oleh : Herri Permana
Tidak hanya mengalami masalah hidup di bawah tekanan maupun bertahan dengan keterbatasan seperti halnya makan dan tempat tinggal, kebanyakan anak jalanan sering kali menjadi kelompok yang rentan mengalami kekerasan seksual. Akibatnya, kondisi inilah yang menjadikan mereka mengalami dampak secara fisik maupun psikis secara berkepanjangan. Terlebih lagi jika dilihat dari waktu ke waktu, kasus kekerasan seksual anak jalanan di Indonesia sejauh ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Apabila hal ini terus dibiarkan tanpa adanya penanganan serius, bukan tidak mungkin hal ini akan menyebabkan kondisi yang semakin memprihatinkan bagi generasi muda Indonesia. Oleh karena itulah, diperlukan adanya peran penting dari semua pihak terkait dalam upaya pencegahan kasus kekerasan seksual agar hal ini bisa teratasi dengan baik. Sehingga kesejahteraan anak jalanan bisa terjamin dan terhindar dari risiko kekerasan seksual.
Apa yang Dimaksud dengan Kekerasan Seksual?
Â
Kekerasan seksual atau disebut juga dengan pelecehan seksual dikatakan sebagai suatu tindakan penyerangan yang bersifat seksual, baik yang sudah terjadi persetubuhan maupun tidak. Tindakan kekerasan seksual biasanya dilakukan oleh seseorang kepada orang lain dengan cara memaksakan keinginan seksualnya dan disertai dengan adanya ancaman maupun paksaan. Dalam hal ini dikatakan bahwa kekerasan seksual sendiri memiliki rentang yang cukup luas.
Sebagai contoh yakni mulai dari ungkapan verbal (komentar, gurauan dan lain-lain), yang jorok dan tidak senonoh, perilaku tidak senonoh (mencolek, meraba, mencium, memeluk dan lain sebagainya), mempertunjukkan gambar porno / jorok dan lain-lain. Adapun pelecehan seksual sering kali dikatakan sebagai bentuk kekerasan dimana seseorang menjadikan anak jalanan untuk melampiaskan rangsangan seksualnya. Berkaitan dengan hal ini, anak jalanan yang sering kali menjadi korban umumnya sudah terbiasa dengan tindakan kekerasan seksual.
Hal ini bisa dilihat dari tindakan perilaku anak laki-laki yang memegang payudara atau pada anak perempuan ataupun sebaliknya yakni anak perempuan yang memegang alat kelamin anak laki-laki. Perilaku ini terjadi lantaran anak jalanan umumnya memiliki pengetahuan yang kurang mengenai pendidikan seksual. Sehingga, hal inilah yang menjadikan anak jalanan rentan mengalami risiko tinggi terhadap tindakan kekerasan seksual.
Â
Macam-macam Bentuk Kekerasan Seksual yang Dialami Anak Jalanan
Â
Jika melihat dari pengertian di atas, tindakan kekerasan seksual sendiri umumnya ada banyak sekali bentuknya. Dalam hal ini, ada beberapa bentuk kekerasan seksual yang mana dapat dikategorikan menjadi tiga antara lain sebagai berikut :
1.   Kekerasan Seksual Menurut Perlakuan yang Diterima Korban
Menurut perlakuan yang diterima korban, bentuk kekerasan seksual ada dua yakni secara non fisik dan secara fisik. Pada kekerasan seksual secara non fisik biasanya berupa kata-kata menghina, pandangan cabul pada bagian-bagian tubuh tertentu, mengajak korban melihat film porno dan lain-lain. Sedangkan kekerasan secara fisik yakni berupa pencabulan, sodomi dan pemerkosaan.
2.   Kekerasan Seksual Menurut Batasannya
Berikutnya ada bentuk kekerasan seksual menurut batasannya yang mana diberikan menjadi dua yaitu kekerasan seksual ringan dan kekerasan seksual berat. Untuk kekerasan seksual ringan biasanya berupa korban diperlihatkan gambar-gambar porno, diperlihatkan alat kelamin dan lain sebagainya. Sementara untuk kekerasan seksual dengan batasan yang berat biasanya berupa pencabulan, pemerkosaan, sodomi dan lain-lain.
Â
3.   Kekerasan Seksual Menurut Para Pelakunya
Adapun bentuk kekerasan menurut pelakunya dibedakan menjadi tiga yakni incest, extrafamilial sexual abuse dan bisnis seks komersial pornografi. Untuk membedakan ketiga bentuk kekerasan seksual tersebut, Anda bisa simak informasinya di bawah ini.
