Jilbab, Revisited

jilbab

 

 

Oleh : Nazmiyah Sayuti

 

Berbicara tentang jilbab , menutup aurat itu keharusan yg fitrah, karena aurat adalah sesuatu yg  harus ditutupi.  Aurat itu misalnya bagian ditutupin CD atau BH.  Sampai di sini mudah bersetuju, bukan? 😊

Di sisi lain rambut perempuan (atau laki2) adalah bagian dari ungkapan keindahan dan fashion.  Di sini rambut bukan aurat, kecuali kalau mesti dututupi karena bitak atau uban.  Makin banyak perempuan yg berjilbab karena mode.  Sebagai bagian dari fashion, rambut bisa dihias dengani topi, kerudung atau jilbab.

Jilbab

jilbabSaya tidak percaya bahwa Nabi pembawa sunnah Islam, andai dia hidup sekarang, blio akan bilang jilbab adalah kewajiban fiqih atas setiap perempuan.  Namun sebagai bagian dari fashion, mungkin Nabi akan mengangguk2 saja, atau mungkin geleng2 kepala.  Ada2 saja ummatku yg kreatif, kira2 begitu.😇

Lalu kenapa jilbab jadi lebih complicated dari sekedar mode fashion?  Karena pengguna jilbab adalah perempuan.  Relasi gender mengandung potensi perbedaan dan ketidaksetaraan: yaitu politik tubuh perempuan.  Tentang ini bisa ditelaah lebih rinci di kajian gender, bagus untuk dibaca laki2 maupun perempuan.  Kajian gender atau gender studies  (sebelumnya disebut kajian feminis/perempuan) adalah bagian dari pengetahuan sosial yang terus berkembang di masa depan.

Bagaimana dengan ajaran Islam dari masa ke masa di Indonesia, apakah mewajibkan jilbab, atau menganggap rambut itu aurat?  Untuk menjawab ini, saya hanya perlu mengingat ibu saya (almarhum), atau menatap fotonya berdua dengan bapak semasa muda.  Nggak pake jilbab. Kerudungnya pun sering dihias di bahunya untuk bergaya.

jilbabKalau jilbab (atau penutup kepala) dipandang sebagai suatu penanda status kesantrian, ini wajar dan masuk akal.  Agama memerlukan wadah kesantrian untuk merawat ajaran dan nilai esoteris yang terkandung pada setiap agama.  Ada kerahiban, monasteri, keuskupan, seminari dan kesantrian.  Kita liat anggotanya biasanya memakai dress code tertentu.  Maka sangat wajar kalau murid perempuan (dan laki2)  kesantrian mengenakan tutup kepala.

Lalu kenapa sekarang ada perubahan menjadi kewajiban atas seluruh ummat?  Mengapa makin banyak perempuan dan anak muda yang berjilbab?  Dunia Islam sedang melalui perubahan yang berpotensi mentransfiormasikan ummat.  Transformasi adalah proses menjadi sesuatu yang lain.  Point of no return.  Ini masa yang sangat menggelisahkan dan beresiko.  Perempuan adalah emosi kehidupan.  Mereka memberikan tanda kegelisahan itu dengan daya alami  “menutup diri”.  Defensive mode.

Jadi apa yang mesti dilakukan?   Memahami permasalahan di atas dan mendiskusikannya dengan semangat yang baik dengan sendirinya menyelesaikan sebagian persoalan, bahkan pencerahan.  Reaksi yang berlebihan dan irasional harus ditanggapi demi kepentingan bersama dan merawat kebersamaan. Contohnya sikap intoleransi, politisasi agama,  fiqh kaku, dan peraturan daerah dan lembaga  yang mewajibkan (atau melarang jilbab).  Inilah proses tarik ulur yang wajar terjadi dalam perubahan yang menggelisahkan.  Sabar dan tegar.  Lanjut.

 

Penulis adalah seorang SocialPreneur dan sempat menjabat sebagai Direktur Eksekutif Jurnal Perempuan

 

Back to Article

Donasi Yuk
1