oleh : Herri Permana
Peranan susu dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia memang sangat penting. Kata revolusi putih India erat kaitanya dengan terkenalnya produksi pertanian. Revolusi Putih atau Operation Flood dicanangkan pemerintah India pada tahun 1970. Konteks dari revolusi putih sebenarnya bukan pada peningkatan konsumsi, melainkan pada peningkatan produksi dalam negeri.
Jejak dari Revolusi Putih sudah dirintis pada tahun 1950 oleh Dr verghese Kuriyen. Doktor di bidang teknik lulusan dari Michigan State University, Amerika Serikat ini mendirikan Gujarat Cooperation Milk Marketing Federation (GCMMF) dengan merk susu AMUL (Anand Milk Union Limited). Saat itu kondisi harga pangan di India termasuk susu sangat kurang karena suburnya pihak ketiga. dampaknya dari hal tersebut adalah konsumen mendapat harga yang tidak wajar.
Produsen susu dari luar negeri terutama di negara-negara Eropa sangat agresif merebut pangsa pasar India yang renyah karena pupulasinya sangat besar. Kuriyen juga miris melihat kondisi gizi dari penduduk India, terutama di daerah pedesaan. Untuk memenuhi kebutuhan penduduk atau domestik, India masih mengimpor susu.
Inisiatif Kuriyen untuk meningkatkan produksi susu di India diawali melalui koperasi. Koperasi menjadi penggerak ekonomi di pedesaan dan memotong jalur distribusi agar petani (pemerah susu) mendapat harga lebih baik dari pada harga dari pengepul dan konsumen bisa membelinya dengan harga yang kompetitif.
Kuriyen memulai Revolusi Putih dari Provinsi Bombay usai menggondol gelar Master di bidang Metalurgi dan Fisika pada 1949, Kurien bergabung dengan pabrik produk susu milik pemerintah di Anand. Ia mendirikan Federasi Koperasi Pemasaran Susu Gujarat (GCMMF) pada tahun 1973, dan memimpin sebagai ketua sampai tahun 2006 ketika ia mengundurkan diri karena kesehatannya menurun. Ia wafat pada 9 September 2012 dalam usia 90 tahun. Beritanya merebak ke seantero India hingga ke luar negeri.
Kurien juga dikenal sebagai ‘Bapak Revolusi Putih India’ lantaran kecemerlangannya membangun ketertinggalan India dalam konsumsi susu hingga menjadi produsen susu terbesar dengan produksi rata-rata 20 juta-an ton per hari. Jumlah itu mampu memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor ke 43 negara.
Kurien mengangkat jutaan orang dari kemiskinan dan menumbangkan sistem kasta yang kaku melalui koperasi susunya. Salah satu jasa penting Kurien membangun koperasi susu India adalah menjauhkannya dari keterlibatan para politisi. Sehingga profesionalisme koperasi tidak terganggu oleh campur tangan politik maupun birokrasi. Revolusi putih yang digagas Kurien mengubah bisnis peternakan susu dan meratakan sistem kasta India yang kaku melalui koperasinya dimana semua anggota diperlakukan sama, tanpa memandang latar belakang sosial maupun keagamaan mereka. Melalui proses ini, penjual susu desa, terutama para perempuan, mendapatkan kembali rasa percaya diri yang selayaknya dimiliki mereka.
Pada tahun 1970, Perdana Menteri India Lal Bahdur Shastry melalui National dairy Development Board (NDDB) mencanangkan program Operation Flood atau White Revolution, yaitu program nasional untuk meningkatkan produksi susu.
NDDB bertujuan untuk mengembangkan produk susu rakyat ke pelosok India dengan mengadopsi keberhasilan AMUL Karenanya pemerintah meminta Kurien memimpin NDDB.
Saat ini NDDB sangat berperan dalam pengembangan peternakan dan persusuan di India. Aktivitasnya meliputi bidang Product & Process development, Engineering, Animal Nutrision, Veterinary, serta Breeding. Semua fungsi ini dilaksanakan bertujuan untuk mendukung peternak agar menghasilkan susu, memberikan keuntungan bagi peternak, menghasilkan produk susu yang berkualitas dan menjual susu dengan harga terjangkau bagi konsumen.
