Khidmat Pada Kyai

khidmat pada kyai

 

Kyai dikenal sebagai gelar gelar yang di berikan oleh masyarakat kepada seseorang yang memiliki pemahaman Ilmu Agama yang lebih, atau tokoh agama islam yang menjadi pemimpin dalam sebuah pondok pesantren. Penyebutan kiai itu berasal dari inisiatif masyarakat, bukan dari dirinya sendiri atau media massa.Di kalangan santri khidmat pada kyai lebih diutamakan daripada khidmat pada orang tua.

Keberadaan seorang kyai dalam sebuah pesantren adalah laksana jantung bagi kehidupan manusia. Begitu urgen dan esensialnya kedudukan kyai, karena dialah perintis, pendiri, pengelola, pengasuh, pemimpin, dan terkadang juga pemilik tunggal sebuah pesantren. Itulah sebabnya, banyak pesantren akhirnya bubar, lantaran ditinggal wafat kyainya, sementara dia tidak memiliki keturunan yang dapat meneruskan usahanya

Kyai awalnya adalah gelar dalam masyarakat Jawa yang dapat diartikan sebagai seseorang atau benda yang sangat dihormati dan disakralkan. Kiai bisa digunakan untuk menyebut juga dipakai masyarakat jawa untuk menyebut pusaka, contoh: keris Kiai Joko Piturun, gamelan Kiai Gunturmadu, hewan yang disakralkan contoh: kerbau Kiai Slamet, kuda Kyai Gagak Rimang, makhluk halus, contoh: Kiai Sapujagad (penunggu Gunung Merapi), orang yang sudah meninggal (meskipun berusia muda)

Ketika Islam masuk di masyarakat jawa Kyai disinonimkan dengan sheikh dalam bahasa Arab. Secara terminologi (istilahi), arti kata sheikh itu sebagaimana disebutkan dalam kitab al Bajuri adalah man balagha rutbatal fadli, yaitu orang-orang yang telah sampai pada derajat keutamaan karena selain pandai (alim) dalam masalah agama (sekalipun tidak allamah atau sangat alim), mereka mengamalkan ilmu itu untuk dirinya sendiri dan mengajarkan kepada murid-muridnya.

Sementara itu, makna kiai atau sheikh dalam pengertian etimologi (lughotan) adalah man balagha sinnal arbain, yaitu orang-orang yang sudah tua umurnya atau orang-orang yang mempunyai kelebihan, misalnya dalam hal berbicara atau mengobati orang (nyuwuk), tapi tidak pandai dalam masalah agama. Dengan demikian, kalau ada orang yang disebut kiai tapi tidak alim dalam masalah agama atau alim dan pandai berbicara tapi tidak bisa mengamalkan ilmunya, orang itu termasuk kiai dalam pengertian bahasa (lughotan).

Khidmat Pada Kyai

Di kalangan santri khidmat pada kyai lebih diutamakan daripada khidmat pada orang tua. Imam Az-Zarnuji dalam Ta’limul Muta’alim mwngungkapkannya dalam sya’ir

‌أُقَدِّمُ أُسْتَاذِي عَلَى نَفْسِ وَالِدِي # وَإِنْ نَالَنِى مِنْ وَالِدِي الْفَضْلَ وَالشَّرَف.

“Aku lebih mengutamakan guruku dari orang tuaku, meskipun dari orang tuaku, aku mendapat keutamaan dan kemuliaan”.

فَذَاكَ مُرَبِّ الرُّوْحِ وَالرُّوْحُ جَوْهَرُ # وَهَذَا مُرَبِّ الجِسْمِ وَالجِسْمُ كَالصَّدَفِ.

“Guru adalah pengasuh jiwaku, sedangkan orang tua adalah pengasuh badanku, perumpamaan jiwa adalah mutiara dan badan bagaikan kerangnya”

Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani menyebutkan

 

ثبات العلم بالمذاكرة، وبركته بالخدمة، ونفعه برضا الشيخ.

“Melekatnya ilmu dapat di peroleh dengan cara banyak muthola’ah, dan barokahnya dapat di peroleh dengan cara berkhidmah, sedangkan manfaatnya dapat di peroleh dengan adanya restu dari guru’’

Ketika seorang santri mulai belajar di pesantren yang diajarkan pertama kali adalahbab Adabu Mu’allim wa Muta’allim (adab antara guru dan murid). Dari kitab manapun, mestilah pembelajaran dimulai dari bab ini. Seorang santi diberi pemahaman, dari siapa ia menerima ilmu karena dalam pembelajaran ilmu-ilmu Islam sangat memperhatikan sanad (validitas).

