Pertempuran Ain Jalut , Terhentinya Invasi Mongol ke Dunia Islam

pertempuran ain jalut

Oleh Herri Permana

Pada awal abad ketujuh Hijriah (603-657 H), Bangsa Tartar (Mongol) menjadi momok seantero dunia termasuk negeri-negeri Islam. Keganasan dan kebiadaban bangsa yang sedang “naik daun” ini begitu mengerikan dan di luar nalar kemanusiaan. Siapa pun akan dibabat habis oleh mereka.

Pada bulan Pebruari 1258, tentara Mongol dibawah kepemimpinan Jenderal Hülegü atau Hulagu Khan (Khan pertama dari Dinasti Khan yang menguasai wilayah Persia) melampiaskan kebengisan mereka dan menaklukan wilayah yang dikuasai kaum muslimin di Timur Tengah. Hulagu Khan adalah cucu Genghish Khan dari Putranya Tului. Ibu , istri dan sahabat Hulagu Khan yang bergama kristen dipercayai yang mendorong Hulagu Khan menyerang Abasyiyah (dan Ayyubiyah) sebagai balas dendam kekalahan Kristen dalam Perang Salib. Hulagu Khan sendiri beragama Syaman yang menjadi agama yang mayoritas dianut suku Mongol.

Di dalamnya terdapat pula para kesatria Kristen Nestorian dari Armenia , dan Frank serta pasukan artileri dari China. Semakin mendekati Kota Seribu Satu Malam, aliansi ini kian besar dengan kedatangan pasukan Salib dari Kerajaan Latin Antiokhia.

Hulagu Khan menaklukkan Baghdad pada 10 Februari 1258. Setelah memasuki Baghdad pasukan Mongol menjarah dan membantai penduduknya. Khalifah dipaksa menonton ketika penduduknya disembelih dan harta bendanya dirampas .Selama 13 hari, dari tanggal 29 Januari sampai 10 Februari 1258 M pasukan Mongol menyiksa, memperkosa, dan menganiaya penduduk Baghdad tanpa henti. Sejarawan menaksir jumlah korban pembantaian mencapai 200.000 sampai 1.000.000 orang.

Hanya komunitas Kristen Nestorian Baghdad selamat mengingat ibu dan istri kesayangan Hulagu Khan yaitu Dokuz Khatun penganut Kristen Nestorian. Hulagu menyuruh mereka untuk mengunci diri di gereja mereka, dan memerintahkan tentaranya untuk tidak menyentuh mereka.

Khalifah dibunuh dengan cara diinjak-injak oleh kuda. Pasukan mongol menggulung khalifah dalam sebuah karpet, dan mereka lalu menunggang kuda di atas badannya, karena mereka percaya bahwa bumi akan marah jika ada darah penguasa yang ditumpahkan. Semau putraya dibunuh kecuali satu orang anaknya yang masih kecil, yang kemudian dikirim ke Mongolia, di sana para seajarawan Mongolia melaporkkan bahwa dia menikah den memiliki anak, tetapi dia tidak terlibat apa-apa lagi dalam perkembangan Islam.

Pasukan Mongol juga menjarah dan kemudian menghancurkan masjid, istana, perpustakaan, dan rumah sakit. Bangunan-bangunan besar yang merupakan hasil karya beberapa generasi dibakar sampai habis.

Perpustakaan Baghdad (saat itu Baghdad terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia) yang penuh dengan buku-buku sejarah, kedokteran dan astronomi dan lainnya dijarah dan semua bukunya dilempar ke Sungai Tigris, para saksi mata mengatakan Sungai Tigris berubah warnanya menjadi hitam dikarenakan saking banyaknya buku yang terendam sehingga tintanya luntur.

Hulagu bahkan harus memindahkan perkemahannya ke luar dari kota akibat bau busuk yang sangat menyengat di dalam kota.

Pada Januari 1260, pasukan Mongol bergerak ke arah barat. Aleppo bernasib sama dengan Bagdad. Pada bulan Maret, Damaskus membuka pintu-pintu gerbangnya bagi orang Mongol dan bertekuk lutut. Tak lama setelah itu, orang Mongol merebut kota-kota di Palestina, yaitu Nablus (dekat situs kuno Syikhem) dan Gaza.

