Sejarah Panti Asuhan di Indonesia

sejarah panti asuhan

Oleh Herri Permana

 

Sejarah Panti Asuhan di Indonesia pertama kali tercatat ketika Jan Pieterzoon Coen, pendiri kota Batavia (1619), menyetuskan gagasan untuk mengisi kekosongan kota agar agar keluarga Belanda banyak berimigrasi ke Batavia. Mereka, kata Coen, dalam suratnya kepada Heren XII (penguasa tertinggi VOC di Belanda) hendaknya disertakan 400-500 anak laki-laki dan perempuan berumur 10-12 tahun yang diambil dari semua rumah yatim piatu di Verenigde Provincien, dengan perbandingan antara laki dan perempuan 2:1. Mereka kemudian ditempatkan di Balai Kota (Studhuis), yang kini menjadi Museum Sejarah Jakarta .

Panti Asuhan yang pertama kali tercatat dalam sejarah Indonesia adalah Parapattan  Orphan Asylum yang didirikan   oleh   Walter   Henry   Medhurst,   seorang   berkebangsaan   Inggris yang prihatin melihat anak-anak Indo-Eropa yang terlantar. Anak-anak ini merupakan buah pernikahan antara pria pendatang dari Eropa dengan wanita Indonesia yang  tidak  diakui.  Karena  mereka tidak  diakui  oleh  ayah  Eropa  dan  diacuhkan  oleh  ibunya, akhirnya mereka terlantar dan hanya hidup dengan mengemis .   Panti   Asuhan Parapattan  ini  berdiri  pada  tanggal  17  Oktober  1832.  Pendirian  panti asuhan ini  atas  restu Gubernur Jendral Johanes Van Den Bosch. Setelah diakui beberapa bulan kemudian, tempat tersebut  berubah  menjadi  yayasan  yang  berlokasi  di Parapattan  Laan,  Batavia  (sekarang dikenal  Jl.  Parapattan,  Kwitang,  Jakarta  Pusat)  dan  berubah  nama  menjadi  The  Parapattan Orphan Asylum

Di Batavia juga tercatat penah ada panti asuhan yang dikelola Dewan Diakon Gereja Reformasi. Menurut catatan Adolf Heuken dalam Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (2016), setelah membeli bangunan yang pernah dikenal sebagai Gedung Arsip di Jalan Gajah Mada dari Leendert Miero, gedung itu dikelola gereja sebagai panti asuhan sejak 1844 hingga 1901. Menurut Philibert Dabry, Pupillenkorps kebanyakan dihuni anak-anak serdadu berdarah Indo hasil kawin silang dengan perempuan-perempuan pribumi. Mereka hidup layaknya serdadu. Tiap bulan dapat tunjangan 25 gulden. Jika sudah 19 tahun mereka bisa masuk jadi serdadu KNIL. Kehidupan mereka tak jauh beda dengan anak-anak kolong di tangsi-tangsi KNIL lainnya.

Th Stevens dalam Tarekat Mason Bebas dan masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia (2004), menceritakan bahwa pada tahun 1854 ada panti asuhan Djati Gesticht (Lembaga Djati). Pendirinya adalah Emmanuel Francis yang pernah menjadi Direktur De Javaasche Bank . Panti  asuhan  tersebut  diperuntukan  bagi  anak-anak  keturunan Eropa yang terlantar untuk dididik agar menjadi warga yang berguna. Mereka umumnya adalah anak-anak  prajurit  yang  ditelantarkan  orang  tuanya, hidup  berkelana  dantidak  jarang melakukan   kejahatan.   Disaat   yang   sama,pemerintahmulai   menyediakansubsidi   dan membangun wisma-wisma untuk mengurangi angka kejahatan dan menyelamatkan kehidupan mereka.

Menurut Philibert Dabry de Thiersant seperti dikutip dalam buku KNIL: Perang Kolonial di Nusantara dalam Catatan Perancis (2016), Sejarah Panti Asuhan militer pertama di Gombong, sebuah kota tangsi militer KNIL dimana sejak 1848 berdiri panti Pupillenkorps.

