oleh : Herri Permana
Azmatkhan adalah salah satu marga Dzuriyat Nabi, (bahasa Arab: عظمات خان; Transliterasi: Aẓamāt Khān) al-Husaini, juga dieja Azmat Khan, al-Azhamatkhan atau al-Azhamat Chan (bahasa Urdu: عظمت خان) adalah salah satu marga komunitas Hadramaut yang banyak tersebar di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Nama Azmatkhan berasal dari penggabungan dua kata dalam bahasa Urdu, Azmat yang berarti mulia atau terhormat; dan Khan yang memiliki arti komandan, pemimpin, atau penguasa. Mereka merupakan keturunan dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Alawi Ammul Faqih, keturunan Husain bin Ali. Sayyid Abdul Malik berimigrasi dari Hadhramaut ke India pada abad ke-14 Masehi, lebih awal dari para imigran lain dari Hadhramaut
Karena Sayyid Abdul Malik berasal dari keluarga “Syarif” keturunan Imam Al Husain putra putra Sayyidatina Fathimah binti Rosulillah shollallohu ‘Alaihi Wa sallam, maka merekapun menambah kalimat “Azmat” sebelum “Khan” dalam bahasa Urdu India, “Azmat” sama dengan “Syarif”, yaitu “Mulia”, maka terbentuklah sebuah kalimat “Azmatkhan”. Ssma juga dengan gelar Syah itu artinya sayyid sperti Syah naqsyabandi pendiri Toriqoh Naqsyabandi
Sayyid Abdul Malik kemudian menikahi putri bangsawan Nasirabad dan mendapatkan gelar “Azmat Khan”. Gelar “Khan” diberikan oleh bangsawan Nasirabad agar ia dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain.
Sayyid Abdul Malik lahir di kota Qasam, Hadhramaut, sekitar tahun 574 Hijriah. Ia juga dikenal dengan gelar “Al-Muhajir Ilallah”, karena dia hijrah dari Hadhramaut ke Gujarat untuk berdakwah sebagaimana kakeknya, Sayyid Ahmad al-Muhajir yang hijrah dari Irak ke Hadhramaut untuk berdakwah.
Abdulloh Azmatkhan memiliki seorang putra bernama Ahmad Jalaluddin,dan beliau inilah yg menurunkan keluarga Azmatkhan di Indonesia melalui dua orang putra beliau, Sayyid Husain Jamaluddin Akbar dan Sulaiman Al Baghdadi, Sayyid Husain Jamaluddin biasa disebut juga Syaikh JUMADIL QUBRO
Nama aslinya adalah Husain, sedangkan Jamaluddin adalah gelar, sehingga nama beliau juga ditulis “Husain Jamaluddin” . Sayyid Husain memiliki saudara bernama Sayyid Sulaiman, beliau mendirikan sebuah kesultanan di Tailand.
Beliau dikenal dengan sebutan Sultan Sulaiman Al-Baghdadi, karena pernah tinggal lama di Baghdad. Nah, Sayyid Husain dan Sayyid Sulaiman inilah nenek moyang daripada keluarga Azmatkhan di Indonesia, setidaknya yg dapat ditemukan sampai sa’at ini.
Menurut Sayyid Salim bin Abdullah Asy-Syathiri Al-Husaini, guru besar dari Tarim, Yaman, keluarga Azmatkhan (yang merupakan leluhur Walisongo) adalah dari Qabilah Ba’Alawi gelombang pertama yang masuk di nusantara dalam rangka penyebaran Islam.
Karena sejarah panjang perkawinan silang yang ekstensif, terutama dengan bangsawan lokal, kebanyakan dari keturunan Azmatkhan secara fisik dan budaya tidak dapat dibedakan dari penduduk setempat. Tentu ini agak berbeda dengan marga habib yang umumnya menikah dengan keturunan nabi juga ( baca: syarifah ).
Di Indonesia, tidak jarang anggota keluarga Azmatkhan memiliki gelar kerajaan turun temurun seperti Raden, Tubagus, Masagus, Masayu, Kemas, atau Nyimas. Mereka mempertahankan identitas Indonesia dan keturunan Azmatkhan pada saat bersamaan, bahkan beberapa dari mereka tidak dapat melacak nenek moyang mereka lagi.
Dalam sejarah Asia Tenggara, keluarga Azmatkhan tercatat telah mendirikan beberapa kerajaan di Indonesia, serta menjadi raja di beberapa kerajaan di Asia Tenggara.