Rencana Penaklukkan Mesir

Hulagu mengirim utusan ke Kairo menuntut Qutuz menyerahkan Mesir, ia meminta Qutuz menyerah saja daripada dihancur leburkan dan dibantai seperti yang dialami kaum muslimin di Baghdad. Akan tetapi hal ini ditolak bahkan ditanggapi Qutuz dengan membunuh utusan tersebut dan menggantung kepala mereka di gerbang Bab Zuweila Kairo.

Qutuz ditunjuk sebagai gubernur Mesir oleh Sultan Aybak. Dia tetap menjadi gubernur Mesir ketika Sultan Aybak dibunuh pada tahun 1257 dan digantikan anaknya Al-Mansur Ali.

Ketika datang berita kedatangan pasukan Mongol pada tahun 1258, Qutuz bermusyawarah kepada ulama pada masa itu mengenai penurunan raja dari tangan Al-Mansur Ali. Para ulama bersilang pendapat karena dalam Islam penurunan pemimpin Muslim tidaklah boleh dilakukan kecuali pemimpin tersebut mengingkari Allah dan rasulnya, setelah bermusyawarah dengan ulama dengan pertimbangan masih terlalu mudanya Al-Mansur Ali menjadi raja untuk menghadapi pasukan mongol sehingga pada tanggal 12 November 1259 Al-Mansyur Ali pun turun dari jabatannya dan Saifudin Qutuz diangkat jadi Sultan.

Dengan segera Saifuddin Qutuz mempersiapkan pasukan untuk menghadapi serbuan bangsa Mongol yang terkenal ganas, buas dan tak kenal belas kasihan itu.

Pertempuran Ain Jalut

Tindakan Qutuz menyebabkan murkanya Hulagu Khan. Ia bersiap untuk menyerbu Mesir. Tapi pada saat yang sama, para pangeran/adipati pemimpin Mongolia dipaksa untuk menghentikan operasi militer besar-besaran karena adanya Kurultay paska wafatnya Mongke Khan.

Kurultay ini adalah sistem pemilihan Khan Agung Mongolia. Dalam tradisi Mongolia pemimpinnya atau Khan Agung dipilih oleh para bangsawannya , tidak otomatis turun menurun seperti kerajaan di masa itu umumnya.

Hulagu kembali ke Mongolia dengan sebagian besar pasukannya meninggalkan sekitar 10.000 pasukan di sebelah barat Efrat di bawah komando Jenderal Kitbuqa.

Mongol
Empat Kemahaharajaan Mongol

Kurultay tahun 1260 itu menobatkan Kublai Khan sebagai Khan Agung , dan ini memantik era perang saudara selama 10 tahun, dimana perlahan-lahan Imperium Mongolia dipecah menjadi 4 – Golden Horde (Rusia sekarang ), Dinasti Yuan (Asia Timur), Dinasti Chagatai (Asia Tengah), dan Il-Khanat (Persia)

Kondisi ini dimamfaatkan oleh Qutuz. Setelah berunding dengan para penasehat dan panglima militernya Qutuz memutuskan menyerang Mongol di luar Mesir.

Qutuz bersama panglima perangnya Baibars segera menggerakkan pasukan keluar dari Kairo, dan sempat berkemah di luar kota Akka yaitu satu-satunya kota yang berhasil direbut kembali oleh tentara salib setelah diusir keluar dari Yerusalem oleh Shalahuddin Al-Ayyubi setelah kota tersebut direbut kembali tahun 1187.

Hethum I, raja negara Tentara Salib Armenia Kilikia, telah tunduk kepada bangsa Mongol pada tahun 1247, dan mengajak raja-raja lain untuk mengadakan persekutuan Kristen-Mongol, tetapi ia hanya mampu meyakinkan menantunya, Pangeran Bohemond VI dari negara Tentara Salib Antiokhia, yang kemudian menurut pada tahun 1260. Pemimpin-pemimpin Kristen lain seperti Tentara Salib di Akko tidak memercayai bangsa Mongol, dan menganggap mereka sebagai ancaman terbesar di wilayah tersebut. Maka Baron Akko (Acre)  terlibat dalam persekutuan pasif yang tidak biasa dengan Mamluk dengan membiarkan mereka melewati wilayah Tentara Salib agar dapat melawan  pasukan Mongol .