Panti asuhan bagi anak-anak serdadu Belanda lain  didirikan oleh seorang misionaris Johannes van de Steur di Magelang yang merupakan kota tangsi KNIL . Sebagai misionaris, Johannes melayani kebutuhan rohani serdadu-serdadu KNIL itu. Suatu hari seorang serdadu mabuk menemuinya dan menceritakan tentang meninggalnya seorang sersan yang meninggalkan empat orang anak dan seorang perempuan pribumi.

Serdadu itu menekan Johannes, bahwa jika ia betul-betul taat beragama, maka ia harus memperlihatkannya dengan bersikap pada situasi anak yatim itu. Johannes tak langsung terbakar oleh kata-kata serdadu mabuk itu. Ia tetap bersikap tenang. Kebijaksanaan ia perlihatkan kepada serdadu mabuk itu. “Tenangkan dirimu dan bawa aku kesana,” kata Johannes. Setelah menemui anak dan perempuan itu, keesokan harinya Johannes sudah menyiapkan rumah bambu untuk ditempati. Dan dalam dua bulan, isi rumah bambu itu bertambah menjadi 14 orang. Sejak 1893 itu, berdirilah panti asuhan yang dinamakan Orange-Nassau di Magelang dimana isinya adalah anak-anak serdadu yang tak jelas orang tuanya. Setelah 10 tahun, pada 1903, jumlah anak di panti asuhan mencapai 350 anak.

tidurSejarah Panti asuhan Katholik  diawali dengan surat menyurat antara Mgr. Vrancken dengan Suster Ursulin di Sittard (Belanda) untuk  memulai pendidikan puteri di Batavia yang pada masa itu hampir tidak ada. Pada 1 Agustus 1856 sekolah Ursulin pertama dibuka di Nordwijk, kini Jl. Juanda di seberang Istana Negara. Setahun sebelumnya, Pater H. van der Grinten, pastor kepala Katedral telah mengundang beberapa tokoh awam untuk mendirikan Vereeniging van de H. Vincentius a Paulo (Yayasan S. Vincentius dari Paul) guna memelihara semangat cinta kasih dengan mengamalkan tugas-tugas Kristiani dan perbuatan amal

Mula-mula semua berjalan serba sederhana, dimana sebagian anak dititipkan pada keluarga Katolik yang diberi uang imbalan jika perlu. Baru pada 1 April 1862 disewa sebuah rumah untuk anak-anak perempuan di Bazaar Baroe (sekarang Pasar Baru) yang ditempati 25 anak. Belum dua tahun berlangsung tidak ada uang untuk menyewa. Suster Ursulin kemudian  menawarkan jalan keluar para Suster menerima 24 anak puteri di rumah mereka Kleine Klooster di Jl. Pos 2, kini Biara St. Ursula.

Akan tetapi rumah ini pada tahun 1871 terbakar habis dan anak-anak terpaksa hidup di rumah-rumah bambu sampai pada 1885 dibangun rumah untuk 80 anak.Pada tahun 1910 sebidang tanah luas di Jl. Kramat Raya 134 dibeli oleh Vincentius untuk membangun rumah penampungan anak. Disusul lima tahun kemudian dibuat bangunan yang lebih modern yang dirancang dan dibangun oleh Firma Hulswit-Fermon-Cuypers yang merancang dan mendirikan banyak gedung untuk Gereja. Bangunan baru itu menjadi asrama anak laki-laki, anak perempuan dipindahkan dari Jl. Pos bersama dengan delapan suster Ursulin ke Kramat dan tinggal di bagian belakang.

Pada tahun 1938 Gedung di Jl. Kramat semakin penuh dan sempit. Maka dibuka rumah baru yaitu Panti Asuhan Vincentius Puteri di Bidara Cina, kini Jl. Otto Iskandardinata 76. Gedung bagus ini dirancang oleh arsitek ternama Th. Van Oyen, yang juga merancang Gereja Theresia Menteng (1934).

Panti Asuhan Katholik lain berdiri pada 1893, di Gang Kwini (Jalan Kwini), Pastor van Santen yang Katolik membuka panti asuhan St Joseph. Di Jakarta, selain St Joseph dari misionaris Katolik, ada juga panti asuhan St Vincentius. Menurut Laporan Koloniaal Verslag van Nederlandsch Oost Indische 1895, seperti dikutip buku Suka Duka di Djawa Tempo Doeloe (2013) susunan Oliver Johannes Raaf, di panti asuhan St Vincentius pada 1894 tinggal 78 putri dan 31 putra.