- Incest merupakan bentuk kekerasan seksual dimana pelaku masih memiliki hubungan darah dengan korban. Seperti misalnya kakak, adik, paman, ayah kandung maupun ayah tiri.
- Extrafamilial sexual abuse dikatakan sebagai kekerasan seksual dimana pelaku bukan merupakan anggota keluarga melainkan orang di luar lingkungan keluarga korban.
- Bisnis seks komersial pornografi biasanya dilakukan oleh suatu jaringan atau mafia pedofilia dimana anak-anak jalanan akan diburu dan dimanfaatkan untuk kepentingan nafsu menyimpang mereka.
Â
Faktor-faktor Pemicu
Perlu Anda ketahui, bahwa tindakan kekerasan seksual yang marak dialami oleh anak jalanan bisa terjadi dari beberapa faktor pemicu. Baik itu dari faktor pelaku tindakan kekerasan seksual maupun dari korbannya yakni anak jalanan. Agar supaya Anda lebih paham mengenai faktor pemicu tindakan kekerasan seksual pada anak jalanan, maka bisa menyimak ulasannya di bawah ini.
1.   Faktor Pemicu Pelaku Melakukan Tindakan Kekerasan Seksual Pada Anak Jalanan
Umumnya ada beberapa faktor yang menjadi pemicu mengapa pelaku tega melakukan tindakan kekerasan seksual pada anak jalanan. Beberapa faktor yang menjadi pemicu mereka melakukan tindakan kejahatan ini antara lain sebagai berikut :
- Pelaku memiliki kemampuan kontrol diri yang rendah, yang mana hal ini menjadikan mereka sulit untuk mengatur rasa emosi untuk mengendalikan dirinya sendiri.
- Adanya sikap impulsif yang biasanya akan memiliki kecenderungan dimana ketika sesuatu yang diinginkannya tidak didapati, maka akan mengalami kegelisahan.
- Pelaku memiliki tingkat kemampuan berpikir rendah yang mana hal ini sering kali disebabkan oleh kondisi stress hingga terindikasi adanya gangguan jiwa.
- Adanya upaya balas dendam terhadap masa lalu. Biasanya hal ini terjadi dimana pelaku kekerasan seksual pada anak jalanan pernah menjadi korban dari masa lalunya yang kemudian tidak ada penyelesaian secara tuntas.
- Terdapat kuasa dan kesempatan untuk melakukannya sehingga mereka bisa memuaskan hasratnya kepada korban yakni anak jalanan.
Â
2.   Faktor Pemicu Anak Jalanan Menjadi Korban Tindakan Kekerasan Seksual
Seperti yang sudah dijelaskan sedikit tadi, bahwa faktor utama yang membuat anak jalanan sering kali menjadi korban tindakan kekerasan seksual yakni karena mereka memiliki pengetahuan yang kurang tentang pendidikan seks. Sehingga, hal inilah yang menjadikan mereka masuk dalam kelompok yang rentan mengalami tindakan kejahatan tersebut. Umumnya, mereka sering menganggap tabu ketika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan reproduksi sehingga menjadikan mereka kurang memiliki gambaran yang tepat tentang pendidikan seks.
Adapun dalam hal ini, rata-rata anak jalanan yang mengalami tindakan kekerasan seksual pertama kali yakni usia 8-15 tahun. Bahkan yang mirisnya lagi, para pelakunya kebanyakan disini justru merupakan sesama anak jalanan sendiri. Dimana mengenai tempat terjadinya kejahatan ini sendiri bisa di rumah pelaku, pinggir jalan, kolong jembatan, pinggiran sungai, stasiun, dalam pasar dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, korban kejahatan ini sering kali dianggap lemah dan tidak bisa melawan lantaran adanya paksaan dan ancaman dari pihak pelaku sehingga mendapatkan tindakan kekerasan seksual tersebut. Terlebih lagi, pihak korban disini cenderung tidak berani untuk menolak terutama pada orang yang dikenal. Untuk melancarkan aksinya, pelaku biasanya akan membujuk korban dengan diiming-imingi sesuatu seperti memberikan sejumlah uang atau membelikan barang-barang yang korban inginkan.
