Jilbab Kristen dan Yahudi

jilbab kristen dan yahudi

oleh Herri Permana

Jilbab adalah tudung kepala yang digunakan oleh para waum wanita yang mana bertujuan untuk menutupi kepala dan rambutnya. Penggunaan jilbab sendiri identik dengan wanita yang beragama muslim, di Negara yang memiliki keberagaman agama di dalamnya seperti Indonesia pemandangan dimana banyaknya wanita terutama kaum Muslim mengenakan jilbab bukan lagi hal yang aneh. Tapi sebenarnya ada tradisi jilbab kristen dan yahudi.

Sebahagian orang mengklaim bahwa tradisi jilbab itu “eksklusif Islam.” Karena “gagal paham” menganggap atau bahkan berkeyakinan bahwa jilbab adalah “properti” umat Islam belaka, maka tidak jarang mereka sering sensi . ngamuk, dan marah  kalau melihat non-Muslim memakai jilbab seraya menuduh mereka telah melecehkan dan menghina Islam. Atau, jika tidak, mereka menganggap kaum non-Muslimah yang berjilbab “sudah mendapat hidayah”.

Dalam konteks sejarah, tradisi jilbab itu sudah ada jauh sebelum Islam lahir di Mekah. Tradisi berjilbab ini, misalnya, sudah dipraktekkan oleh masyarakat Assyria kuno ribuan tahun sebelum Islam lahir di abad ke-6/7 M. Di kemudian hari, umat Yahudi dan Kristen melanjutkan tradisi ini seperti disebutkan dalam berbagai kitab suci mereka.

Belakangan, islam pun mengikuti tradisi ini . Dalam sejarahnya, peradaban Byzantium dan Persia-lah yang memperkenalkan tradisi jilbab ini ke komunitas Arab. Jika kini kita melihat banyak umat Kristen dan Yahudi yang tidak berjilbab itu semata-mata lantaran proses sejarah dimana kedua agama ini sudah lama mengalami “proses pembaratan”, sesuatu yang tidak dialami oleh Islam.

Karena tradisi jilbab ini juga menjadi bagian dari sejarah, tradisi, dan kebudayaan umat Kristen dan Yahudi, maka tidak mengherankan jika ada sejumlah kelompok agama Kristen dan Yahudi masa kini yang masih memelihara dan mempraktekkan tradisi jilbab ini seperti komunitas Kristen / Katolik Ortodoks di berbagai negara, belum termasuk kaum perempuan Arab Kristen di Timur Tengah seperti Lebanon, Suriah, Iraq, Palestina, Mesir, Yordania, dlsb. Foto di bawah ini hanyalah sekelumit contoh dari penampilan kaum perempuan Kristen di Irak yang tidak hanya berjilbab tetapi juga sepertinya sambil menenteng Kitab Injil berbahasa Arab.

Begitu pula, komunitas Yahudi juga banyak yang berjilbab (bahkan berniqab / berburqa seperti kaum Muslimah Saudi atau Qatar) seperti kelompok Sekte Burqa Heradi di Israel misalnya. Mereka menyebutnya “frumka” yang diperkenalkan oleh Bruria Keren, seorang tokoh agama Israel yang mengklaim bahwa tradisi jilbab itu aslinya dari Yahudi, dan karena itu ia mengkampanyekan perempuan Yahudi untuk berjilbab. Selain komunitas Yahudi Heradi, juga ada sekte Yahudi Lev Tahor di Quebec, Kanada (seperti foto di bawah ini) yang mengajarkan dan mempraktekkan tradisi jilbab. Silakan diperhatikan dengan baik dan seksama tata-busana dari “kakak pertama” Yahudi dan “kakak kedua” Kristen ini.

Tradisi Jilbab Kristen dan Yahudi

Jilbab di Kalangan Yahudi

Sebagian wanita Yahudi sampai saat ini masih memakai jilbab, baik ketika ibadah maupun ketika melakukan kegiatan sosial. Berjilbab bagi kaum wanita Yahudi merupakan kewajiban agama. Talmud Yahudi menyatakan: Apabila seorang wanita melanggar syariat Talmud, seperti keluar ke tengah-tengah masyarakat tanpa mengenakan kerudung atau berceloteh di jalan umum atau asyik mengobrol bersama laki-laki dari kelas apa pun, atau bersuara keras di rumahnya sehingga terdengar oleh tetangga-tetangganya, maka dalam kedaan seperti itu suaminya boleh menceraikannya tanpa membayar mahar padanya.

Menachem M. Brayer menyatakan bahwa kebiasaan wanitawanita Yahudi untuk mengenakan kerudung apabila keluar ke tempat umum bahkan kadang-kadang sampai menutup seluruh wajah, dengan hanya meninggalkan satu mata untuk melihat. Dalam hukum Yahudi, menurut Brayer, laki-laki yang membiarkan rambut istrinya kelihatan adalah perbuatan terkutuk. Dalam tradisi Yahudi juga diyakini bahwa wanita yang memperlihatkan rambutnya untuk memamerkan diri akan membawa kerniskinan.

Jilbab yang dipakai oleh kaum wanita Yahudi bukan saja sebagai syariat yang harus ditaati, namun juga sebagai lambang kemewahan, kewibawaan, dan mahalnya harga wanita yang suci, serta menunjukkan status sosial yang terhormat.