Di antara kerajaan-kerajaan yang didirikan oleh keluarga besar Azmatkhan adalah Kesultanan Banten, Kesultanan Palembang, Kesultanan Pajang, dan Kerajaan Sumedang Larang. Sedangkan di Kerajaan ada Champa, Kerajaan Pattani, Kesultanan Kelantan, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Demak, para keturunan Azmatkhan berhasil menduduki kursi pemerintahan sebagai raja atau sultan.
Untuk mencatat dan mempertahankan silsilah keluarga Azmatkhan, para habaib Azmatkhan sedunia mendirikan Lembaga Asyraf Azmatkhan Ahlulbait Internasional, sebuah organisasi nasab internasional yang bertujuan untuk mencatat silsilah setiap keturunan Muhammad datuk dari seluruh sayyid.
Tokoh terkenal dari kalangan keluarga Azmatkhan yang mewarnai sejarah Indonesia adalah Jamaluddin Akbar Azmatkhan Al Husaini dan keturunannya yang menjadi Wali Sanga. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang juga dikenal sebagai pendiri kota Surabaya, Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Qosim Azmatkhan (Sunan Drajad), Sayyid Ja’far Shadi Azmatkhan (Sunan Kudus), Maulana Ishaq Azmatkhan (Sunan Giri), Raden Said Azmatkhan (Sunan Kalijaga), Raden Umar Said Azmatkhan (Sunan Muria), Syarief Hidayatullah Azmatkhan (Sunan Gunung Djati), dan Maulana Hasanuddin (Raja Banten pertama)
Selain itu, ada juga Sri Susuhunan Abdurahman (Raja Palembang pertama), Pati Unus (Raja Demak yang kedua), Sayyid Fatahillah (pendiri kota Jakarta), Ahmad Dahlan Azmatkhan (pendiri Muhammadiyah), Hasyim Asy’ari (pendiri NU), Sayyid Alwi Azmatkhan (pemberi nama NU), dan pahlawan Nasional KHM Mansur dari nasab ibu
“Ikatan Keluarga Azmatkhan Al-Husaini Indonesia” ( IKAZHI)
Sa’at ini telah dibentuk ikatan keluarga keturunan Abdul Malik Azmatkhan yg diberi nama ” Ikatan Keluarga Azmatkhan Al-Husaini Indonesia” dan disingkat IKAZHI, atau “Robithoh Aaly Azmatkhan Al-Husaini Indonesia”.
IKAZHI didirikan dengan “Dewan Sederhana” di Madura pada tahun 2005, kemudian dikukuhkan dan diresmikan secara nasional di Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo pada tanggal 16 Syawal 1428/28 oktober 2007.
Selain dari keluarga keraton cirebon dan keluarga kesultanan Banten, IKAZHI juga telah menghasilkan cukup banyak data dan anggota dari berbagai daerah, diantaranya keluarga-keluarga keturunan
Sunan Cendono ( Kwanyar Bangkalan Madura)
keluarga Syaikh Kholil ( Bangkalan Madura)
keluarga Syaikh Batu Ampar ( Pamekasan Madura)
keluarga Kyai Jazuli Abdul Kabir ( Tattangoh Pamekasan Madura)
keluarga KH.As’ad Syamsul ‘Arifin ( Asembagus situbondo, jawa timur Poanakanya Hadrotusyaikh Hasyim Asy’ari)
keluarga KH Hasan Genggong (Probolinggo Jawa Timur)
keluarga KH Hamdani Siwalan Panji ( Sidoarjo Jawa Timur)
keluarga Kyai Mustaqim (Sukorejo Pasuruan Jawa Timur)
keluarga Kyai Muhammad Thoyyib ( Keramat Pasuruan)
keluarga keturunan Kyai A.Tholhah ( Mojokerto Jawa Timur)
keluarga KH Abdulloh Bendo ( kepanjen Malang Jawa Timur)
keluarga Pesantren An-Nur Bululawang ( Malang Jawa Timur)
keluarga K.H.M Ihya’ Ulumiddin ( Pesantren Al-Haromain Pujon Malang)
keluarga Syaikh Ahmad Mutamkkin ( Kajen Pati Jawa Tengah)
keluarga pesantren Sarang ( Jawa Tengah)
keluarga Kyai Asy’ari ( Kaliwungu Jawa Tengah)
keluarga Pesantren Buntet dan keluarga Pesantren Benda Kereb ( Cirebon Jawa Barat)
keluarga Pesantren Nurush- Shiddiq ( keturunan pangeran panjunan Cirebon)
keluarga keturunan Pangeran Jayakarta ( Kaum Jatinegara Jakarta)
Antara Robithoh Azmatkhan Dan Robithoh Alawiyah
Robithoh Alawiyah adalah ikatan keluarga Ahlul-bayt keturunan Al-Hasan dan Al-Husain putra Ali bin Abi Thalib dan Fathimah binti Rasulillah SAW. Robithoh Alawiyah sudah ada sejak masa khilafah Abbasiah, saat itu dikenal dengan istilah “Niqobah” dan penanggung-jawabnya disebut “Naqib”. Sayyid Isa (ayah Sayyid Ahmad Al-Muhajir) dan ayah beliau (Sayyid Muhammad bin Ali Al-‘Uradhi) termasuk yang bertanggung jawab atas Niqobah, makanya masing-masing mereka dijuluki An-Naqib.
