I’anah Tholibin sebuah Syarah Fathul Mu’in

i'anah tholibin

oleh Herri Permana

 

I’anah Tholibin merupakan kitab karangan dari tokoh besar Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatho ad-Dimyathi as-Syafi’I yang lebih terkenal dengan julukan al-Bakri. Kitab ini merupakan salah satu kitab yang sering menjadi rujukan utama bagi umat Islam yang sedang menempuh ilmu di  pesantren, dan merupakan rujukan utama bagi  pengikut mazhab Syafi’i yang ada di Indonesia khususnya

 

Kitab ini juga merupakan Hasyiyah dari kitab Fathul Mu’in karangan dari Syaikh Zainuddin Ahmad bin Abdul Aziz bin Zainuddin bin Ali bin Ahmad Al Ma’bari Al Malibari AlHindi (w 987H), Beliau merupakan Murid dari Asy Syaikh Ibnu Hajar Al-Haitamy (w 974H). Itulah alasan mengapa kitab ini diberi nama  I’anatuth Thalibin ‘ala Halli Alfazhil Fathil Mu’in.

 

Sesungguhnya kitab ini merupakan kitab yang mashyor, meskipun tergolong kitab yang muncul pada akhir yang lebih kurang berusia 130-an tahun. Kitab ini merupakan syarah dari Fath Al-Mu’in. Kedua kitab ini termasuk dalam kitab yang membahas mengenai ilmu fiqih dari Syafi’i yang paling banyak dipelajari dan dijadikan pedoman dalam memahami dan memu­tuskan beragam masalah pada hukum.

 

Didalam sebuah forum islam, yakni bahtsul-masail, kitab ini menjadi salah satu yang sangat sering dikutip nashnya. Kemashyoran kitab ini cukup merata di kalangan para umat islam yang merupakan penganut Madzhab Syafi’i di berbagai belahan dunia Islam termasuk di wilayah Indonesia.

 

Latar Belakang Penulisan Kitab

 

Dalam mengarang , penyusunan kitab ini berawal ketika beliau menjadi pengajar kitab syarah Fath al-Mu’in yang berada pada Masjidil Haram. Selama itu juga beliau mulai menulis catatan pinggir untuk dapqt mengujur atau mengetahui kedalaman makna pada kitab Fathul mu’in, yang merupakan kitab penting untuk diingat dan perlu diketahui sebagai pendekatan dalam memahaminya.

 

Beberapa sahabat meminta beliau agar mengumpulkan catatan itu dan melengkapinya untuk kemudian disusun dan dijadikan satu kitab (hasyiyah) yang pada akhirnya bisa lebih bermanfaat untuk kalangan umat islam secara luas.

 

Pada bagian akhir kitab I’anah Tholibin,  juga telah disebutkan, Kitab ini selesai ditulis hasyiah pada Hari Rabu ba’da Ashar, 27 Jumadil al-Tsani Tahun 1298 H. Kitab ini tergolong dalam fiqh mutaakhkhirin.  I’anah Tholibin sendiri mempunyai kelebihan sebagai fiqh mutakhkhirin yang lebih aktual dan kontekstual,  hal itu karena memuat ragam pendapat yang diusung ulama mutaakhkhirin yaitu Imam al-Nawawi, Ibnu Hajar dan banyak lainnya yang tentunya lebih ahli dalam mengakomodir kebutuhan penelaah akan rujukan yang variatif dan lebih efisien.

 

Rujukan yang digunakan dalam mengarang kitab ini adalah kitab-kitab fiqh Syafi’i mutaakhkhirin, yaitu Tuhfah al-Muhtaj, Fath al-Jawad Syarh al-Irsyad, al-Nihayah, Syarh al-Raudh, Syarh al-Manhaj, Hawasyi Ibnu al-Qasim, Hawasyi Syekh ‘Ali Syibran al-Malusi, Hawasyi al-Bujairumy dan lainnya sebagaimana beliau jelaskan dalam pembukaan pada kitab ini.

 

Biografi Pengarang Kitab  I’anah Tholibin

 

Dalam pesantren, selain mempelajari isi dari kitab ini setidaknya mengetahui tentang biografi penulis kitab ini.

 

Kitab I`anatuth Tholibin merupakan mahakarya dari  tokoh ulama terkemuka Makkah pada abad ke-14 Hijriyyah (abad ke-19 Masehi), Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syatho ad-Dimyathi as-Syafi’I yang masyhur dengan julukan al-Bakri. Tokoh yang sebenarnya bernama Abu Bakar bin Muhammad Zainal Abidin Syatho ini lahir di Makkah tahun 1266 H/1849 M.

