Pasukan Budak Putih Islam

pasukan budak

Oleh : Herri Permana

 

Dalam sejarah Islam dikenal kesatuan prajurit elite proffesional yang terdiri dari para pasukan budak. Tidak sembarang budak bisa bergabung menjadi prajurit. Biasanya mereka dipilih dari para budak kulit putih atau dikenal dengan sebutan mamluk. Para budak ini biasanya didapat dari pedagang asal Genoa yang memiliki koloni penjualan budak kulit putih dari Kaukasia atau Slavia di Kaffa (Feodisia) Crimea (masuk wilayah Ukraina sekarang). Selain itu budak-budak kulit putih juga seringkali di dapat dari para pelaut Viking atau Bajak Laut.

Budak kulit putih menjadi favorit penguasa muslim di waktu itu. Kalangan prianya banyak direkrut menjadi prajurit elite , sementara kaum wanitanya banyak dijadikan selir atau harem diantarannya yang terkenal adalah Roxelana atau juga dikenal dengan nama Hurrem.

Berbeda halnya dengan budak kulit hitam dari Afrika yang kebanyakan hanya dijadikan budak kasar seperti pelayan , menguruh kebun , rumah tangga bahkan dijadikan kasim penjaga istana harem.

 

Pasukan Budak Mamluk

Mamluk adalah pasukan kavaleri berkuda di masa Abasyiyah. Anggota pasukannya diisi oleh para budak kulit putih Eropa .Disinyalir mereka didapatkan dari bangsa , Turki ,  Tartar dan bangsa Viking. Bangsa Viking yang dikenal sebagai penjarah dan bajak laut juga dikenal sebagai pedagang.  Catatan sejarah menyebutkan adanya hubungan diplomasi dan perdagangan antara Bangsa Viking dengan dunia Islam. Diantaranya dengan Bani Umayyah di Andalusia di masa Abdul Rahman II (788-852) dan Bani Abasyiyah di masa Harun Al Rasyid (786 – 803).

Ibn Khoradadbeh pada 844 menyebut Viking sebagai Rus dan menggambarkan mereka sebagai pedagang budak, bulu, dan pedang. Bangsa viking adalah juga pedagang yang hebat yang melakukan perdagangan dari komoditas kulit hewan, taring walrus, dan budak ke bangsa arab dan wilayah timur, memicu gelombang pemasukan dirham dari wilayah Arab yang secara masif memuluskan transisi dari ekonomi barter menuju ekonomi pertukaran uang pada wilayah Eropa.

Banyak kuburan Era Viking di Skandinavia menggabungkan pakaian pemakaman sutra dengan akar Persia dan Asia Tengah, bukan wol atau linen yang umum dipakai orang Eropa di masa itu. Peninggalan sejarah  yang terkenal adalah penemuan cincin bergaya arab yang memiliki batu dengan tulisan kaligrafi kufic bertuliskan “ALLAH”. Artefak ini ditemukan pada eskavasi yang dilakukan pada tahun 1872-1895 di situs pemakaman bangsa viking yang terdapat pada pusat perdagangan bangsa Viking, Birka.

Budak yang di bawa bangsa Viking ke Timur umumnya di jual ke Konstantinopel Byzantium dan Iskandariyah Mesir yang menjadi bagian kekuasaan Bani Abasyiyah. Karena itulah inti pasukan budak Mamluk di masa Dinasti Abasyiyah berada di Mesir. Di wilayah Bani Umayyah Andaluisa pasukan budak ini diintegrasikan dalam satuan Kavaleri ringan Jinete.

Para pasukan budak Mamluk ini melakukan latihan di Tiqab (tunggal:tabaqqa), yakni nama yang diberikan untuk barak-barak di benteng Kairo yang dijadikan akademi militer. Latihan dilakukan secara intensif dan dengan disiplin yang ketat. Bahkan, kala itu mereka tak takut mengeluarkan biaya pendidikan kemahiran berkuda hingga seorang prajurit mampu untuk menunggang kuda tanpa pelana maupun dengan pelana, lari meligas, mengderap dan mencongklang, mendatar ataupun melompat

Mereka harus mematuhi Furisiyyah, sebuah doktrin aturan perilaku yang memasukkan nilai-nilai seperti keberanian dan kemurahan hati dan juga doktrin mengenai taktik perang berkuda, kemahiran menunggang kuda, kemahiran memanah dan juga kemahiran merawat luka dan cedera.

