Bagaimana Ciri Seseorang Mendapatkan Malam Lailatul Qadar?

malam lailatul qadar

 

Malam Lailatul Qadar menjadi malam yang paling dinantikan di sepanjang bulan Ramadhan. Bagi seorang Muslim, Lailatul Qadar alias Malam 1000 Bulan merupakan momentum menakjubkan yang diberikan oleh Allah SWT kepada ummat Nabi Muhammad SAW. Bagaimana tidak, ada sebuah kisah yang menyebut bahwa Lailatul Qadar dianugerahkan kepada kita sebab kecemburuan Rasulullah atas umat terdahulu yang memiliki usia panjang, sehingga durasi untuk beribadah kepada Allah juga lebih banyak dibandingkan kita.

Namun, berkat Lailatul Qadar, ummat Rasulullah yang merupakan penghuni akhir zaman di Bumi juga mendapatkan kesempatan setara untuk beribadah seperti para umat nabi terdahulu. Lantas, bagaimana cara menemui malam Lailatul Qadar di antara 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.

Malam Lailatul Qadar tidak dapat dihitung menggunakan kalender manusia. Imam Al Ghazali pernah berpendapat bahwa Lailatul Qadar hanya dapat ditandai, dengan salah satunya menggunakan hari pertama dimulainya Ramadhan. Ulama lain berpendapat bahwa Lailatul Qadar memiliki ciri yang bisa dirasakan oleh setiap Muslim.

Bagaimana Ciri Malam Lailatul Qadar

Dalam Kitab Irsyadul Ibad telah dijelaskan mengenai ciri Lailatul Qadar. Kitab kuning yang sering dikaji oleh kalangan pesantren tersebut menyebutkan beberapa ciri malam mulia tersebut, yaitu suasana malam yang terang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada mendung, tidak hujan dan berangin, dan tidak ada bintang berjalan. Rasanya seperti malam yang begitu tenang bahkan pohon-pohon pun terdiam.

Malam Lailatul Qadar tidak hanya ditunggu, melainkan disambut. Karena itu, sejak dimulainya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, umat Islam disarankan untuk lebih memperketat ibadah mereka. Mulai dari menjalankan i’tikaf di masjid, bersedekah, melaksanakan qiyamul lail, memperbanyak membaca Al Quran, dan sebagainya.

Hal ini sebab Lailatul Qadar adalah malam yang bahkan lebih baik dari 1000 bulan. Kapan lagi umat Nabi Muhammad SAW mendapatkan durasi beribadah yang lebih baik ketimbang 1000 bulan? Jawabannya ada pada malam Lailatul Qadar yang begitu dinanti.

Memperbanyak Amalan di 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan adalah Cara Mendapatkan Lailatul Qadar

Telah ditulis di atas, bahwa Lailatul Qadar bukan sesuatu yang ditunggu, melainkan malam yang hendaknya disambut. Terutama di malam-malam ganjil di sepuluh hari bulan Ramadhan, yaitu di tanggal 21, 23, 25, dan 29. Umat Islam disarankan untuk beribadah yang lebih banyak dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah waktu yang juga dijaga betul oleh Rasulullah SAW, seperti yang diriwayatkan dari Aisyah RA yang artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.”

Bahkan tidak hanya seorang diri, Rasulullah pun turut membangunkan keluarga beliau untuk menghidupi malam-malam menjelang Hari Raya ini. Ini merupakan sebuah anjuran sekaligus pengajaran yang dapat dicontoh oleh para ummat beliau.

Ada banyak sekali hal yang dapat dilakukan di 10 terakhir bulan Ramadhan. Seperti melaksanakan salat malam yang dimulai setelah bada Isya, membaca Al Quran dan jika perlu dengan tafsirnya, berdizkir, bertahmid, memohon ampunan Allah SWT, dan melaksanakan amal saleh lainnya.

Semoga kita merupakan golongan dari ummat Nabi Muhammad SAW yang diberi anugerah untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan ini.

Bagaimana Ciri Seseorang yang Mendapatkan Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar adalah malam yang begitu mulia, sehingga sebagian ulama menyebut bahwa jika seseorang beribadah di malam mulia ini, maka ibadanya setara dengan 1000 bulan, jika setahun terdiri dari 12 bulan, maka berapa lama ibadah yang kita lakukan sehari semalam itu dihitung? Masyaallah.

