Milad Sebuah Salah Kaprah Bahasa

milad

 

Oleh Herri Permana

 

Dalam beberapa tahun belakangan ini kata milad menjadi populer di kalangan muslim di Indonesia sebagai pengganti kata ulang tahun atau hari jadi. Kata ini awalnya dipopulerkan dan digunakan kaum new born muslim kalangan muslim yang umumnya dari perkotaan yang baru mengenal islam. Karena merupakan serapan kata dalam bahasa Arab kata milad ini cepat menjadi populer karena dianggap lebih islami daripada kata ulang tahun , hari jadi dan sejenisnya.

Milad adalah Kata Ganti Natal

natalDi Arab milad sebenarnya lebih merujuk pada kata ganti Natal. Umat Islam di Arab dalam mengucapkan selamat ulang tahun biasanya mengucapkannya berupa doa Barakallah fii umrik (بَارَكَ اللَّهُ فِي عُمْرِكْ yang berarti “semoga Allah melimpahkan keberkahan dalam bertambahnya umurmu”. Sementara setiap natal orang Arab mengungkapkannya dalam kata Milad al Mubarrak.

Natal identik dengan hari lahir Nabi Isa alaihissalaam. Kata Natal ini berasal dari bahasa Latin yang bermakna “kelahiran”. Karena itu istilah ini juga ditemui misalnya di bidang kesehatan dimana ada istilah prenatal/antenatal yang artinya “sebelum kelahiran bayi.” Di istilah ilmu sosial juga dikenal natalitas (tingkat kelahiran) sebagai lawan dari mortalitas (tingkat kematian).

Menurut kamus Mu’jam Al Ma’aany dan kamus Mu’jam Al Wasiith, kata natal tersebut setara dengan istilah Milad / مِيْلاَدٌ yang bermakna وَقْتُ الوِلاَدَةِ / waqtul wiladah yakni “waktu kelahiran”.

sinterklasKata مِيْلاَدٌ ini sebenarnya bentuk aslinya adalah مِوْلاَدٌ dengan wazan مِفْعَالٌ dari kata kerja وَلَدَ (melahirkan). Huruf Wawu pada مِوْلاَدٌ kemudian diubah menjadi huruf Ya untuk menyesuaikan dengan harokat kasroh pada huruf Mim. Pada akhirnya, dari kata مِوْلاَدٌ lalu berubah menjadi مِيْلاَدٌ.

Dalam hal ini, walau مِفْعَالٌ umumnya dipakai untuk isim alat, namun ia bisa bermakna isim zaman/kata bermakna waktu dan isim makan/kata bermakna tempat seperti مِيْعَاد (waktu/tempat perjanjian) dan مِيْقَات (waktu yang ditentukan/tertentu).

Dan umat nasrani / kriten dari bangsa Arab sering menggunakan kata Milad untuk hal-hal yang berkaitan dengan natal dan ini juga tercantum di berbagai kamus di atas, misalnya :

👉 Idul Milad / عِيْدُ الْمِيْلَادِ yang berarti Hari Raya Natal

👉 Lailatu al–Milad / لَيْلَةُ الْمِيْلَادِ yang berarti malam natal.

👉 Syajarotu al–Milad / شَجَرَةُ الْمِيْلَادِ yang berarti pohon natal.

Dengan demikian, dari perspektif bahasa Arab, kata Milad / مِيْلاَدٌ lebih banyak dipakai orang Arab sebagai istilah natal . Sementara umat Islam umumnya mengggunakan kata Maulid / مَوْلِدٌ yakni “waktu kelahiran”, karena itulah kita tidak pernah mendengar kalimat Milad Nabi Muhammad ﷺ.

nnatal arabIni dikarenakan karena penggunaan istilah Milad sudah lebih dahulu melekat dan telah menjadi identitas umat kristiani, maka ummat Islam menghindari penggunaan kata tersebut untuk dikaitkan dengan Nabi Muhammad s.a.w. ataupun kata lain yang berhubungan dengan Islam atau ummat Islam.Hari kelahiran nabi Muhammad s.a.w lebih lazim menggunakan kata Maulud.

Akan tetapi, kata Milad akhir-akhir ini juga sering diadopsi oleh perorangan, lembaga pendidikan maupun ormas dan orsospol utamanya yang berhubungan dengan kelompok islam transnasional sebagai pengganti kata “ulang tahun”.

Uniknya, istilah “Hari kelahiran” atau “hari ulang tahun” ada yang menuliskan dengan يَوْمُ الْمِيْلَادِ / Yaumul Miilad. Padahal kita sudah mengetahui di atas bahwa sebenarnya kata Milad sudah mengandung makna “waktu kelahiran”.

Ada yang lebih unik lagi yakni ucapan “selamat milad” atau bahkan “happy milad” untuk istilah ucapan “selamat ulang tahun”. Dalam hal ini, mungkin masyarakat kini makin kreatif sehingga terjadilah “kawin silang” antara 2 bahasa. Bahkan ada yang dengan gegabah mulai menggunakan kata Milad Nabi Muhammad , padahal sejak dulu kata yang dipakai untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad s.a.w adalah Maulud Nabi.

Pada dasarnya ini lebih pada upaya politik identitas dari kelompok islam transnasional. Mereka menggunakan bahasa sebagai politik pembeda kelompok mereka dengan kelompok islam lain di luar mereka. Tapi sangat disayangkan banyak ummat Islam yang ikut-ikutan dengan penggunaan bahasa yang salah kaprah ini yang notabene sebenarnya sangat serius.

 

Bandung , 24 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

Donasi Yuk
1