Faktor Munculnya Program Revolusi Putih India
Selain susu berguna untuk meningkatkan kualitas SDM, Program Revolusi Putih di India memiliki beberapa faktor yang mempengaruhi, diantaranya:
Harga pasar yang komoditas dan produk susu yang semakin meningkat dan memiliki nilai tambah lebih baik dibandingkan dengan komoditas dan produk tanaman pangan. Kemudian Prospek pasar komoditas dan produk susu yang kian membaik seiring dengan peningkatan pendapatan masyarakat. Ketiga yaitu dengan tingginya konsumsi dari susu maka anak-anak semakin sehat dan pintar, sehingga peternak juga akan memiliki kesejahteraan yang lebih baik.
Faktor Penentu Keberhasilan Program Revolusi Putih India
India merupakan contoh sukses negara yang merevitalisasi peternakan susu melalui Program Revolusi Putih India . Dengan program tersebut mereka dapat mengakselerasi pertumbuhan produksi susu. Padahal sebelumnya India merupakan negara yang mengimpor susu dengan jumlah yang sangat besar. Faktor penentu dari keberhasilan Program Revolusi Putih India adalah adanya action plan dan grand desig yang sangat rinci dan konsisten.
Tidak hanya itu keberhasilan pertumbuhan produksi susu yang sangat pesat di India juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, adanya permintaan yang meningkat diakibatkan pertumbuhan populasi, peningkatan pendapatan, urbanisasi, perubahan gaya hidup dan selera makan. Kemudian intervensi dari pemerintah yang sangat ekstensif. Kedua, dari sisi penawaran adanya kemajuan yaitu dalam bidang teknologi, kemudian bagian produksi dan pengolahan. Ketiga, faktor yang mempengaruhi keberhasilan program tersebut adalah kelembagaan dan penyediaan infrastruktur, termasuk salah satu faktor yang sangat penting.
Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan dari pelaksanaan Program Revolusi Putih India adalah masyarakat India merupakan masyarakat yang menyenangi susu. Susu menjadi sumber protein yang penting dalam menu diet makanan mereka. Tidak hanya itu, susu dan produk-produk turunan memiliki pendapatan yang bagus. Pendapatan tersebut naik dan akan membuat pertumbuhan permintaan susu dan produk-produknya menjadi meningkat. Peningkatan permintaan susu tersebut juga dipengaruhi oleh program dari pemerintah setempat yang memberikan susu kepada anak-anak disekolah dengan biaya dari pemerintah.
Revolusi Putih di India sendiri terbagi menjadi tiga fase. Fase pertama diawali dengan mendirikan koperasi susu. Terdapat 18 gudang susu yang tersebar di 10 negara bagian pada Juli 1970.
“Koperasi ini dihubungkan dengan empat pasar metropolitan. Sampai akhir 1981, sudah berdiri 13 ribu KUD (Koperasi Unit Desa) yang mencakup 15 ribu peternak,” kata Peni Sari Palupi dalam Merintis Revolusi Putih ala Indonesia (2018).
Sementara fase kedua dijalankan dengan memperluas program ke negara bagian lain. Hingga akhir 1985, sudah ada 136 gudang susu dan 34.500 KUD dengan 3,6 juta anggota.
Lalu pada fase ketiga, dilakukan konsolidasi hasil dari dua fase sebelumnya. Yakni, dengan meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Sampai program itu berakhir pada 1990, terbentuk 73.300 KUD dengan 9,4 juta anggota.
Keberhasilan revolusi susu ini bisa kita lihat dari kualitas SDM di India yang sangat smart. Misalnya beberapa CEO di perusahaan bidang IT berasal dari India. Seperti Satya Nadella (CEO Microsoft), Indra Nooyi (CEO Pepsi Co), Ajay Banga (CEO Mastercard). Selain itu ada Shantanu Narayen (CEO Adobe Systems), Sundar Pichai (CEO Google), dan masih banyak lagi.
Konsumsi dan Produksi Susu di Indonesia
Pada awal tahun 1950-an Prof Poorwo Sudarmo (Bapak Gizi Indonesia) mencetuskan empat sehat lima sempurna dengan menempatkan susu pada urutan terakhir. Program peningkatan gizi tersebut sempat berjalan dengan baik selama beberapa waktu namun tidak mampu dijalankan secara konsisten dan nasional sehingga peningkatan gizi anak bangsa belum mencapai target yang diinginkan dan mengubah kualitas penduduk bangsa Indonesia seperti pada negara Jepang, Cina dan India.