Menurut Profesor Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al Quran, seseorang yang mendapatkan berkah di malam Lailatul Qadar pun memiliki ciri-ciri khusus. Berikut ini adalah ciri seseorang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar:

  1. Seseorang senantiasa berbuat baik selama Ramadhan, jadi bukan hanya saat di malam Lailatul Qadar itu saja.
  2. Ibadahnya meningkat bahkan setelah bulan mulia ini berakhir. Artinya, ibadahnya tidak pernah berubah meski Ramadhan berakhir dan telah masuk ke bulan-bulan lainnya.
  3. Hati dan pikiran seorang Muslim yang mendapatkan Lailatul Qadar akan senantiasa damai, tidak mudah berselisih dengan orang lain.

Demikian ciri seseorang yang mendapatkan malam mulia ini. Pendapat Profesor Quraish Shihab tersebut mendukung pendapat dari Imam Sakrani yang menyebut bahwa, seseorang yang mendapatkan Lailatul Qadar akan memiliki “rikkatul qalbi” alias hati yang lembut. Sehingga, ketaatannya kepada Allah SWT meningkat tanpa kenal waktu.

Apa yang Dilakukan setelah Ramadhan Berakhir?

Lailatul Qadar yang muncul di antara 10 hari terakhir bulan Ramadhan juga menandai bahwa bulan mulia ini akan segera berakhir. Momentum Hari Raya tidak hanya dirayakan lewat bersilaturahim, menikmati penganan lezat, atau memamerkan baju baru. Namun, dengan menjaga ibadah seperti yang dilakoni di bulan Ramadhan, atau bahkan justru lebih baik lagi.

Bulan Syawal seharusnya menjadi awal bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah, bukan karena Ramadhan telah usai, maka kita justru kembali melakukan maksiat. Terutama karena perintah bertakwa kepada Allah SWT bukan hanya ketika bulan Ramadhan tiba. Seperti dalam QS Al Hasyr Ayat 18 yang berarti:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Ayat tersebut menjelaskan kepada seluruh orang yang beriman untuk selalu bertakwa kepada Allah, karena hal tersebut akan memengaruhi timbangan kita kelak di akhirat. Ibadah dilakukan setiap hari, setiap saat, setiap detik. Bukan hanya memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan, terlebih di 10 hari terakhir atau di malam Lailatul Qadar saja. Namun, beribadah karena mengharap rida Allah setiap hari.

Selepas Ramadhan berakhir, para Muslim juga hendaknya melakukan muhasabah diri. Apa yang sudah dilakukan di bulan Ramadhan? Apakah niat kita beribadah sudah lurus ataukah hanya untuk memuaskan ego? Pernahkan melanggar larangan selama Ramadhan? Dan pertanyaan lain sebagai sarana instropeksi diri.

Selepas Ramadhan usai, kita juga disarankan untuk tetap memperbanyak dzikir, membaca Al Quran, berbuat baik kepada sesama, dan menahan setiap nafsu yang berasal dari segala bagian tubuh kita. Baik nafsu yang dapat dilihat oleh mata maupun yang hanya dapat dirasakan oleh hati.

Tetap menjaga semangat beribadah selayaknya di bulan Ramadhan merupakan bentuk ketakwaan seorang hamba kepada Tuhan-nya. Hal tersebut hendaknya yang selalu dijaga oleh setiap Muslim baik laki-laki maupun perempuan. Karena pada dasarnya, Allah yang kita sembah dengan begitu rajin di kala Ramadhan tiba, juga adalah Allah yang sering kita abaikan dan tinggalkan begitu bulan mulia itu telah berakhir.

Sumber:

https://muhammadiyah.or.id/2022/04/masuki-10-hari-terakhir-bulan-ramadan-tingkatkan-ibadah-dan-perbanyak-baca-al-qurran/

https://rumaysho.com/3502-lebih-semangat-ibadah-di-sepuluh-hari-terakhir-ramadhan.html

https://nu.or.id/daerah/tanda-tanda-malam-lailatul-qadar-dalam-kitab-irsyadul-ibad-1YVk5

https://tirto.id/ciri-ciri-orang-yang-mendapatkan-lailatul-qadar-ramadhan-2023-gETb

https://kemenag.go.id/islam/khutbah-jumat-3-cara-menjaga-spirit-ibadah-pasca-ramadhan-PhjMq

 

Bandung, 10 Maret 2026

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1