Gambaran “Dark” Pada Film dan Anime Bertema Panti Asuhan

Film anime bertema panti asuhan

oleh : Herri Permana

Panti asuhan adalah lembaga kesejahteraan sosial yang memberikan perlindungan, keamanan, dan naungan bagi anak-anak yang diasuh. Namun bagaimana jika gambaran film atau anime bertema panti asuhan yang diinterpretasikan  penuh dengan kesengsaraan dan terkesan menyeramkan?

Interpretasi ini tentu sangat bertolak belakang dengan posisi panti asuhan itu sendiri, yang menjadi rumah bagi anak agar merasa aman, tercukupi materinya, bisa mengenyam pendidikan, dan mendapatkan perhatian dari keluarga yang selama ini tidak mereka dapatkan sebelum masuk ke panti asuhan.

Ironisnya, ada beberapa film anime yang menginterpretasikan panti asuhan dalam ceritanya yang menyeramkan atau dark. Hal itu dikhawatirkan membentuk stigma masyarakat maupun anak-anak, dimana mereka menganggap panti asuhan adalah tempat yang seram, penuh dengan kejahatan, dan tidak aman bagi anak-anak.

Jika ditelisik lebih lanjut, selain keperluan uang dan rating film, agaknya tidak ada alasan lain yang cukup masuk akal mengapa para pihak pembuat anime ini menggambarkan panti asuhan sebagai tempat yang dark dan menyeramkan. Sangat miris memang ketika ada segelintir orang yang menggunakan kesedihan anak-anak di panti asuhan untuk meraup banyak keuntungan.

Dark-Side Panti Asuhan Pada Film-Film Anime!

Berikut beberapa judul film animasi yang dianggap justru disengaja menampilkan dark-side dari panti asuhan, dan dianggap cukup kontroversial oleh beberapa pihak.

1.      The Promised Neverland

Judul asli dari film ini menggunakan Bahasa Jepang yaitu Yakusoku no Neverland. Sebelum diadaptasi menjadi film anime, ini adalah seri manga shonen Jepang yang ditulis oleh Kaiu Shirai, kemudian dibuat ilustrasinya oleh Posuka Demizu, dan diproduksi menjadi film oleh Cloverworks.

Anime yang satu ini menceritakan kisah anak-anak yatim piatu yang tinggal di dalam panti asuhan bernama Grace Field House, dan tidak pernah melihat bagaimana dunia di luar panti asuhan tersebut. Pada suatu hari, anak-anak ini menemukan kejanggalan dari panti asuhan yang mereka tinggali.

Karena ternyata, anak-anak di panti asuhan tersebut dieksploitasi untuk dijadikan pakan bagi iblis. Pada dasarnya, mereka hanya dirawat dan di ternak untuk menghasilkan daging-daging yang berkualitas dan kemudian menjadi pakan iblis. Mereka menjadi persembahan, agar iblis dan manusia bisa hidup dengan damai secara berdampingan.

The Promised Neverland dianggap menjadi salah satu film anime yang menampilkan sisi gelap dari panti asuhan. Di dalam anime tersebut, panti asuhan digambarkan sebagai tempat yang mengerikan karena membuat mereka menjadi bahan persembahan untuk iblis, padahal  kenyataannya tidaklah demikian.

2.      Made in Abyss

Pada dasarnya tidak ada yang salah dengan genre dari film anime ini, yang merupakan genre petualangan, sama dengan jenis-jenis anime lainnya. Filmnya hanya menceritakan bagaimana petualangan seorang gadis panti asuhan dan temannya yaitu sebuah robot menyusuri lapisan bumi (Abyss) untuk menemukan ibu dari anak tersebut.

Lapisan bumi ini berada di tengah sebuah kota bernama Orth dan menjadi tempat dimana berbagai jenis monster dan artefak tinggal. Setiap tingkatan dari lapisan tanah ini memiliki tantangan yang berbeda-beda, dimana kesulitan nya akan terus meningkat dan semakin membahayakan nyawa si anak tersebut.

Sisi gelap yang ditampilkan oleh anime ini mengenai panti asuhan adalah terjadinya eksploitasi anak di panti asuhan. Mereka memang terlihat hidup bahagia dan menikmati kehidupan mereka, namun anak-anak tersebut terus-menerus dieksploitasi di panti asuhan tersebut.

Anak-anak ini harus bekerja sedari kecil sebagai pengumpul artefak yang ada di Abyss, dan pekerjaan tersebut tentu sangat membahayakan nyawa mereka. Di salah satu episode, mereka juga menjadi bahan eksperimen untuk dijadikan senjata baru bagi seorang penjelajah legendaris.

Film anime ini memberikan kesan traumatis tersendiri bagi para penonton nya, karena dibalik karakter-karakter imut yang ada di dalam film tersebut, ada sisi gelap yang sangat menyeramkan dari kehidupan anak-anak di dalamnya.

