Mariyah Al Qibtiyah

mariyah al qibtiyah

oleh : Herri Permana

Mariyah Al Qibtiyah merupakan seorang wanita yang berasal Mesir serta yang dihadiahkan oleh Muqauqis, yang merupakan penguasa mesir saat itu kepada Rasulullah di tahun 7 H.  Karena ia asalnya seorang pemeluk agama Kristen aliran Koptik yang dalam bahasa Arab disebut Qibti. Walaupun sudah menjadi muslimah setelah bersama dengan Nabi, namun dia tetap dikenal dengan julukan Al-Qibtiyah.

Menurut sebagian ulama ia adalah surriyyah atau milkul yamin Nabi. Terlepas dari itu, ia adalah Ummu Ibrahim karena ibunda dari putra ketiga Nabi yang bernama Ibrohim. Sesudah wafatnya Rasulullah beliau dibiayai oleh Abu Bakar kemudian Umar dan meninggal pada masa kekhalifahan Umar.

Untuk nasab Mariyah al Qibtiyah , sangat tidak banyak untuk diketahui selain nama ayahnya. Beliau nama lengkapnya adalah Mariyah binti Syama’un serta dilahirkan pada daerah dataran tinggi Mesir yang telah dikenal dengansebutan nama Hafn.

Sang Ayah berasal pada suku Qibti, dan ibunya merupakan penganut agama Masehi Romawi. Setelah bernjak dewasa, dengan bersama saudara perempuannya yang bernama Sirin, Mariyah dipekerjakan untuk Raja Muqauqis.

Rasulullah mengirimkan surat kepada Muqauqis dengan cara melalui Hatib bin Abi Baltaah, yang isinya menyerukan supaya raja tersebut memeluk Agama Islam.

Raja Muqauqispun menerima Hatib dengan hangat, akan tetapi dengan ramah dia tidak mau atau menolak untuk memeluk Islam, justru dia mengirim Mariyah, Sirin, serta seorang budak yang bernama Maburi, dan beragam jenis hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di saat dalam perjalanan, Hatib rnerasakan kesedihan pada Mariyah karena harus meninggalkan kampung halamannya. Hatib lantas menghiburmereka dengan cara menceritakan mengenai Rasulullah sekaligus Islam, kemudian mengajak mereka supaya memeluk Islam, dan akhirnya mereka setuju untuk masuk Islam

Rasulullah mendengar dan menerima kabar dari penolakan Muqauqis serta hadiah yang telah diberikan, dan betapa kagetnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis tersebut.Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya lantas menyerahkan Sirin kepada penyairnya yang bernama Hasan bin Tsabit. Istri Nabi lainnya terbakar cemburu atas kehadiran orang Mesir yang berparas cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah pada rumah Haritsah bin Nu’man yang letaknya berada di sebelah masjid.

 

 

Setelah itu atas seizin dari Allah. Mariyah al Qibtiyah mengandung anak dari Rasul,  Disaat itu betapa besar perasaan gembira dari Rasulullah ketika mendengar mengenai kabar kehamilan yang telah diberikannya pada Mariyah, terlebih dengan putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, serta Ruqayah telah meninggal dunia.

 

Mariyah mengandung setelah setahun Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah. Kehamilan tersebut lantas membuat istri-istri Rasul merasa cemburu karena sudah beberapa tahun mereka menikaj, akan tetapi tidak kunjung diberikan seorang anak.  Rasulullah menjaganya sekaligus menjaga kandungannya dengan sangat hati – hati pada saat itu

 

Pada bulan Dzulhijjah tepatnya di tahun kedelapan hijrah, Mariyah akhirnya melahirkan bayinya yang dimana nantinya Rasulullah memberikan nama anak tersebut Ibrahim, pemberian nama tersebut demi mengharapkan berkah dari nama bapak para nabi yaitu Ibrahim as, setelah itu beliau membebaskan Mariyah secara penuh dan Kaum muslimin menyambut kelahiran putra Rasulullah dengan rasa yang sangat gembira

 

Dilain hal, para istri Rasul lainnya.terbakar api cemburu yang merupakan suatu perasaan yang Allah ciptakan dan merupakan perasaan yang sudah umum pada kaum wanita. Rasa cemburu semakin terlihat bersamaan dengan terciumnya rahasia pertemuan antara Rasulullah dengan Mariyah yaitu dirumah Hafshah, sedangkan Hafshah sedang tidak ada dirumah pada saat itu.

