Metode Pengajaran di Pondok Pesantren Tradisional

metode pengajaran

oleh : Herri Permana

Pondok pesantren menjadi lembaga pendidikan islam tradisional yang masih dipercaya oleh masyarakat Muslim hingga saat ini. Mengingat namanya, pendidikan ini menerapkan sistem asrama atau pondok.

Figur sentral dalam sistem pendidikan ini adalah Kyai dan masjid menjadi pusat kegiatan yang menjiwai. Terakhir adalah pengajaran agama Islam ada di bawah bimbingan Kyai dan diikuti santri. Seperti apa metode pengajaran di pesantren tradisional? Apakah sampai saat ini masih diterapkan?

Pondok Pesantren Modern dan Tradisional

Dalam perkembangannya, pesantren juga mengikuti arus zaman sehingga dikenal menjadi pesantren modern. Bagi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya ke pondok pesantren harus tahu perbedaan antara pesantren modern dan tradisional.

Pesantren modern adalah salah satu jenis pendidikan berbasis agama Islam yang juga menerapkan sistem asrama. Jumlah siswa yang diterima biasanya disesuaikan dengan jumlah guru. Sedangkan dasar pengajarannya mengacu pada kitab klasik sekaligus pelajaran umum.

Memiliki kurikulum yang menjadi target pencapaian, pesantren modern sudah tersedia dalam bentuk sekolah formal seperti SMP, SMA, atau MA. Pembelajaran dilakukan dalam sebuah kelas.

Pesantren tradisional atau Salafiyah merupakan pendidikan di Indonesia yang dibawa Wali Songo. Sistem pembelajarannya sendiri mengacu pada kitab kuning atau kitab-kitab klasik. Tidak ada sekolah formal dalam pesantren Salafiyah dan saat ini biasanya tersedia di desa-desa.

Sistem pengajarannya juga bukan kurikulum karena bentuknya Kyai datang dan para santri berkumpul untuk mendapat ilmu. Dengan sistem ini kedekatan antara Kyai dan para santri terbentuk lebih kuat. Justru inilah yang menarik dari pesantren tradisional, lalu seperti apa metode pengajaran yang diberikan?

Metode Pengajaran Pesantren Tradisional

Munculnya pesantren modern tidak langsung menggeser posisi pesantren tradisional. Ketika santri ini unggul dalam berbahasa Arab, menguasai Alquran dan tafsirnya, ilmu hadis, fikih, hingga pengetahuan umum dan teknologi maka pesantren tradisional perlu dipilih.

Biaya pendidikan juga lebih terjangkau dengan infrastruktur sederhana menjadi ciri khas pesantren tradisional. Namun itu semua tidak mengurangi ilmu yang akan didapatkan para santri.

Dalam praktiknya, ada beberapa metode pengajaran di pesantren tradisional yang diterapkan yaitu:

●       Metode Pengajaran Sorogan

Apabila dilihat dalam sistemnya, pengajaran sorogan adalah sistem yang membuat santri membaca kitab yang dikaji. Merupakan salah satu metode klasik yang sudah ada sejak pertama kali pondok pesantren didirikan. Sampai saat ini sorogan masih menjadi metode yang diterapkan para Kyai.

Penerapan sistem ini adalah dimulai dengan santri yang menghadap Kyai dengan membawa kitab yang akan dipelajari. Awalnya Kyai akan membacakan pelajaran dalam bahasa Arab per kalimat dan menerjemahkan serta menerangkan maksudnya.

Pada saat Kyai menjelaskan, santri akan mendengarkan dan membuat catatan dalam kitabnya untuk lebih mendalami ilmu tersebut. Baru setelah itu santri akan mengulangi apa yang sudah diajarkan Kyai sama persis dari kalimat hingga pemaknaannya.

Tujuan dari sistem ini adalah supaya santri mengenali betul fungsi kata dalam kalimat berbahasa Arab. Apabila dilihat dari tingkat kesulitannya, metode ini cukup sulit bagi para santri. Santri dituntut untuk bisa sabar, rajin, taat dan disiplin dalam belajar.

Segi positifnya, sistem ini bagus dan juga efektif, khususnya jika santri bercita-cita untuk menjadi mualim. Sedangkan bagi Kyai yang membimbing akan lebih mudah mengawasi secara personal.

●       Metode Pengajaran Bandongan/ Wetonan

Menilik dari arti katanya, bandongan diambil dari kata ngabandungan yang artinya adalah memperhatikan. Bisa juga berarti menyimak, inilah yang bisa menggambarkan sistem pengajaran bandongan atau wetonan di pesantren.