Hal ini tentu dianggap sangat tidak sesuai dengan kondisi panti asuhan yang sebenarnya, yang menjadi tempat yang aman, menyenangkan, bagaikan rumah, mengayomi, dan melindungi anak-anak asuh, bukannya melakukan eksploitasi dan bahkan membuat anak-anak berada pada posisi yang berbahaya.

3.      Seraph of the End

Yaitu film anime bergenre action tentang dunia yang mengalami bencana virus dan hanya menyerang manusia yang berusia di atas tiga belas tahun saja. Anak-anak yang usianya di bawah 13 tahun akhirnya diselamatkan dan dirawat oleh kaum vampir.

Kemudian konflik di anime ini dimulai ketika anak yang bernama Mikaela dan Yuuichirou melakukan pemberontakan agar bisa kabur dari panti asuhan tempat mereka di tampung, yaitu Hyakuya. Pada akhirnya hanya satu anak yang berhasil kabur dan yang lainnya dibunuh oleh vampir yang katanya akan merawat mereka.

Ceritanya kemudian berubah menjadi kisah balas dendam yang dilakukan oleh anak yang berhasil kabur tersebut, kepada vampir yang telah membunuh teman-temannya yang hendak kabur bersamanya.

Sedangkan anak-anak yang lain, mereka harus memberikan darah mereka kepada vampir, dengan dalih sudah dirawat oleh vampir tersebut. Padahal, mereka melakukan itu untuk melindungi nyawa mereka. Jika tidak mau memberikan darah, maka mereka akan dibunuh oleh vampir tersebut.

Kondisi ini memberikan gambaran yang gelap tentang panti asuhan yang didirikan oleh vampir tersebut. Menggambarkan juga bagaimana pengasuh di panti asuhan dianggap sebagai sosok jahat yang mengeksploitasi dan membahayakan kehidupan anak-anak yang ada di panti asuhan tersebut.

Hal ini tentu tidak sesuai dengan kondisi panti asuhan yang sebenarnya. Dimana pengasuh memiliki peran sebagai orang tua, saudara, atau kakak bagi anak-anak yang ada di panti asuhan. Mereka juga memastikan anak-anak terawat, tercukupi makan nya, tidak kekurangan suatu apapun, dan dalam kondisi aman.

Oleh karena itu, apa yang digambarkan di dalam film anime ini dianggap bisa menggiring pandangan anak-anak tentang kehidupan di panti asuhan yang dipenuhi dengan bahaya dan menyeramkan.

4.      My Life as a Zucchini

Film anime ini bercerita tentang anak bernama Zucchini yang dipindahkan ke panti asuhan setelah kedua orang tuanya meninggal. Zucchini merasakan sulitnya beradaptasi dengan lingkungan di panti asuhan, namun akhirnya menemukan cinta pertamanya di panti asuhan tersebut.

Kehidupan Zucchini di dalam panti asuhan tersebut dianggap menjadi kehidupan orang dewasa. Alur ceritanya terlalu suram dan tidak bisa dimengerti oleh anak-anak. Film animasi ini lebih cocok menjadi tontonan bagi orang dewasa, karena ceritanya justru membuat pikiran anak-anak bisa terpengaruh hal buruk.

Mulai dari isu tentang penelantaran dan kekerasan pada anak-anak, kemudian cerita mengenai hubungan seksual, obat-obatan terlarang, dan deportasi imigran gelap. Semuanya tersaji dalam pembicaraan yang cukup mendominasi pada dialog maupun plot cerita, meskipun tidak semuanya divisualisasikan.

Namun tetap saja, alur cerita dari film anime ini mengandung sisi suram dan menyeramkan yang tidak cocok ditonton oleh anak-anak di bawah umur. Film animasi ini menampilkan segala sisi keburukan dari panti asuhan, dengan menampilkan kondisi Zucchini si anak panti yang sengsara.

 

Dalam film-film Indonesia pun , Panti Asuhan seringkali menjadi tema film horor seperti Rumah Malaikat (2016) , MatiAnak (2019) , Ratu Ilmu Hitam (2019).

 

Hal-Hal Yang Perlu Dikritisi Dari Film dan Anime Bertema Panti Asuhan!

Di atas sudah disebutkan beberapa judul film animasi yang dianggap memberikan gambaran buruk tentang kehidupan panti asuhan. Mulai dari tempat yang menyeramkan karena ada makhluk pembunuh di dalamnya, eksploitasi anak yang terjadi di panti asuhan, hingga perjuangan hidup anak-anak di panti asuhan yang dibuat dramatis dan sangat sengsara.

Mungkin berikut ini adalah poin-poin yang perlu diperhatikan bersama mengenai apa yang ditampilkan di film-film animasi tersebut, dalam menggambarkan kondisi anak-anak panti asuhan dan panti asuhan itu sendiri.