Sejarah Panti Asuhan Islam

Sejarah Panti Asuhan Islam di Indonesia dimulai pada tahun 1915 Muhammadiyah majlis  PKO (Penolong Kesengsaraan Oemoem) (yang tugas pokoknya adalah  pengelolaan  lembaga-lembaga  sosial  Muhammadiyah  termasuk  penampungan  dan penyantunan terhadap anak yatim dan terlantar.

Setelah berdirinya PKO, kemudian Muhammadiyah merealisasikan  ide  dengan  mendirikan  rumah  yatim  di  Yogyakarta  dibawah  Aisyiyah  enam tahun kemudian.Pada tahun 1921, Panti Asuhan Yatim Aisyiyah Yogyakarta menjadi panti asuhan tertua di Indonesia yang didirikan olehjilbab pimpinan pusat Muhammadiyah (dahulu Hoofbestuur) yaitu KH. Ahmad Dahlan.

Panti Asuhan Aisyiyah mengasuh dan menyantuni anak-anak yatim piatu putra dan putri. Pada awal berdiri, sistem pengasuhan yang dilakukan oleh Muhammadiyah adalah dengan  mewajibkan setiap  pengurus  atau  anggota  Muhammadiyah,  untuk mengasuh  dan mendidik beberapa anak asuh di dalam rumah mereka masing-masing.

Kemudian pada tahun 1928, ketika Muhammadiyah dibawah kepemimpinan K.H. Ibrahim, panti asuhan dilingkungan Muhammadiyah dibagi menjadi dua bagian yaitu ada yang khusus mengasuh  anak-anak  yatim putra  dan  khusu smengasuh  anak-anak  yatim putri.

Dalam perkembangan selanjutnya, panti asuhan khusus putri diserahkan kepada Aisyiyah (Organisasi Wanita Muhammadiyah), sedangkan khusus putra ditangani oleh Muhammadiyah.Sehingga nama  masing-masing  menjadi  Panti  Asuhan  Yatim  Putri  Aisyiyah  dan  Panti  Asuhan  Yatim Putra Muhammadiyah.

Setelah  pendirian  Panti  Asuhan  Yatim  Putri  Aisiyah  dan  Yatim  Putra  Muhammadiyah, pendirian  rumah-rumah  yatim  semakin  berkembang  tidak  hanya  di  Yogyakarta,  tetapi  luar Yogyakarta  sesuai  dengan  perkembangan  Muhammadiyah.

Di  Surakarta  pada  tahun  1930, Muhammadiyah  mendirikan  Panti  Asuhan  Keluarga  yatim  Muhammadiyah  (PAKYM)  yang diprakarsai oleh K.H Muhammad Edris Abdussalam,yang pada saat itu menjadi pemuka muda Muhammadiyah.

Dalam waktu hampir bersamaan, yaitu pada tahun 1931,berdiri pula dua panti asuhan Islam yaitu Roemah  Piatoe  Muslimin yang  didirikan  oleh  Siti  Zahara  Gunawan yang sekarang berada di di Kramat Raya No. 11, dekat proyek Senen dan  panti  asuhan Daaroel Aitam yang diprakarsai oleh sejumlah habaib dan kyai di Batavia yang sekarang berlokasi di Jl KH Mas Mansyur, dekat proyek Tanah Abang.. Pendirian panti ini dilatar belakangi  oleh  keadaan  anak  yatim  yang  tidak  dipelihara  oleh  keluarganya  bahkan hartanya  diambil  oleh  pemerintah  Belanda.

Selain  itu,  banyak  terjadi  poligami secara  diam-diam  hingga  akhirnya  melahirkan  anak-anak  dari istri  kedua  dan  tidak  diakui  oleh  negara. Kedua  panti  asuhan  tersebut  didirikan  khusus  untuk  menampung  anak-anak  yang  beragama Islam.