Awalnya Robithoh Alawiyah merupakan lembaga resmi dibawah manajemen pemerintah karena berkaitan dengan masalah kuhumusul-khumus. Kini Robithoh Alawiyah telah menjadi ikatan keluarga yang mandiri dan lebih banyak bergerak dalam bidang koordinasi antar keluarga Alawiyyin. Di tiap negara dimana disitu terdapat Alawiyyin, disitu dibentuk perkumpulan Alawiyyin untuk menjalin silaturrahim, termasuk di Indonesia yang berpusat di Jakarta.
Sebagian orang menganggap bahwa sebagian perkumpulan Alawiyin ada yang saling tidak mengakui keabsahan nasab kelompok lain, baik antar kelompok dalam satu negara maupun lain negara. Maka perlu dipahami bahwa yang terjadi sebenarnya bukan tidak mengakui, melainkan tidak mengenal sehingga tidak bisa mengomentari. Hal ini sangatlah wajar, karena Alawiyyin berpencar ke penjuru dunia sejak belasan abad yang lalu.
Kalaupun memang benar ada kelompok yang menolak kelompok lain, seperti yang terjadi pada sebagian kelompok Alawiyyin Yordania yang tidak mengakui keabsahan nasab keluarga Ba’lawi (Hadhramaut), maka hal ini hanyalah suatu ketidakdewasaan yang terjadi pada sebuah kelompok kecil dan bukan mewakili cara berfikir ahlul-bayt pada umumnya. Apalagi masalah pengakuan nasab itu sudah dibahas oleh ulama fiqih dengan gamblang, bahwa ada aturan didalam mengaku dan menolak sebuah nasab.
Berkaitan dengan Robithoh Alawiyah, Robithoh Azmatkhan tidak termasuk dalam manajemen Robitoh Alawiyah, melainkan hanya membantu Robithoh Alawiyah didalam pendataan, karena sebenarnya pendataan keluarga Azmatkhan juga tugas Robithoh Alawiyah.
Dan didalam pendataan dan pengesahan nasab, Robithoh Azmatkhan memiliki standar yang berbeda dengan Robithoh Alawiyah, standarnya memiliki tiga istilah tingkatan.
Yang dimaksud merekomendasikan pada Robithoh Alawiyah adalah mengusahakan untuk mendapatkan pengesahan resmi sebagai ahlul-bayt yang mendapatkaan hak semisal wakaf Alawiyyin dan khumusul-khumus.
Dalam hal pengakuan sebagai keluarga, Robithoh Azmatkhan sama sekali tidak membedakan antara pemilik Slilsilah Shahih, Silsilah Hasan dan Silsilah Khu’ulah, semua berhak mendapat kartu anggota dengan ketentuan yang ditetapkan dan silsilahnya akan ditulis dalam kartu.
Selebihnya, untuk sementara Robithoh Azmatkhan menyarankan agar anggotanya tidak meminta apalagi menuntut pengesahan dari Robithoh Alawiyah. Apabila nasabnya benar maka kelak di akhirat Rasulullah SAW akan mengakuinya sebagai cucu, tidak kurang dari ahlil-bayt yang telah disahkan oleh Robithoh Alawiyah.
Bandung , 3 Desember 2022
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




