oleh Herri Permana
Metode IQRO sampai sekarang masih dominan sebagai metode pengajaran Al Qur’an yang paling populer di Indonesia bahkan Asia Tenggara. Metode ini dicptakan oleh KH As’ad Humam yang lahir pada 1933 serta dibesarkan dan berkembang dalam kesehajaan dan kecintaan terhadap ilmu.
Itikad yang besar mengabdi kepada ilmu ia buktikan dengan belajar langsung kepada KH Dachlan Salim Zarkasyi. Meski beliau tak pernah lulus pendidikan formal, ia putus sekolah terhenti di kelas dua Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta, setingkat SMP.
Aktivitas perniagaan mengantarkan kedua tokoh untuk saling mengenal. As’ad, begitu akrab disapa, adalah pedagang imitasi di Pasar Bringharjo, kawasan Malioboro, Yogyakarta. Jiwa berwiraswasta itu ia warisi dari kedua orang tuanya. Dari sinilah As’ad lantas mengenal Metode Qiroati, satu dari sekian metode baca Alquran yang sudah eksis lebih dulu.
Kegigihan dan keuletan As’ad mendorong gagasan-gagasan yang inovatif. Putra dari H Humam Siradj tersebut menyusun sendiri pola-pola dan teknik belajar membaca Alquran. Sempat mendapat penolakan dari sang guru, akhirnya ia merangkul para sahabatnya yang tegabung di Angkatan Muda Masjid dan Musala (Team Tadarus “AMM”) Yogyakarta00 untuk menyusun sendiri dengan pengembangan penggunaan metode Iqro’.
Syahdan, ide tersebut teralisasikan dengan baik. Metode ini pun mendapat respons positif dari Muslim Tanah Air, bahkan dampaknya dirasakan nyata secara luas di dunia internasional, terutama kawasan Asia Tenggara. Metode ini dinilai memiliki banyak kelebihan, seperti kemudahan dan akurasi.
Sejarah BKPRMI (Badan Komuniasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia)
Penyebaran metode IQRO di tanah air tidak bisa dilepaskan dari peranan BKPRMI (Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia). Berdiri pada tanggal 3 September 1977 19 Ramadhan 1397 Hijriyah di Masjid Istiqamah Bandung, Jawa Barat. Dengan nama BKPMI (Badan Komunkasi Pemuda Masjid) kepengurusan awalnya dipegang oleh H Toto Tasmara dengan sekretaris Bambang Pranggono (periode kepengurusan 1977 – 1980) dan dilantik oleh KH. EZ Muttaqien mewakili Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat.
Didirikan sebagai wadah silaturahmi dan komunikasi antara organisasi-organisasi remaja masjid diberbeagai kota seperti YISC Al Azhar , Remaja Islam Sunda Kalapa (RISKA) , Remaja Masjid Istiqomah Bandung , Karisma Salman ITB , Remas Al Falah Surabaya dll.
Tercatat sebagai pendiri adalah : Toto Tasmara, Ahmad Mansur Suryanegara, Syamsuddin Manaf, Bambang Pranggono, masing-masing dari Jawa Barat, Mustafid Amna, Syaifuddin Donondjoyo, Muhammad Anwar Syaifuddin Donondjoyo, Muhammad Anwar Ratnaprawira, Muchlis Ma’ruf masing-masing dari DKI Jakarta, Nasir Budiman, Nurcholis Turmudzi masing-masing dari Jawa Tengah, dan Mubayin dari Jawa Timur.
Berdirinya BKPMI terjadi di masa-masa sulit bagi aktivis Islam. Politik represif rezim Orde Baru dan kecurigaan yang berlebihan terhadap aktivitas gerakan Islam berimbas pada BKPMI. Peristiwa Wolya 1981 menyebabkan terjadinya pembubaran aktivitas remaja masjid di Masjid Istiqomah yang juga markas awal BKPMI. Peristiwa penangkapan , penculikan bahkan penghilangan paksa aktivis Islam di masa itu berimbas pula pada BKPMI.