 

Paska Kemerdekaan

Setelah  kemerdekaan,  beberapa  panti  asuhan  di  Indonesia diambil alih dan  dikelola  oleh  negara.  Salah satunya  panti  asuhan  Parapattan  Orphan Asylum  yang  sebelumnya  dikelola  oleh  orang Inggris. Ketika Inggris hengkang dari Bengkulu dan menukarnya dengan Singapura, panti asuhan ini berubah nama menjadi Parapattan Weezen Gesticht

Oleh Presiden Sukarno, pada 1956, panti asuhan (yang kemudian diberi nama Panti Asuhan Parapattan) dipindah ke Jl Veteran. Gedungnya kemudian dijadikan kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).Pada masa Presiden Soeharto, dipindahkan lagi ke Jl Panti Asuhan, di Kebon Nanas, Cawang, Jakarta Timur.

Saat ini Panti/Balai Kesejahteraan Anak yang dikelola pemerintah pusat  ada 9 buah sementara yang yang dikelola oleh Pemda Tk I dan II mencapai 88 buah, sehingga penanganan anak-anak yatim dan terlantar ini sebagian besar dilakukan oleh masyarakat secara mandiri sebanyak kurang lebih 8.000 an panti asuhan yang menampung sekitar 600.000 anak dimana sebagian lagi tidak terdata.

di Bandung Panti Asuhan Taman Harapan Muhammadiyah menjadi panti asuhan tertua. Panti Asuhan ini semula berada di Jalan Dewi Sartika. Beberapa kali panti asuhan itu berpindah lokasi karena berbagai alasan. Salah satunya pada 1937, panti asuhan pindah ke rumah Inggit Garnasih di Jalan Ciateul.Pada saat peristiwa Bandung Lautan Api, panti asuhan Taman Harapan pun menjadi saksi pergolakan yang ada. Saat itu, panti  berpindah ke kawasan Ciparay.

Pada tahun 1949 pindah ke Jalan Tegalega Barat dan pada 1956, panti hijrah ke Jalan Banteng. Terakhir, pada 1968, panti pindah ke Jalan Nilem sampai hari ini.Setelah melalui berbagai perkembangan, panti asuhan Taman Harapan bahkan kini berdiri di dua lokasi. Di Jalan Nilem, panti diperuntukkan untuk asrama putri. Sedangkan satu lagi berada di Jalan Beruang untuk asrama putra.

Jumlah total panti asuhan di Bandung ada sekitar 150 buah dimana hanya satu yang dikelola pemerintah dalam hal ini Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pada awalnya berdiri pada 11 Agustus 1946 semasa sisa – sisa pemerintahan Belanda,  Palang Merah Belanda mengumpulkan anak – anak gelandangan yang berada di kota Bandung dan ditampung di sebuah rumah yang diberi  nama “Rumah Penampungan Fakir Miskin“  terletak di Jl. Pasirkaliki No.93 Bandung, yang pelaksanaan kegiatannya berada di bawah naungan Kantor Sosial Keresidenan Priangan. Anak – anak tersebut sebagian besar adalah anak – anak yang kehilangan rumah dan orangtuanya pada waktu tentara Belanda menyerang Kota Bandung.

Rumah Penampungan Fakir Miskin pada tahun 1952 berubah  nama menjadi  Rumah Yatim Piatu Indonesia. Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1955,   Rumah Penampungan Fakir Miskin  berubah nama lagi menjadi Panti Asuhan  “Wisma Putra” dengan menempati rumah di Jalan Ciumbuleuit No.105 Bandung yang diresmikan oleh      Menteri Sosial Republik Indonesia, yaitu  Mulyadi Joyomartono pada tanggal  14 Mei 1958.

Kepala Dinas Provinsi Jawa Barat menerbitkan surat  Nomor 594.3/737/TU/1999  tanggal 8 Juli 1999 yang isinya memberi kuasa kepada  Kepala Panti untuk mengurus dan mengambil sertifikat hak pakai tanah dan bangunan yang dipergunakan PSAA “Wisma Putra“   di Jalan  Ciumbuleuit No 105 Bandung atas nama Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat cq. Dinas Sosial Provinsi  Jawa Barat.

Melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 29  tahun 2003 tentang Pembentukan Instalasi Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Sosial Provinsi   Jawa Barat, nomenklatur  Panti Sosial Asuhan Anak  “Wisma Putra” berubah menjadi  Instalasi Panti Sosial Asuhan Anak “Wisma Putra”  Bandung.

 

Bandung , 04 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejateraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1