Arab Pegon

arab pegon

oleh : Herri Permana

Banyak ditemukan berbagai karya ulama terdahulu dalam berbagai bidang. Contohnya seperti Suluk Sunan Bonang (Head Book Van Bonang) yang dipercaya sebagai karya Sunan Bonang, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Raja-Raja Pasai, Risalah Tasawuf Hamzah Fansuri, karya Kiai Rifai Kalisasak, karya Kiai Shaleh Darat, dan lain-lain.

Uniknya, karya-karya ulama Nusantara tersebut kebanyakan ditulis dengan aksara Arab Pegon, baik karya asli atau terjemahan dari kitab-kitab yang berliteratur Arab. Huruf  Pegon berasal dari lafal Jawa pego, yang mempunyai arti menyimpang.

Hal ini dikarenakan memang huruf Pegon ini menyimpang dari literatur Arab dan juga menyimpang dari literatur Jawa. Arab Pegon ini disebut pula Arab Pego atau Arab Jawi, yaitu, tulisan yang menggunakan huruf Arab atau huruf hijaiyah, akan tetapi dalam praktik bahasanya menggunakan bahasa Jawa atau bahasa daerah lainnya yang sesuai dengan selera orang yang ingin menggunakannya.

Di pesantren-pesantren Salafiyah di Jawa sudah mentradisi penggunaan huruf Arab Pegon ini dalam memahami teks-teks Arab dan kitab kuning. Akan tetapi, untuk kalangan yang lebih luas, huruf Arab Pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian Selatan.

Maka tidak mengherankan, jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab Pegon dalam kemasannya walaupun dengan bahasa yang berbeda. Bahasa tersebut disesuaikan dengan tempat atau negara yang mengeluarkan produk-produk tersebut.

Huruf Arab Pegon ini mempunyai keunikan tersendiri. Jika dilihat dari kejauhan, tulisannya seperti tulisan Arab pada biasanya. Namun, kalau dicermati sebenarnya, susunannya atau rangkaian huruf-hurufnya bukan susunan bahasa Arab.

Orang Arab asli tidak akan bisa membaca tulisan Arab Pegon. Seandainya mereka bisa membacanya, niscaya tidak sejelas dengan bacaan orang Jawa atau Melayu asli.

Membedakan huruf Arab Pegon dangan Arab asli sangat mudah. Penulisan Arab Pegon menggunakan semua aksara Arab Hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi.

Modifikasi huruf Arab ini dikenal sebagai huruf jati Arab Melayu, berwujud aksara Arab serapan yang tak lazim. Misalnya untuk konsonan ‘p’, diambil huruf fa’ dengan tiga titik di atasnya dan sebagainya. Selain itu, huruf Arab Pegon meniadakan syakal (tanda baca) layaknya huruf Arab gundul.

Pengertian Huruf Pegon

Pegon berasal dari kata dari bahasa Jawa yaitu pego, yang artinya menyimpang.

Huruf Pegon dianggap menyimpang dari pakem penulisan Arab karena tidak menggunakan harakat, melainkan menggunakan huruf vokal.

Sebaliknya, penggunaan harakat dalam Huruf Pegon hanya dilakukan ketika terjadi kerancuan saja.

Huruf Pegon ini merupakan produk akulturasi budaya antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan masyarakat lokal di Nusantara.

Kebudayaan Islam direpresentasikan melalui huruf Arab yang menjadi dasar penggunaannya, sementara budaya lokal berdasarkan pada bahasa Jawa dan Sunda yang dituliskan.

Tujuan utama modifikasi menjadi Huruf Pegon ini adalah untuk memudahkan dalam penyebaran agama Islam kepada masyarakat yang masih kental unsur-unsur kepercayaan lamanya.

Modifikasi ini, oleh banyak pakar dinilai sebagai kecerdikan karena berhasil mengolah aksara Arab yang dianggap suci hingga mudah dipahami oleh masyarakat non-Arab.

Kepedulian Pemerintah

Sejarah penulisan Arab Pegon di Nusantara diperkirakan ada sejak tahun 1300 M/1400 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan Animisme, Hindu, Budha.

Mengenai siapa yang menemukannya ada beberapa pendapat. Menurut suatu catatan, ia digagas oleh RM. Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Pesantren Ampel Dentha Surabaya.

Sedangkan menurut pendapat lain, penggagasnya adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Ada juga yang mengatakan bahwa huruf  ini ditemukan oleh Imam Nawawi Al-Bantani. Ada juga yang berpendapat sudah ada sebelum tokoh-tokoh tersebut.

