Seni Hadrah

seni hadrah

 

 

Oelh : Herri Permana

 

Seni hadrah merupakan seni musik bernafaskan Islam yang saat ini banyak dimainkan pada saat memperingati hari besar Islam salah satunya disaat Isra Mi’raj. Pada sejumlah kota yang terletak di Pulau Jawa hadrah dipertunjukan pada tingkatan majelis taklim, maupun pada tingkat kelurahan. Bahkan di kota Solo terdapat festival tahunan yang mempertunjukan seni hadrah ini. Untuk wilayah yang ada di Jawa, terlebih pada bagian Jawa Timur, Hadrah lebih dikenal atau populer dengan sebutan terbangan, Disebut begitu karena Hadrah dimainkan dengan menggunakn alat musik rebana yang disebut juga sebagai terbangan.

 

marawisTerbangan sendiri merupakan suatu alat musik rebana yang dimana tatacara untuk dapat dimainkannya adalah harus secara bersamaan pada sebuah kelompok yang telah dibentuk, Di mana setiap personilnya membunyikan rebana dengan cara dipukul. Rebana sendiri juga memiliki ukuran yang bervariasi. Pada saat dimainkannya alat musik rebana, para personil terbangan atau hadrah akan melantunkan sholawat nabi secara bersama – sama.

 

Seni terbangan atau hadrah bagi kalangan masyarakat Jawa memilikj kaitan yang erat dengan sejarah perkembangan penyiaran dakwah Agama Islam yang dulunya telah dilakukan oleh para  Wali Songo. Menurut cerita atau rumor yang telah banyak beredar dan tidak asing ditelinga masyarakat Indonesia, Hadrah atau terbangan digunakan guna memperkenalkan ajaran Agama Islam pada masyarakat. Dengan memanfaatkan atau menggunakan kesenian Islam yang bernama Hadrah maka dinilai pesan mengenai Agama Islam akan ebih cepat sampai sekaligus mudah untuk dipahami

 

Di Negara Indonesia sendiri terdapat sebuah organisasi yang bernama ISHARI yang merupakan (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia)

 

ISHARI adalah kelompok kesenian hadrah yang telah diperintis atau didirikan oleh K.H Abdurrahim yang berasal dari Pasuruan atas, Selanjutnya dengan begitu pesatnya perkembangan dari ISHARI, maka pada tahun 1959 K.H. Wahab Hasbullah membentuk sebuah tempat atau organisasi serta telah dideklarasikan oleh para tokoh dari ISHARI. Akan tetapi pada saat itu K.H Abdullah Wahab sudah berpulang atau wafat (almarhum) dan pada saat itu digantikan oleh putranya yaitu K.H Muhammad bin Abdurrahim dan mebentuk organisasi dari jamiyah menjadi ISHARI

 

Pergantian nama dari Jamiyah hadrah menjadi ISHARI memiliki tujuan utama yaitu untuk memberikan ruang bagi para jamiyah hadrah yang dari ke hari semakin banyak bermunculan sekaligus semakin poluler, Digunakannya kata REPUBLIK yang terdapat pada kata ISHARI atau disebut juga dengan Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia,  bertujuan utama untuk membentengi agar para  jamiyah ISHARI tidak dimasuki gerakan dari para komunis. Akan tetapi penggunaan kata Republik dalam ISHARI telah dihapuskan pada Musyawarah Nasional yang pertama yang disaat itu diselenggarakan di Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, Jawa timur pada tahun 1959. Disaat itu jugalah  ISHARI berkembang dan bertumbuh secara pesat dan telah melebarkan sayap dan tidak hanya di Jawa Timur saja

 

Disaat tahun 1961, atas pendapat ulama sekakigus masyahi dan  atas perintah dari  K.H Wahab Hasbullah. Pimpinan tertinggi PBNU pada waktu itu mengusulkan bahwa ISHARI sebagai  badan otonom Nahdatul Ulama (NU). Jamiyah akhirnya pada saat itu terstruktur dengan jelas, serta adsnya jenjang kepengurusan dari pusat, wilayah, cabang, anak dari cabang, ranting, dan anak rantik

 

Majelis Dalam ISHARI ( Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia )

 

terbanganMajelis yang terdapat dalam Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia sendiri telah terbagi menjadi dua yaitu Majelis Hadi serta Majelis Tanfidiyah. Dalam lika liku perjalanan yang telah dilalui,  ISHARI atau Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia telah mengalami banyak rintangan dan cobaan. Bahkan disaat awal perubahan, perpindahan nama dari jamiyah hadrah ke ISHARI penuh dengan permasalahan yang nyaris menyebabkan perpecahan bahkan disaat tahun 1959-1966 kegiatan tersebut pecah jadi dua bagian.

