Ponpes Tambakberas

ponpes tambakberas

oleh Herri Permana 

 

Ketika membicarakan mengenai sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, yang ada di Jombang seakan tidak ada habisnya. Awal mula atau asal muasal dari berdirinya ponpes tambakberas ini tidak lepas dari sosok tokoh yaitu, Kiai Abdus Salam atau sering disebut dan dikenal dengan Mbah Sechah, Beliaulah yang merupakan ulama pejuang saat terjadinya masa -masa perang yang saat itu berada di Jawa.

 

Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang juga telah berhasil melahirkan seorang pahlawan nasional, Beliau adalah KH Abdul Wahab Chasbullah atau dikenal juga dengan nama Mbah Wahab. KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan tokoh ulama besar sekaligus sebagai inisiator, pendiri dan penggerak Organisasi Nahdatul Ulama yang saat ini telah besar.

Sejarah Ponpes Tambakberas

Sama persis dengan apa yang telah tertulis di dalam salah satu buku dengan nama ‘Tambakberas, Menelisik Sejarah Memetik Uswah’ edisi ketiga yang disusun oleh Tim Sejarah ponpes Tambak beras, Bahwa tahun 1825 menjadi saksi nyata  mengenai titik awal sejarah bagi berdirinya Ponpes Tambakberas Jombang.

Di tahun tersebut, Seorang Panglima Perang Diponegoro yang Bernama Kiai Abdus Salam, berkunjung dibeberapa tempat yang ada diwilayah Jombang. Beliau mempunyai visi serta tujuan utama, yakni mencari lokasi atau tempat yang tepat untuk menyiarkan berdakwah. Kiai Abdus Salam adalah putra dari Syekh Abdul Jabar yang berasal dari Tuban. Dengan nasab nya ke atas yang mempunyai hubungan dengan Jaka Tingkir yang merupakan raja pertama kerajaan Pajang

 

Saat Pangeran Diponegoro tertangkap oleh para kompeni Belanda yang licik dan seiring meredamnya Perang Jawa, saat itu tahun 1830, Kiai Abdus Salam cenderung fokus mengelola hutan Gedang yang terdapat di Tambakberas timur untuk dijadikan sebagai basis pendidikan bidang agama untuk para santri, dengan tetap menerapkan pengajaran disiplin dilengkapi dengan ajaran untuk melawan belanda yang mempunyai sifat licik

 

Seiring dengan berjalannya waktu, Pada akhirnya hutan yang ada di Gedang berhasil  berkembang untuk menjadi suatu perkampungan, selain itu juga sekaligus menjadi padepokan atau serung disebut dengan istilah pondok, yang dikenal dengan nama Pondok Selawe (Dua Puluh Lima), nama itu diberkian karena hanya ada 25 santri yang tetap tinggal di padepokan tersebut.

 

santriSaat berkembangnya pondok pesantren ini,  Kiai Abdus Salam makukan pengamatan kepada  beberapa santrinya untuk bisa dijadikan menantu. Saat itu terdapat dua orang santri yang menjadi pilihan karena mempunyai kemampuan yang  lebih. Kedua santri tersebut bernama Usman dan Said.

 

Untuk santri bernama Usman dijodohkan dengan Layyinah yang merupakan  putri pertama dari Kiai Abdus Salam, sedangkan untuk santri yabg bernama Said dijodohkan dengan putri kedua Kiai Abdus Salam yaitu Fatimah.

 

Untuk pernikahan Usman dengan Layyinah, Mereka telah dikaruniai beberapa putra dan putri. Salah satu ada yang bernama Halimah, yang telah dijodohkan dengan Asy’ari (Kiai Asy’ari) yang kemudian menurunkan KH Hasyim Asy’ari (Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari).

 

Sedangkan untuk pernikahan Said (Kiai Said) dengan Fatimah juga dikaruniai beberapa putra dan putri yang salah satunya ada yang bernama Chasbullah (Kiai Chasbullah). Selepas peninggalan Kiai Abdus Salam, pondok pesantren tersebut lalu dikelola oleh Kiai Said dan Kiai Usman. “Setelah banyaknya santri yang berdatangan, Kiai Usman membimbing serta mengajarkan Ilmu Tarekat, Lalu untuk Kiai Said Beliwu mengajarkan Ilmu Syariat.