Biasanya pengajaran ini diterapkan setiap hari kecuali hari Jumat di waktu pagi usai salat subuh hingga larut malam. Jenis kitab yang dipelajari dimulai dari kitab-kitab elementer hingga tingkat tinggi.

Secara sistem, Kyai atau Ustadz akan memberikan ilmu dengan cara membacakan kitab, menerjemahkan dan menerangkannya. Semua santri akan mendengar, menyimak serta mencatat ilmu yang disampaikan tersebut.

Inilah perbedaan utama dengan metode pengajaran sorogan, di mana santri tidak mengulang kembali perkataan Kyai per kalimat dan menerjemahkannya. Artinya sistem ini menerapkan metode yang monolog. Bagi Kyai ada beberapa evaluasi yang akan dilakukan untuk mengetahui apakah para santri paham betul dengan apa yang diajarkan.

Pertama adalah aspek pengetahuan dengan menanyakan kemampuan saat membaca menerjemahkan dan menjelaskan kembali. Kedua adalah aspek sikap yakni kepribadian santri di kehidupan sehari-hari. Ketiga adalah keterampilan yakni praktek kehidupan sehari-hari dan bidang fiqih.

Ada segi positif yang didapatkan dari metode ini yaitu praktis ketika digunakan untuk mengajar santri dalam jumlah banyak. Selain itu materi biasanya diulang-ulang supaya santri mudah untuk memahaminya.

●       Metode Pengajaran Pasaran

Apabila dilihat dari metodenya hampir mirip dengan Bandongan hanya saja ada target tertentu yang harus diselesaikan oleh para santri. Disebut juga dengan pengajian pasaran di mana para santri akan mengkaji kitab klasik atau kuning tertentu.

Kegiatan belajar ini dilakukan terus menerus dalam kurun waktu tertentu. Biasanya dilaksanakan di bulan Ramadhan selama setengah bulan, bisa juga satu bulan penuh. Waktu ini menyesuaikan dengan jenis kitab yang dikaji.

Ada juga yang mengadakan pengajian pasaran ini dari awal bulan Ramadhan hingga hari ke dua puluh. Metode ini biasa diterapkan pada pesantren Salafiyah atau semi Salafiyah. Masing-masing pesantren biasanya menggunakan kitab yang berbeda.

Ada yang menggunakan kitab Ta’lim Muta’allim, kitab Fathul Aqfal, kitab Al-Hikam, Matan Jurimiyah,  Al-Ghoyah Ibnu Malik, dan Nadzham Maqsud, masih banyak lagi. Waktu pengajian pun berbeda-beda, ada yang dimulai dari pukul 22.00 hingga 03.00, 21.00 – 23.30 bahkan siang pukul 12.30 hingga 15.00.

Santri pemula boleh-boleh saja mengikutinya, namun kebanyakan santri yang sudah mempelajari sebelumnya akan mengikuti pembelajaran ini. Bahkan Kyai yang datang bisa berasal dari tempat lain. Tujuan sistem ini bukan hanya membuat santri paham akan kitab yang dipilih tetapi juga membentuk jaringan pengajaran di antara pesantren.

Kehadiran Kyai dari tempat tertentu akan memperkuat keabsahan pengajian. Selain itu memiliki maksud juga untuk mengambil berkah dari Kyai yang dianggap senior. Inilah segi positif bagi santri yang mengikuti pengajaran pasaran.

●       Metode Pengajaran Muhafazhah

Disebut juga dengan metode hafalan karena dalam sistem ini santri akan menghafalkan sebagian teks atau seluruhnya dalam sebuah kitab. Kyai akan memberikan atau memilihkan kitab mana yang harus dihafalkan.

Santri akan menghafalkannya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan. Secara periodik, Kyai akan meminta santri untuk membacakan kitab yang ditugaskan. Waktu untuk membacakan ulang ini tidak tentu tergantung dengan Kyai yang bersangkutan.

Soal materi yang dipelajari biasanya berhubungan dengan Al Qur’an, sharaf, tajwid, nazham-nazham nahwu, hingga fiqih. Metode pembelajaran ini sangat berbeda jika dibandingkan ketiga sistem sebelumnya.

Apabila dilihat dari segi positifnya, bagi santri akan lebih mudah dan paham betul akan kitab yang ditugaskan. Mereka bisa belajar menghafalkan dengan cara yang lebih bebas dan harus siap ketika Kyai mengadakan tes secara periodik.