Pasukan budak berkuda Mamluk juga dilatih menggunakan sejumlah senjata. Senjata pasukan berkuda (faris) Mamluk terdiri dari pedang, tombak, panah, perisai dan tongkat kebesaran. Tongkat kebesaran terbuat dari besi atau baja dengan ujungnya berbentuk kubus, diletakkan di bawah sanggurdi, sementara tombak di pegang dengan satu atau kedua tangan, bukan “diluncurkan” atau direndahkan untuk menyerang seperti halnya di barat, tetapi digunakan untuk berkelahi di atas kuda.

Selain itu, pasukan budak berkuda yang mengikuti latihan berkuda, harus bisa menggunakan kuda sambil memanah dan menggunakan tombak. Seorang faris harus mampu menyerang target dari berbagai sudut dan pada kecepatan berbeda-beda menggunakan kedua senjata itu. Pasukan Mamluk juga sangat terlatih untuk menggunakan pedang dengan cara yang sama.

Metode-metode ini teruji keberhasilannya dengan kemenangan Mamluk dalam pertempuran Ain Jalut pada 3 September 1260 (25 Ramadhan 658 H) dimana mereka berhasil mengalahkan pasukan Mongol yang hendak menginvasi Mesir setelah menaklukkan pusat kekuasaan Bani Abasyiyah di Baghdad pada tahun 1258. Dalam perang salib pasukan Mamluk juga relatif lebih superior dibandingkan pasukan kavaleri elite Kristen Ksatria Templar.

Kehebatan pasukan budak berkuda Mamluk juga terlihat saat pasukan Turki Usmani di bawah pimpinan Sultan Muhammad al-Fath merebut Konstatinopel pada abad 14 M. Mereka sebelumnya harus berenang mengarungi Selat Bospurus (karena laju kapal dihadang oleh armada Romawi Byzantium di sepanjang pantai), setelah itu naik kuda untuk mengobrak-abrik pasukan musuh dengan serangan panah bertubi-tubi.

Kesultanan Mamluk

sultanDalam sejarah Pasukan budak Mamluk ini sempat mengambil alih kekuasaan dan mendirikan kerajaan yang cukup kuat dan besar. Memamfaatkan perpecahan kekuasaan di kalangan anggota keluarga Salahuddin al-Ayyubi, pendiri Dinasti Ayubiyah, penguasa Mesir kala itu.

Turansyah, yang merupakan keturunan terakhir dari Dinasti Ayubiyah, naik takhta menggantikan ayahnya, al-Malik as-Salih. Naiknya Turansyah membuat golongan Mamluk merasa terancam karena dia lebih dekat kepada tentara asal Kurdi daripada mereka. Pada 1250 M, Pasukan Mamluk di bawah pimpinan Aybak dan Baybars berhasil membunuh Turansyah.

Istri al-Malik as-Salih, Syajarah al-Durr, seorang yang juga berasal dari kalangan Mamluk, berusaha mengambil kendali pemerintahan sesuai dengan kesepakatan golongan Mamluk itu. Akan tetapi epemimpinan Syajarah hanya berlangsung singkat hanya sekitar tiga bulan.

Ia menikahi Aybak dan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepadanya. Akan tetapi, segera setelah itu, Aybak membunuh Syajarah al-Durr dan mengambil sepenuhnya kendali pemerintahan.

Dinasti Mamluk berkuasa di Mesir dari 1250 sampai 1517 M, sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Bani Usmani. Wilayah kekuasaan Dinasti Mamluk meliputi Mesir, Suriah, Hijaz, Yaman, dan daerah di sepanjang aliran Sungai Eufrat. Saat berkuasa, dinasti ini berhasil menumpas bersih sisa-sisa tentara Perang Salib dengan mengusirnya dari Mesir dan Suriah.

Begitu juga ketika bangsa Mongol berhasil menghancurkan dan merebut negeri-negeri yang dikuasai oleh Islam, Dinasti Mamluk menjadi satu-satunya penguasa Muslim yang berhasil mempertahankan wilayah kekuasaannya. Oleh karena itu, Dinasti Mamluk di Mesir sangat berjasa dalam mengembangkan dan mempertahankan dunia Islam.

