Nadhom Alfiyah  Kitab Fenomenal Dunia Pesantren

nadhom alfiyah

oleh : Herri Permana

 

Literatur bahasa Arab sangat mudah ditemui disekeliling kita, Mulai dari Al- Qur’an,Kitab kuning, Buku sholawat dan masih banyak lagi. Semua itu akan dengan mudah ditemukan di pondok pesantren

 

Dalam pesantren terdapat istilah yaitu hafalan Nadhom, Ini merupakan salah satu literatur bahasa Arab yang berbentuk syair. Nadhom tersebut wajib dihafalkan oleh para santri

Karena selain menjadi pendukung dalam belajar bahasa Arab, dengan hafalan Nadhom juga efektif untuk digunakan sebagai media dakwah. Nadhom juga tidak terlalu sulit untuk dihafalkan.

 

Pada kali ini akan dibahas mengenai Nadhom Alfiyah yang sangat akrab dengan lingkup dunia pesantren.

 

Ulasan Singkat Mengenai Pengarang Nadhom Alfiyah

 

Pengarangnya bernama  Imam Ibnu Malik, dengan nama lengkap Syeikh Al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah Ibnu Malik al-Thay. Beliau lahir di kota kecil Andalusia yang saat ini sering disebut dengan nama Spanyol.

 

Disaat itu penduduk negeri tersebut sangat haus pada ilmu, mereka selalu belajar dengan tekun dan juga banyak yang menjadi pengarang buku ilmiah dan Ibnu Malik merupakan salah satu orang tersebut.

 

Saat kecil, Ibnu Malik telah mencari ilmu dengan belajar kepada para ulama di berbagai negara, dan Syaikh Al-Syalaubini merupakan salah satu gurunya. Setelah memasuki umur dewasa,  Ibnu Malik, berangkat ke Timur Tengah untuk melaksanakan ibadah haji,  setelah itu singgah Damaskus, lalu  Di Negeri Syam, ia belajar ilmu dari beberapa ulama yang ada ditempat tersebut.

 

Saat di kota Damaskus dan Aleppo, Ibnu Malik mulai dikenal dan dikagumi para ilmuwan, dengan kecerdasan dan pemikirannya jernih. Beliau banyak mengusung beragam teori nahwiyah yang mengambarkan teori Mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang Syiria diwaktu itu. Alfiyah Ibnu Malik memiliki semangat yang besar dalam mengajarkan ilmu yang dimilikinya.

 

Pengertian Nadhom Alfiyah

 

Dalam pondok pesantren, bagi santri yang ingin hafal Al Qur’an, Al hadist atau Kitab kuning, maka diwajibkan hafal kaidah dari Ilmu Nahwu. Sehingga saat membaca tulisan Arab, baik itu pada Al Qur’an, Al Hadist atau dalam Kitab-kitab kuning klasik, seorang santri bisa mengerti tarkib dari kata-kata yang tertulis

 

Nadhom alfiyah yang merupakan kitab karangan Ibnu Malik dan sangat akrab di dunia pesantren. Pernyataan itu memang benar, bahwasanya kitab ini merupakan ajaran utama ilmu nahwu dan sharaf tingkat menengah ke atas. Maka sudah tidak heran lagi jika kitab ini biasanya hanya akan dikaji oleh para santri yang sudah senior yang telah menamatkan kitab-kitab dasar seperti jurumiyah, ilal, imrithi, dan sebagainya.

 

Selain terdapat ilmu nahwu dan sharaf, ternyata kitab yang berbentuk Nadhom karangan Ibnu Malik  ini juga menyimpan banyak sekali makna yang tersirat disetiap bait-baitnya yang sangat berguna bagi kehidupan, khususnya bagi santri di pesantren.

 

Nadhom Alfiyah itu sendiri berjumlah 1002 bait. ada cerita menarik tersendiri dibalik penambahan 2 bait tersebut yang juga akan Kami ulas nantinya. Bait tersebut sebagai wujud dari sebuah rasa bangga, tentang ta’dzim murid kepada sang guru, tentang ketulusan dari sebuah karya, juga tentang adab murid terhadap guru yang sudah wafat.

 

Di pesantren sendiri, banyak yang ingin menguasai dan mengajarkan amalan dari Alfiah Ibnu Malik, Karena banyak ulama yang mengakui, bahwasannya Alfiyah ini merupakan karya terbaik, teringkas dan mempunyai keistimewaan sendiri dalam bidang Ilmu Nahwu. Belum lagi, terselip didalamnya berbagai kalam penuh hikmah, falsafah dan nasehat yang mampu menyentuh ruh  jiwa hingga mencapai dasar kalbu.