Sayangnya, huruf Arab Pegon kini tak lagi dikenal di masyarakat secara luas. Padahal menurut sejarahnya, huruf  ini telah digunakan secara luas oleh para mubaligh, sastrawan, pedaganag hingga politikus di kawasan dunia Melayu.

Pergeseran huruf Arab Pegon menjadi huruf Latin dan  Rumawi di mulai saat Kemal Attaturk menggulingkan kekuasaan khalifah Ustmani terakhir, Sutan Hamid II pada tahun 1024. Kemal memerintahkan mengganti tulisan Arab dengan Latin dan Rumawi, sehingga dunia Melayu juga banyak mengikutinya.

Peran penjajah juga mempunyai pengaruh dalam menggrogoti berkurangnya pemahaman tentang huruf Arab Pegon. Dalam menjalankan pemerintahannya, penjajah menggunakan huruf Latin dalam urusan negara dan kemasyarakatan. Ini yang mengakibatkan huruf Arab Pegon terisolir di dunia pesantren. Beberapa Kitab yang ditulis dengan huruf Arab Pegon yang dipelajari di pesantren diantaranya Sirat al-Mustaqim karya Syekh Nuruddin al-Raniri , Risalah Huquqiz Zawjain karya  Kiai Ahmad pada 1371H (1952M) , Sabil al-Muhtadin karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari atau Datuk Kalampaian dll

Namun pihak pesantern tidak tinggal diam. Untuk mempertahankan huruf tersebut, para ulama mengeluarkan fatwa yang menolak menggunakan produk-produk penjajah, termasuk tulisan mereka.

Mereka  menggunakan Pegon sebagai simbol perlawanan, juga sebagai bahasa sandi untuk mengelabuhi penjajah pada saat berkomunikasi dengan sesama anggota pesantren dan juga beberapa pahlawan Nasional yang berasal dari golongan santri.

Huruf Pegon semakin tersingkir dengan adanya kongres bahasa yang diadakan di Singapura pada tahun 1950 yang memperkuat kedudukan huruf  Latin dan Rumawi. Salah satu keputusan dalam kongres tersebut menghasilkan pembentukan dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang mempelopori penggunaan abjad Latin. Saat itu hampir semua penerbit Koran, majalah, buku terpaksa mengganti huruf Arab Pegon dengan huruf Latin.

Namun kini kesadaran untuk menghidupkan kembali bahasa Arab Pegon mulai muncul kembali. Banyak pihak yang berharap penggunaan huruf tersebut dijadikan sebagai bahan kajian yang serius. Di antara yang melakukannya itu adalah lasika Media Malaysia yang menggait Pusat Pengajian Bidang Terpadu (CIAS), Universitas Kyoto Jepang untuk menerbitkan kembali sebuah majalah dengan menggunakan bahasa Arab Pegon.

Ini memang penting dilakukan agar masyarakat Melayu tidak kehilangan akar bahasanya yang bernuansa Islam. Banyak sekali ilmu-ilmu ulama terdahulu yang bertuliskan Arab Pegon. Untuk memahami karya tersebut tentunya harus memahami bahasa Arab Pegon.

Asal-usul Huruf Pegon

Perkembangan Huruf Pegon sendiri tidak bisa dipisahkan dari peran para santri dan kiai di pondok pesantren.

Pasalnya, para santri dan kiai ini yang mengembangkan dan membumikannya  di kalangan masyarakat luas.

Meski demikian, keberadaan Huruf Pegon sendiri diduga sudah ada sejak awal dakwah Islam masuk ke Nusantara.

Di Nusantara terdapat dua aksara yang merupakan hasil modifikasi dari huruf-huruf Arab. Pertama, Huruf Jawi atau Arab Melayu, dan kedua Huruf Pegon atau Arab Jawa. Berdasarkan penelitian para ahli Paleografi, Huruf Jawi atau Arab Melayu sudah dikenalkan sejak abad ke-11 Masehi.

Buktinya terrdapat pada Prasasti Leran yang berupa batu nisan seorang “anak perempuan Maimun” di Jawa Timur yang berangka tahun 1082.

Sementara, Huruf Pegon sendiri belum ada data pasti kapan mulai berkembang di Tanah Jawa.

Namun ada tiga pendapat yang mengemukakan tentang mulai berkembangnya Huruf Pegon ini, yaitu:

  1. Huruf Pegon muncul sekitar tahun 1400, dan digagas oleh Sunan Ampel atau Raden Rahmat.
  2. Huruf Pegon muncul pada abad ke-18-19, yaitu dari karya beberapa ulama seperti KH Ahmad Rifai (1788-1878), KH Sholeh Darat (1820-1903), dan sebagainya.
  3. Huruf Pegon digagas oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati dari Cirebon.

 

Bandung , 17 Januari 2023

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1