalam Granadaa jadi hilang. Ratu Isabel pun diundang dalam perayaan kemenangan besar-besaran di Illora oleh Raja Fernando II pada 11 Juni 1486.

Qo’id Moclin dan Illora yang bersaudara berusaha membalas dan pertempuran pecah di Pinos Puente tapi mereka gagal dan kedua bersaudara itu syahid ketika mempertahankan jembatan.

Muhammad XII dengan sisa pasukannya diduung oleh pasukan Spanyol memasuki Albaicin di sisi utara Granada dan pertempuran pun pecah antara pasukann Muhammad XII Boadbil dan Muhammad XIII al Zagal di jalanan kota Granada. Perang saudara ini kemudian makin melemahkan kekuatan Granada.

Pasukan Spanyol kemudian memusatkan serangannya ke kota pelabuhan Malaga dari darat dan laut. Ketika sedang makan siang pasukan Spanyol diserang , Raja Fernando meraih tombak memimpin pasukannya.Seorang pengawalnya berhasil dibunuh serdadu Granada sebulum ia di tombak oleh Fernando. Raja Fernando yang tidak bersenjata hampir terbunuh tapi berhasil dilselamatkan pasukan pengawalnya.

Penyerangan Malaga dimuali pada 27 april 1486 , di sisi lain dengan iming-iming emas pasukan Muhammad XIII Al Zagal di alhambra membelot mendukung Muhammad XII Boadbil. Ridwan Benegas menyerah pada 2 mei 1486 .

Muhammad XII Boadbil mengirim surat pada Raja Fernando II yang intinya akan menyerahkan Granada dan kota lain yang ia kuasai sebagai gantinya ia meminta Baza , Guadix dan perkampungan kecil lainnya.

penaklukkan malaga
Penaklukkan Malaga

Setelah pengepungan dan pengeboman berbulan-bulan kota Malaga pun menyerah pada 18 Agustus 1487. Panglima Hamid al Zagri dikirim sebagai hadiah kepada Paus dan dijadikan budak. Penduduk Malaga kemudian juga banyak diperbudak , bahkan para Renegado atau orang kristen yang masuk Islam dijadikan sasaran latihan lempar lembing pasukan Spanyol. Para converso atau muslim yang beralih jadi penganut kristen pun mengalami perlakukan keji dibakar hidup-hidup bersama pasukan Spanyol yang desersi.

Muhammad XII Boadbil membantai sejumlah ulama yang menolak kepemimpinannya. Sementara pasukannya di Vera , Mojacar , Valez Blanco dan Velez Rubio diperintahkan menyerah tanpa perlawanan pada Spanyol.

Sidi Yahya al Naiyar kakak iparnya membujuk Muhammad XIII Al Zagal untuk menyerah. Akhirnya ia menyerah di Baza pada 4 Desember 1487. Muhammad XII al Zagal kemudian diangkat jadi “Raja” otonom di Andaraz.Sidi Yahya an Naiyar sendiri kemudian masuk kristen dan merubah namanya menjadi Don Pedro de Granada.

Muhammad XII Boadbil mengikuti saran penasehatnya untuk melawan Spanyol. Pada tahun 1490 ia berusaha membebaskan Quadix. Panglima perangnya adalah Musa Ibn abu’l Gazan yang berhasil memotong tangan kanan Marquez de Villena dengan lembing.

Pada 1491 Raja Fernando II memimpin serangan pamungkas ke Granada . Emir Muhammad XII Boadbil berusaha meminta bantuan Turki Ustmani tapi tidak ditanggapi karena mereka sedang berperang di Balkan. Permintaannya pada Muhammad al Shaykh penguasa Fez pun tidak ditanggapi begitu juga penguasa Tlemsen di al Jazair menolak memberi bantuan.

Pada 2 Januari 1492 Muhammad XII Boadbil menyerahkan Granada , tapi panglimanya Musa Ibn Abu’l Gazan menolak menyerah , ia memacu kudanya keluar dari granada membunuh sejumlah ksatria Spanyol sampai kemudian syahid.

Muhammad XII Boadbil pun meninggalkan Granada sambil menitikkan air mata melintasi jalur pegunungan selatan Granada dimana jalur itu masih dikenal sebagai Puerto del Suspior del More (Helaan nafas terakhir sang Moor).

 

Bandung 12 Desember 2012

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani, Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

 

 

 

 

Donasi Yuk
1