 

Beliau berasal dari keluarga Syatho, yang terkenal dengan keilmuan dan ketaqwaannya yang tinggi. Namun Beliau tidak sem­pat mengenal ayahnya, karena saat Beliau berusia tiga bulan, sang ayah, Say­yid Muhammad Zainal Abidin Syatho, berpulang ke rahmatullah.

 

Sayyid Abu Bakar Syatho adalah seorang ulama Syafi’i, yang juga menjadi pengajar di Masjidil Haram, Makkah al-Mukarramah pada permulaan abad ke XIV.

Sayyid Bakri Syatho berpulang 13 Dzul­hijjah tahun 1310 H/1892 M usai me­nyelesaikan haji. Umurnya memang tidak panjanng yakni, 44 tahun me­nurut hitungan Hijriyyah dan kurang dari 43 tahun dari perhitungan masehi. Meski begitu, Beliau memberikan ilmu yang mempunyai manfaat bagi umat muslim di seluruh dunia.

 

Peran Kitab I’anah Tholibin Yang Wajib Dipahami Para Santri Ponpes

 

anakDi dalam pesantren khususnya di Indonesia. Kitab ini banyak dikaji oleh para santri, Berbeda dengan kitab ilmu fiqih pada umumnya, pengarang kitab tersebut memulai isi kitabnya dengan bab yang membahas mengenai Shalat, Sementara pada kitab-kitab yang lain yang sering dijumpai biasanya dimulai dengan membahas bab mengenai Thaharah. Namun perlu digaris bawahi,  bukan berarti kitab ini tidak mempunyai sisi pembahasan mengenai perihal thaharahnya, lantaran syarat sah shalat yaitu harus suci maka pembahasan dalam bab shalat beliau bahas terlebih dahulu tentang thaharah walaupun didalamnya tidak membuat bab tersebut menjadi sebuah satu bab khusus.

 

Bagi sobat pesantren yang ingin mengkaji Fathul Mu’in. Dengan melihat dari sisi nama lengkap kitab ini yaitu “I’anatu Ath-Tholibin ‘ala Halli Alfazhi Fathi Al-Mu’in seharusnya para santri sudah bisa memahami bahwa pengarangnya memang berniat untuk dapat menolong para penuntut ilmu supaya dapat memahami kitab Fathu Al-Mu’in secara mendalam dengan penjelasan lebih detail dan secara terperinci, maka bisa dikatakan, bahwasannya kitab I’anatu Ath-Tholibin ini secara otomatis juga dimaksudkan untuk membantu para penuntut ilmu yang ada di pesantren untuk memahami mazhab Asy-Syafi’i secara lebih detail, baik dan seksama.

 

Al-Bakri tidak hanya menerangkan mengenai penempatan bab dari sisi mengapa bab tersebut mendahului bab lain, Terkadang beliau juga menerangkan alasan penempatan bab yang disematkan pada lokasi tertentu untuk menampilkan keindahan dari sistematika penyusunan bab yang dibuat oleh pengarang. Sebagai contoh saat mensyarah bab faroidh, beliau berkata bahwa ilmu ini adalah setengah ilmu. Oleh karena itu, ketika Al-Malibari meletakkan bab ini pada bagian tengah kitab, di sana ada munasabah yang keindahannya tidak ternilai.

 

Beberapa dalil yang lafalnya membutuhkan penjelasan, maka beliau akan menelaskannya, Jika ada istilah fikih yang perlu dijelaskan, maka beliaupun juga akan menjelaskan. Setelah itu barulah beliau fokus pada  inti pelajaran fikih yang dikandung dalam kitab pendahulunya yaitu  Fathu Al-Mu’in.

 

Dalam mazhab Asy-Syafi’i Beliau juga mendapat peran dalam penyusunan kitab ini, As-Sayyid Al-Bakri telah menjelaskannya dalam mukadimah. Diawal beliau menegaskan bahwa semua syarah beliau hanyalah mengutip penjelasan jumhur fukaha Asy-Syafi’iyyah dengan mengutip secukupnya.

 

Setelah itu, Beliau dengan rendah hati mengatakan bahwa semua informasi yang benar dalam kitab ini merupakan hasil kerja keras tahrir para imam ahli mazhab Asy-Syafi’i, bukan semata – mata hasil kerja keras Beliau sendiri. Beliau juga berpesan, siapapun yang menemukan kesalahan dalam kitab ini agar berkenan mengoreksi dan memperbaiki dan memaafkan kesalahan yang tidak disengaja.

 

Itulah beberapa penjelasan mengenai Kitab I’anah Tholibin, semoga dapat menambah wawasan bagi umat islam terlebih yang menpuh ilmu di pesantren

 

Bandung , 19 Desember 2022

 

Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung

 

 

Back to Article

 

 

Donasi Yuk
1