 

Hal ini memicu kemarahan Hafshah. Dari kemarahan Hafshah tersebut lantas Rasulullah mengharamkan Mariyah untuk diri Beliau. Dengan adanya hal tersebut maka Allah menengur melalui firman Nya yang artinya

 

“Hai Muhammad, kenapa engkau mengharamkan apa yang telah Allah menghalalkannya bagimu; engkau mencari kesenangan hati para istri-istrimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun dan lagi Maha Penyayang. “ (Q.S. At-Tahriim:1)

 

Aisyah mengungkapkan perasaan cemburunya kepada Mariyah dengan berkata “Aku tidak pernah meraskan cemburu pada seorang wanita kecuali dengan satu wanita yaitu Mariyah, perasaan cemburuku timbul karena dia mempunyai paras cantik sehingga Rasulullah sangatlah tertarik dengannya.

 

Saat Mariyah pertama kali datang, Rasulullah telah menitipkannya di rumah Haritsah bin Nu’man al-Anshari, setelah itu Mariyah menjadi tetangga kami. Akan tetapi, Rasul sering kali di sana entah itu disaat siang atau malam. Mengetahui hal tersebut aku merasa sedih. Dari hal tersebutlah akhirnya Rasulullah memindahkannya di kamar atas, akan tetapi beliau masih saja sering mendatangi tempat itu. Sungguh, itu merupakan hal yang menyakitkan bagi karni.” Pada riwayat yang lainnya juga dikatakan bahwa Aisyah berucap, “Allah memberinya anak, sementara kami belum dikaruni seorang pun.”

Fitnah Pada Mariyah Al Qibtiyah

Beberapa orang dari kalangan para orang munafik telah menuduh Mariyah Al Qibtiyah telah melahirkan anak hasil perbuatan terlarang yang dilakukan dengan Maburi yaitu merupakan nama dari budak  yang telah menemaninya saat dari Mesir yang dikemudian hari akhirnya menjadi pelayan bagi Mariyah Al Qibtiyah .

 

Tetapi, Allah telah membukakan kebenaran bagi diri Mariyah al Qibtiyah setelah Ali radhiallahu ‘anhu menemui Maburi dengan menggunakan pedang terhunus. Maburi mengayakan bahwa dirinya merupakan laki-laki yang telah dikebiri oleh sang raja

 

Disaat memasuki usianya yang kesembilan belas bulan, sang buah hati Ibrahim telah jatuh sakit sehingga membuat kedua orang tuanya merasakan keresahan yang amat mendalam.  Mariyah yang saat itu bersama Sirin senantiasa selalu menunggui sibiah hati Ibrahim. Pada suatu malarn, ketika jatuh sakit Ibrahim bertambah semakin parah, dengan rasa sedih yang mendalam, Nabi yang saat itu bersama dengan Abdurrahman bin Auf memutuskan untuk datang ke rumah Mariyah. Ketika Ibrahim dalam keadaan sakaratul, Rasulullah bersabda, “Kami tidak dapat menolongmu dari apa yang telah merupakan kehendak Allah, wahai Ibrahim.”

 

Tanpa di sadari, air mata telah keluar dan bercucuran. Ketika Ibrahim akhirnya meninggal dunia, Rasul kembali bersabda,

 

“Wahai Ibrahim, andai ini bukan merupakan perintah yang haq, janji yang benar, serta masa akhir kita yang menyusuli awal masa kita, niscaya kami akan merasakan kesedihan mendalam atas kematianmu lebih dari ini  Kami semua merasa sedih, wahai Ibrahim… Mata kita menangis, hati bersedih, namun kami tidak akan mengucapkan sesuatu yang menyebabkan Allah murka.”

 

Demikianlah sekiranya keadaanNabi disaat menghadapi kematian dari putra tercintanya Walaupun tengah dilanda dalam rasa kesedihan, beliau masih tetap untuk berada didalam jalur yang wajar sehingga masih tetap untuk menjadi teladan baik bagi seluruh manusia disaat menghadapi cobaan yang besar. Rasulullah telah mengurus sendiri jenazah putra tercinta dan kemudian beliau menguburkannya si buah hati di Baqi’.

 

 

Setelah Rasulullah berpulangt, Mariyah menjalani kehidupannya dengan menyendiri sekaligus cenderung mendedikasikan kehidupannya hanya untuk taat beribadah kepada Allah. Mariyah akhirnya wafat lima tahun setelah berpulangnya Rasulullah, tepatnya yaitu pada tahun ke-46 hijrah, di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab saat itu,  Khalifah sendiri yang telah menyalati jenazah  dari Mariyah al Qibtiyah, selanjutnya Mariyah dikebumikan di Baqi’.

 

Bandung, 28 Januari 2023

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1