Jilbab yang dipraktekkan oleh kaum wanita Yahudi tersebut masih bertahan sampai saat ini- bahkan sebahagian wanita yahudi yang berada di Eropa masih mempertahankan pemakaian jilbab sampai abad ke-19 ketika kehidupan wanita sudah mulai bercampur dengan kebudayaan sekuler.

Wanita Yahudi yang ada di Timur Tengah masih banyak yang  menggunakan jilbabnya dikala mau keluar rumah maupun beribadah kepada Tuhan di Sinagoge. Berarti syariat jilbab masih dipraktekkan dikalangan kaum wanita Yahudi sebagai ketaatan kepada aturan syariat Talmud dan hukum Rabi Yahudi.

Jilbab di Kalangan Kristen

Berjilbab dalam tradisi Kristen tidak jauh berbeda dengan tradisi Yahudi. Wanita-wanita di sekitar Yesus Kristus berjilbab atau berkerudung sesuai dengan praktek wanita-wanita di sekitar para Nabi terdahulu. Pakaian mereka longgar dan menutupi tubuh mereka sepenuhnya. Mereka juga berjilbab untuk menutupi rambutnya.

Hal itu berarti bahwa wanita-wanita Kristen yang berjilbab merupakan tanda ketaatan kepada Tuhan. Tradisi berjilbab ini bahkan sudah lama dipraktekkan oleh para Biarawati Katolik selama ratusan tahun bahkan sampai kini masih diberlakuka

Menutup ajaran kristen menutup rambut harus dilakukan oleh wanita karena untuk menjaga agar rambutnya yang panjang tidak terlihat apalagi ketika berdoa kepada Allah. Dalam 1 koristus 11 : 4-6 mengatakan “ tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung , menghina kepalanya.  Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya.

Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya”. Kenapa hanya kaum wanita saja yang harus menggunakan tudung kepala dan bagi kaum pria jika hal ini dilakukan adalah penghinaan? Dalam ajaran kristen ini berkaitan dengan  posisi antara Allah, pria dan wanita. Allah menciptakan laki-laki terlebih dahulu dan perempuan kemudian guna menemani Adam di taman eden agar tidak merasa sendiri.  Kepala dari tiap laki-laki ialah Kristus dan kepala dari perempuan adalah laki-laki serta kepala dari Kristus adalah Allah sendiri, oleh karena itu wanita perlu menggunakan tudung sebagai penghormatan atas kedudukan laki-laki dan Kristus yang dikepalai oleh Allah.

Jadi kalau seorang wanita pada waktu berdoa atau pada waktu menyampaikan berita dari Allah di hadapan banyak orang, tidak memakai tutup kepala, maka wanita itu menghina suaminya yang menjadi kepala atas dirinya. Itu sama saja seolah-olah kepala wanita itu sudah di cukur.

Jilbab menurut Kristen juga dijelaskan dalam 1 Korintus 11 : 13-15 yakni “Pertimbangkanlah sendiri: patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung? Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki jika ia berambut panjang, tetapi bahwa adalah kehormatan bagi perempuan jika ia berambut panjang? Sebab rambut diberikan kepada perempuan untuk menjadi penudung.

Menurut St. Paulus, menutup kepala bagi wanita itu sebagai simbol otoritas laki-laki yang merupakan bayangan clan keagungan Tuhan, karena wanita diciptakan dari laki-laki dan untuk kepentingan laki-laki pula.

Begitu pula St. Tertullian menyatakan bahwa wanita muda harus memakai kerudung ketika ia mau pergi ke jalan. Oleh karenanya, wanita diwajibkan untuk memakai jilbab ketika di Gereja clan ketika berada di antara orang-orang yang tidak dikenal.

Dalam kaitan ini, Abu Ameenah Bilal Philips menegaskan bahwa dalam kanon Gereja Katolik terdapat artikel hukum yang mewajibkan wanita untuk menutup kepala mereka saat berada di Gereja. Bahkan sekte-sekte Kristen, seperti kaum Amish clan Mennonite memelihara kerudung bagi kaum wanitanya hingga saat ini.

Namun wanita Kristen yang berada di Barat atau di Eropa, atau juga di Indonesia sudah menanggalkan jilbabnya. Bahkan saat datang ke Gereja pada setiap hari minggu tidak terlihat jemaat wanitanya memakai jilbab atau kerudung.

Berjilbab dalam Kristen temyata sudah dipraktekkan oleh Ibu Yesus Kristus atau Bunda Maria, seperti terlihat dalam gambar-gambar Bunda Maria yang memakai jilbab. St. Paulus menekankan kepada wanita Kristen untuk berjilbab karena termasuk wanita yang mulia dan terhormat. Apalagi Bunda Maria sebagai ibu Yesus yang suci clan dimuliakan Tuhan.

Walaupun St. Paulus clan St. Tertullian sama-sama menegaskan kepada jemaat Kristen, khususnya bagi kaum wanita untuk selalu memakai jilbab di saat beribadah, datang ke Gereja, ketika bepergian maupun yang akan menyampaikan berita dari Tuhan. Namun nyatanya, kaum wanita Kristen lebih banyak terpengaruh dengan kebudayaan Romawi dan Yunani yang sudah mengakar pada kehidupan di dunia Barat yang tidak menghiraukan kewajiban berjilbab, karena berjilbab dianggap akan menghambat kemajuan dan kebebasan.

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

 

Donasi Yuk
1