Single Sex School

single sex school

Single Sex School – Oleh : Herri Permana

Perda DPRK Aceh Utara tentang pemisahan pelajar putra dan putri di sekolah-sekolah menjadi sebuah polemik baru.

Sebenarnya pada awalnya hampir semua sekolah menerapkan sistem single sex school. Karena pada umumnya memang intitusi agama misal Pesantren atau Biara Katholik yang mengelola sekolah-sekolah tersebut.

Sampai sekarang pun beberapa sekolah elite Katholik seperti Panggudi Luhur atau Don Bosco masih menerapkan sistim ini.Sekolah2 “sekuler” pada masa lalu juga menerapkan sistim ini, STOVIA sekolah dokter pribumi yang melahirkan dr Soetomo misalnya tidak menerima mahasiswi, ITB pun pada awalnya khusus untuk pria saja.

Single Sex School di Indonesia

Sekolah pribumi yang pertama kali menerapkan sistim campur adalah Muhammadiyah, pertama kali berdiri di tahun 1911. Pada tahun 1913 mulai menerima pelajar putri yaitu Siti Badilah (yang kemudian jadi Ketua Aisyiyah), Siti Zaenab, Siti Aisyah, Siti Dauchah, Siti Dalalah, Siti Busyro, dan Siti Hayinah. Berikutnya berdiri organisasi keputrian Sopo Tresno (cikal bakal Aisyiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah) pada tahun 1914.

Taman Siswa yang berdiri tahun 1922 juga menganut sistim sekolah campur. Kemudian fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah membolehkan pengajar pria mengajar pelajar putri dan sebaliknya.

Filosofi sekolah campur adalah memberi kesempatan pada kaum perempuan untuk ikut memperoleh pendidikan setara dengan kaum pria.

Ini karena mayoritas sekolah2 di masa itu hanya dikhususkan untuk kaum pria dan sekolah2 khusus putri seperti yang didirikan kartini atau Dewi Sartika misalnya dianggap kurang memadai apalagi kebanyakan hanya menitik beratkan pada ketrampilan untuk kaum wanita.

Perkembangan Single Sex School

Di era sekarang umumnya sekolah2 menerapkan sistim campur sistim single sex school hanya sebagai alternatif yang kebanyakan mengikuti lembaga-lembaga keagamaan. Isu formalisasi syari’at Islam kebanyakan mengarah kepada isu segregasi sosial berdasarkan jenis kelamin termasuk di sektor pendidikan, yang sering terjadi kemudian adalah sekolah kemudian di prioritaskan kepada kaum pria saja dengan alasan kurangnya ruang kelas, pengajar dan fasilitas2 lainnya.

Bahkan ketika masuk ke tahap berikutnya, masyarakat mengharamkan kaum perempuan untuk sekolah. Ini terjadi di Afghanistan di era Taleban. Bahkan ada kasus menghebohkan dunia ketika pasukan Taliban menembak kepala seorang pelajar putri cilik karena ngotot untuk sekolah. Untungnya korban berhasil selamat setelah menjalani operasi di London.

Kelompok radikal wahaby-takfiri Boko Haram juga misalnya melandasi ideologinya dengan menolak sistim pendidikan modern termasuk menolak kaum perempuan untuk sekolah, aksi terbesar mereka adalah menculik lebih dari 300 pelajar putri usia SMP yang dikafirkan karena bersekolah kemudian dijadikan budak seks.

 

Bandung 20 April 2006

 

Artikel di re publish dari artikel lama dengan penulis yang sama

Saat ini penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1