Bagi Kyai metode ini sama seperti pembelajaran privat sehingga pengajaran bisa dilakukan lebih intensif.

●       Metode Pengajaran Musyawarah/ Bahtsul Masail

Sesuai dengan namanya, metode ini menerapkan sistem diskusi. Pemimpin langsung diskusi adalah Kyai atau Ustadz sedangkan kumpulan santri akan membentuk halaqah. Pemimpinnya bisa juga senior santri yang diakui oleh Kyai.

Pembahasan dalam musyawarah ini merujuk pada topik yang sebelumnya sudah ditentukan. Selama musyawarah berlangsung santri diberikan kebebasan untuk bertanya atau mengajukan pendapat. Pembahasan dan pengkajian akan berlangsung lebih mendalam.

Kyai akan memperhatikan kualitas jawaban atau pernyataan yang dilakukan para santri dalam musyawarah. Beberapa hal yang akan jadi perhatian adalah kelogisan, ketepatan dan apakah referensi yang disebutkan valid.

Begitu juga dengan bahasa yang disampaikan oleh santri bisa dipahami dengan mudah oleh santri yang lainnya. Penilaian terbesar juga ada pada pemahaman teks bacaan dan kebenaran dan ketepatan dalam menyimpulkan isi teks.

Kunci sukses dalam metode ini adalah pemilihan topik yang pada umumnya mendapatkan respon baik oleh para santri. Dengan begitu tercipta dorongan untuk bisa belajar lebih dalam.

Melihat dari sistem yang diterapkan, metode ini bertolak belakang dengan bandongan yang notabene adalah monolog. Adanya kebebasan untuk berpendapat membuat Kyai lebih mudah mengetahui apakah para santri betul-betul paham dengan topik yang diberikan.

●        Metode Pengajaran Demonstrasi

Merupakan metode praktek ibadah yakni memperagakan keterampilan dalam melaksanakan ibadah. Baik itu perorangan dan juga kelompok melalui petunjuk yang diberikan oleh Kyai.

Ada tiga tahapan dalam metode demonstrasi, pertama adalah pemberian teori oleh Kyai mengenai tata cara pelaksanaan ibadah. Bahkan Kyai akan melakukan praktek sehingga santri paham betul.

Kedua adalah persiapan peralatan ibadah untuk kegiatan praktik yang dilakukan santri dan masih dalam bimbingan Kyai. Ketiga adalah penentuan waktu dan tempat bagi santri untuk berkumpul dan melakukan urutan kegiatan praktik.

Terakhir, santri akan mendapat kesempatan untuk menanyakan hal-hal berkenaan dengan praktik. Metode pengajaran ini sangat tepat dilakukan oleh para santri muda yang baru belajar.

Melakukan praktek beribadah adalah dasar utama sambil terus mempelajari tentang kajian dalam kitab. Usai mempelajari praktek ini maka para santri akan lebih mudah untuk melakukan pengkajian terhadap ilmu agama Islam.

●       Metode Pengajaran Muhawarah

Pokok pengajaran ini adalah para santri yang berlatih bahasa Arab. Di beberapa pondok pesantren, pengajaran ini menjadi wajib bagi semua santri yang tinggal. Namun di beberapa pesantren metode pengajaran ini hanya dilakukan dua atau satu kali saja seminggu.

Bagi pondok pesantren yang menerapkan beberapa kali seminggu biasanya akan menggabungkannya dengan khitobah, yakni untuk melatih keterampilan santri dalam berpidato.

●       Metode Pengajaran Mudzakarah

Ada dua hal yang didapatkan dalam metode ini, pertama adalah Mudzakarah dipimpin Kyai yang hasilnya akan dibahas dan dinilai dalam sebuah seminar. Biasanya berisi tanya jawab yang dilakukan dalam bahasa Arab.

Kedua adalah diselenggarakan sendiri para santri dengan pembahasan sebuah topik masalah. Tujuan yang kedua ini adalah untuk melatih santri memecahkan masalah menggunakan kitab-kitab yang sudah disediakan. Nantinya akan ada santri yang ditunjuk sebagai juru bicara dan memberikan kesimpulan dari diskusi.

Inilah beberapa metode pembelajaran yang masih terus digunakan di pesantren tradisional. Meskipun ada di desa-desa namun pesantren tradisional masih terus eksis.

 

Bandung 10 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1