Fenomena Kidult, Kelainan Atau Bukan?

fenomena kidult

 

 

Oleh Herri Permana

 

Saat ini fenomena kidult banyak terjadi, fenomena tersebut mulai muncul sekitar tahun 1960-an dan banyak terjadi pada negara-negara maju sekitar tahun 1980-an. Lantas seperti apa fenomena tersebut

Kidult (kid-adult) diperkenalkan pertama kali oleh psikolog Jim Ward-Nichols dari Steven Institute of Technology di New Jersey, AS. Kidult adalah fenomena mengenai seseorang yang sebenarnya secara umur sudah dewasa, tapi masih senang menikmati kehidupan dan kebiasaan anak-anak atau remaja belasan tahun

Perilaku konsumtif yang terus meningkat di tengah masyarakat modern menjadikan kidult bukan hanya sekadar tren konsumsi, melainkan gaya hidup konsumtif di masyarakat. Gaya hidup konsumtif terhadap mainan kidult, terutama telah menjadikan kidult sebagai fenomena budaya di tengah-tengah masyarakat Ada banyak nama sebutan untuk orang kidult, antara lain middlescent, middle-youth, adultscent, peterpans, kippers, nesthockers, mammones, dan freeters dan grups (singkatan dari grow – ups).

Ciri kidult yang umumnya terlihat biasanya masih tinggal serta ditanggung oleh orangtua, tidak memiliki pekerjaan tetap, tidak memiliki hubungan serius, tidak mandiri secara finansial, dan kurang bertanggung jawab atau memiliki komitmen penuh.

Mereka memilih menunda menikah, menunda memiliki anak, menunda membeli rumah, lebih memilih berkeliling dunia daripada hidup mapan, dan membelanjakan uang tanpa rencana.

Drama “Peter Pan, atau The Boy Who Didn’t Grow Up” pertama kali ditulis dan diterbitkan pada tahun 1904, dan delapan puluh tahun kemudian, sebuah buku oleh ahli psikologi Dan Keely juga diterbitkan, yang didedikasikan untuk pengikut dewasa Peter Pan. Ia dipanggil Sindrom Peter Pan, atau Lelaki yang Tidak Pernah Membesar (1983).

Kata kidult sebenarnya merupakan gabungan dari kata kid dan adult yang telah dikenalkan oleh Jim Ward-Nichols, seorang psikolog dari Steven Institute of Technology di New Jersey, AS, untuk pertama kalinya.

Kidult dapat pula diartikan menciptakan kembali suasana kenangan saat kecil dengan melakukan kegiatan yang dilakukan anak-anak. Fenomena tersebut saat ini sedang ramai dibicarakan oleh beberapa pihak. Salah satu penyebabnya adalah pandemi Covid-19 yang telah melanda dunia. Pandemi menjadi alasan untuk orang harus berdiam diri di rumah, sehingga untuk mengisi kegiatan agar tak bosan, beberapa orang kembali dengan mainannya saat kecil.

Fenomena kidult merupakan keadaan dimana seorang yang telah dewasa namun masih senang melakukan kebiasaan anak-anak. Dapat diartikan bahwa ketika ada fenomena kidult, orang tersebut menolak menjadi dewasa lantaran tak ingin kehilangan masa kecilnya.

Tiap negara mempunyai istilah yang berbeda dalam menamai fenomena tersebut. Di Inggris biasa dikenal dengan kippers, di Jerman disebut nesthockers, di Perancis disebut ammones dan di Jepang dikenal dengan istilah freeters.

Apakah Fenomena Kidult Adalah Penyakit

Dr. Endang Mariani, MPsi seorang pengamat psikososial dan budaya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia menyatakan bahwa kidult adalah kondisi ketika seseorang enggan menjadi dewasa dengan cara menghindari tanggung jawab.

Dr. Endang menuturkan bahwa fenomena kidult bukanlah termasuk gangguan psikologis. Kidult termasuk cara membahagiakan diri sendiri atau cara untuk mengapresiasi diri dengan bentuk membeli mainan.

Membeli mainan selalu dikaitkan dengan kebiasaan anak kecil. Sehingga beberapa orang mengaitkan fenomena kidult yang melanda orang dewasa seperti membeli mainan adalah cara balas dendam pada masa kecil dulu.

Keadaan ini justru banyak terjadi di negara-negara maju pada kota-kota besar. Yang menyebabkan fenomen kidult adalah kondisi perekonomian orang tua yang sudah mapan, lapangan kerja yang sangat kompetitif bagi laki-laki dan perempuan muda. Kemudian harga-harga barang yang mahal serta gaya hidup yang mewah.

Sebenarnya belum ada penelitian khusus fenomena kidult di Indonesia, namun sosiolog V yakni Sundari Handoko beranggapan fenomena ini mungkin bisa saja terjadi di Indonesia. Terlebih budaya Indonesia memiliki konsep keluarga besar (extended family), yang mempunyai ikatan emosional begitu tinggi. Dalam ikatan tersebut, ada kewajiban untuk saling membantu. Termasuk bantuan ekonomi dari orang tua, saat anak-anak mereka belum mapan bahkan setelah menikah atau ketika sudah memiliki penghasilan sendiri.

Ketidakmandirian dan kemanjaan yang terjadi pada anak menjadi penyebab utama fenomena kidult. Meskipun beberapa orang tua di kota-kota besar memperbolehkan anak-anaknya bersekolah ke luar kota atau luar negeri, menurut Sundari tidak menjadi jaminan bahwa anak tersebut akan mandiri. Tidak jarang orang tua menyediakan rumah kontrakan yang begitu nyaman, asisten rumah tangga, hingga mengirimkan uang tiap bulan.

