Bangsa Viking dan Dunia Islam

bangsa viking

 

Oleh Herri Permana

 

Dari akhir abad kedelapan hingga kesebelas, periode yang kemudian dikenal sebagai Zaman Viking, Viking muncul entah dari mana untuk meneror, menghancurkan, dan menetap di sebagian besar Eropa.

Di Skandinavia sana, bangsa Vikingsebenarnya adalah petani, nelayan, pedagang, dan sejenisnya Ketika mereka mulai mengenal lautan dalam kelompok yang terdiri dari pemimpin klan dan kepala suku, ditemani oleh pengikut dan petualang mereka untuk mencari barang rampasan berubah menjadi perampok dan penjarah

Mereka mulai membakar, menjarah, dan membantai pelaut lain dalam skala besar yang membuat mereka mendapat julukan vikingr, yang berarti “bajak laut” dalam bahasa Skandinavia kontemporer.

Serangan terhadap biara Lindisfarne di lepas pantai Northumberland pada 793 Masehi menandai dimulainya Abad Viking. Bangsa Viking yang diperkirakan berasal dari Norwegia ini tidak menghancurkan biara sepenuhnya, akan tetapi sangat mengguncang dunia keagamaan Eropa.

Pemakaman Bangsa Viking
Pemakaman Bangsa Viking

Pasalnya, mereka sama sekali tidak menghormati institusi keagamaan seperti biara, yang sangat rentan dan tanpa penjagaan. Dua tahun kemudian, mereka lanjut menyerang biara di Pulau Skye di Hebrides dan Rathlin.

Selama beberapa dekade, daerah pesisir Kepulauan Inggris dan Eropa menjadi sasaran utama bangsa Viking. Mereka kemudian memanfaatkan konflik internal di kerajaan Eropa untuk memperluas aktivitasnya hingga ke pedalaman.

Bangsa Viking jug sering kali dibayar oleh pangeran yang terlibat perang saudara di kerajaan. Pada pertengahan abad ke-9, wilayah Irlandia, Skotlandia, dan Inggris menjadi target utama bagi bangsa Viking. Mereka tidak hanya menjarah, tetapi juga bermukim dan mendirikan kota perdagangan. Di tengah gencarnya serangan bangsa Viking, hanya Kerajaan Wessex yang mampu melawan.

Setelah meninggalkan Wessex, orang-orang Viking yang kebanyakan berasal dari Denmark memilih untuk menjadi petani atau pedagang dan membangun York di Inggris sebagai kota dagang terkemuka.

Viking menetap dan mendominasi Kepulauan Inggris, Normandia, Baltik, dan sebagian besar Rusia, Ukraina, dan Belarusia modern. Jangkauan mereka meluas ke luar Eropa, dan serangan mematikan mereka meneror Laut Mediterania dan Timur Tengah.

Selama abad ke-9, bangsa Viking aktif menjarah benua Eropa, seperti contohnya wilayah Nantes di Perancis, pada 842 Masehi. Setelah itu, mereka mulai menyerang kota-kota pedalaman seperti Paris, Limoges, Orleans, Tours, dan Nimes.

Pada 844, bangsa Viking menyerbu Seville dan menyerang Pisa pada 859 Masehi. Selain melalui penjarahan, bangsa Viking terkadang mendapatkan wilayah dari hasil kesepakatan dengan penguasa kerajaan. Pada akhir abad ke-10, orang-orang Viking mulai bergerak lebih jauh ke barat hingga mencapai Greenland.

Bahkan menurut sejarah Islandia, pemimpin bangsa Viking, Leif Eriksson, adalah orang Eropa pertama yang menemukan Amerika pada sekitar tahun 1000, jauh sebelum Christopher Columbus. Ia diduga mendirikan pemukiman di L’Anse aux Meadows, yang terletak di Newfoundland dan Labrador, Kanada.

Bagi banyak orang, Viking terkenal karena apa yang mereka lakukan di Inggris dan Eropa Barat, di mana warisan mereka bertahan hingga hari ini. Namun, kisah sukses Viking terbesar adalah apa yang mereka lakukan di Rusia.

 

“Salah satunya adalah Rurik, seorang kepala suku Viking yang menguasai kota Ladoga dekat Saint Petersburg saat ini, sekitar tahun 855 M. Dia kemudian membangun pemukiman bernama Holmgard dekat Novgorod, mendirikan Dinasti Rurik.

Keturunannya menaklukkan wilayah yang luas, wilayah dari Baltik ke Laut Hitam. Wilayah itu mencakup sebagian besar Ukraina modern, Belarusia, dan bagian barat Rusia Eropa.