 

Tidak terlepas juga dengan yang dialamj oleh organisasi di Nahdatul Ulama (NU). Hadirnya ISHARI ini tak luput dari perubahan disaat muktamar NU yang ke 30, pada tahun 1999 yang diselenggarakan di Lirboyo. Pada masa itu ISHARI masuk dalampembinaan LSBNU. Disaat muktamar NU ke-31pada  tahun2004 yang diselenggarakan di Boyolali lalu dipindah menjadi organisasi di bawah naungan lembaga jamiyah akhirtariqah almutabarrah annadiyah. Di saat muktamar NU yanf ke-32 yang saat itu diselenggarakan di Makassar kalimat ISHARI justru hilang dari AD/ART. Sampai dengan  pada muktamar yang ke 33 yang pada saat itu di Jombang, Secara resmi ISHARI kembali pada Badan otonom NU

 

Sejarah Berdirinya ISHARI

 

ISHARI pada awal mula didirikannya memiliki nama yaitu Jam’iyyah Hadrah dimana merupakan sebuah kumpulan yang mempunyai kegiatan melakukan kesenian Rebana yang diiringi dengan bacaan sejarah kelahiran sekaligus perjuangan Nabi Muhammad Saw. Kombinasi antara Kitab Maulid Syaroful anam serta Kitab Diwan Al Hadroh dengan adanya paduan gerakan serta bunyian hasil dari keplok tangan yang teratur serta indah sehingga terpadu denganbunyi Rebana.

 

Merdunya suara dari sang pembawa Syair sahutan jawaban bacaan Selawat yang dilakukan oleh para peserta serta berbagai macam jenis gerakan yang merupakan tanda dari rasa Syukur atas kelahiran dari  Nabi Muhammad Saw. Jam’iyyah ini diperintis Oleh Hadrotus Syeikh KH. ABDURROKHIM Bin ABDUL HADI yang saat itu bertempatan di Pasuruan pada sekitaran tahun1918 – an. Beliau wafat pada saat Bulan Dzul Qo’dah Tahun 1370 H / 1952 M serta telah dimakamkan di Pemakaman yang berada di Belakang Masjid Jami’ Al – Anwar tepatnya di Kota Pasuruan.

 

Jenis-Jenis Hadrah

 

Di Indonesia sendiri terdapat beragam jenis Hadrah yang populer. Beragam jenis hadrah yang populer di Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut ini.

 

Hadrah Al – Banjari

 

marawisUntuk jenis pukulan yang terdapat pada Hadrah jenis yang satu ini terbilang sangat pelan didalam ketukannya. Hal tersebut terdengar pada ketukan dari pwmban dalam suatu syair atau lagu yang telah dilantukan oleh kelompok hadrah tersebut.

 

Hadrah Dema’an Atau Pekalongan

 

Hadrah Dema’an atau bisa disebut juga dengan Hadrah Pekalongan merupakan hadrah dengan ketukan yang lebih cepat apabila didengar dibandingkan dengan Hadrah jenis Al – Banjari, akan tetapi ketukan pada Hadrah yang satu ini tidak secepat ketukan yang ada pada jenis Hadrah Habsyi . Disamping dari hal tersebut, Hadrah jenis ini pada umumnya digunakan didalam perlombaan festival Hadrah yang ada pada Negara Indonesia.

 

Hadrah Habsyi

 

Didalam jenis Hadrah Habsyi, Pukulan yang dilakulan akan terdengar cepat apabila didengar, Faktor yang mempengaruhi hal tersebut yaitu karena adanya ritma lagu berirama cepat yang diiringi Hadrah Hansyi. Pada umumnya Hadrah jenis yang satu ini digunakan pada Majelis Maulid Nabi.

 

 

Bandung, 31 Januari 2023

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani, Panti Asuhan di Bandung

 

 

Back to Article

Donasi Yuk
1