oleh Herri Permana
Persatuan Islam atau disingkat Persis berdiri pada tahun 1932 tepatnya tanggal 12 September. Guna merealisasikan dakwahnya, muncul inisiatif dari para Ulama untuk membentuk suatu lembaga pendidikan keagamaan Islam. Dari hal tersebut, pada tanggal 1 Dzulhijkah 1354 H ( 4 Maret 1936 M ), PERSIS mendirikan sebuah pesantren yang disebutnya dengan pesantren persis.
Pesantren pimpinan Ustad A. Hasan hanya menerima para kalangan usia mudah sehingga diberi sebutan ” Pesantren Kecil ” . Pesantren kecil diasuh oleh Ustadz Hasan Hamid, Ustadz Muhammad, serta Ustadz E. Abdurrahman dengan penyelenggaraannya waktu sore hari.
Pada tahun 1948, yang mana saat para pengungsi mulai kembali ke wilayah Bandung, atas prakarsa dari Ustadz M. Sudibja, Pesantren Persatuan Islam pada akhirnya kembali dibuka.
Pada saat itu, tempat diselenggarakannya kegiatan berada di jalan Kalipah Apo, lalu pada saat tahun 1950 diadakanlah tingkat Tsanawiyyah dilaksanakan di sebuah rumah dengan alamat di Jalan Pajagalan Nomor. 77 milik dari seorang bernama KH. Zamzam.
Pesantren persatuan Islam Bandung merupakan cikal bakal pesantren – pesantren PERSIS serta para ulama PERSIS yang telah tersebar diberbagai penjuru Indonesia.
Pesantren PERSIS No 1 – 2 Pajagalan Bandung
Pesantren Persis atau Persatuan Islam di Pajagalan Bandung ialah sebuah pesantren modern yang dalam pengajarannya memadukan ilmu tentang keagamaan serta ilmu pengetahuan umum. Tujuan dari pendidikan PERSIS Pajagalan ialah membangun generasi yang pengetahuan agamanya dalam ( Tafaqquh Fiddin ). Tujuan ini selaras dengan tujuan memperbaiki generasi bangsa. Paham mengenai agama menjadi landasan paling utama untuk akhlah manusia mulia.
Sejarah Historis Kronologis Pendidikan Pesantren Persis Pajagalan Bandung
Secara histori – kronologia, Persatuan Islam ( PERSIS ) lahir dari sekelompok tadarusan atau diskusi bertukar pikiran soal kajian Islam yang pada saat itu dibawah pimpinan H. Zamzam dan Haji Muhammad dengan basis di Bandung.
- Zamzam sendiri adalah alumni dari Dar al – Ulum Mekkah yang pada tahun 1910 – 1912 menjadi pembimbing di sekolah keagamaan Dar – al Muta’alimin.
Sedangkan untuk Haji Muhammad, Beliau adalah saudagar yang cukup sukses dan memperoleh pendidikan keagamaan secara tradisional.
Meski otodidak, H. Muhammad telah menguasai bahasa Arab lewat belar dari kitab – kitab kuning. Keduanya merupakan saudara dan sama – sama kelahiran Palembang. Ditinjau dari silsilahnya, keduanya adalah keturunan dari 3 keluarga yang singgah ke Palembang sekitar abad ke 18.
Ikatan kekeluargaan yang dimiliki keduanya sangat erat, berkat dari adanya hubungan perkawinan, perdagangan lalu juga berbagai pertemuan keagamaan. Untuk tema diskusi yang ada pada umumnya tentang gerakan keagamaan yang mengalami perkembanga pada saat itu serta masalah agama yang termuat dk majalah terbitan Padang bernama al – Munir serta juga majalah al – Manar terbitan oleh Mesir yang sudah cukup lama jadi bahan bacaan dan fokus mereka.
Disuatu ketika, diskusi mereka berlangsung setelah acara kenduri di kediaman salah satu keluarga yang hadir dari Sumatera akan tetapi sudah lama berdomisili di Bandung.
Materi pada saat diskusi tersebut memuat tentang perselisihan paham keagamaan yang terjadi antaea al-Irsyad dengan Jami’at Khair.
Dari situlah pertemuan pertemuan kedepannya akhirnya menjadi kelompok penelaah atau semacam studi club uang mengkaji soal keislaman. Mereka juga menjalankan diskusi dengan jama’ah shalat Jumat sehingga peningkatan frekuensi didalami dan pembahasan atau kajian makin dalam.
Pada saat itu, mereka berjumlah hanya 12 orang dan kian waktu diskusi yang dilakukan makin intens hingga akhirnya menjadi tidak terbatas dalam persoalan agama terlebih tidak soal keagamaan saja terutama dikotomi dari tradisional dan modernis, lalu jufa menyentuh soal berbagai masalah komunisme yang pada saat itu menyusup kedalam SI ( Syarikat Islam ) dan juga upaya – upaya orang Islam untuk menghadapi paham komunisme saat itu
Pada tahun 1923 tepatnya tanggal 12 September berkenaan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok diskusi tersebut telah secara resmi merintis organisasi yang diberi nama Persatuan Islam, terdapat juga sebagian kalangan yang mengusulkan untuk memberikannya nama organisasi tersebut Pemufakatan Islam.