Â
Dampak Buruk Kekerasan Seksual Bagi Anak Jalanan
Â
Kasus kekerasan seksual anak jalanan di Tanah Air menjadi salah satu permasalahan serius yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak. Hal ini dikarenakan kekerasan seksual bisa membawa dampak buruk bagi psikologis korban dalam jangka waktu panjang. Adapun beberapa dampak buruk kekerasan seksual yang dialami korban antara lain sebagai berikut :
1.   Muncul Perilaku Self-Harm
Korban yang mengalami tindakan kekerasan seksual biasanya akan mengalami trauma yang luar biasa sehingga muncul perilaku self-harm / tindakan sengaja melukai dirinya sendiri lantaran tidak bisa mengendalikan tekanan emosional.
Â
2.   Berisiko Terkena Infeksi Menular Seksual
Kekerasan seksual yang dialami korban juga akan berdampak pada kondisi fisik yang mana menjadikan mereka rentan terkena penyakit infeksi menular seksual dan akan mempengaruhi kesehatan mental.
Â
3.   Terjadinya Penyalahgunaan Obat-obatan Terlarang
Adanya beban emosi dan perasaan negatif dalam diri sendiri sering kali menyebabkan korban ingin menghilangkannya sementara dengan cara mengonsumsi obat-obatan terlarang. Yang awalnya hanya coba-coba, akhirnya justru merasa ketagihan dan kecanduan mengkonsumsi obat-obatan tersebut.
Â
4.   Terkena Gangguan Disosiasi
Efek buruk kekerasan seksual juga bisa menyebabkan korban mengalami gangguan disosiasi, dimana mereka ingin kejadian yang menyebabkan traumatis ingin dihilangkan dari memorinya.
Â
5.   Ada Keinginan Bunuh Diri
Adapun dampak paling berbahaya ketika korban mengalami tindakan kekerasan seksual yakni biasanya akan timbul keinginan untuk mengakhiri hidupnya atau bunuh diri.
Â
Tindakan Kekerasan Seksual Anak Jalanan di Wilayah Bandung
Â
Kehadiran anak jalanan di kota-kota besar seperti halnya Bandung umumnya sering kali terjadi lantaran dampak kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Akibat dari kejadian inilah yang menjadikan anak-anak jalanan tersebut akhirnya turun ke jalanan untuk mencari uang di jalan. Terlebih lagi, tidak sedikit dari para orang tua yang ikut andil dimana mereka menyuruh anak-anaknya untuk ikut mencari uang di jalanan.
Berkaitan dengan hal tersebut, tingginya anak jalanan yang ada di Bandung mengakibatkan mereka rentan mengalami tindakan kekerasan seksual akibat kurangnya informasi maupun pengetahuan tentang pendidikan seks. Apalagi mereka yang menjadi korban kekerasan seksual sulit melawan lantaran kebutuhan uang dan makan. Hal inilah yang menjadikan angka kekerasan seksual anak jalanan di Bandung cenderung mengalami peningkatan.
Menurut sumber jurnal hasil penelitian pada Maret 2011, kurang lebih sekitar 53,3 persen anak jalanan mengalami yang namanya tindakan kekerasan seksual. Adapun dari sebagian besar korban yang mengalaminya mengaku bahwa pelaku merupakan temannya sendiri. Dampak dari kejadian ini sering kali menjadikan korban pada akhirnya mengalami trauma yang tidak bisa dilupakan bahkan bisa menyebabkan mereka rentan terjun ke dunia pelacuran lantaran sudah mengalami tindakan menyakitkan di dalam hidupnya.
Â
Bagaimana Upaya Pencegahan Kekerasan Seksual Pada Anak Jalanan?
Â
Melihat angka kasus kekerasan seksual anak jalanan yang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, menjadikan semua pihak terkait perlu melakukan upaya pencegahan agar kasus ini tidak semakin membawa dampak buruk. Baik itu dampak buruk secara fisik maupun psikis bagi para korban secara berkepanjangan. Adapun beberapa upaya pencegahan yang bisa dilakukan agar tindakan kejahatan seperti ini bisa diminimalisir antara lain sebagai berikut.
- Memberikan pendidikan seksual kepada anak-anak jalanan sejak dini.
- Menyadarkan kepada anak jalanan bahwa tindakan kekerasan seksual tidak boleh dilakukan.
- Mengajak dan mengedukasi orang tua agar anak-anak jalanan tidak putus sekolah sehingga mereka dapat melanjutkan pendidikan yang lebih baik di masa depannya.
Itulah tadi informasi penting mengenai dampak kejahatan ini hingga upaya untuk melakukan pencegahan yang harus dilakukan sesegera mungkin.
Bandung , 2 Desember 2022
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