 

Hubungan Viking Dengan Dunia Islam

Dalam sebuah makalah penelitian yang diterbitkan pada tanggal 23 Februari 2015, para arkeolog melihat bahwa penggalian seorang wanita yang tampaknya telah dikuburkan pada abad ke-9 memperlihatkan sebuah cincin perak dengan batu ungu. Perlu dicatat bahwa cincin itu sendiri ditemukan pada akhir abad ke-19, namun baru akhir-akhir ini sebuah prasasti Kufi Arab teridentifikasi.

Cincin wanita viking bertuliskan Allah
Cincin wanita Viking dengan lafadz Allah

Kata itu berbunyi sebagai “il-La-La” yang berarti “untuk” atau “kepada Allah (Tuhan)”. Meskipun pakaian wanita di dalam kuburan nampaknya tradisional Skandinavia, tubuhnya yang membusuk membuatnya sulit bagi para periset dan arkeolog untuk menentukan keyakinan dan etniknya. Saat ini cincinnya ada di The Swedish History Museum di Stockholm.

 

Arrmada Viking menjarah Lisbon, Seville, Cadiz dan Algeciras yang saat itu berada di bawah kekuasaan Emirat Cordova , selain itu mereka menyerang wilayah Asilah di Maroko. Sebagai pembalasan, pasukan Emir Cordoba menjebak armada Viking di Sungai Guadalquivir menghancurkan 30 kapal dan membunuh 1.000 Viking.

Sebagian besar dari 400 Viking yang di tangkap di eksekusi. Viking akan melakukan banyak serangan terhadap negara-negara Muslim dan Kristen di Semenanjung Iberia. Sebagian dari komunitas Viking kemudian menetap di tenggara Seville dan terkenal karena memasok keju ke Cordoba dan Seville.”

Ada juga berita penjarahan bangsa Viking di Neko, Kepulauan Balaearic, Pamplona dan Lisbon, seorang pengamat Muslim menyatakan, “al-Majus – Semoga Tuhan mengutuk mereka! – mereka menyerbu negara bagian kecil Nakur di Maroko dan menjarahnya. Mereka menawan semua penduduk kecuali mereka yang menyelamatkan hidup mereka dengan pertempuran.

Pada tahun 1041 M, ekspedisi Viking yang di pimpin; oleh Ingvar the Widefarer ke Kaukasus melawan negara-negara Muslim menghasilkan kekalahan yang sangat besar. Viking juga menemukan “Orang-orang Turki, dan terutama bangsa Khazars dan Bulgaria, kekuatan dominan di wilayah ini ketika Rus tiba. Teks-teks itu terutama menunjukkan betapa kuatnya bangsa Turki. Rus /Viking tidak bisa hanya mengayunkan pedang dan menguasai  mereka.

Akhirnya bangsa Viking di Timur Muslim lebih memilih untuk menjadi tentara bayaran di dalam pasukan merela , atau berdagang dengan komoditas berharga .Viking mungkin telah menjadi perampok di jalur perdagangan Eropa, tapi di ujung Timur Tengah mereka adalah pedagang .

Dalam ekspedisinya ke Timur di negara-negara yang dikuasai Muslim, seperti yang diperintah oleh Abbasiyah,  orang-orang Viking menemukan “pasar yang melampaui impian terliar mereka. Para pedagang Viking menggunakan sistem barter untuk memperdagangkan barang  , terutama dengan komoditas seperti bulu, madu, kulit, gading, ikan, budak dan komoditas lainnya.

Dalam catatan al-Mas’udi,; para pedagang dari Dunia Muslim sangat ingin “memiliki topi dan mantel yang terbuat dari rubah hitam, salah satu bulu yang paling berharga. Sebagai gantinya pedagang Viking membawa koin perak Abbasiyah dalam jumlah besar ke Skandinavia,  ribuan telah di temukan di Rusia dan Baltik,” seperti di lansir Timothy FH Allen, Joseph A. Tainter dan Thomas W. Hoekstra dalam buku mereka, “Supply-Side Sustainability.

Dan dari sini Bangsa Viking melihat lebih menguntungkan untuk berdagang dengan Kaum Muslimin di Timur daripada harus berperang dengan mereka. Dirham dan Dinar adalah salah satu mata uang yang paling kuat di masa itu, tidak berbeda dengan bagaimana Euro atau Dolar di anggap hari ini.

Ini juga dilihat dari penemuan koin King Offa di British Museum yang di ukir dengan; ‘Tidak ada Tuhan lain selain satu Tuhan. Dia tidak ada bandingannya,’ dan di sisi luar koin “Muhammad adalah Rasul Allah, yang mengutusnya dengan doktrin dan iman yang benar untuk menang atas setiap agama.

 

Bandung, 17 Januari 2023

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani, Panti Asuhan di Bandung.

 

Back to Article

Donasi Yuk
1