Organisasi yang berbasis di Bandung ini menampung para kaum usia muda maupun kalangan kaum berumur yang memiliki fokus perhatian pada masalah tentang agama. Kegiatan ini pada intinya fokus pada keagamaan.
Hingga awal tahun 1926, PERSIS atau Persatuan Islam belum tampak seperti sebuah organisasi pembaharu dalam Islam karena didalamnya masih terdapat para kaum muda dan tua.
Sesudahnya A. Hassan bergabung bersama Persatuan Islam, ide atau pikiran radikal sangat kental pada organisasi yang satu ini.
Ranah pemikiran Persatuan Islam ( PERSIS ) yang berkarakter keras menemukan jati diti ketika A. Hassan bergabung didalamnya. Beliau telah melontarkan pemikiran dalam organisasi PERSIS dan berakibat pada perbedaan sikap antara para kaum muda dan tua.
Sehingga dalam masa perkembangannya, organisasi Persatuan Islam, beberapa anggota dari kalangan kaum tua memutuskan untuk memisah diri lalu membentuk kelompok rival yakni ” Pemufakatan Islam “.
Sedang untuk golongan kaum muda, mereka tetap di PERSIS ( Persatuan Islam )Â dan bahkan sampao menyatakan diri sebagai gerakan pembaharu Islam di negeri tercinta Republik Indonesia.
Peristiwa tersebut terjadi saat 1926.
Dengan hal yang sedemikian rupa, periodesasi PERSIS sebagai sebuah organisasi gerakan Islam pembaharu di Indonesia perlu dilakukan penyusunan.
Pada periode pertama, Persatuan Islam pra- pembentukan PERSIS tahun 1920 an, ditandai terbentuknya para anggota tadarusan atau kajian tentang keagamaan yang berkembang pada fokus keislaman di Indonesia.
Periode selanjutnya ( ke dua ), Pembentukan organisasi Persatuan Islam ( 1923 sampai 1926. Sebagai gerakan penadah atau penampung aspirasi dari kalangan muda dan tua tentang pengkajian Islam yang pada saat itu masih belum menyatakan diri sebagai sebuah gerakan organisasi pembaharu.
Periode ke-3 yakni pada 1926 – saat ini, Persatuan Islam sebagai gerakan murni pembaharu di Indonesia. Hal ini juga ditandai dengan bergabungnya A. Hassan dan memisahkan diri kalangan kaum tua dari PERSIS ( Persatuan Islam ) lalu membuat gerakan organisasi tandingan dengan nama yang telah kami singgung sebelumnya yakni ” Pemufakatan Islam ” . Periodesasi ini juga telah menjadi sebuah hipotesa awal dari kajian organisasi Persatuan Islam ( PERSIS )
Tujuan Sekolah Persis Pajagalan Bandung
Sekolah PERSIS Pajagalan Bandung pasti punya visi misi dan berikut ini adalah tujuan utama dari PERSIS :
- Mewujudkan manusia / generasi yang paham betul mengenai agama atau taffaquh fiddin
- Membentuk anak asuh yang mengamalkan syariat Islam dalam kehidupan sehari – hari.
- Menjadikan anak didik suapaya dapat jadi suri teladan entah dalam lingkup keluarga maupun lingkungan masyarakat sosial
- Menjadikan anak didik menguasai secara baik dasar – dasar ajaran agama Islam dari sumbernya
- Memberi dakwah ajaran agama Islam berlandaskan Al-Quran serta Sunah
- Menjadikan anak didik menguasai pengetahuan yang berkaitan dengan pendidikan dan bimbingan secara teoritis lalu praktik.
- Membuat anak didik menguasai Ilmu Pengetahuan Informasi Teknologi ( IPTEK )
Pendidikan Di PERSIS Pajagalan Bandung
Pesantren Persis Pajagalan Bandung telah terakreditasi A. Hal tersebut jadi suatu tanda bahwa standar mutu pendidikan yang diberi telah sangat unggul diatas rata – rata atau yang terbaik.
Untuk jenjang pendidikannya, paling awal yakni Tajhiyah yang merupakan pendidikan SD sederajat dan hal yang diajarkan ialah agama serta bahas Arab dalam jangka waktu 1 Tahun.
Setelahnya ada jenjang pendidikan Tsanawiyah yakni setara sekolah MTS dan materi bimbingan yang diberi ialah melingkupi pendidikan agama dan pengetahuan umum dengan jangka waktu 3 tahun.
Ketiga ada jenjang pendidikan Muallimin yang setara dengan sekolah SMA. Tingkat ini akan diberi bimbingan soal agama, Bahasa Arab, IPA dan IPS.
Jenjang pendidikan berikutnya adalah Diniyyah Wustha yang merupakan bimbingan lulusan SMP dan sederajat dengan jangka waktu 1 tahun. Untuk materi bimbingan akan diajarkan tentang Agama serta Bahasa Arab.
Penulis adalah Ketua Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Samiyah Amal Insani , Panti Asuhan di Bandung