Karena itu program Revolusi Putih India tersebut menjadi inspirasi yang sangat menarik untuk meningkatkan konsumsi susu di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan konsumsi susu di Indonesia masih rendah yaitu sekitar 11 liter per kapita/tahun. Angka tersebut sangatlah jauh dari rata-rata negara ASEAN sekitar 20 liter per tahun.
Kurangnya konsumsi susu di Indonesia bisa disebabkan persepsi masyarakat bahwa susu hanya dikonsumsi untuk anak kecil atau susu mudah untuk membuat badan menjadi gemuk. Persepsi tersebut kemungkinan yang mendasari masyarakat tidak banyak yang mengonsumsi susu, akan tetapi hal tersebut tentunya perlu dirubah sehingga bisa mendorong masyarakat untuk meningkatkan konsumsi susu.
Di Indonesia susu merupakan sebagai pelengkap sumber protein selain dari telur, kemudian daging dan ikan. Kemudian dari keberhasilan India dalam memproduksi susu tersebut tidak hanya dalam segi konsumsi saja melainkan juga dalam segi produksi. Bagaimana dapat menggerakkan koperasi untuk meningkatkan produksi dengan memberdayakan masyarakat yang ada di pedesaan (petani) hingga mampu mandiri dan dapat mengekspor produk ke luar negeri.
Konsumsi produk-produk susu masyarakat Indonesia diperkirakan akan naik seiring dengan adanya peningkatan pendapatan. Hal ini tentu menjadi peluang dan harus dimanfaatkan, produksi susu segar dan produk-produk dari susu seharusnya dapat ditingkatkan. Program Revolusi Putih tentu dapat diterapkan untuk meningkatkan produksi susu di Indonesia.
Dari sisi kelembagaan, sebagian besar peternak susu perah yang ada di Indonesia adalah berasal dari anggota koperasi susu. Koperasi tersebut merupakan mediator antara peternak dengan Industri Pengolahan Susu (IPS). Peranan koperasi sebagai mediator tentunya harus dipertahankan kemudian pelayanan perlu ditingkatkan dengan cara meningkatkan Sumber Daya Manusia koperasi. Selain itu juga memperkuat jaringan dengan industri-industri pengolahan dengan menerapkan kontrak.
Akan tetapi, peternak di Indonesia masih banyak menghadapi permasalahan. Antara lain rendahnya kemampuan budidaya khususnya menyangkut tentang pemeliharaan yaitu kesehatan ternak dan mutu bibit yang rendah. Kurangnya pengetahuan tentang pemeliharaan, tentunya akan mempengaruhi bahkan dapat memperlambat pertumbuhan produksi susu, kemudian juga berpengaruh terhadap produksi susu yang dihasilkan. Tidak hanya itu permasalahan lain yang muncul yaitu kesulitan lahan sebagai sumber rumput hijauan bagi ternak, biaya transportasi yang tinggi dan skala usaha yang kecil.
Industri susu saat ini cukup meningkat, dilihat dari data Kementrian Perindustrian ada 84 industri pengolahan susu dan turunannya. akan tetapi baru terdapat 14 perusahaan yang menyerap susu segar dalam negeri. Permintaan dan kebutuhan susu masyarakat Indonesia terus meningkat sejalan dengan perkembangan industri susu di Indonesia.
Akan tetapi dengan meningkatnya produksi susu, rata-rata produksi susu sapi perah peternakan rakyat Indonesia masih kurang. Pasalnya, kebutuhan dari bahan baku susu tersebut kurang lebih 3,85 juta ton. Sementara produksi susu dalam negeri 0,85 juta ton dan sisanya 3 juta ton masih impor. Produksi susu sapi perah peternakan rakyat (kurang lebih 90 persen seluruh Indonesia) sejumlah 12,5 liter per ekor/hari secara total di Indonesia. Sehingga jika dihitung dengan standar 305 hari laktasi maka Indonesia kekurangan susu setara dengan 767.294 ekor sapi laktasi.
Bandung 11 Desember 2022
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