Para bangsawan Akko sebenarnya juga menawarkan bantuan meskipun para Ksatria Templar cenderung berpihak pada Mongol. Baibars sempat memberi nasihat agar Akko diserbu juga karena adanya  ksatria templar yang membantu Mongol. Akan tetapi Qutuz menolak  dan memilih persekutuan pasif sehingga pasukan Mamluk bisa melewati wilayah mereka dengan aman lalu membangun perkemahan dan mengumpulkan logistik di dekat Akko. Di sisi lain Hulagu Khan membentuk aliansi dengan kekuatan  Kristen Armenia dan Byzantium selain berusaha membangun hubungan dengan bangsa Frank.

Pada tanggal 3 September 1260, Qutuz memimpin pasukannya menghadapi pasukan Mongol dibawah pimpinan Kitbuqa Pangilma Mongol yang beragama Kristen Nestorian dalam pertempuran yang sangat terkenal yaitu Ain Jalut. Dalam operasi ini pasukan Mamluk membakar banyak persediaan rumput.  Pasukan mongol berintikan kavaleri penunggang kuda , satu orang prajurit mongol rata-rata memiliki sampai 4-6 ekor kuda. Taktik serangan Mongol yang cepat dan bergelombang membuat prajurit Mongol seringkali harus berganti kuda agar bisa tetap kuat bertempur. Karenanya mereka membutuhkan banyak persediaan rumput untuk makanan kuda, sementara wilayah Ain Jalut tidak banyak terdapat rumput

Hal ini menyebabkan banyak kuda tentara Mongol yang mati karena kelaparan. Tentara Mongol tanpa kuda layaknya infantri amatiran. Karena itulah tentara Mongol banyak terjebak dalam blunder yang sudah direncanakan oleh tentara Mamluk, sehingga mereka kalah total dalam peperangan ini

Ain Jalut
Peta Pertempuan Ain Jalut

Ain Jalut sendiri adalah bahasa Arab yang artinya mata (air) Jalut – yang menurut warga setempat merupakan tempat kekalahan Jalut/Goliath ketika di-ketapel oleh Nabi Daud/David.

Dalam Pertempuran Ain Jalut pasukan Mamluk menerapkan taktik Hit and Run dan menguasai medan pertempuran, dimana pasukan Mongol banyak kehilangan pasukan akibat kurang begitu menguasai medan dan juga karena taktik Raid yang dilakukan oleh pasukan Mamluk.

Pasukan Mamluk awalnya mengirim pasukan dalam jumlah kecil menyerang barisan musuh lalu  pura-pura kabur. Ketika barisan Mongol mengejar mereka barisannya menjadi terpecah belah. Pasukan Mamluk yang bersembunyi di perbukitan tiba-tiba melakuan serangan balik dan pasukan Mongol dikepung dari dua sisi oleh pasukan berkuda Mamluk.

Panglima Mongol, Kitbuga baru menyadari strategi pasukan Mamluk. Mereka tidak mendapatkan jalan lain kecuali terus berperang. Korban perang dikedua belah pihak sangat banyak, tetapi pasukan Mamluk  berhasil mengalahkan pasukan Mongol. Akhirnya pasukan Mongol hancur diluluh lantakkan oleh pasukan Mamluk Mesir. Banyak pasukan Mongol yang tewas dalam pertempuran Ain Jalut, termasuk Panglimanya Kitbuqa.

Panglima perang Mamluk Baibars memerintahkan bawahannya untuk mengeja dan membuntuti pasukan Mongol yang kalah untuk membunuh mereka di mana saja berada sampai ke kota Halb (Suriah). Pasukan Mongol yang berada di Damaskus pada tanggal 07 Ramadhan 685 H/ 1260 M. . Pasukan Mongol ditangkap dan membebaskan kaum Muslimin yang tertawan.

Kemenangan ini sangat penting bagi umat Islam pada masa itu. Adapun Qutuz, ia meninggal sekitar 40 hari setelah Perang ‘Ain Jalut karena dibunuh oleh panglimanya sendiri, Baibars. Jasa-jasanya bagi dunia Islam akan terus dikenang.

Dan pertempuran Ain Jalut mengakibatkan invasi Mongol ke Mesir dapat dihentikan, bahkan pasukan Mamluk kemudian sukses merebut kembali kota Aleppo dan Damaskus dari kekuasaan pasukan Mongol .