BKPMI tidak mendapatkan izin dan pengakuan dari pemerintah Orde Baru bahkan seringkali dikaitkan dengan aksi-aksi perlawanan aktivis islam terhadap rezim Orde Baru. Mulai dari Wolya (1981) , Pembantaian Tanjung Priok (1984) , pengeboman BCA (1984) , sampai Talangsari (1989), beberapa aktivis BKPMI turut ditangkap dan jadi pesakitan bahkan terbunuh/dibunuh. Teror “kapal selam” rumah tempat penyiksaan aktivis islam oleh aparat intelejen Indonesia menjadi momok di masa itu.
Perubahan dari Badan Komunikasi Pemuda Masjid Indonesia (BKPMI) ke Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) tidak lepas dari peranan Jusuf Kalla untuk “menjinakkan” aktivis Islam .Dalam Musyawarah Nasional VI tahun 1993 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta , BKPMI berfusi dengan Forum Silaturahmi Remaja Masjid (FOSIRAMA) di bawah pimpinan Idrus Marham dan menjadi Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI).
Bersamaan dengan perubahan nama organisasi, dalam MUNAS VI ini pula di sepakati, bahwa BKPRMI merupakan lembaga otonom dari organisasi Dewan Mesjid Indonesia (DMI) yang dipimpin Yusuf Kalla. Selain itu, di bawah pengurus BKPRMI terbentuk beberapa Lembaga Pembinaan dan Pengembangan, seperti Da’wah dan Pengkajian Islam (LPP-DPI), Sumber Daya Manusia (LPP-SDM), Ekonomi Koperasi (LPP-EKOP), Dan Keluarga Sejahtera (LPP-KS). Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Ketahanan Santri (LKS), terbentuk dalam suatu rapat pleno DPP pasca MUNAS VI.
Penyebaran Metode IQRO oleh BKPRMI
Sejalan dengan melunaknya BKPRMI di bawah kendali Idrus Marham , garis besar pergerakan BKPRMI pun berubah. Tidak lagi bermain “politik” , BKPRMI lebih fokus pada usaha-usaha penguatan pemberdayaan ummat.
Salah satunya adalah penyebaran metode pengajaran Al Qur’an dengan metode IQRO. Di masa era 70-90 an jumlah buta huruf Al Qur’an sangat tinggi. Bahkan mayoritas pelajar sekolah menengah masa itu tidak bisa membaca Al Qur’an. Dan ini menjadi keprihatinan dari BKPRMI.
Berawal dari kegiatan LMD (Latihan Manajemen Da’wah) BKPRMI tanggal 9 – 13 Januari 1989, bertempat di komplek TK Al-Qur’an AMM Kota Gede Yogyakarta.Waktu itu Tim Tadarus AMM Yogyakarta yang dipimpin K.H. As’ad Humam menyatakan harapannya agar BKPMI (sekarang BKPRMI) menjadikan TK Al-Qur’an yang telah dirintisnya menjadi program Nasional. Harapan beliau disambut baik dan menjadi keputusan penting dalam MUNAS V BKPRMI di Surabaya (27 – 30 Juni 1989).
Program ini dijalankan oleh Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-kanak Al Qur’an (LPPTKA) lembaga di bawah BKPRMI. Dengan menggunakan metode IQRO , LPPTKA-BKPRMI mendorong untuk menjadikan masjid-masjid dan mushola di seluruh Indonesia menjadi sentra pembelajaran Al Qur’an, bahkan yang terletak di dalam gang sempit. Penerbitan buku IQRO pun dilakukan secara besar-besaran dan di distribusikan di Depot IQRO yang dikelola LPPTKA-BKPRMI dari Pusat sampai daerah.
Gerakan masif ini dengan cepat bisa menyebar dengan luas di seluruh Indonesia . Dan dimulai pada era 90 an angka buta huruf al Qur’an pun menurun dengan drastis. Masjid-masjid dan mushola bahkan di gang-gang sempit dipenuhi lagi oleh anak-anak yang belajar mengaji.
Bandung , 11 Desember 2022
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung . Perrnah Aktif di BKPRMI dengan Jabatan Terakhir Sekretaris II DPW BKPRMI Jawa Barat (2000-2003)