Perlakuan orang tua di kota kepada anak-anaknya sangat berbeda dengan perlakuan orang tua di desa. Kondisi perekonomian yang lebih rendah di desa justru menyebabkan banyak orang dengan usia muda berani mengambil langkah meninggalkan keluarga dan hidup mandiri di kota.

Hal tersebut sama dengan yang dituturkan oleh Nadya Pramesrani, M.Psi , dari Klinik Psikolog Bingkai. Menurut Nadya, faktor lingkungan dan keluarga sangat berpengaruh dalam proses pendewasaan. “Keluarga yang terlalu melindungi dan lingkungan yang seringkali menempatkan seseorang sebagai ‘anak bawang’ bisa menjadi faktor penyebab seseorang tidak dewasa,” ujarnya.

Laporan dari NPD Group yang dilansir dari NBC News memaparkan kidult sangat berjasa bagi industri mainan. Mereka berkontribusi seperempat dari semua penjualan setiap tahunnya senilai 9 miliar dolar AS atau setara Rp140,4 triliun (kurs Rp15.600). NPD sendiri mendefinisikan kelompok kidult merupakan mereka yang berusia di atas 12 tahun.

Dari laporan tersebut dapat kita ketahui bahwasannya jumlah mereka yang memiliki usia di atas 12 tahun lebih banyak menjadi pembeli daripada anak yang usia di bawahnya untuk produk mainan.

Fenomena kidult tersebut menyita publik, pasalnya minat membeli mereka yang memiliki usianya di atas 12 tahun sangatlah besar padahal produk tersebut bukan produk kebutuhan pokok kehidupan manusia.

Kidult begitu berjasa bagi penjualan mainan pada awal pandemi. Pada saat itu, angka penjualan board game, puzzle dan permainan set menurun. Namun, penjualan mainan tersebut terbantu dengan harga jual yang tinggi. Laporan NPD menyebutkan bahwa penjualan mainan pada periode tersebut naik 3 persen. Hal ini tentu menjadi sinyal positif bagi industri mainan saat itu.

Hal tersebut sangat menguntungkan pabrik mainan di mana saat awal pandemi hampir semua sektor mengalami penurunan pendapatan. Untuk bertahan dan tidak rugi saja sudah untung. Namun hadirnya kidult sangat membantu industri mainan untuk tetap bertahan bahkan mendapatkan keuntungan.

Biasanya para kidult yang suka membeli mainan sangat menyukai kartun, super hero, dan barang koleksi lainnya yang mengingatkan mereka pada masa-masa kecil. Mereka akan membeli mainan dagangan set leg  , action figure , mobil-mobilan serta  boneka yang biasanya diperuntukkan untuk anak-anak.

Lego sendiri sebenarnya memang bisa dijadikan media penyaluran kreativitas. Tapi di mancanegara permainan ini justru banyak dimainkan orang dewasa. Yang lebih mengejutkan lagi mereka ada yang memiliki koleksi Lego lebih banyak daripada anak kecil.

Dulu, orang dewasa pasti malu jika masih bermain lego karena dianggap masih seperti anak kecil. Akan tetapi seiringnya waktu, sudut pandang ini pun mulai berubah bahkan secara perlahan orang dewasa yang bermain lego mulai diakui sebagai hal yang wajar. Di luar negeri ada acara Lego Masters yakni sebuah kompetisi menyusun lego yang diadakan oleh negara-negara maju.

Bahkan banyak produsen mainan telah membuat lini produk yang dikhususkan untuk kidult. Produsen mainan sadar bahwa permintaan yang tinggi dari kidult adalah peluang dan tak mau menyia-nyiakan hal tersebut. Dengan seperti itu, penjualan akan meningkat dan keuntungan lebih besar dapat diraup oleh industri mainan.

Industri mainan lego mulai memproduksi set set lego yang sangat detail seperti Supercars berukuran besar, bangunan arsitektural yang sangat akurat, tanaman dari lego yang mirip aslinya, serta beragam set lainnya.

Beberapa merk mainan mainan mobil-mobilan kecil (skala 1:64) seperti Tomica, Mini GT , Tarmac Works dll yang harganya mencapai puluhan bahkan ratusan ribu rupiah jelas pembelinya kebanyakan bukan anak 4 tahun. Mobil-mobilan R.C dari merk standar seperti Tamiya sampai merk premium seperti Traxxas Nitro Rustler , Holy Stone dll penggemarnya banyak yang malah sudah punya cucu.

Bahkan banyak perusahaan mainan ini porsi pembeli terbesarnya justru orang dewasa terutama kolektor dan jauh melebihi dari keuntungan perusahaan mainan yang diproduksi memang khusus buat anak-anak. Keuntungan yang didapat oleh industri mainan yang menyasar segmen kidult tidak dapat diremehkan.

Terlepas dari anggapan bahwa kidult seperti anak kecil atau balas dendam terhadap masa kecil, asalkan hal tersebut tidak merugikan negara dan siapapun masih dianggap boleh-boleh saja. Lebih lanjut, fenomena kidult juga bukan merupakan kelainan psikologis jadi tidak perlu ada penanganan khusus bagi mereka.

 

Bandung , 03 Januari 2023

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

 

 

Donasi Yuk
1