Oleh : Herri Permana
Aisyah binti Abu Bakar adalah istri dari Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan putri dari Abu Bakar (khalifah pertama), dari buah hasil pernikahan dengan isteri yang kedua yaitu Ummi Ruman yang telah melahirkan Abd al Rahman dan Aisyah. Beliau telah termasuk di dalam ummul-mu’minin atau disebut dengan Ibu orang-orang Mukmin. Ia banyak dikutip dalam hadis karena kehidupan bersama Muhammad merupakan topik paling sering dibahas
Fakta menarik yaitu Aisyah binti Abu Bakar merupakan satu – satunya seorang istri Nabi Muhammad yang masih berstatus gadis saat dinikahi oleh Nabi Muhammad SAW, Karena istri-istri Nabi Muhammad yang lain pada umumnya merupakan seorang janda.
Nama serta Nasab Beliau
Aisyah merupakan putri Abdullah bin Quhafah bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tamim bin Marrah bin Ka’ab bin Luay, dan lebih dikenal dengan sebutan nama Abu Bakar ash-Shiddiq serta berasal dari suku Quraisy at-Taimiyah al-Makkiyah. Ayah Beliau yaitu ash-Shiddiq dan merupakan orang pertama yang percaya penuh kepada Rasulullah ketika terjadi Isra’ Mi’raj, dan disaat itu banyak orang-orang tidak mempercayainya.
Kisah asmara Rasulullah s.a.w bersama Aisyah asal mulanya yaitu berawal sari mimpi. Nabi Muhammad SAW mengalami mimipi mengenei malaikat yang disaat itu membawa Aisyah untuk dijadikan sebagai jodohnya.
Setelah itu Rasulullah s.a.w menelaah menindak lanjuti mengenai mimpi tersebut dengan langka mendatangi Ayah dari Aisyah yaitu Abu Bakar r.a , sebagai tujuan untuk mempersunting putinya sebagai istri. Banyak di berbagai sumber, disaat menjadi istri usianya masih berusia 9 tahun.
Keutamaan Aisyah
Pribadi Yang Haus Ilmu
Aisyah ra merupakan Individu yang haus akan ilmu. Selama waktu sembilan tahun hidup bersama dengan Rasulullah saw. Beliau telah dikenal sebagai idividu yang haus akan ilmu dan pengetahuan. Ketekunanya didalam belajar membuat beliau berhasil menjadi seorang perempuan yang telah banyak menguasai ilmu di beragai bidang. Diantaranya yaitu ilmu al-qur’an, hadist, fiqih, bahasa arab dan bahkan juga ilmu syair. Kapasitas keilmuan dari Aisyah tidak diragukan lagi karena Beliau merupakan orang yang paling dekat dengan Rasulullah dan pastinya sering mengikuti berbagai hal yang berkaitan dengan pribadi Rasulullah. Disamping hal itu, Aisyah ra sering menyaksikan secara langsung mengenai wahyu yang telah diturunkan untuk Nabi Muhammad SAW.
Periwayat Hadist
Aisyah juga telah dikenal dengan seorang perempuan yang telah banyak menghapalkan berbagai macam hadis dari Rasulullah. Sehingga dengan hal tersebut telah didapatkannya gelar Al-mukatsirin atau orang yang paling banyak menghafal hadis.
Terdapat sebanyak 2210 hadist telah diriwayatkan olehnya. Diantara beberapa terdapat 297 hadist yang ada pada kitab shahihain serta sebanyak 174 hadist yang derajatnya mencapai muttafaq ‘alaih. Bahkan para pakar hadist memberikan tempat pada beliau pada posisi kelima dari para penghafal hadist setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, serta Ibnu Abbas.
Dengan kecerdasan serta keleluasan ilmu yang telah dimiliki. Aisyah ra tidak perlu diragukan lagi sehingga beliau dijadikan sebagai tempat bertanya bagi para kaum perempuan serta beberapa para sahabat mengenai hal yang berkaitan dengan permasalahan dalam hukum agama,ataupun mengenai hal didalam kehidupan pribadi secara umum para kaum muslimin.
