Di balik bukit tandus di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan, tersembunyi sebuah desa kecil bernama Darra Adam Khel. Terletak 49 km arah selatan ibukota provinsi Penshawar dimana sekilas, desa ini tampak seperti perkampungan biasa dengan rumah-rumah dari batu bata dan kayu, jalan sempit berdebu, dan aktivitas harian yang tampak tenang. Namun, siapa sangka, di balik pintu-pintu bengkel kecil yang berjajar di sepanjang jalan desa ini, lahir senjata-senjata yang menyebar ke seluruh wilayah konflik Asia Selatan.
Warisan Senjata Darra Adam Khel dari Masa Lalu
Konon, tradisi membuat senjata di Darra Adam Khel dimulai sejak tahun 1857, saat seorang pembelot tentara Inggris mengajarkan penduduk lokal cara membuat senapan. Sejak itu, keterampilan menempa baja dan merakit senjata menjadi warisan turun-temurun—dari ayah ke anak, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Data pada tahun 2014 menyebutkan ada sekitar 7500 workshop senjata disana dan menjadikannya sebagai pasar senjata api terbesar di dunia.
Ketika invasi Soviet ke Afghanistan meletus pada tahun 1979, Darra mengalami ledakan ekonomi. Permintaan senjata melonjak, dan Darra menjadi pemasok senapan, peluncur roket, bahkan ranjau darat ke pejuang Mujahidin yang memerangi tentara Rusia. Ironisnya, sebagian teknologi pembuatan senjata berat diperoleh setelah ledakan gudang amunisi di Rawalpindi pada tahun 1988—pemerintah menjual pecahan amunisi sebagai besi tua, dan Darra mengubahnya menjadi mesin perang.
Bahkan selama invasi Uni Sovyet ke Afghanistan , pemerintah Pakistan sengaja menutup mata atas keberadaan desa ini , dimana milisi Afghanistan banyak berkumpul di Penshawar wilayah terdekat Pakistan dengan Afghanistan. Salah satu kelompok Mujahiddin yang berbasis di Pakistan adalah kelompok Abdur Rabbi Ar Rasul Sayyaf , yang juga kelompok induk dari pejuang asing Ikhwanul Muslimin Abdullah Azzam yang diteruskan Osama bin Laden.
Militan Indonesia yang terliat dalam bom bali juga militan wahaby di Ambon Poso Ja’far Umar Thalib duluya juga di latih di kamp milik Sayyaf di Penshawar.
Senjata Buatan Tangan Darra Adam Khel, Akurasi Tak Terduga
Jangan bayangkan pabrik canggih atau mesin otomatis. Di Darra, senjata dibuat dengan alat tangan sederhana: bor manual, palu, dan semangat keahlian. Namun hasilnya mengagumkan. Para pengrajin mampu membuat replika nyaris sempurna dari Kalashnikov, shotgun, hingga pistol tersembunyi dalam pena. Bahkan, ada yang menyombong, “Berikan kami rudal Stinger, kami akan buat tiruannya yang sulit dibedakan.”
Tentu saja, kualitasnya tidak selalu menyamai senjata buatan pabrik. Tak ada standarisasi, tak ada pengujian mutu. Jika sebuah bagian rusak, seluruh senjata bisa jadi tak berguna. Namun, di pasar-pasar gelap senjata , harga murah dan ketersediaan cepat lebih penting daripada kualitas pabrik.
Sebuah Senapan Serbu AK-47 bisa dibeli dengan harga hanya US$ 100-120 saja sementara senjata aslinya buatan pabrik dijual dengan harga US$ 1200-2200 per buah, sementara sebuah M16 bisa dibeli dengan harga US$ 350-850 , sementara senapan original buatan pabrik (China) dijual US$ 2200-2700.
Bukan itu saja semua jenis senjata mulai dari pistol , senapan serbu , granat , roket , ranjau , detonator sampai rudal anti pesawat bisa dibuat dan didapatkan disana.
Dilema Legalitas dan Identitas
Selama bertahun-tahun, Darra hidup di luar jangkauan hukum Pakistan. Wilayah ini dikontrol oleh suku lokal dan tidak tunduk pada hukum pidana negara. Namun, semua berubah pada tahun 2018, saat parlemen Pakistan menyatukan daerah suku dengan sistem hukum nasional. Kini, industri senjata Darra menghadapi tekanan—ribuan pengrajin kehilangan mata pencaharian, dan identitas desa sebagai “pengrajin senjata terbaik dunia” terancam lenyap.
Namun penduduk Darra membantah tuduhan bahwa senjata mereka dipakai oleh teroris. “Kami hanya melayani pasar lokal,” ujar seorang tukang senjata. Mereka menganggap stigma terhadap desa mereka tidak adil. Bagi mereka, membuat senjata bukan soal kekerasan, tapi soal keterampilan, tradisi, dan kebanggaan.
—
Penutup
Darra Adam Khel adalah paradoks hidup—sebuah desa yang menghasilkan kematian, namun juga mewarisi kehidupan melalui keterampilan yang langka. Di dunia yang terus berubah, pertanyaannya adalah: apakah Darra akan bertahan sebagai simbol ketangkasan tradisional, atau tenggelam dalam arus hukum dan modernisasi?
Bandung, 13 April 2025
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