 

Fakta Menarik Mengenai Nadhom Alfiyah

 

Dalam mengarang Nadhom Alfiyah, Ibnu Malik terinspirasi dari almarhum sang guru yang sudah terlebih dahulu menyusun sebuah Nadhom dengan jumlah 500 bait. Beliau bernama Syekh Ibnu Mu’thiy. Karyanya tersebut diberi nama Alkaafiyah,

 

Ketika Ibmu Malik sudah yakin dan mantap dalam menyimpan semua gambaran mengenai Nadhom Alfiyah dalam memori otaknya, Ibnu Malik memutuskan untuk mulai menulis rangkaian Nadhom indah tersebut. Hingga pada saat beliau menulis bait yang ke lima, yang berbunyi

 

“Dan kitab Alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan, Dan kitab Alfiyah ini lebih unggul dari kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thiy”

 

Seketika itu juga semua hafalan yang sudah tersimpan dalam otaknya lenyap. Satu hurufpun Beliau tidak ingat sama sekali, kejadian itu membuatnya merasa cemas, sedih, juga bingung, entah apa yang harus beliau lakukan hingga dirinya tertidur

 

Beliau bermimpi dibangunkan oleh kakek yang pakaiannya serba putih, jubahnya hampir menutupi sebagian kepalanya sehingga wajahnya tidak terlihat jelas, Lalu kakek itu menepuk pundak Ibnu Malik dan berkata :

 

“ Bangunlah anak muda ! Bukankah dirimu  sedang menyusun sebuah kitab?”

 

“Ibnu Malik terbangun dan menjawab “iya”

 

“Tetapi seketika aku lupa dengan hafalanku, sehingga untuk dapat melanjutkannya aku tidak mampu” jawabnya.

 

Kakek itu pun bertanya, “tulisanmu sudah sampai mana?

 

“Baru sampai bait kelima”, jawab beliau sambil membacakan bait yang terakhir.

 

“bolehkah aku melanjutkan hafalanmu,?” tanya kakek tersebut.

 

“tentu saja”. Jawab Ibnu Malik

 

Kakek itupun membacakan sepasang bait yang berbunyi :

 

Seperti halnya mengungguli dalam seribu bait. Orang yang masih hidup, terkadang mengalahkan 1000 orang yang telah meninggal

 

Setelah mendengar ucapan itu, Ibnu Malik pun seketika terbangun dan beliau menyadari satu hal, bahwa kakek dalam mimpinya adalah mendiang gurunya,  yakni Syekh Ibnu Mu’thiy yang dengan jelas memberi teguran keras pada Ibnu Malik

 

Beliau juga sadar, bahwa ungkapan bangga yang beliau ungkapkan dalam bait kelima tersebut ternyata merupakan kesombongan yang tercipta dari nafsunya, perasaan yang secara tidak langsung telah mematikan moral dan  adab, akhlaqul karimah seorang murid kepada gurunya.

 

Sadar mengenai hal tersebut, Ibnu Malik pun bertaubat kepada Sang pencipta atas rasa kesombongan yang telah menghinggapinya. Beliau juga hendak meminta maaf kepada sang guru yaitu Imam Ibnu Mu’thiy, setelah itu beliau berziarah ke makam Syekh Ibnu Mu’thiy.

 

Seusai berziarah, beliau pun melanjutkan karangan tersebut dengan menambahkan 2 bait di bagian mukadimah yang pada awalnya tidak masuk ada didalam pikirannya,  dengan harapan bahwa hafalannya akan pulih kembali. 2 bait tersebut berbunyi seperti ini:

 

Dan Beliau memang lebih dahulu dan pantas mendapatkan keunggulan. Beliau juga pantas mendapatkan pujian yang sangat baik dariku

 

Semoga Allah SWT  memberikan anugerah yang sempurna untukku dan juga beliau dengan derajat yang tinggi di akhirat kelak.

 

Tiba – tiba keajaiban itu muncul, Semua memori hafalan Nadhom yang ingin beliau tulis tergambar jelas didalam otak dan hatinya. Beliau pun sangat bersyukur dan kemudian melanjutkan karangan indahnya. Hingga terciptalah sebuah mahakarya yang terkenal di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Nadzoman yang sangat popular dikalangan pesantren,

 

Bandung , 18 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Donasi Yuk
1