Teori Evolusi : Antara Al Jahiz , Darwin , dan Harun Yahya

teori evolusi

oleh : Herri Permana

 

Ketika membahas mengenai teori evolusi makhluk hidup, tak sedikit orang yang akan langsung menyebut sosok ilmuwan asal Inggris bernama Charles Darwin. Terlebih salah satu bukunya yang paling terkenal yakni “On the Origin of Species” pada tahun 1859. Akan tetapi, tak banyak orang yang mengetahui bahwa sebelum teori evolusi Darwin ternyata sudah ada seorang ilmuwan Islam yang turut menyampaikan teori evolusi lebih dulu yakni bernama Al Jahiz.

 

Siapakah Sosok Al Jahiz yang Digadang-gadang Sebagai “Pakar Evolusi” Islam?

 

Di bawah ini akan kita ulas secara lebih mendalam mengenai sosok Al Jahiz yang menjadi ahli biologi Muslim pertama yang mencetuskan teori evolusi sebelum Charles Darwin. Baik itu dari mulai kehidupan, pendidikan & profesi, karya sampai dengan teori evolusi yang dikemukakannya.

 

1.    Kehidupan Al Jahiz

Al Jahiz atau Abu Utsman Amr ibn Bahr al-Kinani Fuqaimi al-al-Bashri lahir di Basrah pada 781 Masehi dari sebuah keluarga yang terbilang sederhana yakni Bani Kinana yang kemungkinan besar berasal dari Abyssinia. Ia merupakan cucu dari seorang budak berkulit hitam. Ayah Al Jahiz meninggal sewaktu dirinya masih berusia beberapa bulan.

 

Meskipun keluarganya hidup dalam kemiskinan, akan tetapi ibunya mampu mengirim anak-anaknya ke sekolah-sekolah Al-Qur’an lokal. Penyematan gelar Al Jahiz sendiri ternyata bukan tanpa alasan dilakukan. Menurut informasi, gelar Al Jahiz ini diberikan lantaran bentuk fisik matanya yang besar.

 

Semasa kecil di Basra, Al Jahiz ternyata sudah memiliki keinginan yang begitu kuat untuk belajar. Bahkan pola pikirnya selalu diliputi dengan rasa keingintahuan yang tinggi hingga menuntunnya mencari kebebasan dalam kehidupan. Terlebih kesulitan keuangan yang dialaminya bersama dengan keluarganya tak pernah sedikitpun menghalangi niatnya untuk mencari pengetahuan sebanyak mungkin.

 

Hal ini terlihat ketika Al Jahiz bersama dengan kelompok pemuda lainnya yang rutin berkumpul di masjid utama Basra yang dikenal dengan nama “Masdhidi Yun”. Dimana dalam hal ini, dia gemar membahas berbagai subjek ilmu pengetahuan termasuk menghadiri berbagai kuliah yang dilakukan orang-orang paling terpelajar dalam bidang literatur, leksikografi dan puisi. Dalam hal ini, Al Jaiz hadir sebagai penonton fisiologis penyelidikan yang dilakukan pada Mirbad dan mengikuti kuliah oleh orang-orang paling terdidik pada masa itu seperti halnya al-Asma Abu ‘Ubaidah dan Abu Zaid.

 

2.    Pendidikan  & Profesi Al Jahiz

Melihat dari segi pendidikan yang diperoleh Al Jahiz bisa terbilang cukup beruntung. Sebab pada waktu itu dia melanjutkan pendidikannya di waktu bersamaan dengan kekhalifahan Abbasiyah dalam periode revolusi budaya dan intelektual. Sehingga, hal itulah yang menjadikan akses fasilitas berupa buku-buku teks sangat mudah dan membuatnya semakin mudah untuk belajar pendidikan.

 

Terhitung lebih dari dua puluh lima tahun Al Jahiz memperoleh pengetahuan yang besar mengenai sejarah Arab dan Persia sebelum Islam dan mampu mempelajari Al-Qur’an dan Hadits dengan baik. Selain itu, dia juga turut membaca buku terjemahan ilmu pengetahuan dan juga filsafat Yunani Helenistic, khususnya filsuf Yunani Aristoteles.

 

Beralih ke profesi yang pernah diembannya, Al Jahiz sementara masih berkarir di Basra dengan menulis sebuah artikel tentang institusi kekhalifahan. Yang mana hal ini sangat erat kaitannya dengan peristiwa yang memiliki efek menentukan pada karirnya di masa mendatang dan bahkan menjadi satu-satunya sumber kehidupan.