Untuk mempelajari ilmu-ilmu Islam sejenis tafsir, hadits, aqidah, dan cabang ilmu sejenisnya, perlu diperhatikan dari siapa si murid menerimanya. Inilah yang dipesankan Muhammad bin Sirin, “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa engkau mengambil agamamu.”

Berbeda dengan sesuatu yang bersifat nasihat. Nasihat tak perlu memandang dari mulut siapa keluarnya nasihat itu. Berlakulah di sana pepatah Arab, unzur ma qala wala tanzur man qala (lihatlah kepada apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya).

Untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, hal pertama yang harus dilakukan seorang santri adalah mencintai Allah SWT. sebagai pemilik ilmu, kemudian cintailah ilmu nya terlebih dahulu yang akan dipelajari, dan yang terakhir cintailah orang yang mengajarkan ilmu kepadamu yaitu gurumu. Karena disitulah santri akan mudah mendapatkan ilmu yang barokah dan bermanfaat.

Habib Segaf Bin Hasan Baharun pernah mengatakan  ‘’Berkhidmah satu jam kepada guru itu lebih baik daripada belajar setahun.

بالعلم ارتفع وبالخدمة انتفع.

Dengan ilmu pengetahuan seseorang akan di angkat derajatnya, dan dengan berkhidmah (kepada guru/ilmu) ia akan mendapatkan kemanfaatan’’

Karena itu di lingkungan santri menghormati dan manut kepada guru harus ditumbuhkan dari hati nurani, sebab guru adalah orang tua yang membentuk karakter, menjadi sebab musabab tenang dan berkahnya hidup di masa mendatang.

Tingginya derajat seorang Kyai dimana seorang santri menimba ilmu diungkapkan dalam hadits Rasulullah Saw, “Barangsiapa menyampaikan satu ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal), ia akan tetap memperoleh pahala” (HR. Al Bukhari).

Karena itu sikap khidmat pada kyai dari seorang santri sangat ditekankan yang bertujuan untuk menciptakan hubungan batin yang kuat antara murid dengan guru dan mendapatkan keridhaan guru

Di berbagai Pondok Pesantren kita bisa melihat bagaimana cara bersikap seorang santri kepada kyainya. Mulai dari hal terkecil seperti membungkukan badan ketika kyai berjalan di dahadapannya, lalu mencium tangannya sebagai bentuk penghormatan murid kepada gurunya dan tidak berani menatap mata kyai secara langsung ketika berbicara berhadapan karena dianggap tidak sopan.

Hal-hal tersebut merupakan contoh kecil cara beretika dan sikap khidmat pada kyai nya. Apa yang diperintahkan oleh gurunya langsung dikerjakan tanpa di tunda dan tidak pernah membantah, selagi apa yang diperintahkan itu bukan suatu kejelekan.

Imam Syafi’i pernah membuat rekannya terheran-heran karena tiba-tiba saja ia mencium tangan dan memeluk seorang lelaki tua. Para sahabatnya bertanya-tanya, “Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seorang laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih pantas dicium tangannya daripada dia?”

Imam Syafi’i menjawab, “Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab, “Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, maka ia telah baligh.”

Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi’i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya, orang tua itu adalah guru yang patut dihormati

Khidmat pada kyai dari seorang santi ada tiga macam . Pertama berkhidmah bin nafs (dengan fisik atau tenaga). Ini banyak dilakukan santri di pondok pesantren. Biasanya santri ikut di ndalem (kediaman) kiai untuk membantu-bantu pekerjaan rumah tangga kiai.

Berkhidmah kedua kedua bil mal (dengan harta). Dulu banyak sekali kiai-kiai yang memondokkan orang yang bukan siapa-siapanya .

Yang terakhir yakni biddu’a (dengan doa). Hendaknya ketika akan melakukan khidmah macam terakhir ini, melakukan khidmah jenis yang pertama atau yang kedua terlebih dahulu.

Selain itu ada pula yang berkhidmat dengan tabarukan (mencari berkah). Tabarukan dengan tempat majelis para ulama. Kholid bin Walid r.a tabarukan dengan menyimpan rambut nabi.

 

Bandung, 12 Januari 2023

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

 

 

Donasi Yuk
1