Pribadi yang Tegas Dalam Menegakkan Hukum Allah
Aisyah juga dikenal sebagai seorang perempuan dengan pribadi yang tegas didalam kebijakannya mengambil sikap. Hal ini dapat terlihat dari dalam penegakan hukum dari Allah, Aisyah tidak tanggung – tanggung untuk langsung menegur perempuan-perempuan muslim yang telah melanggar dari hukum Allah.
Suatu ketika dia mendengar bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam mandi di tempat pemandian umum. Aisyah mendatangi mereka dan berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda, ‘Perempuan yang menanggalkan pakaiannya di rumah selain rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup antara dia dengan Tuhannya.“ (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah)
Aisyah pun pernah melihat adanya perubahan pada pakaian yang telah dikenakan wanita-wanita Islam setelah wafatnya Rasulullah. Aisyah telah menentang keras perubahan tersebut diiringi dengan perkataan, “Seandainya Rasulullah masih hidup dan melihat apa yang telah terjadi kepada wanita masa kini, maka beliau akan melarang perempuan tersebut untuk memasuki masjid sebagaimana seperti wanita Israel yang dilarang untuk masuk ketempat ibadah mereka.”
Seperti yang terdapat pada Thabaqat Ibnu Saad telah berkata bahwa Hafshah binti Abdirrahman telah menemui Ummul-Mukminin Aisyah. Saat itu Hafsyah mengenakan kerudung yang tipis. Secara dengan cepat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung dengan ukuran yang tebal.
Pribadi Yang Dermawan
Didalam hidupnya, Aisyah ra juga telah dikenal sebagai seorang perempuan dengan sifat yang dermawan. Terdapat sebuah kisah yang menceritakan bahwa Aisyah ra pernah menerima uang dengan jumlah sebesar 100.000 dirham. Kemudian dia meminta pembantumya supaya membagi-bagikan harta tersebut kepada fakir miskin dan tidak menyisakan satu dirhampun untuk dirinya sendiri. Padahal pada saat tersebut Beliau sedang berpuasa.
Harta benda dunia tidak dapat menyilaukan Aisyah ra. Meskipun pada saat itu kelimpahan kekayaan telah banyak berpihak kepada umat muslim. Aisyah ra tetap hidup dengan kesederhanaan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw semasa hidupnya.
Setelah Rasulullah meninggal dunia, Aisyah ra banyak mendedikasikan sisa hidupnya untuk berbagai perkembangan sekaligus kemajuan Islam. Rumah beliau selalu banyak pengunjung dan tidak pernah sepi. Para pengunjung biasanya mempertanyakan berbagai permasalahan mengenai syariat bahkan para tokoh besar seperti Khalifah Umar bin Khatab serta Usman bin Affan telah memposisikan Beliau sebagai penasehat. Hal ini sebagai upaya penghormatan mengenai kemuliaan yang telah dimiliki Aisyah ra.
Wafatnya ‘Aisyah r.a
‘Aisyah .ra wafat pada malam selasa, tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan seusai shalat witir, di tahun 58 Hijriyah itu merupakan pernyataan menurut pendapat para mayoritas ulama. Terdapat juga orang telah berpendapat bahwa beliau wafat pada tahun 57 H, didalam usianya yang menginjak 63 tahun dan pada sekian bulan. Beberapa para sahabat Anshar berdatangan pada saat itu, bahkan tidak pernah ditemukan satu hari pun yang lebih banyak orang-orang berkerumun padanya daripada hari itu, sehingga penduduk sekitar Madinah turut berdatangan.
Beliau kemudian dimakamkan di Pekuburan Baqi’. Shalat jenazahnya telah diimami oleh Marwan bin Hakam yang pada saat itu telah menjadi Gubernur Madinah.
Sosok Aisyah ra sendiri merupakan contoh atau teladan yang tepat bagi muslimah tanpa perlu mengymbar masalah emansipasi yang terjadi pada saat ini. Dengan keberadaannya sudah dapst dijadikan sebagai bukti bahwa perempuan juga telag diberikan posisi layak seperti yang terjadi di zaman Rasulullah saw serta para shahabatnya.
Bandung 16 Januari 2023
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