 

Pada tahun sekitar 815-816 Masehi, aktivitas Al Jahiz di bidang sastra dimulai ketika dirinya berhasil memenangkan pujian dari al-Makmun, lingkaran dan juga kaum Mu’tazili borjuis yang mana di dalamnya terinspirasi oleh filsafat teologis dan masalah ilmiah. Dalam hal ini, pengamatan tersebut dinilai tajam dari berbagai elemen dan populasi campuran hingga dapat meningkatkan pengetahuan tentang sifat manusia. Semenjak itulah, Al Jahiz kemudian menulis ratusan buku yang membahas berbagai subjek termasuk tata bahasa Arab, biologi, prosa, filsafat, teologi Mu’tazilah, puisi, retorika, zoologi dan leksikografi.

 

3.    Karya Al Jahiz

Membahas karya-karya yang dikarang oleh Al Jahiz terbilang cukup banyak, salah satu karyanya yang paling terkenal yakni Kitab al-Hayawan dan memiliki pengaruh yang hebat bagi ilmuwan Muslim maupun Eropa seperti Lamarck dan Darwin. Dalam hal ini, Al Jahiz menjadi pria hebat lantaran dapat membuktikan kepada semua orang bahwa orang dari keluarga miskin bukan menjadi halangan untuk memperoleh pendidikan tinggi.

 

Adapun beberapa karya lain yang juga dikarang oleh Al Jahiz sendiri antara lain sebagai berikut.

  • Kitab al-Hayawan

Merupakan ensiklopedia mengenai berbagai jenis bintang yang terdiri atas tujuh volume (terdapat sekitar 350 jenis hewan yang ditulis) dan memuat sederet teori biologi seperti evolusi, struggle of existence, rantai makanan dan seleksi alam.

 

  • Kitab al-Bukhala

Yakni sebuah kumpulan cerita tentang ketamakan yang dipaparkan Al Jahiz dengan gaya penulisan yang humoris dan menyindir berbagai kalangan. Sebagai karya sastra yang paling bagus, kitab al-Bukhala ini juga turut membahas mengenai psikologi manusia.

 

  • Kitab al-Bayan wa al-Tabyin

Kitab ini berisi mengenai retorika yang memaparkan tentang teknik pidato, syair kepahlawanan, gaya berbicara, teknik berdebat dan tips-tips dalam berkomunikasi lainnya.

 

  • Kitab al Mufakharah al Jawari wal Ghilman

Dalam kitab ini, al Jahiz memaparkan tentang kisah kehidupan dua tipe jariya. Bahkan bisa dikatakan jika kitab ini menarik perhatian lantaran memaparkan cerita erotis masyarakat Aceh.

 

4.    Teori Evolusi Al Jahiz

Mengenai evolusi yang dicetuskan oleh Al Jahiz, dikatakan bahwa ada tiga mekanisme survival atau bertahan hidup yakni perjuangan eksistensi, transformasi dari satu spesies menjadi spesies lain dan juga faktor lingkungan. Dalam hal ini, Al Jahiz menempatkan bobot terbesar perjuangan untuk eksistensi pada evolusi atau dalam artian lain yakni mengenai seleksi alam. Yang mana, ini erat kaitannya dengan keinginan bawaan untuk konservasi dan keabadian dari egoisme.

 

Selain itu, Al Jahiz juga turut menyinggung mengenai pengaruh faktor lingkungan terhadap spesies yang terdiri dari faktor-faktor makanan, iklim, tempat tinggal yang memiliki efek biologis dan psikologis pada beberapa spesies. Adapun dalam lingkungan yang berubah, ada juga perubahan dalam beberapa karakter yang memiliki nilai kelangsungan hidup. Yang mana, proses perubahan dalam karakter generasi berikutnya untuk membuat organisme yang lebih baik akan disesuaikan dengan lingkungan mereka sehingga bisa memperoleh kesempatan untuk berkembang biak dan mengirimkan karakteristik mereka kepada keturunannya.

 

Dalam karyanya yang bernama Kitab-al Hayawan, Al Jahiz memberikan gambaran mengenai rantai makanan dan berupaya mengklasifikasikan hewan dalam serangkaian linier serta mengaturnya dalam kelompok dan sub kelompok yang memiliki kesamaan. Al Jahiz juga menyimpulkan bahwa hewan terlibat dalam perjuangan untuk eksistensi lantaran sumber daya untuk menghindari makan dan berkembang biak. Bahkan faktor lingkungan juga mempengaruhi organisme untuk menjamin kelangsungan hidup sehingga berubah menjadi spesies baru.

 

Jika dilihat pernyataan tersebut sekilas mirip dengan teori Darwin, namun secara prinsip justru berseberangan dengan Darwin (tidak mengakui keberadaan Tuhan). Menurut Al Jahiz, transformasi pertahanan dan spesies ada lantaran disebabkan oleh berbagai faktor termasuk kehendak Tuhan. Dan selang 1000 tahun kemudian, Darwin mencuri gagasan Al Jahiz sebagai dasar dalam merumuskan “Teori Evolusi” secara lebih ilmiah dalam konteks abad ke-19.