Janissary

Asal muasal terbentuknya korps Janissary, diperkirakan terjadi pada masa kepemimpinan sultan Orhan (1323-1362) dan wazir Alaeddin yang membuat pondasi dari berdirinya pasukan Janissary. Kemudian pembentukan dan penyempurnaan dari Janissary dilakukan pada kepemimpinam sultan Murad I (1362-1389).

Pada saat kepemimpinan sultan Murad I, wazir Çandarlı Kara Halil Hayreddin Pasha mengusulkan untuk membentuk sekelompok pasukan budak elit yang direkrut berdasarkan sistem devşirme, sebuah sistem yang mana merekrut anak-anak berlatar belakang Kristen yang diperbudak dari wilayah Balkan untuk dijadikan pasukan. Selain itu anggota pasukan Janissary juga direkrut dari kalangan budak putih yang dibeli dari pedagang Genoa di Kaffa.

Kaffa atau sebelumnya bernama Feodisia adalah koloni Genoa di laut hitam selain Tana (sekarang bernama Azov. Dibeli dari Kerajaan Mongol Golden Horde pada tahun 1266 Kaffa berkembang menjadi kota perdagangan penting di Laut Hitam. Dikelilingi oleh Benteng yang kuat Kaffa menjadi basis penting kekuatan Genoa yang mampu menekan saingannya Venezia dan Byzantium.

Koloni-koloni Genoa di selatan Krimea kemudian dikenal dengan nama Gazaria Genoa. Kaffa kemudian berkembang menjadi pusat perdagangan budak terbear. Budak dibeli dari Tatar, yang, dalam mengejar barang-barang hidup, semakin menyerbu tanah Rusia selatan dan Kaukasus barat. Tingginya harga budak sering kali mengilhami orang Italia sendiri untuk mengambil tindakan berisiko untuk menangkap tawanan. Orang-orang diculik oleh corsair dan bajak laut di kota-kota tepi laut, dan penumpang acak diubah menjadi budak oleh pemilik kapal dan dijual di Kaffa yang posisinya sangat strategis.

Pasukan Jassinary selain untuk di terjunkan di medan pertempuran juga sebagai penjaga keamanan sultan. Pasukan elit ini terdiri dari dua korps yakni invanteri dan kavaleri.

Dalam sistim pelatihan Devrisme selain latihan fisik, mereka juga diasah dalam hal kecerdasannya juga agama.Dalam hal latihan fisik mereka dilatih untuk menguasai banyak hal seperti bermain pedang, memanah, menunggang kuda, angkat besi, menggunakan senjata api dan gulat. Sehingga pasukan Janissary ini menjadi pasukan dengan kemampuan di atas rata-rata pasukan pada umumnya.

Untuk senjata yang digunakan pasukan jassinary adalah  tombak panjang dengan mata kapak (halberd), dan juga senapan

Selesai dari pelatihan, mereka selanjutnya ditempatkan sebagai petugas dan pengawal istana. Sementara mereka yang lulus dengan nilai di atas rata-rata dimasukkan ke sekolah atau pendidikan para pengeran.

Sesudah selesai dari pendidikan para pangeran, mereka mendapat kesempatan untuk menduduki posisi dan jabatan di kerajaan. Kendati pada awalnya mereka ditugaskan sebagai tentara-tentara dalam peperangan, mereka umumnya memegang posisi penting.

Sultan sangat bergantung kepada kesetiaan Janissari. Para Janissari bertanggung jawab menegakkan hukum sultan  di provinsi-provinsi dan menjaga perdamaian antara muslim dan non muslim.

Dalam perkembangan selanjutnya, anggotanya juga diambil dari pemuda-pemuda Yahudi dan Islam. Mereka yang terpilih dibawa ke Istanbul, kemudian dimasukkan ke dalam asrama pelatihan. Di asrama tersebut mereka diajarkan doktrin-doktrin kesetiaan kepada kerajaan serta fanatisme terhadap sultan, dan diajarkan pula tentang Islam dan latihan kemiliteran yang sangat keras.