Reaksi Hulagu Khan

Kekalahan dalam pertempuran Ain Jalut ini tentu membuat Hulagu Khan, pangeran Mongolia yang menaklukkan Baghdad, marah. Tapi di sisi lain dia juga mendapat ancaman dari sepupunya Berke Khan. Berke Khan sudah memeluk agama Islam dan dia marah terhadap tindakan sepupunya Hulagu Khan di Baghdad.

Pada tahun 1261 terjadi hubungan diplomasi antara Mamluk Mesir di bawah kepemimpinan Baybars dan Mongol Kipchak (Golden Horde) yang dipimpin Berke Khan. Mereka mencapai kesepakatan untuk menghadapi Il-Khanate atau Mongol Persia yang dipimpin Hulagu. Persekutuan ini memaksa Hulagu mengalihkan perhatiannya dari Suriah dan Mesir dan berperang menghadapi pasukan Berke. Ini terjadi pada akhir tahun 1262.

Pada awalnya pasukan Hulagu berhasil mendesak pasukan sepupunya itu dan mengejarnya ke utara hingga mencapai Sungai Terek dan menyeberanginya. Tapi di tempat itu mereka dikejutkan oleh serangan mendadak yang dilakukan oleh Nogai, anggota keluarga dan salah satu pimpinan pasukan Berke.

Serangan ini memaksa Hulagu dan pasukannya menyeberangi kembali Sungai Terek yang saat itu sedang membeku oleh musim dingin. Namun kali ini banyak pasukan Hulagu yang terjerembab ke dalam sungai dan tenggelam karena lapisan es sungai itu pecah oleh hentakan tapak-tapak kuda mereka.

Hulagu mengalami kekalahan pada pertempuran tersebut dan terpaksa kembali ke wilayah kekuasaannya. Hulagu Khan sendiri akhirnya wafat 2 Februari 1265.

Perseteruan antara Golden Horde dan Il-Khanate terus berlangsung ke masa-masa berikutnya, bahkan setelah tiadanya Berke dan Hulagu, tanpa ada pemenang di antara kedua belah pihak. Kendati demikian, upaya Berke ini berhasil menghentikan secara permanen keinginan Hulagu untuk menguasai Suriah dan Mesir, sehingga wilayah-wilayah Muslim itu bebas dari ancaman Mongol

Upaya Il-Khan menaklukkan Mesir dilakukan Ghazan Khan cucu Hulagu Khan. Ia mencoba untuk menaklukkan Mamluk Mesir dengan 30.000 tentara – namun dihadang & dihancurkan tentara Mamluk di Marj al-Saffar (1303), selatan kota Damaskus. Selain itu Ghazan Khan juga mencoba menaklukkan Hijaz termasuk Mekkah & Madinah secara diplomatis, namun gagal karena kas negara yang tidak kuat setelah kekalahan di Marj al-Saffar.

Oljeitu Khan cucu Hulagu Khan yang lain mencoba lagi tapi dihadang di benteng Al-Rahba di Syria Timur (1312). Dan ini menjadi usaha invasi mongol terakhir untuk menaklukkan Mamluk.

Akhirnya, di tahun 1323 perjanjian perdamaian antara Dinasti Mamluk dan pemimpin Il-Khan, Abu Said Khan di tandatangani.

Melanjutkan Dinasti Abasyiah

Untuk mendapatkan legitimasi dan demi melestarikan tradisi kekhalifahan, pasukan Mamluk memboyong keluarga dari bani Abbasiyah yang tersisa ke Kairo pada tahun 1261 M dan kemudian membaiat salah satu dari mereka sebagai Khalifah, akan tetapi mereka hanya sebagai simbol pemersatu dan tidak memiliki kuasa.

Pada tahun 1517, kekhilafahan Abbasiyah resmi berakhir, setelah Mamluk dikalahkan Utsmaniyah dan Khalifah Al Mutawakkil Alallah III menyerahkan tampuk kekhilafahan secara simbolis kepada Selim I dari Utsmaniyah maka Utsmaniyah melanjutkan kekhilafahan.

 

Bandung 14 Januari 2023

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

 

 

.

Donasi Yuk
1