 

Bahkan meskipun sebagian besar tulisan Al Jahiz pada Kitab al-Hayawan dianggap sebagai bentuk plagiarisme karya Aristoteles oleh para ulama Al-Khatib al-Baghdadi, namun buku tersebut menjadi karya monumental Al Jahiz. Dan bukan berarti buku tersebut merupakan buku zoology lantaran hanya berisikan deskripsi sangat tajam dari studi mengenai hewan dan serangga. Sehingga, Al Jahiz sering kali menambahkan narasi prosa yang indah yang mengarah kepada bahasan teologi metafisika dan sosiologi.

 

Teori Evolusi yang Dikemukakan Charles Darwin

 

Jika tadi kita sudah mengetahui mengenai teori evolusi yang dikemukakan oleh Al Jahiz, maka kini saatnya kita mengulas teori evolusi modern yang dikemukakan Charles Darwin.

 

1.    Teori Evolusi Charles Darwin

Teori evolusi Charles Darwin menyatakan bahwa hewan dan tumbuhan berasal dari suatu spesies yang sama. Dalam hal ini, spesies tersebut mengalami perubahan fisik seiring dengan berjalannya waktu dikarenakan adanya seleksi alam. Adapun hal ini akan berlangsung secara terus menerus hingga terbentuk spesies modern seperti sekarang membentuk pohon keluarga yang terus bercabang.

 

Charles Darwin berpendapat bahwa teori evolusi didukung dengan adanya seleksi alam yang didasari oleh adanya kompetisi dan adaptasi. Sebagai contoh di alam terdapat hukum dimana yang kuat yang akan bertahan hidup. Ini menunjukkan adanya kompetisi dalam bertahan hidup seperti halnya kompetisi dalam memperoleh makanan, maka individu yang tidak bisa memperoleh makanannya sendiri akan mati.

 

Selain itu, bisa dilihat pada contoh evolusi jerapah yang terlahir dengan beragam leher, ada yang panjang dan pendek. Ketika memakan daun yang berada di puncak pohon, hanya jerapah dengan leher panjang saja yang bisa menggapainya. Sementara jerapah dengan leher pendek kesulitan mencari makanan dan akhirnya tidak bisa bertahan hidup.

 

Berikutnya ada contoh adaptasi yang bisa dilihat dari rubah kutub dan burung ptarmigan, dimana keduanya memiliki bulu putih hasil adaptasi dengan lapisan es yang juga putih. Dengan bulu putih, kedua hewan tersebut akan sulit dilihat predator dan mangsanya sehingga bisa bertahan hidup dengan baik. Adapun konsekuensi dari adaptasi tersebut, keduanya jarang memiliki keturunan dengan warna selain putih.

 

Sosok Harun Yahya “Penentang Teori Evolusi” yang Dipenjara 8.000 Tahun Lebih

 

Berkaitan dengan teori evolusi, Harun Yahya atau memiliki nama asli Adnan Oktar merupakan sosok penceramah asal Turki yang dikenal selalu membawakan isu-isu Islam dan sains dan baru-baru ini di vonis penjara selama 8.000 tahun lebih. Salah satu isu yang membuat namanya kian melambung yakni mengenai penolakannya terhadap teori evolusi Charles Darwin yang mana berusaha menjabarkan teori penciptaan (kreasionisme) yang dianutnya.

 

Dalam teori kreasionisme ini, Harun Yahya menjelaskan bahwa Darwinisme sebagai paham yang keliru dan menjauhkan manusia dari Tuhan dan sifat-sifat Ketuhanan. Dalam situs Harun Yahya yang bertajuk Evolution International, dia mengatakan bahwa teori Darwin tidak mampu menjelaskan proses penciptaan protein yang membutuhkan protein lain dalam pembentukannya. Selain itu, Harun Yahya juga membantah mengenai teori Darwin soal fosil, dimana menurutnya tidak ada yang namanya fosil peralihan.

 

Adapun bagian teori evolusi yang paling ditentang keras oleh Harun Yahya yakni mengenai penjelasan bagaimana manusia merupakan bentuk evolusi dari kera. Harun Yahya menilai teori ini merupakan bentuk penghinaan lantaran menyamakan manusia dengan kera. Sementara menurut pendapatnya, bagaimanapun proses yang dialami, kera tidak akan pernah mencapai tingkat kecerdasan manusia, terlebih Tuhan memberkati manusia dengan kemampuan berpikir dan berbagai superioritas lain melebihi makhluk lain.

 

Bandung , 23 Februari 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

Donasi Yuk
1