Yatim, Piatu dan Yatim Piatu: Pengertian dan Kedudukan dalam Islam

yatim

Penjelasan tentang pengertian anak yatim, perbedaannya dengan piatu, batasan umur, serta adab kepada mereka.

Menyayangi dan memperhatikan anak yatim dan piatu adalah sebuah anjuran dalam Islam. Tidak main-main, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ada jaminan surga bagi orang-orang yang senantiasa mencukupi kebutuhan anak yatim dan piatu.

Pengertian Anak Yatim

anakSering kali, kita salah mengartikan yatim, piatu dan yatim piatu. Padahal masing-masing istilah berbeda, jadi artinya juga berbeda.

Anak yatim, menurut syara’, berarti anak dalam usia belum baliqh yang ditinggal mati oleh bapaknya. Sedangkan anak piatu adalah anak yang belum baligh dan ibunya meninggal dunia. Jadi, pengertian anak yatim piatu adalah seorang anak yang belum baligh dan ditinggal oleh kedua orang tuanya karena meninggal dunia.

Dari sini dapat disimpulkan, batas umur mereka adalah saat mereka memasuki umur baligh atau dewasa. Selain itu, kedudukan anak yatim piatu dalam Islam lebih utama untuk mendapatkan perhatian. Jelas disamping kekurangan materi, mereka juga tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup.

Usia Anak Yatim

Tentu tidak semua yang menghuni panti asuhan adalah yatim, piatu dan yatim piatu. Mengapa demikian? Ya, karena beberapa dari mereka sudah baligh.

Untuk membedakannya, ada 4 faktor penting yang bisa Anda perhatikan. Terutama untuk Anda yang memiliki keinginan mengadopsi mereka.

Pertama, batas usia baligh pada laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 15 tahun dan 9 tahun.

Kedua, anak perempuan yang sudah mengalami siklus menstruasi adalah sudah baligh. Selanjutnya, anak laki-laki yang sudah keluar mani. Terakhir, sudah tumbuh bulu halus di sekitar kemaluan mereka menunjukkan mereka sudah baligh.

Adab Kepada Anak Yatim, Piatu dan Yatim Piatu

Allah memberikan perhatian khusus untuk kalangan ini. Hal ini dibuktikan bahwa Allah menyebut anak belum baligh yang ditinggal ayahnya karena meninggal ini dalam beberapa surat di Al-Qur’an.

Tentu, mereka membutuhkan perhatian dan kasih sayang yang tidak mereka dapatkan. Sehingga, Nabi Muhammad memberikan contoh teladan yang bisa kita terapkan dalam memperlakukan mereka.

Memberikan Santunan

Sudah jelas bahwa anak-anak kalangan ini tidak memiliki materi yang cukup. Bahkan mereka hidup dengan penuh kekurangan.

Memberikan Santunan Anak Yatim
Memberikan Santunan Anak Yatim

Dalam Surat Al-Baqarah ayat 77, Allah memberikan tanggung jawab kepada umat muslim untuk memberikan santunan kepada anak-anak yang kurang beruntung ini. Terutama mereka yang sudah mapan.

Caranya juga mudah sekali, yaitu memberikan makanan atau uang untuk meringankan beban mereka.

Memperlakukan dengan Baik

Dalam Surat An Nisa ayat 36 bahwa Allah memberi perintah kepada kita untuk berbuat baik kepada orang tua, kerabat dan anak yatim. Yang dimaksud dengan berbuat baik disini adalah memberikan ketenangan, membantu meringankan beban dan meningkatkan kesejahteraan mereka.

Cara ini diprioritaskan untuk Anda yang belum memiliki kehidupan yang mapan. Karena pada dasarnya, berbuat baik kepada mereka dapat memberikan semangat dan menghilangkan kesedihan mereka menjalani kehidupan tanpa orang tua.

Memuliakannya

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Fajr ayat 17, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak-anak yatim”.

Dalam ayat ini, Allah memberikan seruan kepada umat muslim untuk memuliakan anak yatim. Caranya yaitu menjaga perasaan mereka dengan tidak menghina, mengucilkan, apalagi memukul mereka.

Selain Allah sangat membencinya, tindakan-tindakan itu bisa berdampak pada kesehatan mental mereka. Mereka akan merasa terpuruk dan semakin berat menjalani hidup karena lingkungan yang tidak mendukung.

Padahal, mereka justru memerlukan kasih sayang yang lebih untuk menggantikan kasih sayang orang tua yang sudah tiada.

Menyamakan Kedudukan

Islam mengajarkan bahwa semua muslim itu sama kedudukannya di sisi Allah. Yang membedakan adalah tingkat iman mereka, tak terkecuali juga anak-anak dari kalangan ini.

Dalam prakteknya, jika Anda sebagai orang tua tentu tidak boleh membedakan perlakuan kepada anak kandung dan anak asuh. Begitu juga dengan kafalah panti asuhan, mereka harus memperlakukan semua anak dengan adil. Tidak ada perlakuan khusus untuk beberapa anak saja.

Dengan begini, mereka akan senang karena orang-orang sekelilingnya memperhatikan dan memberikan semangat.

Memperbaiki Rumah

Tentu Anda sudah familiar dengan cerita Nabi Khidir AS saat Nabi Isa AS mengikutinya dalam menimba ilmu. Salah satunya adalah melindungi harta anak yatim dan memperbaiki rumahnya.

Anda tentu sadar bahwa dengan memperbaiki rumah, Anda turut serta dalam melindungi mereka dari panas dan hujan. Serta, memberikan tempat istirahat yang layak bagi mereka.

Melindungi Harta

Islam melarang keras umat muslim untuk mendekati, apalagi mengambil harta mereka. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya di surat Al Israa ayat 34.

Yang termasuk harta mereka adalah semua warisan orang tuanya. Kita wajib bersifat amanah dengan menjaga baik-baik harta tersebut untuk mereka. Bahkan membantu mengelolanya dengan sebaik-baiknya.

Pahala Menyantuni Anak Yatim

Allah menetapkan pahala yang begitu luar biasa untuk mereka yang berhati mulia dan memperhatikan anak yatim, piatu dan yatim piatu. Beberapa diantaranya adalah:

  • Mendapatkan pahala yang berlipat ganda
  • Mendapatkan kelapangan rezeki yang datang dari berbagai arah
  • Memperoleh kecukupan
  • Mendapatkan surga-Nya

Dengan begini, tidak ada keraguan lagi betapa besar pahala jika Anda memberikan santunan kepada mereka. Anda bisa menitipkan pada program-program donasi panti asuhan atau lembaga lainnya.

Donasi Yuk
1