  1. Anak-Anak Digambarkan Selalu Terlantar

Di film dan anime bertema panti asuhan tersebut, anak-anak di panti asuhan digambarkan terlantar dan tidak terurus di panti asuhan. Mereka masuk ke panti asuhan dan menemukan kehidupan yang sangat tidak menyenangkan di dalamnya. Yang awalnya mereka mengira akan mendapatkan keamanan dan perlindungan, justru mendapatkan bahaya di dalam panti asuhan.

Panti asuhan digambarkan sebagai tempat yang berkedok aman bagi anak-anak. Pada akhirnya, mereka akan terlantar, dieksploitasi, dibunuh, dan dijadikan tumbal. Film-film tersebut memanfaatkan sisi keterlantaran tersebut untuk menarik banyak penonton.

  1. Kondisi Panti Asuhan Yang Menyeramkan

Dari banyak anime tersebut, menggambarkan bagaimana kondisi panti asuhan yang cenderung menyeramkan, penuh dengan kegelapan, dan hal-hal buruk yang anak-anak asuh temui dalam hidup mereka.

Hal ini bisa menggiring opini bagi orang-orang dan anak-anak mengenai bagaimana kondisi panti asuhan. Banyak orang yang kemudian menyalahartikan panti asuhan sebagai tempat kurungan bagi anak-anak. Dimana di dalamnya mereka akan hidup dengan sengsara, tidak aman, bahkan nyawanya terancam.

Hal ini tentu tidak sesuai dengan kondisi panti asuhan yang sebenarnya, dimana pada dasarnya panti asuhan memberikan ruang aman dan nyaman bagi anak-anak, untuk berkembang, mendapatkan haknya sebagai anak, dan merasakan memiliki keluarga yang hangat dan saling mengasihi.

  1. Gambaran Mengenai Kekerasan Terhadap Anak

Di film-film anime tersebut juga kerap kali mengangkat isu kekerasan pada anak yang menggambarkan seolah-olah dunia yang ditinggali oleh anak-anak menyeramkan dan tidak aman, termasuk panti asuhan yang bisa menjadi tempat terjadinya kekerasan pada anak.

Hal ini membuat anak-anak baik yang berada di panti asuhan maupun di luar panti asuhan mengalami ketakutan akan kondisi dunia yang digambarkan selalu saja dipenuhi kekerasan dan hal-hal berbahaya yang mengancam nyawa mereka.

Imbas dari doktrin ini, akan menyebabkan anak-anak takut untuk keluar dari zona amannya, tidak bisa berkembang, tidak bisa menumbuhkan bakat mereka, selalu takut dengan dunia, lingkungan, atau orang-orang baru yang mereka temui, serta tidak bisa berpikir positif pada berbagai hal.

Hal-hal yang demikian ini akan menghambat tumbuh kembang anak-anak, dan menyebabkan mereka dalam kondisi yang serba ketakutan di dalam hidup. Apalagi bagi anak-anak di panti asuhan, mereka bisa saja terdoktrin dan tumbuh pemikiran bahwa tidak ada tempat yang aman bagi mereka di dunia.

  1. Panti Asuhan Menjadi Kurungan Bagi Anak-Anak

Di film dan anime bertema panti asuhan tersebut juga kerap digambarkan bagaimana panti asuhan menjadi tempat dimana anak-anak dikurung dan diputus kehidupannya dari dunia luar. Mereka tertutup, dikurung, dan harus melakukan cara apapun untuk bisa bertahan hidup di dalam panti asuhan tersebut.

 

Fakta Sebenarnya Tentang Panti Asuhan

Penggambaran Panti Asuhan dalam sisi Dark pada dasarnya tidaklah sesuai dengan kenyataan yang ada.Panti asuhan pada dasarnya memberikan kehidupan yang bebas bagi anak-anak, dan bahkan mereka justru di dorong untuk bersiap-siap dalam menghadapi dunia luar.

Panti Asuhan didirikan untuk menyelamatkan anak-anak yang tidak beruntung seperti anak-anak dari kalangan yatim , miskin , terlantar dan anak jalanan. Bukan hanya menampung Panti Asuhan juga memikul tanggung jawab untuk merawat dan mengasuh mereka sampai dewasa dan bisa hidup mandiri.

Anak-anak Panti Asuhan terlindungi hak-haknya sebagaimana anak-anak lain. Hak untuk mendapatkan kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian dan tempat tinggal , hak untuk bersekolah , hak untuk berekspresi , hak untuk bebas dari ketakutan dll. Karena pada dasarnya Panti Asuhan adalah wali atau pengganti orang tua pada anak-anak asuhnya.

Sehinga penggambaran kehidupan panti asuhan dalam film atau anime yang cenderung dark sangat jauh sekali dari realita yang sebenarnya. Bahkan dikuatirkan penggambaran ini membuat stigma negatif masyarakat luas terhadap Panti asuhan .

 

Bandung , 21 November 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

Donasi Yuk
1