Umumnya pasukan Jassinary mengikuti Tarekat Bektasyiyah. Tarekat ini sangat berperan dalam bidang kemiliteran Turki Utsmani, Tarekat ini memperkuat pasukan Jenissari yang merupakan ciri dari Turki Utsmani. Pasukan ini begitu taat pada sisi agama, sehingga aliran ini berkembang sangat pesat dilingkup kemiliteran. Pembinaan yang diberikan sebelum perang, menambah ketaatan pasukan dan semangat untuk menegakkan Islam. Tarekat Bektasyiyah ini juga menanamkan ajaran Islam sejak dini pada anak-anak yang berada dalam pembinaan Jenissari, sehingga mereka sangat taat dan berhasrat untuk menyebarkan serta menegakkan tarekat Bektasyiyah.

Pada tahun 1581, ketika para anggota Jannisari diizinkan menikah, Janissari secara alami menjadi sesuatu yang diwariskan turun temurun

Pada pertengahan abad ke-17 M, ketika perluasa politik Utsmani terhenti dan pemerintah pusat melemah, kendali keamanan atas wilayah-wilayah imperium berangsur-angsur jatuh ke tangan Janissari.

Mereka mulai ikut serta dalam politik setempat, bergabung dengan serikat kerja, bekerja sama dengan ulama lokal, dan menggeluti bisnis. Setelah 1640 M., pembudakan atas anak-anak muda Kristen terhenti, sehingga secara otomatis Janissari baru diambil dari keturunan mereka sendiri atau orang-orang merdeka. Sejak saat itu Janissari menjadi sebuah status istimewa dan terpandang di kalangan Utsmani.

Ketika jumlah mereka bertambah, masalah upah (sering ditunggak karena melemahnya perekonomian) mendorong mereka untuk memberontak, bahkan terhadap para sultan.

Pada masa itu, Janissari menguasai situasi politik, sehingga sering kali memveto kebikjasanaan kerajaan yang tidak mereka setujui, bahkan memaksakan pengaruh besar di lingkungan politik. Tidak jarang mereka mendikte pergantian perdana menteri, atau mempertahankan kedudukan seorang pejabat tinggi. Kekuatan politik Janissari pun menyebabkan praktik suap dalam pemilihan pejabat istana tidak terhindarkan.

Selain itu, Janissari juga menjalin kerjasama dengan para ulama lokal yang khawatir terhadap usaha-usaha pembaharuan di kerajaan. Salah satu contohnya, adalah usaha Sultan Salim III yang ingin melakukan pembaharuan, di antaranya militer. Sebelumnya usahanya berhasil, ia telah dijatuhkan dan dibunuh oleh Janissari.

Pembubaran Janissari

Pada masa Sultan Mustafa IV, berlangsung pemberontakan hebat yang dilakukan oleh Jannisari. Pemberontakan tersebut membantai seluruh keluarga kerajaan, termasuk sultan. Pada pemberontakan ini Mahmud II sempat meloloskan diri dan kemudian berhasil naik takhta. Dalam pemerintahannya, Sultan Mahmud II memprioritaskan pada usaha pembentukan satu korps tentara baru yang disebut Muallem Eshkinji.

Pada tahun 1826 M., Janissari yang tidak senang dengan pembentukan korps tentara baru itu, mengadakan pemberontakan selama beberapa hari. Di sisi lain, Sultan melakukan perlawanan dengan dahsyat sambil membujuk ulama agar mau mendukung gerakan pembasmian Jannisari.

Atas restu Mufti Besar Kerajaan Utsmani, Sultan Mahmud II mengeluarkan perintah untuk mengepung dan selanjutnya menghancurkan Jannisari. Markas mereka dihancurkan oleh pasukan yang setia, panji-panji perang mereka diangkat, dan dalam suasana perpecahan anggota-anggota Janissari yang masih melawan dibunuh.

Sementara itu, Tarekat Bektasyi yang selama ini menjadi mitra setia Janissari dibubarkan. Pengaruh Janissari punah tanpa sisa pada tahun 1831, setelah Sultan Mahmud II menghapus sistem feudal, suatu peraturan mengenai penguasaan tanah yang selama ini hanya menguntungkan pihak Janissari. Pembubaran Janissari dianggap sebagai peristiwa yangi sangat penting bagi perkembangan Utsmani, karena menjadi salah satu penanda awal bagi modernisasi Utsmani.

 

Bandung , 27 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani

 

Back to Article

Donasi Yuk
1