 

Proses perkembangan pada pesantren Kiai Usman kemudian berpindah tempat ke Desa Kapas yang ada di Kecamatan Peterongan di bawah bimbingan serta asuhan Kiai Abdulloh, Beliau juga merupakan salah satu menantu dari Mbah Usman, untuk sebagian lainnya pindah ke Desa Keras, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang di bawah bimbingan serta asuhan Kiai Asy’ari.

 

Lalu, untuk  pesantren yang dipimpin oleh Kiai Said telah dipindah ke sebelah barat dari Sungai Tambakberas yang mempunyai jarak beberapa ratus meter dari Pondok Selawe. Dengan sepeninggalan  Kiai Said, pesantren yang ada di barat Sungai Tambakberas ini selanjutnya dikelola oleh Kiai Chasbullah (Kiai Chasbullah Said).

 

Didalam pengembangan pada pesantren yang berada di sebelah barat sungai, Kiai Chasbullah mengelola dengan didampingi dengan istrinya yaitu Nyai Latifah yang merupakan putri dari Kiai Abdul Wahab yang berasal dari Tawangsari, Sepanjang, Sidoarjo.

Pernikahan Kiai Chasbullah dengan Nyai Latifah telah dikaruniai putra dan putri yaitu adalah Abdul Wahab atau KH Abdul Wahab Chasbullah, Abdul Chamid atau KH Abdul Chamid Chasbullah, Khodijah atau Nyai Khodijah/istri KH Bisri Syansuri, Denanyar, Abdurrochim atau KH Abdurrochim Chasbullah, Fatimah (istri KH Hasyim Idris dari Kapas), Sholihah (istri KH Abdul Muhsin, Lasem), Zuhriyyah, serta  Aminatur Rohiyyah.

 

Pada masa Kyai Chasbullah Said inilah  Masjid ponpes Tambakberas dibangun dan berdampingan dengan pondok induk. Saat masa Kiai Chasbullah Said juga, pondok pesantren ini lebih dikenal dengan nama Ponpes Tambakberas. Untuk Masjid Jami Tambakberas, pembangunannya yaitu sekitar tahun 1903 di saat massa Kiai Chasbullah Said.

 

Semangat perjuangan kemerdekaan bagi bangsa sangat terlihat jelas pada tulisan empat huruh Hijaiyah yang ada pada  menara Masjid Jami Tambakberas.

Huruh Hijaiyah tersebut yaitu, ha ra ta mim yang memiliki makna dan arti kemerdekaan yang sempurna yang telah dituliskan jauh sebelum Kemerdekaan tahun 1945.

 

“Pada bagian menara terdapat sebuah cerita yang menarik terdapat tulisan huruf arab yang mengandung makna dan arti kemerdekaan yang sempurna. Yang merupakan cita-cita yang ada sejak Mbah Chasbullah Said menginginkan kemerdekaan. Tulisan tersebut sengaja dibuat dengan huruf arab supaya tidak diketahui oleh para bangsa penjajah saat itu,” ucap KH Hasib Wahab.

 

Menurut KH Hasib Wahab, Masjid Jami’ Ponpes Bahrul Ulum juga merupakan saksi dari perjuangan para santri guna mewujudkan kemerdekaan bangsa jauh sebelum masa kemerdekaan 1945. “Serta menjadi salah satu saksi mengenai perjuangan ulama yang ada di  Tambakberas dalam melakukan pergerakan. Pada lingkungan sekitar dari  masjid ini terdapat selongsong mortir. Selongsong mortir tersebut merupakan bekas mortir yang sast itu telah dijatuhkan oleh bangsa penjajah yang sastnitu berada pada area pesantren. Selain itu, pada bagian selatan masjid, terdapat sebuah batu yang diginakan untuk menumbuk obat-obatan untuk mengobati para Pejuang Hisbullah yang cidera pada saat masa perang untuk kemerdekaan

 

Hingga saat ini, Masjid Jami’ Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas Jombang masih konsisten untuk mempertahankan serta menjaga keaslian dari segi aspek desain, mulai dari menara pada masjid, pilar penyangga, serta beberapa ornamen lainnya. Masjid ini hanya mengalami perluasan tempat saja, hal itu  karena jumlah jamaah yang semakin hari sakin bertambah. Terdapat juga teras atau sering dikenal dengan  seramb yang digunakani sebagai perluasan. Penggantian nama Ponpes Tambakberas menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas saat itu terjadi pada masa bimbingan atau asuhan KH Abdul Wahab Chasbullah.

 

Bandung , 03 Januari 2023

 

Penullis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

Back to Article

Donasi Yuk
1